
“*Vruwng… (suara portal
tertutup)”
Untung kita berdua berhasil masuk
di tempat ini.
“Ayo kita jalan sekarang, sebelum
kita kedatangan tamu.”
“OK.”
Gue pun jalan ngendap-ngendap
bareng Lupherius.
Sambil kita jalan, gue bisa liat
hal-hal yang bikin gue keinget Penampungan yang dipunya Goldiggia.
“*Syat! (suara cambukan)”
“Cepat jalan!”
“Grrr…”
“*Shrak! (suara tebasan)”
“Rrrr…”
“Cepat! Ambil Jiwa Direwolf ini!
Walaupun tidak memiliki Roh, namun Mana dari Monster ini jauh lebih
berguna daripada Jiwa Manusia!”
““Baik!””
“Jangan lupa untuk pajang
kepalanya, agar menjadi peringatan untuk mahluk-mahluk lainnya!”
““Baik!””
Nggak, justru menurut gue
Penampungan-nya Goldiggia nggak lebih parah daripada ini!
“Oh ya, itu kan Direwolf.
Reaksi lo, gima kalo liat ada serigala yang digituin?”
“Ya nggak apa-apa. Lagian kan
serigala itu cuma jadi kendaraan buat kita.”
“O…Oh…gitu?”
Gue kira dia bakal kesel karena
ada serigala yang digituin juga.
“Lapor!”
“Hm? Ada apa?”
“Kami merasakan ada yang menyusup
ke Penampungan ini!”
““!!!””
Waduh! Kayaknya gue sama
Lupherius ketauan!
“Sebutkan jumlahnya!”
“Ada sekitar…4 orang! Namun 2
diantaranya ada yang berhasil masuk ke dalam Penampungan!”
Hah? Empat orang?
“Gue udah yakin kalo kita bakal
ketauan kayak gini.”
“Terus kita harus gimana?!”
“Gue yakin dua orang yang disebut
pengawal itu tuh kita. Kalo gitu, seenggaknya kita harus tetep usahain gimana
nggak ketauan.”
“OK.”
Karena Lupherius bilang gitu,
akhirnya kita jalan ngendap-ngendap untuk cari Monster sama Petualang yang
diculik.
……………
Selama kita jalan, gue baru sadar
kalo tempat ini tuh luas banget.
Anehnya, tempat ini megah banget!
Bahkan bisa aja orang bikin
istana di tempat ini!
Eh, apa jangan-jangan tempat ini
jadi satu sama istana?!
“*Krang! (suara pintu besi
tertutup)”
“Sialan. Kita nggak bakalan
bisa masuk kalo kayak gini.”
“Kenapa nggak dobrak aja?”
“Jangan. Kita nggak boleh
pancing perhatian di tempat ini.”
Karena Lupherius ngomong gitu, ya
mau nggak mau gue ngikut aja.
Tapi di deket pintu besi ini sih
ada…
“*Prang! (suara jeruji besi
dipukul)”
“Ruaaagh! Argh!”
“Bebasin saya!”
“…”
…beberapa penjara yang isinya
Monster atau Mahluk Intelektual lainnya.
Gue sebenernya mau banget lepasin
mereka, tapi Lupherius ngasih alesan yang logis kenapa gue nggak boleh bebasin
mereka secepetnya.
“Kita masih nggak tau jalan
keluar kita itu di mana.”
“Terus, kita harus gimana?”
“Sekarang, kita cuma bisa—”
“**…boom…* (suara ledakan
dari luar)”
Eh?! Apaan tuh?!
“Gawat! Dua orang yang menyerang
pintu masuk Penampungan semakin menggila!”
“Kami membutuhkan bantuan dari
anggota yang berada di dalam Penampungan!”
“Baiklah! Anggota yang menjaga di
dalam Penampungan akan membantu!”
Gue kira ada Naga atau Dragonkin
yang nyerang, ternyata ada dua orang doang?!”
“Djinn, ini kesempatan kita.
Mungkin kita udah nggak perlu ngumpet-ngumpet lagi.”
“Karena sebagian besar penjaga
tempat ini mau bantuin penjaga lainnya lawan dua orang itu, kan?”
“Ya, lo bener.”
“OK.”
Ujung-ujungnya gue sama Lupherius
nggak perlu ngumpet-ngumpet lagi.
“Hey! Siapa kali—”
“*Chrak! (suara cakaran)”
“Argh…”
“A…Ada dua orang yang—”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Akh…”
Untung pengawal yang ada di sini
nggak begitu kuat.
OK, kalo gitu mending gue dobrak
pintu be—
“Tunggu.”
“Hm?”
“Ah, ini ada kuncinya.”
O…Oooh ada kunci ya.
Haduh, barbar banget gue.
“*Krrrrang! (suara pintu besi
terbuka)”
“OK, pintu ini udah kebuka.
Waktunya kita masuk.”
“Ya!”
Akhirnya gue masuk bareng
Lupherius.
Tempat ini ternyata dalem banget.
Persis kayak Penampungan di mana gue ketemu Myllo.
Tapi tempat ini juga jauh lebih
serem daripada Penampungan.
“…”
Ada banyak banget kepala yang
ditusuk pake pasak yang berdiri!
Gue kira cuma kepala Direwolf
doang! Mulai dari kepala Goblin, Orc, Elf, sama beberapa kepala Kaum
Non-Manusia juga dipajang begitu!
“Ke…Keterlaluan!”
“*Dhum… (suara tekanan aura)”
“Tahan emosi lo, Djinn. Bukan
waktunya kita gila-gilaan di tempat ini.”
Ah, gue kayaknya terlalu emosi,
sampe aura gue keluar sendiri.
“He…Hey! Apakah ada yang
merasakan aura itu?!”
“Sa…Saya juga merasakannya!”
Cih! Jadi ketauan karena gue!
“Hm…ketauan, ya?”
“Ah salah gue semua. Terus kita
gimana?”
“Hajar mereka aja.”
“OK.”
Karena gue, ujung-ujungnya kita
harus bantai penjaga-penjaga ini.
“Ba…Bahaya! Dua orang yang berada
di dalam telah terlihat!”
“Mari kita lawan mereka!”
““Hard Wall!””
“…”
Penjaga tempat ini ada 10 orang,
tapi mereka bisa nyatuin kekuatan mereka sampe bikin perisai sihir yang gede
banget!
Tapi…
memukul tanpa henti)”
“*Chrang! (suara sihir perisai
pecah)”
““Aaargh!””
“Pria itu kuat seka—”
“Lycan Strike.”
“*Chrak! (suara cakaran)”
““Aaaargh!””
Semua penjaga ini cuma butuh
dicakar sekali sama Lupherius supaya kalah.
“Ayo kita bebasin mereka sekarang
juga.”
“Ya!”
Kita nggak boleh lama-lama di
sini.
Makanya itu harus cepet-cepet
hancurin penjaranya.
““*Prang! (suara banyak penjara
dirubuhkan)””
Dari beberapa tahanan ini, gue
yakin ada Petualang-Petualang yang mungkin ditangkep. Yang gue kaget itu…
“Lo itu—”
“Hiiekh! Sialan, lo! Kenapa lo
yang bebasin kita!”
…bahkan ada beberapa bandit yang
waktu itu nyerang Joint Party!
“Kok lo bisa ketangkep?!”
“Gue waktu itu nyerang
kediamannya Siegfried! Ternyata…kita semua dijebak sama mereka!”
“Emangnya ngapain lo—”
“Djinn, waktu kita nggak lama!
Ayo kita bebasin yang lainnya!”
Oh iya! Gue sampe kelupaan!
“OK, kalo gitu gue bebasin yang
lain—”
“Cepet lo bebasin yang lainnya,
sebelum mereka dibunuh!”
Dibunuh?!
…
Oh iya!
Kan Jiwa mereka ya yang
dibutuhin!
“Yaudah, kalo gitu gue—”
“Mending kita bawa yang masih
bisa berantem, Djinn.”
Oh gitu?!
“Yaudah! Lo ikut gue!”
“Hah?! Ngapain gue ikut—”
“Lo udah gue bebasin, brengsek!
Seenggaknya lo harus bantuin gue untuk bebasin rekan-rekan lo yang lain!”
“Y…Ya…”
Nggak cuma gue doang yang bujuk
tahanan-tahanan ini, Lupherius pun juga.
“Lo, lo, sama lo, ikut gue.”
““Ya.””
Akhirnya kita dibantu Petualang
sama bandit lainnya untuk bebasin tahanan yang ada di tempat ini.
“Gawat! Beberapa tahanan lainnya
hendak—”
“Judgement!”
“*Jgrum! (suara pukulan petir)”
““Uaaakkhh!””
“Panggil pengawal lainnya! Para
tahanan ikut membantu mereka!”
““Baik!””
Duh, mereka jadi manggil balik
para pengawal tadi, deh.
Tapi untung aja Lupherius ajak
mereka semua untuk ikut kita.
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Urgh…”
“Water Bolt!”
“*Bwush! (suara sihir air)”
“Aaargh!”
Kalo cuma kita berdua doang yang
bebasin tahanan-tahanan ini, mungkin bebasin semua tahanan ini nggak secepet
ini, kali.
……………
Kira-kira udah ratusan tahanan
yang kita bebasin.
Sampe akhirnya, kita ada di
lantai paling dasar.
““*Shrak! (suara memenggal banyak
kepala)””
Ternyata di sini tempat
pembunuhan Kaum Non-Manusia—
“!!!”
Brengsek! Itu Zorlyan sama Yssalq!
“*Swush! (suara melompat cepat)”
“Djinn! Tunggu du—”
“Judgement: Hammer Fist!”
“*JGRUM! (suara pukulan petir)”
“Aaaargh!”
Untung aja gue dateng lebih
cepet!
“Woy! Zorlyan! Yssalq! Lo nggak
apa-apa—”
“*Chringgg… (suara sinar
bercahaya)”
Duh, *****!
Apaan nih sinar terang kayak gi—
“Djinn! Pergi dari sini, sebelum
meledak!”
“!!!”
Aaaah! Anjing—
“*BOOM! (suara ledakan kencang)”
……………
“*Nginggggg… (suara telinga)”
“Uhuk, uhuk, uhuk…”
“Djinn! Djinn!”
Ah, gue masih hidup, ya?!
“Bawa tahanan-tahanan itu dari
sana!”
Lupherius?!
“!!!”
Ternyata…secara nggak sadar gue
nahan beberapa tahanan-tahanan ini supaya nggak ketimpa batu-batuan yang runtuh
ini?!
“Luph! Bantuin gue, Luph!”
“Djinn?!”
“Masih ada beberapa yang
selamat!”
“OK! Kita bantu dia!”
““Ya!””
Ujung-ujungnya, Lupherius sama
tahanan lainnya bantuin gue sama beberapa tahanan yang masih bisa gue jagain
dari reruntuhan ini.
Dari 20 tahanan yang kejebak
bareng gue, gue cuma bisa selamatin 3 orang aja.
Cih! Gue kesel sendiri karena
nggak bisa selamatin 17 lainnya!
“Yssalq! Yssalq!”
“…”
Dia udah nggak sadar, ya?
“Zorlyan! Woy! Lo masih sadar,
nggak?!”
“Uhm…Djinn…? Gue ada di mana?”
“Lo tuh ditangkep!”
“Ditangkep—”
“Nanti aja! Mending kita pergi
dulu dari sini!”
“Y…Ya…”
Bagus, seenggaknya dia udah
sadar, deh.
“Woy, Alethra!”
“Uhuk, uhuk, uhuk! Gue…ada di
mana?”
“Huh! Untung aja lo udah bangun!”
Tunggu…siapa nama Elf itu?!
“Woy!”
“Hmm? Lo siapa—”
“Lo itu…adeknya Miraela?!”
“Miraela…? Maksudnya…kakak gue…?”
Tuh kan! Ternyata dia adeknya—
“Djinn.”
“Ah, ya. Ayo kita pergi dari
tempat ini secepetnya.”
Kita berhasil selamatin hampir
semua tahanan di tempat ini.
Masalahnya sekarang itu, mungkin
nggak kita bisa keluar dari tempat ini?