Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 324. Bite The Bait



“OK, Djinn! Kita pergi sekarang, ya!”


“Jangan kebanyakan gerak ya, Djinn! Kamu masih perlu istirahat!”


“Ya. Hati-hati, kalian semua.”


““…””


Myllo pergi bareng yang lain.


Ujung-ujungnya, cuma ada gue, Garry, Machinno, Ambrolis, sama warga desa yang masih belom sadar.


Ya. Garry nggak jadi ikut.


Itu semua karena kejadian tadi malem, di mana gue hampir mau berantem sama Dalbert.


……………


“*Tap!”


“…”


Gue dorong Dalbert yang maki-maki Myllo.


“Heh, brengsek! Jaga mulut lo, ya!”


“Djinn! Lo sadar kan kalo—”


“Mau apapun alesannya, nggak kayak gitu cara lo kasih saran, Dalbert! Apalagi lo ngomong sama Kapten lo!”


“…”


Gue tau kalo apa yang dia bilang bener tentang Garry.


Kemampuan Garry itu pake sihir. Tapi kalo pake kekuatan sihir, ujung-ujungnya kekuatan sihir itu cuma diserap Cthorach aja.


Tapi, cara jelasin dia tuh salah banget. Kalo dia ngomong kayak gitu, ujung-ujungnya cuma bikin salah paham aja.


Terus apa yang dia bilang tentang Myllo juga nggak salah. Karena emang gue sendiri juga ngakuin, kalo Myllo itu emang naif.


Tapi sejauh ini, kenaifan dia nggak jadi penghalang buat gue ataupun yang lainnya. Intinya dia nggak perlu ngomong kayak gitu.


“…”


Gue liat Gia yang khawatir sama kita bertiga. Sedangkan Garry cuma gemeteran ketakutan.


Gue yakin dia bukan takut sama Dalbert. Tapi, dia takut sama fakta yang Dalbert bilang.


“Djinn, kamu jangan—”


“Minta maaf lo sekarang sama mereka berdua, Dalbert!”


“…”


“Dalbert!”


“Ya. Maafin gue, Myllo. Apa yang gue bilang kelewatan. Tapi, gue masih pertahanin opini gue tentang Garry.”


“Emangnya ada apa sama Ga—”


“Izinkan aku yang menjelaskan maksud Dalbert Dalrio, Myllo Olfret.”


““…””


Abis itu kita semua dengerin penjelasan Ivis, yang persis kayak yang gue pikirin.


“Oh gitu, ya?! Hehe! Ternyata cuma salah paham aja!”


Ya. Emang semuanya cuma salah paham.


Walaupun gue masih pertanyain cara ngomongnya Dalbert, seenggaknya situasinya udah lebih tenang.


“Garry! Lo sendiri, gimana?!”


“A-Aing teh… ngikut wae, Myllo…”


“…”


Jujur aja, tadi malem gue sebenernya mau banget tonjok Dalbert. Andai dia nggak ngomong kayak gitu, mungkin Garry nggak kehilangan rasa percaya dirinya.


“Yaudah deh!”


“*Tap! Tap! Tap!”


“Aduh! Sakit atuh, Myllo—”


“Jangan patah semangat, Garry! Gue yakin, lo pasti berguna di lain waktu! Kan lo itu sahabat gue, Garry! Nggak mungkin orang yang gue anggap sahabat itu lemah! Ya kan?! Hehe!”


“Myllo…”


Untungnya Myllo punya cara untuk semangatin Garry, jadinya gue nggak perlu tonjok Dalbert.


……………


Ya kira-kira begitu deh kejadian tadi malem.


Sekarang mereka pergi. Karena mereka mau pergi, gue mau istirahat sebentar karena harus “ngeronda” semaleman.


“Hey.”


“…”


Ternyata Ambrolis udah bangun.


“Apakah Kakak Ivis sudah pergi dengan teman-temanmu?”


“Udah. Baru aja mereka jalan.”


“Oh, baiklah.”


““…””


Duh! Paling nggak bisa nih gue momen canggung kayak gini!


““…””


Kira-kira gue harus obrolin apa ya—


“Vamulran.”


“Hah?!”


Giliran mau gue cariin topik, dia malah panggil gue pake nama klan gue!


Eh tunggu…


Kok gue baru sadar, ya?!


Kenapa Djinnardio pake marga ibunya, bukan marga bapaknya—


“Aku penasaran dengan satu hal.”


“Apaan?!”


“Saat kita semua hendak melarikan diri dari Dungeon of Poison, mengapa engkau mendorongku, yang sedang membawamu? Bukankah keadaanmu sedang kritis?”


Ah. Pasti ditanyain soal itu.


“Apakah ada yang kau inginkan dariku, sampai kau rela mengorbankan nyawamu seperti itu? Apakah kau hendak mendapatkan permintaan maaf dariku, Vamulran?”


Hah?!


“Tunggu. Maksud lo nanya gitu apa, ya?”


“T-Tidak. Hanya saja—”


“Emangnya gue keliatan kayak orang yang mau sesuatu dari lo?!”


“M-Mungkin saja. Mengingat kau adalah keturunan Vamul—”


“Denger gue baik-baik ya! Mau lo suka atau nggak suka sama gue, itu urusan lo! Tapi kalo lo sampe niat baik gue lo anggap kayak gitu, mending jauh-jauh lo dari gu—”


“Baiklah, kuakui aku salah! Karena itu, mohon dengarkan aku!”


“…”


Huh, gue terlalu emosi gara-gara cewek satu ini.


“Jika engkau memang seorang Vamulran, bukankah seharusnya engkau lebih mementingkan nyawamu daripada nyawa orang lain?!”


Cih! Susah juga ya nahan sabar sama cewek ini!


“Kenapa sih harus Vamulran ini, Vamulran itu?! Emangnya semua Vamulran harus sama kayak yang lo kira?!”


“Ti-Tidak. Hanya saja, kau mengingatkanku pada satu Vamulran yang berbeda dari Vamulran lainnya.”


Satu Vamulran yang beda?


“Maksud lo tuh… Druid Terakhir?”


“Kau benar. Seperti Druid Terakhir, kau rela mengorbankan dirimu demi orang yang menganggapmu sebagai musuh.”


“Musuh? Emangnya… lo anggep dia musuh lo?”


“Ya. Semenjak ia melanggar sumpahnya demi mengikuti Manusia itu.”


Hah? Sumpah? Ngikutin Manusia itu?!


Siapa yang cewek ini maksud?!


“Terus kalo gue sendiri gimana?”


“Hm? Apa maksudmu?”


“Menurut lo, gue ini kawan atau lawan?”


“Jujur saja, aku ingin menyebutmu sebagai lawan.”


Cih! Kalo gitu—


“Akan tetapi, seperti Kakak Ivis yang mau menerima keberadaanmu, aku akan mencoba untuk menerimamu. Lagipula, sebelumnya kau telah menyelamatkanku. Maka dari itu, aku akan berusaha agar membayar hutang nyawa darimu, semenjak aku tidak sudi berutang nyawa dengan—”


“Haaaaah…! Padahal gue udah tulus nyelamatin lo! Tapi kalo lo masih mikir kayak gitu, percuma juga gue nolongin


lo!”


Tiba-tiba mood gue jadi jelek di sini. Mending pergi aja deh.


“Hey, Vamul—Tidak! Maksudku, Djinn Dracorion! Tunggu dulu! Aku sedang—”


“Et! Udah ada yang bangun!”


Hah?! Udah ada warga desa yang bangun?!


“…”


Karena denger suara Garry, gue pun samperin dia yang ada di sekitar warga desa. Seenggaknya gue punya alesan untuk tinggalin—


“L-Lepasin! Saya mau per—”


“Et! Sianying! Sabar heula, atuh! Sia teh masih belom bisa bergerak!”


“Diam! Dasar penculik!”


Hah?! Penculik?!


“Pak! Saya mau nanya—”


“Hieeekh! A-Anda lagi! T-To-Tolong lepasin saya!”


“…”


Oh iya. Dia kira gue ini penculiknya kali ya?


“…”


Biar dia tenang, gue lepas topeng gue.


“Nih, pak! Kalo saya penculiknya, nggak mungkin kan saya—”


“Tapi anda itu Petualang, bukan?!”


Hah…?


“I-Iya. Terus apa hubungannya—”


“B-B-Bodo amat! Kalo anda itu juga Petualang…”


“*Tap…”


Eh! Kenapa orang ini tiba-tiba pingsan?


Untungnya sih bisa gue pegangin, supaya nggak jatoh.


“Teh Ambrolis?! Orang ieu teh pingsan karena teteh, ya?”


Hah?! Karena Ambrolis?!


“Ya. Sepertinya ia belum pulih sepenuhnya. Tekanan psikologis yang ia terima sepertinya membuatnya menjadi panik seperti itu. Karena itu aku menggunakan tanaman merambat yang terikat pada lengannya, untuk membuatnya tertidur. Apakah tindakanku salah, Djinn Dracorion?”


“Nggak kok.”


Daripada orang ini berontak sana-sini, mending—


“*Brak!”


“Hey! Apa yang engkau laku—”


“Kalo kalian Petualang, nyawa kita masih terancam!”


Aduh…


Dasar anak anjing…


Berani-beraninya… dia ketok kepala gue pake balok kayu… dari bela…kang…!


“*Bruk…”


“Et! Djinn!”


S-Sialan…


Kepala gue bocor…


Sakit banget rasanya…!


“Denger saya, ya!”


““…””


“Kalo kalian itu sama-sama Petualang, artinya nyawa kami, warga Mushmush, masih terancam!”


A-A-Apa… maksud orang ini…?


“Sianying! Bisa-bisanya sia—”


“Asal kalian tau, ya!”


““…””


“Kita semua diculik karena satu tujuan!”


“Tujuan?! Apa maksudmu?!”


“Kita diculik mereka, para Petualang, cuma buat jadi umpan untuk Petualang lain, yang mau mereka culik!”


““!!!””


A-Apa…?


J-J-Jadi selama ini… kita gigit… umpan… dari penculik-penculik… i…tu…?


“…”


“Aduh, Djinn! Jangan pingsan dulu, atuh!”


M-Maafin gue, Garry…


Andai gue… masih punya kekuatan gue…


Mungkin lo… nggak kerepotan… kayak… seka…rang…