Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 269. The Whispers



Di Duskmere, sebelum datangnya petir yang menyambar beberapa Petualang yang sedang bertarung di Gazomatron.


““*Crat…””


Maghroz yang sedang mempraktikan sihirnya, semakin kritis karena telah merelakan energi kehidupannya.


Di dalam ruangan tersebut terdapat burung gagak Angela yang juga memberikan informasi terkait kondisi pertarungan, walaupun Maghroz tidak terlalu memperdulikannya.


“L-Lephta… M-Maafkan saya yang meninggalkan anda sendirian, sahabat…”


Bisik Angela yang bersedih dari balik burung gagak ciptaannya.


“K-Karena saya… anda harus—”


“*Uhuk!”


“*Crat!”


“T-Tuan Maghroz Mistyx!”


Teriak Angela yang panik dan cemas mengkhawatirkan Maghroz yang batuk berdarah.


“Sage Maghroz, j-janganlah memaksakan kehendak an—”


“Biarkan saya saja! Tidak akan saya biarkan… Klan Mistyx merasakan apa yang dirasakan nenek moyangnya ratusan tahun yang lalu!”


Seru Maghroz kepada Angela dan Dronnith.


“T-Tetapi anda akan kehilangan nyawa anda, jika anda terus melanjutkan praktik sihir anda!”


“Witch itu benar, Sage Maghroz. Jika anda mati, saya akan kembali ke Demonsia dan menjadi binatang buas, seperti yang belum anda jinakkan!”


“…”


Maghroz tidak memperdulikannya.


“Sa-Saya mohon, Tuan Maghroz Mistyx! Saya… sudah muak dengan pertumpahan darah di—”


““*JGRUMMM!!!””


““!!!””


Angela dan Dronnith dikejutkan dengan adanya suara petir yang sangat keras dari luar ruangan mereka berada.


Sedangkan Maghroz…


“…”


…hanya tersenyum dengan tenang.


“T-Tuan Maghroz Mistyx, apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?! Mengapa rekan-rekan kita tersambar oleh—”


“Tenang saja, Angela. Karena saya yakin, sebentar lagi peperangan berada di pihak kita.”


Jawab Maghroz yang masih tersenyum, walaupun sudah terluka parah.


“M-Maksud anda…?”


“Di dalam Hidden Dungeon of Vision, ia telah menerima Mata yang melihat mendengar segala sesuatu di sepanjang garis waktu dan mendikte Jiwa seseorang. Sedangkan di Hidden Dungeon of Whisper, ia menerima Telinga yang mendengar segala sesuatu di sepanjang garis waktu, beserta dengan kekuatan yang unik, yang menyebabkan kekuatan tersebut berbahaya.”


“S-Sesuatu yang unik? Apa yang anda maksud, Tuan Maghroz Mistyx?”


“Ia bisa mengeluarkan Bisikan kepada orang-orang yang saling percaya dengannya. Dengan Bisikan darinya, orang yang mendengar mendapatkan porsi kekuatannya. Bahkan anda bisa menganggap kekuatan yang ia berikan sebagai berkat bagi orang-orang yang percaya kepadanya.”


“…”


Tidak ada respon dari Angela. Ia begitu terkejut hingga tidak bisa berkata apa-apa.


Dengan rasa penasaran, ia pun melihat semua kejadian yang berada di peperangan melawan Children of Purgatory.


“*JGRUMM!!!”


“*BRUK!!! BRUK!!! BRUK!!!”


“Akh!”


Gia berhasil menyerang Ganon hingga menembus ke luar Gazomatron.


“B-Bahkan World Quaker tiba-tiba ada petirnya?! S-Serius ini kekuatan Djinn?!”


Seru Gia yang masih tidak percaya.


“*SWUSH!!!”


Ganon berlari menuju dirinya dari luar Gazomatron.


“DASAR PEREMPUAN SIALAAAANN!!!”


Teriak Ganon, sambil mencoba memukul Gia dengan pukulan api hitam miliknya.


((DESTRUCTIONS: FATAL STRIKE))


“*BOOM!!!”


Karena api hitam miliknya beradu dengan World Quaker yang mengalir dengan petir, Ganon pun pergi terpental jauh. Namun tidak bagi Gia.


“*Chrrrkk…”


Gia mengepal World Quaker sekuat mungkin, sebelum Ganon datang menyerangnya kembali.


“Gruaaaagh! Dasar sialan! Lo kira kekuatan lo bisa—”


((SKY CRUSHER))


“*JGRUMMM!!!!”


“…”


Ganon yang hendak menyerang Gia, justru harus menerima dirinya yang terbelah secara horizontal di bagian tengah tubuhnya.


Setelah itu…


“*BOOM!!!”


…Tubuh Ganon meledak hingga tanpa sisa.


Dengan hal tersebut, Gia berhasil mengalahkan Ganon dengan kekuatan petirnya.


Di Voxhaben, Dalbert, yang juga tersambar petir, membuat Zhivreeg dan Eìmgrotr terheran-heran.


“D-Dalbert, apakah kau baik-baik saja?!”


“Ya. Justru, daripada baik-baik aja, gue malah ngerasa lebih kuat dari sebelumnya!”


Jawab Dalbert atas pertanyaan Eìmgrotr.


“…”


Ia menciptakan senapan jitu dari Bracelet Armament miliknya. Namun, tiba-tiba ia merasa ada yang aneh dengan matanya.


“K-Kenapa gue bisa liat Jiwa mereka berdua?”


Pikirnya ketika melihat Zhivreeg dan Eìmgrotr.


“Kalo gue bisa liat semua Jiwa orang yang ada di tempat ini, harusnya gue bisa liat… Nah! Itu dia!”


Pikirnya kembali setelah mendapatkan Sickus yang sudah berjalan dan meninggalkan dirinya.


“…”


Sickus pun menoleh ke belakang dari jarak yang jauh dengan Dalbert.


“Ada apa ini? Kenapa adanya petir-petir tadi, gue jadi punya perasaan yang nggak e—”


“*JGRUM!!!”


“!!!”


Sickus dikejutkan dengan sebuah petir yang melaju dengan sangat cepat, yang menembus dan menghancurkan Jiwa miliknya.


“…”


Karena Jiwa miliknya yang sudah hancur, kekuatan serta wujud Iblis miliknya seketika menghilang.


“*Bruk…”


“S-S-Sialan… K-Kenapa Jiwa gue… tiba-tiba hancur…?”


Bisik Sickus, sambil menahan rasa sakit.


Dari jarak yang cukup jauh, Dalbert masih membidiknya. Namun kali ini, bukan Jiwa milik Sickus yang ia incar.


((Sniping Thunder))


“*JGRUM!!!”


“…”


“D-Dalbert… Apakah…”


“Ya. Dia udah mati.”


Jawab Dalbert kepada Eìmgrotr dengan tenang.


Di Brichaudry, Delolliah yang berada tepat di bawah seekor Undead Dragon, hendak memakan Serpent-Heart.


Namun sebelum ia hendak memakan benda terkutuk itu, ia mendengar suara petir yang ada di belakangnya.


“A-Ada suara petir? Tentunya itu bukan kekuatan Djinn, benar?”


Pikirnya, yang saat ini masih gelisah karena harus kehilangan akal sehat dan menjadi seorang monster.


Namun, ia kembali dikejutkan dengan sesuatu yang membantunya.


“*JGRUMMM…”


“Ruoaaarr!!!”


“*BRUK!!!”


“!!!”


Delolliah sangat terkejut karena ada kekuatan petir yang sangat kuat, yang menjatuhkan seekor Undead Dragon yang berada di atasnya.


“P-Petir?! Djinn! Apakah itu serangan—”


“Tidak, Kakak Delolliah!”


“!!!”


Lagi, Delolliah dikejutkan dengan Jennania yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


“J-Jennania! Apa yang terjadi denganmu?! Mengapa engkau—”


“*Phak…”


“…”


Delolliah tidak bisa berkata-kata ketika adiknya tersebut menamparnya.


“Keterlaluan! Mengapa kau begitu nekat, Kakak Delolliah?!”


Tanya Jennania, sambil menangis.


“*Phuk…”


“J-J-Jennania… Maafkan aku. A-Aku terlalu putus asa karena sangat ingin menghancurkan Undead Dragon ini.”


Balas Delolliah, sambil memeluknya.


“T-Tetapi, apa yang terjadi denganmu? Mengapa engkau terlihat sangat berbeda? Aku kira engkau adalah Djinn.”


“A-Aku juga tidak tahu, Kakak Delolliah. Aku pun juga yakin bahwa kekuatan ini milik Djinn. Mungkin aku tidak


sedekat itu dengannya. Namun, jika memang benar kekuatan ini adalah darinya, maka aku mengerti alasan mendapatkan kekuatan ini.”


“*Tap…”


“Sebelumnya, aku mendengar bisikan darinya agar jangan berhenti berharap. Mungkin saja, aku mendapatkan kekuatan ini, agar kau juga terus berharap akan hal baik tanpa mengorbankan dirimu, Kakak Delolliah.”


Jelas Jennania kepada Delolliah, sambil memegang pundaknya.


“Rrrrr…”


“U-Undead Dragon ini masih hidup!”


Seru Delolliah ketika melihat Undead Dragon yang Jennania jatuhkan mulai bangkit.


((Sirena: Trueno))


“*JGRUM!!!”


“!!!”


Namun nyatanya Jennania dengan mudah membunuh Undead Dragon tersebut.


Di Snellsham, pada pertarungan Myllo dan Styx yang menghadang kedatangan Children of Purgatory beserta para pasukan Ghoul.


“*JGRUM!!!”


“Aaaargh!”


“*JGRUM!!!”


“Gruaaagh!”


“…”


Styx hanya terdiam ketika ia melihat Myllo menggunakan tongkat yang mengalir kekuatan petir.


“G-Gila! Kenapa dia punya petir kayak gitu?!”


“Harusnya kan dia udah kecapean! Kok sekarang


malah—”


“*JGRUM!!!”


““Aaaargh!””


Myllo terus mengayunkan tongkatnya. Di belakang dirinya, Styx merasa ada suatu kejanggalan.


“Dia terus nyerang siapapun yang ada di depannya, tapi nggak ada satupun yang mati dipukul sekuat itu?!”


Pikir Styx.


Hingga akhirnya, ada sesuatu keanehan yang terjadi pada beberapa Ghoul yang berada di depan mereka berdua.


““Graaaa…””


““Griiiwww!!!””


““!!!””


Myllo dan Styx dikejutkan dengan beberapa warga yang menjadi Ghoul, yang seketika kembali menjadi seperti


semula, dengan beberapa Ghoul-Trigger yang pergi meninggalkan inang mereka masing-masing.


Tidak hanya mereka berdua saja yang merasa aneh. Seluruh lokasi yang terdapat Ghoul juga mengalami hal yang serupa.


“A-Ada apa sama Ghoul-Ghoul itu?! Kenapa mereka—”


“Hehe! Kalo ini, pasti karena Garry!”


Tawa Myllo yang melihat kejadian tersebut.


“Bagus, Tuan Geri! Anda berhasil melepaskan para warga dari ikatan Ghoul-Trigger!”


“H-Hehehe… Aing teh kuat, bukan?!”


“Ya! Tentu saja!”


Jawab Angela, yang membuat Garry tersanjung.


“Tuan Geri, apa yang sebenarnya anda lakukan? Mengapa anda bisa menyembuhkan mereka tanpa menyentuhnya?”


“Aing teh juga bingung, Teh Angela. Sebelumnya teh aing harus keluar dari Tubuh aing untuk masuk ke dalam pikiran Ghoul yang teteh tangkep. Tapi tiba-tiba aing bisa panggil ribuan Roh untuk tarik beberapa warga yang diperangkap semua Ghoul ini. Padahal mah eta kekuatan teh butuh Mana yang besar banget!”


Jelas Garry kepada Angela.


“Para Acolyte berhasil dikalahkan, Undead Dragon mulai berhasil ditaklukan, dan gelombang serangan yang menyerang titik evakuasi semakin berkurang?! A-Artinya… ini semua tidak lain karena Djinn Dracorion?! M-Mustahil!”


Pikir Angela, yang masih tidak percaya dengan semua keajaiban yang terjadi di Gazomatron.


……………


Sementara itu, dari jarak yang agak jauh dari Gazomatron, di tengah hutan.


“Baiklah, kawan-kawan.”


““…””


“Mari kita mulai rencana kita.”


Kata Snake, yang berjalan bersama para petinggi Serpentis menuju Gazomatron.