Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 186. Rescue Plan



“OK, kita lanjutin dulu bahasan kita.”


““Ya.””


Sebelum gue susun rencana gue, gue harus tau dulu tentang negara macem apa Gazomatron itu.


“Jadi, negara macem apa Gazomatron itu?”


“Untuk itu, coba kalian liat peta ini, sambil aku jelasin.”


Dari sini, Lephta jelasin tentang Gazomatron, kota-kota yang ada di negara itu, sama lokasi Chemia Guild di negara itu.


Menurut Lephta, secara garis besar Gazomatron itu sebenernya salah satu negara yang nggak terikat sama Centra Geoterra. Dari yang dia jelasin sih, nggak ada alesan yang jelas tentang nggak adanya ikatan sama pusat pemerintahan dunia itu.


Kalo menurut rumor sih, katanya ada satu alesan.


“Mereka punya teknologi yang katanya bahaya untuk lingkungan.”


“Bahaya?”


“Ya. Mereka punya sumber tenaga yang namanya Gazo Stone, batu yang dipenuhin Mana, yang penggunaannya berkembang untuk ke beberapa bidang. Bidang industri, bidang transportasi, sampai ke bidang… militer.”


Hmm…


Kedengerannya bidang militer mereka bahaya, ya?


“Mungkin kalian bisa liat ini.”


““…””


Kita perhatiin kertas yang ditunjukkin Leph—


“!!!”


Yang lain mungkin penasaran liat teknologi yang ada di negara itu. Tapi ada yang nggak asing di mata gue!


“Ini mobil?!”


““Hah?””


Ka-Kayaknya gue salah nanya, deh…


“Ini namanya… Gazobile. Kok kamu kesannya kayak tau benda ini, ya?”


Aduh! Udah mulai dicurigain gue!


“T-T-Terus yang ini namanya apa?”


“Kalo ini…”


Lephta pun jelasin beberapa teknologi yang familiar di mata gue.


Selain Gazobile, alias mobil, ada yang namanya Gazorail, alias kereta api. Terus ada juga Gazopelin, alias balon udara yang namanya zeppelin.


Terakhir, untuk bidang teknologinya ada—


“Kalo ini teh apa namanya, Teh Lephta?”


“Ini yang namanya Gazobot, salah satu teknologi mereka dari bidang militer.”


Bahkan ada juga robot?!


Eh, bentar deh…


Keliatannya sih emang kayak robot. Tapi kalo diperhatiin baik-baik lagi, sebenernya nggak beda jauh sama zirah yang dipake ksatria. Mungkin di mata gue, bedanya mereka lebih canggih, lebih gede, terus lebih unik aja ketimbang ksatria.


Lanjut dari penjelasan Lephta, senjata mereka tuh nggak berhenti sampe di situ aja.


Ada juga senapan atau pedang yang diperkaya Gazo Stone itu sendiri.


Intinya…


“Secara militer mereka lebih kuat daripada Erviga, ya?”


“Kamu benar. Tapi karena hal itu, mereka dianggap bahaya sama Centra Geoterra. Mereka disebut memanfaatkan alam dengan liar, terus mereka juga berpotensi rusak lingkungan alam di sekitarnya.”


“Terus, mereka sendiri gimana? Mereka nggak masalah terikat sama Centra Geoterra?”


“Kalo itu… Dari intel yang aku dapat sih, mereka justru juga menolak keras untuk bergabung sama Centra Geoterra, sih. Nggak, lebih tepatnya, pemimpin negara yang disebut Presiden itu yang nggak mau.”


Pemimpinnya disebut Presiden?!


“Lephta, kamu tau siapa presidennya?”


“Nggak. Bahkan warganya sendiri pun nggak ada yang tau.”


Hah?! Presiden macem apa itu?!


“Semua yang urus itu Perdana Menteri mereka, yang namanya Dandur Bonesteel. Dan terkait dia, bisa aja dia jadi salah satu masalah besar kita, kalo kita mau hancurin Ghibr.”


Kenapa Perdana Menterinya yang jadi masalah besar?


Jangan-jangan…


“Dia ada kaitannya sama Ghibr?”


“Ya. Dia itu salah satu pemasok Gazo Stone untuk eksperimen yang dijalanin Ghibr.”


Cih!


Lagi-lagi kita bisa aja lawan sama pihak berwenang, ya?!


“OK. Mungkin itu informasi yang kita butuhin terkait Gazomatron. Selanjutnya kita bisa bahas tentang—”


“Tunggu! Ada yang belum aku jelasin!”


Jelasin apa lagi?


“Di antara empat kota yang ada di Gazomatron, ada satu kota yang lagi ada konflik!”


“Konflik?”


“…”


Lephta pun jelasin ke kita semua tentang semua kota yang ada di Gazomatron. Dari empat kota itu, ada kota yang namanya Duskmere, di mana ada markas Chemia, terus ada juga Voxhaben, yang katanya lagi konflik.


“Artinya kita harus hindarin Voxhaben Point, ya?


“Ma-Masalahnya nggak bisa…”


Kenapa nggak bisa?!


“Untuk masuk ke Duskmere itu ada tiga opsi.”


Lephta jelasin tiga opsi itu, mulai dari yang paling lama ke yang paling cepet.


Dari yang paling lama itu, lewat kota besar lainnya yang namanya Brichaudry Point. Kota itu posisinya ada di bagian selatan Postriard Island, sedangkan Clamista sendiri letaknya ada di utara kepulauan besar ini.


Selanjutnya, ada Voxhaben Point, yang mana lagi ada konflik.


Abis itu, ada Snellsham Point, ibukota dari negara itu, yang juga wilayah yang dipegang Dandur.


Terakhir, yang paling cepet itu lewat bukit yang jadi tempat penambangan Gazo Stone.


Masalahnya…


“Tempat itu panas banget! Untuk menambang Gazo Stone sendiri harus pakai seragam khusus yang diperkaya Runecraft!”


Hah?! Diperkaya Runecraft?!


“Tunggu! Apakah ada seorang Runesmith di negara tersebut?!”


“Kalo itu… kayaknya karena Dandur itu Dwarf, deh…”


Oh iya ya. Kan yang bisa Runesmith nggak cuma Witch aja, ya?


Apa mungkin Delolliah mau cari Witch yang ajarin dia tentang Runecraft?


“Kira-kira begitu opsi kita!”


“…”


Coba pikir baik-baik, Djinn.


Kalo lewat Brischaudry, kemungkinan besar makan banyak waktu untuk sampe sana.


Bisa aja Myllo kelamaan nunggu kita.


Kalo lewat Snellsham, keliatannya nggak aman.


Karena Lephta sebut Dandur itu punya kenalan sama Ghibr, bisa aja kita udah ditungguin.


Yang pasti kita nggak bakal lewat Voxhaben, karena kita nggak mau ikut campur sama konflik yang ada di negara itu.


Satu-satunya jalan itu cuma—


“Djinn, gue ada ide.”


Ide?


Oh iya, kan dia pernah bikin rencana serangan ke House of Siegfried, ya?


“Kenapa kita nggak pisah aja?”


“Pisah?”


“Ya. Ada yang lewat Snellsham, ada juga yang lewat Brichaudry.”


Ah!


Gue dapet ide!


“Thanks, Dal! Pinter juga lo!”


“Heh! Kok lo puji gu—”


“Semuanya! Kira-kira gini rencana gue!”


““…””


Gue jelasin ke mereka tentang rencana gue.


“Jadi kita bagi jadi 3 Grup.


Yang pertama ada Grup Brichaudry, yang tugasnya untuk jemput kita semua lari dari Gazomatron, sekalian amanin jalan kita.


Selanjutnya ada Grup Snellsham, yang masuk menyelinap kota itu untuk ke Duskmere.


Yang terakhir, Grup Duskmere, yang masuk untuk mata-matain kota itu, sekalian buka jalan untuk Grup Snellsham.”


Abis jelasin tugas dari 3 Grup itu, gue jelasin cara mereka pergi, sekaligus siapa aja orang-orang yang ngisi masing-masing grup.


Tapi untuk jalanin misi kali ini…


“Kita nggak ada kostum khas negara itu, ya? Kalo nggak ada—”


“Tunggu sebentar!”


““…””


“Aku mau beberapa kain!”


Hah?


Kenapa cewek kelinci ini tiba-tiba butuh kain?


Yaudah deh, ikutin aja.


……………


Waktu kita semua selesai cari kain, tiba-tiba cewek ini pake sihirnya.


((Transform Magic: Fabric Alteration))


“*Puff…”


Sihir macem apaan tuh?! Kok kainnya tiba-tiba jadi kostum?!


Tapi…


Kostumnya kok kayak kostum orang-orang barat jaman dulu, ya?


“Wah! Bagus banget! Pasti aku jadi lebih cantik!”


“Aing teh mau pake topi ieu!”


“Kalo gitu gue yang ini aja, ya?”


“…”


Ada topeng juga?


“Kamu harus ganti topeng kamu, tau! Emangnya kamu pikir orang-orang nggak tau ciri khas topeng kamu?!”


Ah…


Padahal topeng ini udah enak banget…


Nggak perlu buka topeng aja, gue masih bisa makan, minum, atau ngerokok…


Yaudah deh, topeng doang nggak lebih penting daripada nyawa temen gue.


Selanjutnya itu…


“Jen, lo masih bisa kendarain Sea Serpent, nggak?”


“Aku bisa, Djinn.”


Bagus.


Kalo gitu, waktunya gue bikin plotting anggota grup.


Dari plotting yang gue bikin…


Gue pasang Jennania untuk pimpin Virgo di Grup Brichaudry. Alesan gue bikin itu karena dia bisa kendarain Sea Serpent.


Selanjutnya, gue pasang Dalbert untuk pimpin Gia, Garry, Delolliah, sama Lephta ke Grup Snellsham. Bisa aja Dandur cegat kita, waktu dia tau Guildbase Chemia itu kita serang.


“Tunggu dulu, deh.”


“Hm? Apa, Gia?”


“Dari antara kita semua yang udah kamu sebutin namanya, cuma nama kamu doang yang belom kamu sebut.”


“Ya. Karena Grup Duskmere cuma gue sendiri.”


Karena ini yang paling bahaya.


“Tunggu, Djinn! Apakah kau hendak—”


“Ya. Gue bakal panjat Mount Gazo untuk masuk Duskmere.”


““!!!””


Kalo ngeliat dari reaksi mereka sih, mereka semua nggak terima sana plotting ini.


Gue sendiri sih juga nggak berekspektasi kalo mereka langsung terima gitu aja, sih.


“K-Kamu nggak boleh remehin Mount Gazo, loh! Di kaki gunung aja udah panas banget! Gimana kalo kamu lewatin puncak itu?! Kalo pun kamu selamat, tapi pakaian yang kamu pake udah kebakar semua!”


Bahkan sampe mati kebakaran, ya?


“Djinn, gue ada saran.”


“Apa, Dal?”


“Kalo lo emang tetap mau masuk Duskmere, biar gue bantu pake elang gue.”


Hah? Pake elangnya?


“Emang elang lo bisa ngangkat gue?”


“Nggak sih. Tapi elang gue… bisa ngangkat Fratta Pouch lo.”


“Masuk akal, sih—”


“Tunggu! Terus cara dia keluar gimana?!”


Padahal gue mau tanya juga, Gi.


“Yang aku ketahui, setiap alat yang masuk ke dalam saku yang bernama Fratta Pouch itu bisa keluar kapan saja, di mana saja.”


“Jadi…”


“Selama Fratta Pouch terbuka, maka Djinn bisa keluar kapan saja.”


Oh gitu?


Bagus, deh!


“OK, ada pertanyaan?!”


“Nggak!”


"Aku nggak!"


"Kami juga."


"Aku juga tidak."


“Yaudah! Kalo gitu, kita semua jalan jam 6 pagi! Siap semuanya?!”


““Jam 6?””


Haaaaahhhh!!!


Siapapun orang pinter di dunia ini!


Tolong bikinin jam, dong!


……………


Karena laper, kita semua yang ikut rapat singkat ini akhirnya pergi ke kedai. Tapi ujung-ujungnya mereka pergi duluan, karena gue kayaknya masih perlu rancang back-up plan.


Dari antara kita semua, cuma ada satu orang yang gue yakin bisa jalanin rencana itu.


“Woy, Ber.”


“…”


“Nggak usah pura-pura pingsan! Gue tau lo masih bangun!”


“…”


Cih! Batu nih orang!


Yaudah deh, mending gue tulisin aja rencana gue untuk dia.


Semoga aja dia mau bantu.