Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 322. Poisoned



“Djinn! Tolong pancing perhatiannya! Biar gue yang serang dia!”


“OK, Mil!”


Djinn dan Myllo bersiap untuk menghadapi Cthorach. Bersama-sama mereka berlari menuju Spirit Beast tersebut.


“*Swush, swush, swush…”


“RRRRRR…”


Djinn bergerak cepat untuk menghindari Cthorach, yang menyerangnya lewat duri-duri dari dalam tanah maupun ayunan cambukan kayu berduri miliknya.


“Hyaaaat!”


“*TUK!!!”


“RRRAAAUGH!”


Pukulan tongkat Myllo berhasil menyerang Cthorach. Ia memukul kepala Cthorach yang berusaha membunuh Djinn.


Walaupun Myllo telah menyerangnya, nyatanya perhatian Cthorach tetap tertuju pada Djinn. Itu semua karena kebenciannya terhadap seseorang yang memiliki darah dari Klan Vamulran.


“Cih! Andai gue bisa pake sihir untuk serang monster ini!”


Pikir Djinn dengan resah, karena ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menghindar.


Sementara itu, Ambrolis.


“Toxin Preven—Urgh…”


Ia hendak merapal sihir miliknya. Akan tetapi, ia gagal untuk meneyelesaikan rapalan sihirnya itu.


“Sepertinya Mana milikku akan habis!”


Pikir Ambrolis sambil berusaha mencari tahu alasan di balik berkurangnya Mana miliknya.


“Mulai dari Cthorach yang menggunakan kekuatan angin untuk menghempaskan Myllo Olfret, Margia Maevin, dan Dalbert Dalrio. Sudah kuduga, ternyata ia menanamkan racun miliknya ke dalam kekuatan angin tersebut!


Namun yang tidak kuduga adalah, bahwa melindungi mereka semua dari racun Cthorach saja sudah menguras Mana milikku sebanyak ini! Artinya, satu atau dua dari antara mereka berenam memiliki—”


“Ambrolis! Minggir!”


“*SWUSH!!!”


“!!!”


Ambrolis seketika dikejutkan dengan adanya Djinn yang berlari ke arahnya, sambil menghindari ayunan serangan dari Cthorach.


{Kazedoryū: Haku}


“*TUK!!!”


“RRRAAAUGH!!!”


“*BRUK!!!”


Myllo kembali menyerang Cthorach dengan teknik tongkat miliknya.


Akan tetapi…


“Keuk!”


…seketika ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.


“Myllo!”


Teriak Djinn dengan khawatir, ketika Cthorach mulai mengarahkan perhatiannya kepada Myllo dan langsung menyerangnya.


“Mil! Lo nggak apa-a—”


“Tenang aja! Gue masih baik-baik aja! Kalo nggak karena gelang ini, mungkin—”


“Urgh…”


“*Bruk…”


““!!!””


Djinn dan Myllo seketika terkejut dengan Ambrolis yang terjatuh.


“Woy! Lo nggak apa-apa?!”


“S-Sepertinya… aku kelelahan karena Mana milikku yang terkuras banyak…!”


Jawab Ambrolis ketika ditanya oleh Djinn.


“Seperti yang kuduga. Myllo Olfret bukanlah Manusia biasa! Tetapi… aku yakin ada satu atau dua orang lagi yang sama unik dengannya!”


Pikir Ambrolis tentang Myllo.


“…”


Dari jauh, Ivis menatap Ambrolis yang kelelahan. Ia sedang berusaha melepaskan warga dari belenggu kayu milik Cthorach.


“*Shrak, shrak, shrak…”


“S-Sialan! Kenapa keras banget sih kayu-kayu ini?!”


“Iya! Aku juga kesusahan untuk bukanya!”


Sahut Gia, yang sedang berusaha memotong kayu yang mengikat warga Mushmush Village, bersama Dalbert dan Ivis.


Mereka berdua terus berusaha memotong belenggu tersebut dengan senjata mereka masing-masing. Akan tetapi belenggu tersebut sangatlah keras dan tidak bisa dipotong sama sekali.


“…”


Sementara mereka berdua menggunakan senjata mereka untuk memotong belenggu tersebut, cara Ivis berbeda dari mereka. Ia menyentuh akar keras tersebut, sambil memejamkan matanya.


“*Krrrttt…”


“Margia Maevin! Dalbert Dalrio! Aku berhasil melemahkan akar ini! Potonglah secepatnya!”


“OK! Biar gue aja!”


Balas Dalbert yang langsung menghampiri Ivis.


“*Shrak!”


“Satu warga udah berhasil dilepasin! Machinno! Bawa orang ini, sekarang!”


“Baik.”


Jawab Machinno kepada Dalbert, sambil mempersiapkan sihirnya.


((Barrier Magic: Floating Barrier))


“*Swush…”


Machinno kemudian membawa warga tersebut dengan sihirnya.


Akan tetapi…


“RRAAAAAAAUGH!!!”


““!!!””


…Cthorach menyadari hal tersebut. Ia kemudian berusaha menyerang Grup Pembebas Warga, yang kali ini dipimpin Dalbert.


“*Tuk…”


“Fokus aja ke gue! Dasar mahluk jelek!”


Seru Djinn, setelah ia melempar sebuah batu ke kepala Cthorach.


“*Shruk, shruk, shruk…”


“*DRAP, DRAP, DRAP…”


Karena aksi Djinn, perhatian Cthorach kembali tertuju kepadanya. Kali ini Cthorach berjalan mengejarnya, sambil menembakkan duri lewat Tubuh-nya.


“RRRAAAAA—”


“Hyaaaat!”


“*TUK!!!”


“RRRR!!!”


Cthorach hendak menyerang Djinn. Namun Myllo melompat dari belakang mereka, dan langsung memukul tangan Cthorach menggunakan tongkatnya.


“!!!”


Ivis seketika menyadari sesuatu, setelah melihat keanehan dari semua gelang yang dikenakan oleh anggota Aquilla.


“Ban lengan ciptaan Ambrolis sudah tidak bercahaya?! Artinya ia sudah mengalami Mana*-Burnout!”*


Pikir Ivis tentang keadaan adiknya saat ini.


“Dalbert Dalrio. Untuk sementara, aku tidak akan bisa membantu kalian.”


“Hah?! Lo mau ke ma—”


“Ada yang harus kulakukan, untuk memastikan keselamatan teman-teman kalian!”


Potong Ivis, sambil mengangkat tangannya dan mempersiapkan sihirnya.


{((Tree Zona: Essence Load))}


““*Shrak…””


“!!!”


Dengan menggunakan Union Zona, Ivis menciptakan beberapa ranting pohon di udara, yang langsung menusuk Ambrolis. Hal tersebut mengejutkan Djinn.


“Eh?! Kok lo—”


“*Shringgg…”


“???”


Kali ini Djinn heran dengan keadaan Ambrolis, yang seketika terdapat cahaya pada Tubuh-nya.


“Huffff!”


“Oh? Udah bangun—”


“Kekuatan ini… apakah ini kekuatan Kakak Ivis?!”


Sahut Ambrolis dengan penasaran.


“Seketika Mana milikku terisi karenanya! Artinya aku—”


“…”


“Hey! Jangan pergi!”


Teriak Ambrolis dengan khawatir, setelah Djinn kembali meninggalkannya.


Walaupun Djinn mendengar teriakannnya, namun ia tidak memperdulikannya.


“Gimana gue nggak tinggalin gitu aja, kalo Kapten gue lagi kesusahan?!”


Pikir Djinn, sambil menyaksikan Myllo yang bertarung seorang diri melawan Cthorach.


“*Krrak!”


Ia mematahkan duri milik Cthorach yang masih berdiri dari bawah tanah.


“Heaaaagh!”


“*Shruk…”


Kemudian ia gunakan duri tersebut untuk dilempar ke Cthorach, hingga tertancap di kakinya.


“RRRAAAAAAUGH!!!”


“…”


Djinn kembali mendapatkan perhatian Cthorach. Namun alih-alih menjauhkan dirinya dari mahluk tersebut, ia justru berlari mendekatinya.


““*Krrak!””


Ia mengambil beberapa duri, yang ia gunakan sebagai senjata.


“Hehe! OK kalo gitu!”


Jawab Myllo dengan semangat ketika mendengar rencana baru dari Djinn.


“*BRUK!!!”


“…”


“*BRUK!!!”


“…”


Sambil berlari menuju Cthorach, Djinn juga berusaha untuk menghindari hentakan keras dari Cthorach.


“Udah gue duga! Duri-duri dari monster ini lebih keras daripada kaki kayunya ini! Kalo gitu, gue harusnya bisa lumpuhin monster ini pake durinya sendiri!”


Pikir Djinn, setelah ia teringat bahwa duri yang ia lempar sebelumnya berhasil tertancap di dada Cthorach.


““*Shruk!!!””


“RRRAAAAAUGH!!!”


“*BRUK…”


Rencana yang ia laksanakan membuahkan hasil. Ia menggunakan dua duri yang ia ambil sebelumnya, untuk menusuk kaki besar milik Cthorach. Karena itu, satu kaki milik Cthorach berhasil dilumpuhkan, sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


“Hehe! Mantap, Djinn! Kalo gitu gue—”


“*Bruk…”


“Djinn?!”


Myllo merasa heran dengan Djinn yang tiba-tiba terjatuh.


((Vine Grappler))


“*Cyut…”


Melihat Djinn yang terjatuh, Ambrolis pun langsung menggunakan sihirnya dalam rupa tumbuhan merambat, untuk menariknya.


Sementara Myllo yang hendak menyerang Cthorach…


“*BRUK!!!”


“Urgh…”


…dengan mudah dihempaskan oleh Spirit Beast tersebut.


“P-Panas banget badan gue…! A-Ada apa… sama badan gue…? Kenapa gue tiba-tiba—”


“Bodoh! Apakah engkau begitu ingin mati di tangan mahluk tersebut?!”


“…”


Djinn hanya menatap Ambrolis dengan tatapan kosong.


“Apakah kau sadar, bahwa ban lengan yang kuciptakan telah putus?!”


“!!!”


Djinn pun terkejut karena tidak menyadari ban lengan yang lepas darinya.


“K-Kapan putusnya…?”


“…”


Ambrolis hanya terdiam karena merasa bersalah.


“Karena ia menyelamatkanku yang tidak waspada, ia kehilangan ban lengan yang kuciptakan!”


Pikir Ambrolis yang menyadari tentang hal tersebut.


“Ambrolis! Ada apa… sama Djinn?!”


“I-Ia terkena racun milik—”


“SEMUANYA!!! DJINN KENA RACUN!!! KITA MUNDUR, SEKARANG JUGA!!!”


““!!!””


Teriakan Myllo mengejutkan rekan-rekannya.


“Cih! Apa boleh buat!”


“Ha-Ha-Hayu, atuh! Kita mundur seka—”


“Tunggu! Seenggaknya, biarin aku selamatin warga ini!”


““…””


Mereka semua menatap Gia dan juga akar yang membelenggu salah seorang warga desa.


“M-Margia Maevin. Bagaimana kau—”


((Iron Slasher))


“*Krraak!”


“…”


Dengan sihir pedang miliknya, Gia berhasil membebaskan salah seorang warga desa.


Setelah itu, mereka semua bersiap-siap untuk meninggalkan Dungeon of Poison.


“Ayo semuanya! Jangan pake lama!”


Seru Myllo, dari pintu keluar Dungeon of Poison.


“Hey, Vamulran! Bertahanlah!”


“…”


Djinn tidak menjawab. Perlahan-lahan kesadarannya semakin memudar.


“*Swush…”


Sedangkan Machinno kembali menggunakan sihirnya untuk membawa rekan-rekannya, beserta warga yang berhasil dibebaskan Gia.


“*Swush…”


Karena sihir Machinno, Grup Pembebas Warga keluar dari teritori Cthorach lebih cepat dibandingkan Grup Pengalih Perhatian.


“Ambrolis! Cepetan lari!”


Seru Myllo, yang berada di depan Ambrolis yang membawa Djinn.


“*RRRAAAAAAUGH!!!”


Melihat Ambrolis dan Djinn yang berada di belakang, Cthorach pun hendak menjebak mereka berdua.


Namun karena raungan keras dari Cthorach, Djinn pun kembali sadar. Ia menyadari akan aksi yang akan dilakukan oleh Cthorach.


Oleh sebab itu, ia melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri.


“*Tap!”


“Hey! Apa yang kau lakukan—”


“*BRUK!”


“Aaargh!”


““DJINN!!!””


Teriak seluruh anggota Aquilla, ketika mereka menyaksikan Djinn yang kembali diserang oleh Cthorach, setelah ia mendorong Ambrolis agar tidak terkena serangannya.


“*BRUK!!!”


Cthorach kemudian memukul dinding besar di dalam goa tersebut, sehingga pintu keluar tertutup.


“Djinn!”


“*Bruk, bruk, bruk…”


“Brengsek!”


Seru Myllo dengan kesal, sambil berusaha membuka kembali pintu masuk goa tersebut.


“*Prang, prang, prang…”


“*Shrak, shrak, shrak…”


Gia dan Dalbert pun melakukan hal yang sama. Mereka berusaha menghancurkan bongkahan bebatuan yang menutup pintu masuk itu.


“S-Sianying…! Kenapa nekat pisan, anying?! Bisa-bisa sia modar, gobloug!”


Seru Garry dengan kesal, sambil meneteskan air mata.


““…””


Ivis dan Ambrolis hanya bisa menyaksikan kejadian tersebut dengan putus asa.


Namun berbeda halnya dengan Machinno.


“Djinn… mati…?”


Pikir Machinno dengan khawatir dan gelisah.


Sementara Djinn yang terperangkap di dalam goa tersebut.


“Ha… Hahaha…”


“RRRRR…”


“Mampus lo… karena gagal lukain temen-temen gue…!”


Serunya dengan nada pelan, sambil menahan rasa sakit.


“RRRRAAAAAAUGGGH!!!”


“…”


Ia hanya menatap Cthorach yang meraung dengan keras, sambil memikirkan


cara untuk keluar dari tempat tersebut.


Hingga akhirnya…


“*BRUK!!!”


“!!!”


“Rrrrrr…”


…ia dikejutkan dengan kedatangan seekor harimau putih berekor dua, yang menghancurkan bongkahan batu yang menjebaknya di dalam goa tersebut.


““*SWUSH!!!””


Cthorach mengayunkan kembali lengan panjangnya untuk menyerang Djinn. Sementara harimau tersebut berlari dengan cepat menuju depannya.


Oleh karena itu…


“*BRUK!!!”


““!!!””


…harimau putih tersebut menerima serangan dari Cthorach, sambil berusaha melindungi Djinn.


““*Bruk, bruk, bruk…””


Mereka pun dihempaskan jauh oleh Cthorach, hingga keluar dari dalam teritori milik Spirit Beast tersebut. Karena hal itu, Djinn pun menahan rasa sakit hingga tidak sadarkan diri.


Namun di saat ia akan hilang kesadarannya, ia menyaksikan hal yang mengejutkannya.


“*Puff…”


“M-M-Ma… chinno…?”


“…”


Bisik Djinn, sambil melihat harimau putih berekor dua yang meledak dan berubah menjadi Machinno.