Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 421. A Little Dog



“Arti namamu adalah warna putih pada malam hari, seperti rambutmu yang berwarna putih, serta dirimu yang lahir pada malam hari, di bawah sinar bulan yang terang benderang. Mungkin kamu berbeda dari Beastman lainnya. Tetapi janganlah perbedaan itu membuatmu takut, anakku.”


Ayah gue selalu bilang begitu ke gue, karena gue ini beda dari Beastman yang lain.


Mungkin gue panggil orang itu ayah. Tapi dia sebenernya bukan ayah gue.


26 tahun yang lalu, gue lahir. Tapi waktu gue baru lahir, ibu kandung gue langsung kasih gue ke ayah, seakan


dia tolak keberadaan gue semenjak gue lahir.


Bahkan nggak menutup kemungkinan juga, kalo keberadaan gue udah dia tolak semenjak di dalam kandungan.


Mungkin karena itu…


“*Bhuk!”


“Pergi sana! Keberadaanmu hanya akan membawa sial bagi dunia!”


…gue selalu diolok-olok sedari kecil.


“Hey! Apa yang anda lakukan kepadanya?!”


“Tanzō-sama! Tetapi anak itu—”


“Enyahlah dari hadapan saya, sebelum saya menghunuskan pedang saya dan memenggal kepala anda!”


“Cih! Baiklah, maafkan saya, Tanzō -sama!”


Ayah gue itu Kepala Klan. Nama dia Tanzō Kuroba.


Dari semua orang yang ada di Kumotochi, cuma dia yang perlakuin gue layaknya orang pada umumnya.


Makanya itu gue nggak bisa hidup tanpa dia. Supaya hidup gue aman, gue selalu ikutin samping dia.


Tapi karena itu…


“Hey lihatlah! Itu anjing milik Tanzō-sama!”


“Hahaha! Pantas saja ia tidak bisa pergi kemana-mana dari sebelah Tanzō-sama! Ternyata ia tidak lebih dari


anjing saja!”


““Hahaha!!!””


…gue selalu disebut anjingnya ayah.


Makanya gue benci banget disebut anjing, karena dari kecil gue selalu dianggap kayak gitu sama orang-orang lain. Bahkan pelayan setia ayah juga anggap gue anjing.


“Jangan kamu dengarkan mereka, nak.”


“A-Ayah…?”


“Mereka berkata seperti itu hanya karena mengetahui tabu kuno yang ayah yakini telah menghilang semenjak


ribuan tahun yang lalu. Dengan kata lain, mereka tidak mengerti apa yang mereka katakan. Oleh karena itu…”


“*Tap…”


 “…jadilah prajurit sejati, yang selalu lapang dada dan pemaaf.”


Jujur aja, gue seneng banget kalo ayah elus kepala gue. Tapi waktu itu kata-katanya bikin gue heran.


“Prajurit sejati…? Seperti apa prajurit sejati itu, ayah?”


“Ada kutipan yang berkata seperti ini.”


“Hm?”


“Prajurit yang hebat adalah seseorang yang mampu berdiri di atas semua lawan yang ia kalahkan. Tetapi prajurit sejati adalah seseorang yang mampu berdamai dengan keadaan apapun, termasuk berdamai dengan musuhnya.”


Itu satu dari semua nasehat yang masih gue simpen dari ayah. Walaupun gue masih belom bisa hidup sesuai nasehat itu.


………………


Sekali waktu, gue pernah tanyain ayah tentang orang-orang yang benci gue.


“Apa yang salah dengan aku, ayah? Mengapa semua orang membenciku, termasuk anggota-anggota Klan Tanzō—”


“Mereka… hanya iri denganmu, nak. Apakah kamu ingat penjelasan ayah tentang namamu?”


“Karena rambutku yang berwarna putih?”


“M-Memang benar. Tapi bukan bagian itu.”


“Hmm… Apa karena aku yang berbeda dari yang lain?”


“Benar, nak. Karena kamu berbeda dari yang lain, maka mereka berbuat seperti itu kepadamu. Dengan kata lain,


mereka iri. Oleh karena itu, kamu harus tetap semangat. Karena kamu sangatlah spesial.”


“Baik, ayah.”


Mungkin itu jawaban ayah.


Tapi pada akhirnya gue tau, kalo ayah sembunyiin fakta tentang gue.


“…”


Waktu itu gue nggak bisa tidur. Terus gue cari ayah. Tapi waktu gue temuin ayah, gue liat dia lagi ngobrol


bareng anaknya sama beberapa prajurit Klan Tanzō.


“Harus sampai kapan anda menyimpan anak itu, ayah?!”


“Menyimpan?! Apakah anda pikir ia tidak lebih dari sekedar benda, Katanaka?! Bagaimana pun juga, ia adalah anak saya! Saudara tiri anda—”


“Sudah saya tegaskan berkali-kali, bahwa saya tidak sudi menyebut dirinya sebagai saudara tiri saya!”


“Apa katamu—”


“Anak itu adalah Kaum Omega! Ia hanya akan membawa kutuk dan sial bagi kita! Lebih baik anda singkirkan dia dari klan ini, agar—”


“*Phak!”


“…”


Jujur aja, waktu itu gue takut banget sama ayah.


Mungkin dia belain gue. Tapi gue nggak bisa lupain ekspresi marahnya, sebelum dia tampar anak kandungnya, Katanaka.


“Mungkin anak itu adalah titipan yang tidak semestinya saya terima. Mungkin anak itu adalah Kaum Omega. Tetapi ingatlah ini, Katanaka!”


“…”


“Bagaimanapun juga, ia adalah anak saya! Saya yang menamainya! Saya yang akan membesarkannya! Saya yang akan menjauhkannya dari takdir yang telah menodainya! Karena ia adalah anak saya! ANAK SAYA!!!”


“…”


Jujur aja, gue bingung sama yang ayah bilang.


Tapi, walaupun gue bingung…


“*Tik, tik, tik…”


“Hiks! Hiks! Hiks!”


…dada gue sakit banget waktu denger ayah, yang bahkan harus berantem sama anaknya demi gue.


Tapi bukan itu aja tindakan ayah yang bikin dada gue makin sakit.


““…””


“…lebih baik kalian ambil saja klan ini! Biarkan saya pergi dari tempat ini bersamanya!”


““!!!””


Gue tau semua orang pada kaget waktu denger ayah. Tapi gue juga sama kagetnya kayak mereka.


Apalagi…


“A-Ayah! Apakah ayah sudah gila?!”


“Anggap saja saya gila! Daripada—”


“B-Bagaimana dengan medikasi anda, ayah?! Tidakkah anda masih harus membutuhkan medikasi dari klan kami—”


“Saya tidak peduli! Saya bisa buktikan, bahwa saya bisa bertahan hidup bersamanya!”


…ayah waktu itu udah tua banget. Dia udah sakit-sakitan. Dia perlu klannya demi kesehatannya. Tapi dia rela tinggalin semuanya demi gue.


……………


Setelah 10 tahun hidup dari masih bayi di teritori kepunyaan Klan Tanzō, gue pun keluar dari sana bareng ayah.


Kita sama-sama tinggal di satu goa besar. Kalo mau masuk goa itu harus lewatin beberapa air terjun di pinggirannya.


Tapi semenjak itu…


“*Tuk, tuk, tuk…”


…latihan gue dimulai.


“Jangan takut! Ayunkan pedang kayumu!”


“Oraaaa!”


“*Tuk!”


Ayah latih gue untuk kuasaian semua senjata unik yang ada di Kumotochi.


“*Tring! Tring! Tring!”


“Hati-hatilah jika memukul besi ini, nak! Jangan sampai besi ini menjadi patah!”


“Kalau patah…?”


“Kamu hanya akan mengulang kembali!”


Ayah juga latih gue pandai besi.


“Seranglah bambu itu dengan sihirmu, nak!”


((Kaze Tsume))


“*Fwush!”


Dia juga latih kemampuan sihir gue, walaupun kekuatan alam kita beda.


Rutinitas itu gue lakuin bareng ayah selama 5 tahun.


Sampe akhirnya, nyawa ayah udah di ujung tanduk.


“A-Ayah! Bertahanlah sedikit! Biarlah—”


“D-Dengar ayah… nak. Mungkin ini adalah… waktu yang tepat bagi ayah… untuk mengutarakannya… kepadamu…”


“…”


“M-Maafkan ayah… karena ayah telah—”


“Aku sudah mengetahui semuanya, ayah…!”


“A-Apa maksudmu—”


“M-Maafkan aku, ayah! Pada malam sebelum kita pergi dari teritori kekuasaan ayah dulu, aku mendengar perdebatan ayah dengan Katanaka-nīsama!”


“A-Apa…?”


“K-Kita pergi dari sana karena aku, bukan?! Karena aku, ayah—”


“*Tap…”


“A-Ayah…?”


Waktu itu ayah elus kepala gue lagi.


Anehnya, gue nggak ngerasa seneng waktu ayah elus kepala gue.


“Ayah, mengapa ayah tidak membiarkanku pergi?! Andai ayah membiarkanku pergi, mungkin ayah—”


“S-Semua… karena dendam ayah, nak…”


“Eh…?”


“Dulu… ketika Katanaka lahir… ayah tidak pernah hadir di sampingnya. Setelah kematian ibunya… ayah


mendidiknya dengan sangat keras… agar ia menjadi… Kepala Klan yang kuat…”


“…”


“Tetapi… berbeda denganmu, nak…”


“B-Berbeda…?”


“Ketika menyaksikan kelahiranmu… ayah berpikir…


“Apa yang telah kuperbuat… kepada seorang anak… yang terlahir dengan tanpa noda… seperti Katanaka…?”


Oleh karena itu… ayah berusaha… untuk membesarkanmu… dengan penuh kasih sayang… dengan penuh kelembutan…”


“A-Ayah…”


“…”


Gue bisa rasain tangannya yang gemeteran di kepala gue.


Waktu itu gue juga bisa liat, kalo dia sedih karena harus tinggalin gue, tapi air matanya nggak keluar.


“Nak…”


“A-Ayah…! Jangan—”


“Ayah… bukanlah prajurit sejati… karena ayah… masih tidak bisa berdamai… dengan masa lalu ayah…”


“C-Cukup, ayah…! Lebih baik aku membawa ayah kembali ke Katanaka-nīsama—”


“Ingatlah… semua… yang ayah ajarkan kepadamu… agar kamu… bisa bertahan hidup… di dunia… yang tidak adil… i…ni…”


“A-Ayah! Ayah! Bangun, ayah! Kumohon…!”


Ya. Itu detik-detik terakhir ayah di dunia ini.


Makanya itu gue nggak seneng waktu ayah elus kepala gue, karena itu elusan terakhir ayah.


Kalo gue pikir-pikir lagi, hidup ayah udah selesai. Artinya tugas ayah di dunia ini udah selesai. Beda sama gue, yang masih belom selesain tugas gue di dunia ini karena gue sendiri nggak punya tujuan hidup.


Makanya itu, gue ngelakuin hal yang fatal, sehabis ayah nasehatin gue untuk yang terakhir kalinya.