Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 134. Conclusion of The Wolf and The Dragon



Kembali ke pertarungan antara


Lupherius dan Sebastian.


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Cih!”


Lupherius berhasil mencakar


Sebastian, walaupun cakaran tersebut tidak berefek besar kepadanya.


Namun, Sebastian tetap kesal


karena ia berhasil menyentuhnya.


“Keterlaluan kau, Serigala Tua!


Berani-beraninya kau menyentuhku lagi!”


“Grrrr…”


Lupherius hanya menggeru saja


dalam Wujud Serigala-nya.


“(Lycan Form: Hunter Move!)”


“*SWUSH! (suara gerakan sangat


cepat)”


Lupherius bergerak dengan sangat


cepat ke arah Sebastian.


Namun ia tidak tinggal diam. Ia


hendak menyerang Lupherius sebelum ia menghampirinya.


Namun…


“Dragon Magic: Fiery—”


“Haurp!”


“Urgh!”


…Lupherius bergerak dengan sangat


cepat dan mengigitnya, hingga ia tidak bisa merapal serangan sihirnya.


“Aaaargh!”


“Grrrr!”


“Fiery…Fist!”


“*Vwumm! (suara pukulan api)”


“Graurrr…”


Karena pukulan sihir apinya,


Lupherius pun terpaksa untuk melepas gigitannya dan kembali memangkas jarak


darinya.


“A…Anda keterlaluan, Serigala


Tua! Gigitan anda begitu najis untuk saya!”


“Rrrrr…”


Lupherius hanya membalas dengan


geruannya ketika Sebastian menghinanya.


““…””


Mereka hanya saling bertatapan,


sembari memulihkan tubuh mereka masing-masing dengan regenerasi mereka.


Sambil memulihkan dirinya,


Lupherius melihat kondisi sekitarnya.


“Hiieekh!”


“Ba…Bahaya! Ada bangsawan lagi


lawan Beastman itu!”


“Terus kita gimana?! Kota ini


udah nggak aman!”


Seru beberapa warga yagn


terperangkap di tengah Vigrias karena pertarungan antara Lupherius melawan


Sebastian.


“Cih, masih banyak warga di kota ini. Harus selesain secepetnya, karena


orang ini pasti nggak peduli sama warganya.”


Pikir Lupherius tentang kondisi


pertarungannya.


Saat mereka sama-sama pulih dari


luka yang mereka terima, mereka langsung saling adu serang secara bersamaan.


“Terima ini, Serigala Tua!”


“Rrrrr!”


“Dragon Flare!”


“*Vwum, wum, wum… (suara banyak


bola api)”


“*Swush, wush, wush… (suara


menghindar dengan cepat)”


Lupherius pun langsung


menghindari Sihir Naga dari Sebastian dengan cara melompat dari tiap bangunan.


“(Lycan Form: Whirling Strike)”


“*Swushwushwush… (suara


berputar-putar)”


Lupherius tidak sepenuhnya


menghindari serangan dari Sebastian.


Ia berputar-putar dan


mencakar-cakar setiap bola api yang bergerak ke arahnya.


“Cih! Keterlaluan! Ia bisa menyerang Sihir Naga milik saya!”


Pikir Sebastian yang kesal dengan


gerakan dari Lupherius.


Sedangkan Lupherius, ia berusaha


mencari celah untuk menyerang Sebastian.


“(Lycan Form: Hunter Strike!)”


“*Swush! (suara mengayunkan


cakaran)”


“…”


“*Swush! (suara mengayunkan cakaran)”


“…”


“*Swush! (suara mengayunkan cakaran)”


“…”


Lupherius berusaha menyerang


Sebastian dari jarak jauh, akan tetapi dengan mudah ia menghindari serangannya.


Walaupun berhasil menghindari


serangan itu, Sebastian pun masih merasa waspada akan Lupherius.


“Baiklah! Sepertinya hanya ini saja yang bisa


saya lakukan!”


“*Swush! (suara terbang dengan


cepat)”


Sebastian pun terbang ke atas


dengan cukup tinggi di atas Vigrias.


Semuanya dilakukan untuk menjauhi


Lupherius.


Ketika berada di atas, ia pun siap


untuk menyerang Lupherius, yang menatapnya dengan tajam.


“Dragon Magic: Fire Rain!”


“*Vwummm! (suara kobaran api


besar)”


Tubuh Lupherius penuh dengan


kobaran api.


“Rasakan ini, Serigala Tua!”


Teriak Sebastian, yang diikuti


dengan hujan api dari tubuhnya.


“(Cih!)”


Lupherius kesal karena harus


menghindari setiap serangan api miliknya.


Akan tetapi…


“Aaaargh!”


“Awas ada hujan api!”


“Lari! Lari!”


…ada sangat banyak warga yang


berada di Vigrias yang akan terkena hujan api milik Sebastian.


Karena hal tersebut, Lupherius


terpaksa untuk menyelamatkan setiap warga Vigrias.


“*Drup, drup, dru, drup… (suara


langkah kaki serigala)”


Lupherius berlari dengan cepat


untuk menyelamatkan beberapa warga desa.


Namun…


“A…Awas! Ada serigala!”


“Pergi dari sini!”


…beberapa warga yang takut dengan


Wujud Serigala milik Lupherius.


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


““*Bruk… (suara terjatuh)””


Untuk menyelamatkan warga,


Lupherius pun terpaksa mengeluarkan aura miliknya, yang membuat beberapa warga


terpingsan.


“*Hup, hup, hup! (suara


menangkap)”


Sambil berlari, ia pun menangkap


beberapa warga yang dibuat pingsan olehnya untuk dijauhi dari hujan api itu.


“Ke…Ke…Kenapa serigala itu


nangkep warga-war—”


“Bukan! Di…Dia kayaknya nolongin


warga dari hujan api i—”


“(Ngapain lo semua masih di sini!


Buruan masuk!)”


““I…Iya!””


Sahut beberapa warga ketika


diteriaki oleh Lupherius.


Dari atas, Sebastian yang hendak


berhenti melakukan pergerakan dari Lupherius terus mewaspadai.


Namun, ia tidak bisa melihat


keadaan di bawah dari lokasinya akibat api yang lebat karena serangan miliknya.


“Cih! Serigala Tua itu bisa menyembunyikan Jiwa miliknya! Memang tidak


bisa diragukan Petualang Kesembilan Terbaik di Geoterra!”


Pikir Sebastian yang kesal karena


tidak bisa melacak Lupherius dari balik api.


Hingga pada akhirnya…


“Ada di mana Serigala Tua i—”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Urgh! Keterlaluan!”


…Lupherius muncul dari balik api


dan menyerang Sebastian secara tiba-tiba.


“Mustahil! Bagaimana ia bisa—”


“*BHUK! (suara pukulan keras)”


“Aaaaa—”


“*Bruk! (suara terjatuh dari


ketinggian)”


Tanpa membuang waktu, Lupherius langsung


memukul Sebastian dari ketinggian dan terjatuh dengan keras, hingga dataran


menjadi pipih.


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


“*Bruk… (suara mendarat dengan


keras)”


“Ke…Keterlaluan! Bagaimana anda


bisa menyerang saya yang berada setinggi itu?!”


“(Hmph. Jawabannya simple.)”


“A…Apa maksud—”


“(Gue terlalu kuat untuk lawan


orang yang otaknya cetek, yang bahkan terlalu banggain kekuatan curiannya.)”


Balas Lupherius yang


meremehkannya.


Namun Sebastian tidak begitu


terpancing akan cemoohnya. Ia dengan tenang melihat kondisi dirinya dan


“Cih! Jiwa Dragonewt yang saya miliki hanya tersisa tiga saja, kan?! Satu Jiwa hancur


karena Petualang Bertopeng itu, sedangkan enam lainnya hanya karena menghadapi Serigala Tua ini?! Yang benar saja!”


Pikir Sebastian tentang dirinya.


Ketika ia memeriksa kondisinya,


ia melihat beberapa warga yang tiba.


“Ma…Makasih karena udah tolongin


kita, Pak Petualang!”


“Mantap, Lupherius Nighteeth!”


“Hajar bangsawan brengsek itu!”


Seru beberapa warga yang


menunjukkan rasa terima kasihnya kepada Lupherius.


Melihat kondisi itu, Sebastian


pun tertawa kecil.


“Fufufufu…”


“(Hm?)”


“Bahkan ketika bertarung, anda


masih berlagak menjadi pahlawan kah, Serigala Tua?”


Tanya Sebastian kepada Lupherius.


“(Berlagak jadi pahlawan? Gue


cuma jagain warga ini doang, kok. Kan harusnya itu jadi tanggung jawab—)”


“Baiklah! Bagaimana jika saya


melakukan ini?!


“*Vwumm! (suara kobaran api)”


Sebastian menyemburkan bola api


ke udara, lalu…


“Fire Missiles!”


“*Vwumm! (suara gerakan bola


api)”


…seketika bola api hendak


menyerang beberapa warga desa.


“La…Lari!”


““Aaargh!””


Beberapa warga pun berlari dengan


takut akan bola api yang menghampiri mereka.


“(Dasar bangsawan brengsek!)”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


Lupherius pun terpaksa untuk


mengejar bola-bola api itu, sebelum serangan sihir itu menghampiri beberapa


warga.


“Aaa—”


“*Chrak! (suara mencakar bola


api)”


Ia berhasil menyelamatkan


beberapa warga dari bola-bola api itu.


Akan tetapi…


“Hahaha! Anda memakan umpan,


Serigala Tua!”


““*Vwumm! (suara serangan banyak


bola api)””


“(Urgh!)”


Beberapa bola api yang mengejar


warga lainnya tiba-tiba menghampiri dan membakar Lupherius.


“Absolute Burst!”


“*VWUMMM!!! (suara kobaran api


membesar)”


Sebastian memperbesar api yang


membakar Lupherius, hingga sekujur tubuhnya terbakar.


“Yah! Pe…Petualang itu kebakar!”


“Lupherius Nighteeth!”


“Da…Dasar bangsawan brengsek!”


Seru beberapa warga yang khawatir


akan Lupherius.


“A…Ayo bantu dia—”


“RUOAAAAARRR!!!”


““…””


Beberapa warga yang berada di


lokasi tersebut seketika gemetar ketakutan karena adanya raungan Naga dari


mulut Sebastian.


“Diam kalian! Sampai Serigala Tua


itu terbakar hangus, selanjutnya adalah kalian! Paham?!”


““…””


Beberapa warga masih dilanda


ketakutan akibat Dragon Cry dari Sebastian.


Dengan ini, Sebastian merasa ia


sudah hampir mencapai kemenangannya.


Akan tetapi, ekspektasinya tidak


terpenuhi.


“*DHUMMMM!!! (suara tekanan aura yang


sangat besar)”


“…”


Ia dikejutkan dengan tekanan aura


yang sangat besar, hingga ia juga gemetar ketakutan.


“A…A…Aura macam apa itu?! Mengapa saya merasa sangat takut?!”


Pikir Sebastian saat merasa aura


yang begitu kuat.


Karena begitu takut, ia tidak


menyadari kesalahan fatal yang ia lakukan.


“(Haaaah… Padahal gue nggak


pamerin Domi gue, tapi mau nggak mau


gue harus pake itu.)”


“!!!”


Ia dikejutkan dengan Lupherius


yang terlepas dari kobaran api darinya.


“Ba…Ba…Bagaimana bi—”


“(Lo ketakutan sama Domi punya


gue? Hmph. Ternyata gitu ya kalo kuat karena kekuatan curian)”


“Sa…Sa…Saya sedang berbicara!


Jangan anda potong—”


“(Udah kekuatan curian, mental


yang lemah, ternyata lo masih bisa sombong, ya?)”


Balas Lupherius yang kembali


memotong omongan Sebastian.


“(Yaudah, kita selesain aja lah


pertarungan kita.)”


“Tu…Tu…Tung—”


“(Night Wolf Hunt.)”


Bisik Lupherius yang merapal


kekuatannya.


“*Chrakchrakchrakchrakchrak…


(suara cakaran tanpa henti)”


“Aaaaaaaarrgggghhh!!!”


Lupherius mencakar Sebastian


secara bertubi-tubi dan tanpa henti, hingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Setelah mencakarnya tanpa henti,


Lupherius menghentikan cakarannya setelah merasa kelelahan.


“Huff…Huff…Huff…”


Walaupun telah menyerangnya


secara terus menerus, Sebastian masih hidup.


Namun…


“Ji…Jiwa Dragonewt milik saya…telah hancur semua…”


Pikir Sebastian, dengan luka


terbuka dan tidak bisa melakukan regenerasi sama sekali.


Lupherius pun kembali ke dalam


Wujud Manusia miliknya karena kelelahan.


“Woy, Sebatin.”


“Se…Se…Sebasti—”


“Inget taruhan kita tadi?”


“I…I…Ingat…”


“Lo udah tau kan, siapa yang


menang?”


Tanya Lupherius tentang taruhan


yang ia ajukan sebelumnya.


Namun, Sebastian hanya tertawa


saja.


“Fufufu…”


“Hm?”


“Fuahahaha!”


Tawa Sebastian.


Lupherius pun heran dengan maksud


darinya.


“A…A…Anda tidak tahu…dengan apa


yang…ia hadapi…”


Jelas Sebastian dengan


terbatah-batah karena kondisinya yang sekarat.


“Bi…Biar saya…jelaskan kepada


anda…siapa Tuan saya…sebenarnya.”


Lanjut Sebastian, dengan maksud


membisikkan sesuatu kepada Lupherius.


Karena mengerti maksudnya,


Lupherius pun mendekati telinganya ke telinga Sebastian.


“Yang ia hadapi…adalah…”


“!!!”


Lupherius terkejut akan


penjelasan Sebastian, yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.


Beberapa warga pun menghampiri


mereka berdua karena mereka merasa aman.


“Tu…Tuan Petualang, mau…kita bantu?”


Tanya salah seorang warga


kepadanya.


“Djinn…”


Pikir Sebastian tentang kondisi


yang akan Djinn hadapi.


Karena penjelasan dari Sebastian,


ia berniat untuk menolong Djinn secepatnya.


Akan tetapi, karena ia memiliki


faktor genetik sebagai Beastman, insting darinya justru berkata lain.


“Ka…Kalian, lari semua…dari…kota


i…ni…”


“*Bruk! (suara terjatuh)”


““Lupherius!””


Beberapa warga dibuat panik


ketika ia pingsan.


“Terus, kita gimana?!”


“Me…Mending ikutin kata-kata dia


aja! Kita pergi dari kota ini!”


““Ya!””


Akhirnya beberapa warga pun


bersama-sama menopang Lupherius untuk melarikan diri dari Vigrias, sesuai


arahan darinya akan tragedi yang


akan terjadi.