
Temen-temen gue udah dibawa pergi monster bajingan yang namanya Leonard itu.
Selain itu, peluang Dalbert untuk hidup kecil banget.
Artinya… gue ditinggal…
Sendirian.
“Hiks! Hiks! Hiks!”
Sekarang gue kayak bocah kesepian yang ditinggal temen-temennya.
Nggak, lebih tepatnya ditinggal keluarganya. Karena mereka udah kayak keluarga buat gue.
“Keuk…!”
Gue kira… kita nggak harus ngerasain kayak gini… semenjak kita semua berhasil selamat dari Children of
Purgatory di Gazomatron…!
Andai semuanya cuma mimpi…! Andai semuanya cuma sekedar kemungkinan yang harus kita hadapin! Andai nggak ada kejadian kayak gini…!
Andai kita bisa lawan Leonard…!
Andai kita semua lebih kuat…
Nggak.
Andai gue… lebih kuat.
Andai gue… masih punya kekuatan gue—
“Pria Terjanji…?”
“…”
Suara itu…
“Ayasaki…?!”
“Ya. Aku ada di—”
“Nga-Ngapain lo ada di sini?!”
“Hm? Apa maksudmu? Tentu saja aku ada di tempat i—”
“Kalo lo ada di sini… harusnya lo bisa lawan Leonard…! Kenapa lo diem a—”
“Aku sudah melaksanakan tugasku. Pengacau bernama Leonard itu hendak memasuki Chamber of Ancient Armament. Tetapi aku telah menggunakan otoritasku sebagai Dungeon Guardian untuk mengusirnya—”
“Kalo lo bisa usir dia daritadi… kenapa lo nggak usir dia secepetnya…?! Sekarang dia… udah bawa dua murid lo…! Kenapa lo—”
“Aku sudah mengatakan kepadamu, Pria Terjanji. Aku telah melaksanakan tugasku sebagai Dungeon God. Lagipula tugasku bukanlah menjaga Hidden Dungeon of Breath. Tugasku hanyalah menjaga Chamber of Ancient Armament.”
Keuk! Dasar cewek satu ini—
“Jika kau menginginkan seseorang untuk disalahkan, maka salahkanlah dirimu.”
“Hah…?! A-Apa lo bilang—”
“Andai saja kau tidak menyegel kekuatan yang kau benci itu, mungkin Myllo, Ryūhime-chan, serta teman-temanmu, tidak akan dibawa begitu saja.”
“!!!”
B-Brengsek…!
Gue nggak mau ngakuin itu, tapi apa yang dia bilang ada benernya…!
“Keuk…!”
Mulai dari rasa penyesalan, rasa kehilangan, marah, benci, sedih.
Semuanya kumpul jadi satu, semenjak dia bilang gitu ke gue.
“Tenanglah, Pria Terjanji—”
“Tenang… lo bilang?! Gue kehilangan… temen-temen gue… Ayasaki! Lo pikir gue kayak lo… yang tinggalin
temen lo… Melchizedek—”
“*Phak!”
Cih! Tiba-tiba dia tampar gue—
“Tenangkanlah dirimu, Pria Terjanji!”
“…”
“Kau pikir menyalahkanku dan menghinaku seperti itu akan mengembalikan teman-temanmu?!”
Ya, gue juga tau soal itu.
Karena gue terlalu frustasi, makanya gue ngomong kayak gitu.
Tapi bukan berarti dia juga nggak sepenuhnya salah! Dia pikir—
“Semuanya belum terlambat.”
B-Belom terlambat…?
“Apa maksud lo…?”
“Dari semua yang bisa kusimpulkan, Leonard Rochdale hendak membawa orang-orang yang menurutnya kuat. Karena itu ia tidak akan membunuh mereka semua. Jika ia ingin membunuh mereka, mungkin ia sudah melakukannya sejak dari awal.”
Kalo itu sih gue juga tau!
“Tapi gimana cara gue nyusul temen-temen gue—”
“Aku telah membebaskan tiga orang yang tidak setia dengannya. Dengan kehadiran mereka, kau bisa pergi menyusulnya untuk menyelamatkan teman-temanmu.”
“!!!”
A-Ada anggota Leo yang berkhianat?!
“Y-Yaudah! Kalo gitu—”
“Kau hendak menyusul mereka secepatnya?”
“P-Pastinya—”
“Apakah kau sudah bosan untuk hidup, hingga ingin bunuh diri seperti itu?”
“Hah?! Kok—”
“Menyusul mereka dengan kondisimu yang seperti ini, kau sama saja bunuh diri, Pria Terjanji.”
Kondisi gue…?
“…”
Tunggu, kok gue udah sembuh…?
Eh, kalo udah sembuh, artinya…
“Gue udah sembuh! Artinya gue bisa nyusul mereka—”
“Tidak. Aku tidak membicarakan kondisimu kesehatanmu, Pria Terjanji. Jika kau membicarakan tentang kondisi kesehatanmu, kau telah disembuhkan oleh para Kepala Komisi, yang datang ke tempat ini dan pergi dengan membawa temanmu, yang kondisinya sangat kritis.”
“!!!”
Oh iya! Kok gue nggak liat ada Dalbert?!
“Terus maksud lo kondisi tuh apa?!”
“…”
Cih! Gue sebenernya udah tau arah omongan dia! Tapi gue berharap supaya dia nggak ngomongin itu!
“Dengarlah aku baik-baik, Pria Terjanji.”
“…”
“Sebelumnya kau mengatakan, bahwa aku tidak mengerti dengan apa yang dinamakan dengan rasa kehilangan.”
“Terus—”
“Tentu saja aku mengetahui hal itu. Namun yang menjadi pertanyaan saat ini adalah…”
“…”
“…apakah kau mau terlarut dengan rasa kehilanganmu atau kau mau merebut kembali apa yang hilang darimu, bahkan jika kau harus merelakan harga dirimu?!”
“…”
Cih!
Ternyata emang bener, kalo ujung-ujungnya gue harus ambil balik kekuatan gue!
Seakan-akan takdir udah tuntut gue, supaya gue harus ambil kekuatan bahaya itu!
“…”
Kuatin diri lo, Djinn!
Mau siapapun lo yang dulu, mau apapun jadinya lo di masa depan, lo ambil balik kekuatan lo demi temen-temen lo!
“Yaudah…! Bawa gue ke Chamber of Ancient Armament…!”
“…”
“Kenapa diem aja! Ayo kita—”
“Sebagai seseorang yang sangat membenci kekuatannya, aku harus memastikan sesuatu darimu.”
“Hah?! Apalagi yang—”
“Apakah kau benar-benar yakin untuk mengambil kekuatanmu kembali, Pria Terjanji?”
Hah?! Kenapa jadi tanyain gue kayak gini?!
Bukannya dia yang nuntut gue untuk—
“Sekali lagi kau tersentuh dengan kekuatanmu, maka jalanmu untuk menjadi Dewa akan terbuka lagi, sebagaimana yang disabdakan oleh Melchize—”
“Hmph! Dewa ini, dewa itu! Emangnya gue peduli sama yang kayak gitu?! Gue lakuin ini semua demi temen-temen gue! Lagian, buat apa gue jadi Dewa, kalo masih ada Dewa atau Dewi di dunia ini?! Emangnya mereka ngapain aja, sampe gue harus jadi Dewa?! Kalo nggak guna, apa bedanya mereka semua sama yang di dunia lama gue?!”
“Hmm. Seperti itukah, jawabanmu?”
“Ya!”
“Baiklah. Mungkin itu yang kau katakan. Tetapi aku percaya, bahwa sabda Melchizedek tidak pernah meleset.”
“…”
Jujur aja, gue kesel dengernya.
Mungkin dia sebut itu sabda Melchizedek. Tapi gue yakin, yang ngomong kayak gitu tuh pencipta dunia ini, yang namanya Alpha!
Kalo emang gue harus jadi dewa, yang paling pertama gue lakuin itu…
Temuin Alpha, terus gue tonjok sekeras-kerasnya!
……………
“Inilah tempatnya, Pria Terjanji.”
Ayasaki temenin gue ke Chamber of Ancient Armament. Selama perjalanan ke tempat ini, nggak ada satupun kata yang keluar dari mulut kita.
“Mari kita masuk.”
“Ya.”
Gue masuk bareng Ayasaki. Sampe akhirnya gue nemuin sesuatu yang aneh.
“Kok… nggak ada Ancient Armament…?”
“…”
“Ayasaki, bukannya Ancient Armament itu harus gue yang—”
“Aku telah memberikannya kepada anakku.”
“!!!”
D-Dia udah punya anak?!
Eh tunggu! Gue baru kepikiran sesuatu!
Bocil Naga emang sempet ceritain, kalo dia diem-diem punya anak!
Tapi Ryūtaro juga pernah bilang…
“Ya. Ia adalah Kazedori Ayasaki, salah satu anggota Perseus, dan juga rekan yang sangat mencintai Melchizedek.”
…kayak gitu, kan?!
Kalo emang dia cinta Melchizedek, kenapa dia tinggalin orang itu?!
Terus, anak dari siapa yang dia punya—
“Apakah kau terkejut mendengar jawabanku?”
“Kaget sih, tapi gue pernah denger kalo lo itu…”
“Mm?”
Tunggu, itu semua nggak penting!
“Ayasaki. Selesai gue liat masa lalu di tempat ini, ada banyak banget yang mau gue tanya sama lo. Tolong jangan kemana-mana, karena gue—”
“Tentu saja ada sangat banyak pertanyaan darimu. Oleh karena itu, biarlah aku menunggumu di tempat ini. Lagipula, tidakkah kau melihat ada aksara asing yang bermunculan di dinding ruangan ini?”
“…”
Bener banget. Gue daritadi udah liat tulisan ini.
“Ini Adalah Catatan yang Aku Simpan. Jika Kau Mampu Membaca Catatan Ini, Maka Kau Adalah Pria Terjanji yang Dinantikan Dunia Ini.”
Ya. Kalimat yang sama persis, yang—
“*JGRUM!!!”
“!!!”
H-Hi-Hidung gue…!
S-Sekarang… hidung gue yang disamber petir…?!
“Huuufff!!! Huuufff!!! Huuufff!!! Huuufff!!!”
G-Gue nggak bisa nafas…!
K-Kenapa… selalu kayak gini… kalo masuk…
“*Bruk…”