
Kembali ke pertarungan antara
Lupherius dan Sebastian.
“*Chrak! (suara cakaran)”
“Cih!”
Lupherius berhasil mencakar
Sebastian, walaupun cakaran tersebut tidak berefek besar kepadanya.
Namun, Sebastian tetap kesal
karena ia berhasil menyentuhnya.
“Keterlaluan kau, Serigala Tua!
Berani-beraninya kau menyentuhku lagi!”
“Grrrr…”
Lupherius hanya menggeru saja
dalam Wujud Serigala-nya.
“(Lycan Form: Hunter Move!)”
“*SWUSH! (suara gerakan sangat
cepat)”
Lupherius bergerak dengan sangat
cepat ke arah Sebastian.
Namun ia tidak tinggal diam. Ia
hendak menyerang Lupherius sebelum ia menghampirinya.
Namun…
“Dragon Magic: Fiery—”
“Haurp!”
“Urgh!”
…Lupherius bergerak dengan sangat
cepat dan mengigitnya, hingga ia tidak bisa merapal serangan sihirnya.
“Aaaargh!”
“Grrrr!”
“Fiery…Fist!”
“*Vwumm! (suara pukulan api)”
“Graurrr…”
Karena pukulan sihir apinya,
Lupherius pun terpaksa untuk melepas gigitannya dan kembali memangkas jarak
darinya.
“A…Anda keterlaluan, Serigala
Tua! Gigitan anda begitu najis untuk saya!”
“Rrrrr…”
Lupherius hanya membalas dengan
geruannya ketika Sebastian menghinanya.
““…””
Mereka hanya saling bertatapan,
sembari memulihkan tubuh mereka masing-masing dengan regenerasi mereka.
Sambil memulihkan dirinya,
Lupherius melihat kondisi sekitarnya.
“Hiieekh!”
“Ba…Bahaya! Ada bangsawan lagi
lawan Beastman itu!”
“Terus kita gimana?! Kota ini
udah nggak aman!”
Seru beberapa warga yagn
terperangkap di tengah Vigrias karena pertarungan antara Lupherius melawan
Sebastian.
“Cih, masih banyak warga di kota ini. Harus selesain secepetnya, karena
orang ini pasti nggak peduli sama warganya.”
Pikir Lupherius tentang kondisi
pertarungannya.
Saat mereka sama-sama pulih dari
luka yang mereka terima, mereka langsung saling adu serang secara bersamaan.
“Terima ini, Serigala Tua!”
“Rrrrr!”
“Dragon Flare!”
“*Vwum, wum, wum… (suara banyak
bola api)”
“*Swush, wush, wush… (suara
menghindar dengan cepat)”
Lupherius pun langsung
menghindari Sihir Naga dari Sebastian dengan cara melompat dari tiap bangunan.
“(Lycan Form: Whirling Strike)”
“*Swushwushwush… (suara
berputar-putar)”
Lupherius tidak sepenuhnya
menghindari serangan dari Sebastian.
Ia berputar-putar dan
mencakar-cakar setiap bola api yang bergerak ke arahnya.
“Cih! Keterlaluan! Ia bisa menyerang Sihir Naga milik saya!”
Pikir Sebastian yang kesal dengan
gerakan dari Lupherius.
Sedangkan Lupherius, ia berusaha
mencari celah untuk menyerang Sebastian.
“(Lycan Form: Hunter Strike!)”
“*Swush! (suara mengayunkan
cakaran)”
“…”
“*Swush! (suara mengayunkan cakaran)”
“…”
“*Swush! (suara mengayunkan cakaran)”
“…”
Lupherius berusaha menyerang
Sebastian dari jarak jauh, akan tetapi dengan mudah ia menghindari serangannya.
Walaupun berhasil menghindari
serangan itu, Sebastian pun masih merasa waspada akan Lupherius.
“Baiklah! Sepertinya hanya ini saja yang bisa
saya lakukan!”
“*Swush! (suara terbang dengan
cepat)”
Sebastian pun terbang ke atas
dengan cukup tinggi di atas Vigrias.
Semuanya dilakukan untuk menjauhi
Lupherius.
Ketika berada di atas, ia pun siap
untuk menyerang Lupherius, yang menatapnya dengan tajam.
“Dragon Magic: Fire Rain!”
“*Vwummm! (suara kobaran api
besar)”
Tubuh Lupherius penuh dengan
kobaran api.
“Rasakan ini, Serigala Tua!”
Teriak Sebastian, yang diikuti
dengan hujan api dari tubuhnya.
“(Cih!)”
Lupherius kesal karena harus
menghindari setiap serangan api miliknya.
Akan tetapi…
“Aaaargh!”
“Awas ada hujan api!”
“Lari! Lari!”
…ada sangat banyak warga yang
berada di Vigrias yang akan terkena hujan api milik Sebastian.
Karena hal tersebut, Lupherius
terpaksa untuk menyelamatkan setiap warga Vigrias.
“*Drup, drup, dru, drup… (suara
langkah kaki serigala)”
Lupherius berlari dengan cepat
untuk menyelamatkan beberapa warga desa.
Namun…
“A…Awas! Ada serigala!”
“Pergi dari sini!”
…beberapa warga yang takut dengan
Wujud Serigala milik Lupherius.
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
““*Bruk… (suara terjatuh)””
Untuk menyelamatkan warga,
Lupherius pun terpaksa mengeluarkan aura miliknya, yang membuat beberapa warga
terpingsan.
“*Hup, hup, hup! (suara
menangkap)”
Sambil berlari, ia pun menangkap
beberapa warga yang dibuat pingsan olehnya untuk dijauhi dari hujan api itu.
“Ke…Ke…Kenapa serigala itu
nangkep warga-war—”
“Bukan! Di…Dia kayaknya nolongin
warga dari hujan api i—”
“(Ngapain lo semua masih di sini!
Buruan masuk!)”
““I…Iya!””
Sahut beberapa warga ketika
diteriaki oleh Lupherius.
Dari atas, Sebastian yang hendak
berhenti melakukan pergerakan dari Lupherius terus mewaspadai.
Namun, ia tidak bisa melihat
keadaan di bawah dari lokasinya akibat api yang lebat karena serangan miliknya.
“Cih! Serigala Tua itu bisa menyembunyikan Jiwa miliknya! Memang tidak
bisa diragukan Petualang Kesembilan Terbaik di Geoterra!”
Pikir Sebastian yang kesal karena
tidak bisa melacak Lupherius dari balik api.
Hingga pada akhirnya…
“Ada di mana Serigala Tua i—”
“*Chrak! (suara cakaran)”
“Urgh! Keterlaluan!”
…Lupherius muncul dari balik api
dan menyerang Sebastian secara tiba-tiba.
“Mustahil! Bagaimana ia bisa—”
“*BHUK! (suara pukulan keras)”
“Aaaaa—”
“*Bruk! (suara terjatuh dari
ketinggian)”
Tanpa membuang waktu, Lupherius langsung
memukul Sebastian dari ketinggian dan terjatuh dengan keras, hingga dataran
menjadi pipih.
“Uhuk, uhuk, uhuk!”
“*Bruk… (suara mendarat dengan
keras)”
“Ke…Keterlaluan! Bagaimana anda
bisa menyerang saya yang berada setinggi itu?!”
“(Hmph. Jawabannya simple.)”
“A…Apa maksud—”
“(Gue terlalu kuat untuk lawan
orang yang otaknya cetek, yang bahkan terlalu banggain kekuatan curiannya.)”
Balas Lupherius yang
meremehkannya.
Namun Sebastian tidak begitu
terpancing akan cemoohnya. Ia dengan tenang melihat kondisi dirinya dan
“Cih! Jiwa Dragonewt yang saya miliki hanya tersisa tiga saja, kan?! Satu Jiwa hancur
karena Petualang Bertopeng itu, sedangkan enam lainnya hanya karena menghadapi Serigala Tua ini?! Yang benar saja!”
Pikir Sebastian tentang dirinya.
Ketika ia memeriksa kondisinya,
ia melihat beberapa warga yang tiba.
“Ma…Makasih karena udah tolongin
kita, Pak Petualang!”
“Mantap, Lupherius Nighteeth!”
“Hajar bangsawan brengsek itu!”
Seru beberapa warga yang
menunjukkan rasa terima kasihnya kepada Lupherius.
Melihat kondisi itu, Sebastian
pun tertawa kecil.
“Fufufufu…”
“(Hm?)”
“Bahkan ketika bertarung, anda
masih berlagak menjadi pahlawan kah, Serigala Tua?”
Tanya Sebastian kepada Lupherius.
“(Berlagak jadi pahlawan? Gue
cuma jagain warga ini doang, kok. Kan harusnya itu jadi tanggung jawab—)”
“Baiklah! Bagaimana jika saya
melakukan ini?!
“*Vwumm! (suara kobaran api)”
Sebastian menyemburkan bola api
ke udara, lalu…
“Fire Missiles!”
“*Vwumm! (suara gerakan bola
api)”
…seketika bola api hendak
menyerang beberapa warga desa.
“La…Lari!”
““Aaargh!””
Beberapa warga pun berlari dengan
takut akan bola api yang menghampiri mereka.
“(Dasar bangsawan brengsek!)”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
Lupherius pun terpaksa untuk
mengejar bola-bola api itu, sebelum serangan sihir itu menghampiri beberapa
warga.
“Aaa—”
“*Chrak! (suara mencakar bola
api)”
Ia berhasil menyelamatkan
beberapa warga dari bola-bola api itu.
Akan tetapi…
“Hahaha! Anda memakan umpan,
Serigala Tua!”
““*Vwumm! (suara serangan banyak
bola api)””
“(Urgh!)”
Beberapa bola api yang mengejar
warga lainnya tiba-tiba menghampiri dan membakar Lupherius.
“Absolute Burst!”
“*VWUMMM!!! (suara kobaran api
membesar)”
Sebastian memperbesar api yang
membakar Lupherius, hingga sekujur tubuhnya terbakar.
“Yah! Pe…Petualang itu kebakar!”
“Lupherius Nighteeth!”
“Da…Dasar bangsawan brengsek!”
Seru beberapa warga yang khawatir
akan Lupherius.
“A…Ayo bantu dia—”
“RUOAAAAARRR!!!”
““…””
Beberapa warga yang berada di
lokasi tersebut seketika gemetar ketakutan karena adanya raungan Naga dari
mulut Sebastian.
“Diam kalian! Sampai Serigala Tua
itu terbakar hangus, selanjutnya adalah kalian! Paham?!”
““…””
Beberapa warga masih dilanda
ketakutan akibat Dragon Cry dari Sebastian.
Dengan ini, Sebastian merasa ia
sudah hampir mencapai kemenangannya.
Akan tetapi, ekspektasinya tidak
terpenuhi.
“*DHUMMMM!!! (suara tekanan aura yang
sangat besar)”
“…”
Ia dikejutkan dengan tekanan aura
yang sangat besar, hingga ia juga gemetar ketakutan.
“A…A…Aura macam apa itu?! Mengapa saya merasa sangat takut?!”
Pikir Sebastian saat merasa aura
yang begitu kuat.
Karena begitu takut, ia tidak
menyadari kesalahan fatal yang ia lakukan.
“(Haaaah… Padahal gue nggak
pamerin Domi gue, tapi mau nggak mau
gue harus pake itu.)”
“!!!”
Ia dikejutkan dengan Lupherius
yang terlepas dari kobaran api darinya.
“Ba…Ba…Bagaimana bi—”
“(Lo ketakutan sama Domi punya
gue? Hmph. Ternyata gitu ya kalo kuat karena kekuatan curian)”
“Sa…Sa…Saya sedang berbicara!
Jangan anda potong—”
“(Udah kekuatan curian, mental
yang lemah, ternyata lo masih bisa sombong, ya?)”
Balas Lupherius yang kembali
memotong omongan Sebastian.
“(Yaudah, kita selesain aja lah
pertarungan kita.)”
“Tu…Tu…Tung—”
“(Night Wolf Hunt.)”
Bisik Lupherius yang merapal
kekuatannya.
“*Chrakchrakchrakchrakchrak…
(suara cakaran tanpa henti)”
“Aaaaaaaarrgggghhh!!!”
Lupherius mencakar Sebastian
secara bertubi-tubi dan tanpa henti, hingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah mencakarnya tanpa henti,
Lupherius menghentikan cakarannya setelah merasa kelelahan.
“Huff…Huff…Huff…”
Walaupun telah menyerangnya
secara terus menerus, Sebastian masih hidup.
Namun…
“Ji…Jiwa Dragonewt milik saya…telah hancur semua…”
Pikir Sebastian, dengan luka
terbuka dan tidak bisa melakukan regenerasi sama sekali.
Lupherius pun kembali ke dalam
Wujud Manusia miliknya karena kelelahan.
“Woy, Sebatin.”
“Se…Se…Sebasti—”
“Inget taruhan kita tadi?”
“I…I…Ingat…”
“Lo udah tau kan, siapa yang
menang?”
Tanya Lupherius tentang taruhan
yang ia ajukan sebelumnya.
Namun, Sebastian hanya tertawa
saja.
“Fufufu…”
“Hm?”
“Fuahahaha!”
Tawa Sebastian.
Lupherius pun heran dengan maksud
darinya.
“A…A…Anda tidak tahu…dengan apa
yang…ia hadapi…”
Jelas Sebastian dengan
terbatah-batah karena kondisinya yang sekarat.
“Bi…Biar saya…jelaskan kepada
anda…siapa Tuan saya…sebenarnya.”
Lanjut Sebastian, dengan maksud
membisikkan sesuatu kepada Lupherius.
Karena mengerti maksudnya,
Lupherius pun mendekati telinganya ke telinga Sebastian.
“Yang ia hadapi…adalah…”
“!!!”
Lupherius terkejut akan
penjelasan Sebastian, yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
Beberapa warga pun menghampiri
mereka berdua karena mereka merasa aman.
“Tu…Tuan Petualang, mau…kita bantu?”
Tanya salah seorang warga
kepadanya.
“Djinn…”
Pikir Sebastian tentang kondisi
yang akan Djinn hadapi.
Karena penjelasan dari Sebastian,
ia berniat untuk menolong Djinn secepatnya.
Akan tetapi, karena ia memiliki
faktor genetik sebagai Beastman, insting darinya justru berkata lain.
“Ka…Kalian, lari semua…dari…kota
i…ni…”
“*Bruk! (suara terjatuh)”
““Lupherius!””
Beberapa warga dibuat panik
ketika ia pingsan.
“Terus, kita gimana?!”
“Me…Mending ikutin kata-kata dia
aja! Kita pergi dari kota ini!”
““Ya!””
Akhirnya beberapa warga pun
bersama-sama menopang Lupherius untuk melarikan diri dari Vigrias, sesuai
arahan darinya akan tragedi yang
akan terjadi.