Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 136. Not Only Me



“*Swush! Swush! Swush! (suara


ayunan pukulan dan tendangan)”


“…”


Gila! Gue cuma bisa ngindarin


doang!


Walaupun nggak teknik


serangannya, tapi cepet banget!


“*Swush! (suara ayunan pukulan)”


“…”


Hm?


Kenapa dia berhenti?


Padahal dia nyerang gue mulu, tapi


dia tiba-tiba nggak nyerang lagi.


“Baiklah, baiklah, baiklah.


Tunjukkan apa yang kau punya!”


Brengsek nih orang! Sombong


banget!


“*Swush! Swush! Swush! (suara


ayunan pukulan dan tendangan)”


“Hm? Seperti ini saja?”


Cih! Anak anjing!


Gue diremehin!


“Seranganmu menarik juga, ya?


Tidak kusangka kau pintar bela diri.”


“*Swush! Swush! Swush! (suara


ayunan pukulan dan tendangan)”


Bacot nih orang!


Mentang-mentang gue nggak bisa


nyerang dia!


“Hihi! Apakah ini pria yang


dinantikan Melchizedek?! Tidak kusangka ia selemah i—”


“*BHUK! (suara pukulan keras)”


“Kokkh!”


“*Bruk! (suara terpental ke


tembok)”


Hmph! Belagu sih lo, anjing!


Dikira gue cuma bisa mukul pake


tangan doang kali, ya?!


Giliran gue hajar pake sikut, dia


kepental sejauh itu!


OK, jangan buang-buang waktu


lagi!


“*Crrrkk… (suara aliran petir)”


Mending gue langsung—


“*DHUMMM!!! (suara tekanan aura


besar)”


Dia ngeluarin auranya la—


“!!!”


Kok petir gue—


“Ah, ah, ah!”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“*Bruk! (suara terpental ke


tembok)”


“Aku tidak menggunakan sihir!


Tidakkah adil jika kau menggunakan sihir?!”


Brengsek! Sakit banget!


“Uhok!”


“*Crat! (suara cipratan darah)”


Bahkan langsung keluar darah dari


mulut gue!


Tapi kok…badan gue nggak


langsung—


“Hey, apakah kau menunggu


regenerasi untuk melawanku?!”


“…”


“Sayang sekali! Kau tidak bisa


melakukan regenerasi!”


Bahkan gue nggak bisa sembuhin


badan gue sendiri?!


Dia pake apaan, sih?!


Nggak, itu nggak penting!


Gue nggak butuh itu semua untuk


lawan orang ini!


“Hey, tolonglah untuk serius


sedikit melawanku.”


Dikira gue nggak seri—


“Sekedar informasi, bahwa ‘aku’


yang berada di hadapanmu ini hanyalah separuh saja. Bagaimana jika kau


melawanku ketika dalam kondisi seutuhnya?!”


Hah?!


“Maksud lo apaan?!”


“Ya separuh saja, tidak


seutuhnya. Atau mungkin aku perlu mengatakan…setengah? Atau 50%?”


“Hm?!”


“Haaaah…dasar preman. Kukira


dirimu secerdas itu.”


Maksudnya nih orang apaan, sih?!


“Separuh ‘aku’ ini sedang


menghadapi Djinn! Sedangkan ‘aku’ yang lain sedang mengontrol Kaum Naga! Kau paham?!”


“!!!”


Gila kali!


Gue kira yang dia bilang tadi


cuma kiasan doang! Ternyata beneran!


Siapa sih dia sebenernya?! Kenapa


kuat banget?!


“Kok…lo bisa kontrol Naga?!”


“Hmm. Jika aku mengatakan bahwa


aku ini kuat, sepertinya memang fakta, walaupun tidak menjawab pertanyaan.”


Sombong banget orang i—


“Ah ya! Kau sudah menemukan


Hidden Dungeon, benar? Oh tidak, tidak, tidak. Aku lupa bahwa kau telah mengalahkan


Tarzyn. Seharusnya aku tidak menanyakan—”


“Bertele-tele banget ngomongnya!


Langsung aja sih!”


“Hey! Kalau selemah itu, mengapa


melampiaskan amarah kepadaku?! Salahkan dirimu!”


Justru karena lo, anjing!


“Haaaah…dasar preman! Kau tau


Flamiza, benar?!”


Flamiza?


“Kakaknya Tarzyn, kan?”


“Ah, benar! Aku menggunakan Jiwa miliknya untuk mengendalikan Naga! Walaupun aku kuat, agak mustahil


jika aku bisa mengendalikan Mahluk Abadi seperti mereka semudah itu, benar?!”


“!!!”


Jiwa Flamiza?!


Gila! Dapet dari mana orang


brengsek ini?!


“Terkejut, bukan? Pastinya kau


terkejut, karena—”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“Wuhu! Bahkan tanpa Mana gerakanmu cepat sekali!”


Brengsek nih orang! Kakak


kembarnya Tarzyn bahkan diperalat kayak gitu!


“*Swush! Swush! Swush! (suara ayunan


pukulan dan tendangan)”


Dia masih bisa hindarin gue!


“Woy! Jawab gue, anjing!”


“Waw! Kasar sekali!”


“Dari mana lo dapet Jiwa


Flamiza?!”


“Dari mana?! Tentu saja dari


House of Siegfried, semenjak Jiwa miliknya adalah harta warisan dari keluarga itu—”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Urgh…”


Nyesel gue nanya!


Bawaannya makin bikin marah!


“Heaaaa—”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Akh!”


“*Brak! (suara terjatuh)”


Gi…Gila!


Gue ditonjok ke atas sampe


kepental gitu!


“Tidak kusangka. Amarahmu adalah hal


yang paling berbahaya yang kau miliki, Djinn!”


“*Cuh! (suara meludah)”


Brengsek, sakit banget


pukulannya!


“Kau telah memukulku dua kali.


Tidak ada yang bisa menyerangku sebanyak itu sebelumnya, kecuali—”


“Hmph! Gimana?! Sakit nggak?!”


“Fufufu… Baiklah. Untuk selanjutnya,


kau harus bersyukur atas pencapaianmu yang bisa menyerangku sebanyak i—”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“*Swush! Swush! Swush! (suara


ayunan pukulan dan tendangan)”


Ayo, Djinn! Lo harus bisa nyerang


dia di luar dugaan la—


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Urgh…”


“*Bhuk! Bhuk! Dhuk! (suara


pukulan dan tendangan)”


“Ke mana seranganmu! Tunjukkan


kepadaku!”


“*Bhuk! Bhuk! Dhuk! (suara


pukulan dan tendangan)”


Cih! Anak anjing!


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Waw…auramu—”


“*DUNG! (suara sundulan keras)”


“Argh!”


Terpaksa gue andalin kepala gue


untuk nyerang orang ini!


Tapi…


“*Crrrkk… (suara aliran petir)”


…petir gue balik lagi!


“Judgement!”


“*Jgrum! (suara pukulan petir)”


“Urgh…”


“*Jgrum, jgrum, jgrum! (suara


pukulan dan tendangan petir)”


Hajar dia terus!


Jangan kasih sedikit celah untuk


nyerang balik!


“*Jgrum, jgrum, jgrum! (suara


pukulan dan tendangan petir)”


“Fu…fu…fu…”


Dia ketawa?!


Jangan pikirin dia mau ngapa—


“*Hup! (suara menangkap pukulan)”


“Cih!”


Brengsek! Dia nangkep tangan gu—


“Djinn. Djinn. Oh Djinn…”


“*Krrrk! (suara tulang remuk)”


“Gurgh…”


Sakit banget tangan gue—


“*Swush! (suara lemparan)”


“*Brak! (suara menghantam


tembok)”


“…”


Sialan…dia kuat ba—


“…”


Ah…gue…udah mulai mau ping—


“Apakah kau baru saja menyadarinya?”


“Nyadar…apa…?”


“Mana milikmu telah


habis!”


Ya. Dia nggak perlu ngomong gitu,


gue juga udah tau.


“*Prok, prok, prok… (suara tepuk


tangan)”


“Harus kuakui, bahwa seranganmu


begitu menyakitkan.”


Nggak perlu dijelasin. Gue juga


bisa liat luka-luka di badannya karena serangan gue—


“*Jgrum! (suara sihir petir)”


Hah…?


Petir…siapa itu?


Kok tiba-tiba dia kesamber petir—


“Hahaha! Lucu sekali ketika


melihatmu bingung seperti itu!”


“!!!”


Kok dia tiba-tiba muncul dari


balik pintu masuk ruangan i—


Tunggu…


Sihir dia itu…bikin gue inget


seseorang!


“Lo…”


“Hm?”


“Jangan bilang…lo itu Snake—”


“Snake?! Maksudmu, Pria Ular


itu?! Tidak, tidak, tidak! Ia hanyalah bedebah yang selalu mengganggu kami!”


Oh, kayaknya bu—


“Judgement!”


“*Jgrum! (suara tendangan petir)”


“*Bruk! (suara terpental)”


Si…Sialan!


Mantra sihir dia…persis kayak


gue!


“Oh! Pasti kau terkejut ketika


melihatku yang memakai sihir yang tadi kau gunakan, benar?!”


Brengsek…siapa orang ini sebener—


“*DHUMMM!!! (suara tekanan aura


besar)”


Kenapa…dia ngeluarin aura segede


itu?!


Dia pikir…gue ta—


“Maaf jika aku menggunakan teknik petapa brengsek itu. Anggap saja ini untuk berjaga-jaga.”


Petapa…brengsek…?


Maksud dia sia—


“Judgement: Bolt Strike!”


“*Jgrum! (suara pukulan petir)”


“Keuk…”


Sialan! Pukulan macem apa in—


“Judgement: Volt Shot!”


“*Jgrum! (suara tendangan petir)”


“Argh!”


“*Bruk! Bruk! Bruk! (suara


terpental menembus dinding)”


“Huff…Huff…Huff…”


Pukulannya sama tendangannya…sakit


banget!


Tapi, ada yang aneh.


“…”


Kenapa gue—


“Mana-mu terisi?! Kau


pikir aku akan membiarkan—”


“*DHUK! (suara tendangan keras)”


“*Bruk! (suara terpental menembus


atap)”


Untung aja gue tiba-tiba bisa


bergerak untuk nyerang dia!


Aneh, kenapa gue seakan-akan ada


yang—


“Keterlaluan!”


“!!!”


Sialan! Dia pake sihirnya Snake!


Padahal dia tadi gue tendang ke


atas! Kenapa dia tiba-tiba ada di Ruang Singgasana?!


“Keterlaluan, keterlaluan,


keterlaluan, keterlaluan, keterlaluan, keterlaluan, keterlaluan,


KETERLALUAN!!!”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


Anak an—


“*Krrttt… (suara mencekik)”


Akkhhh…


Gue susah nafas!


“Kau…masih berani menyerangku!”


“Lo…pikir…gue…takut…sama—”


“*Bruk! (suara terbanting)”


“Aaakh!”


“*Jgrum! (suara tendangan petir)”


“Urgh…”


Badan gue…sakit semua!


“*Crrrkk… (suara aliran petir)”


Brengsek! Pasti dia—


“JUDGEMENT: CRASHING FLASH!!!”


“*JGRUM!!!! (suara sambaran sihir


petir)”


“…”


Dia…samber gue pake Judgement…


Nggak tanggung-tanggung…


Sihirnya…bahkan pentalin


gue…keluar kastil…


Sialan…


Masih ada nggak ya…kemungkinan


gue…selamat…?