Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 263. To The Top



Djinn menerima bantuan dari Klavak, yang datang dengan tujuan yang masih tidak jelas. Dengan bermodalkan Wavebringer untuk menstabilkan kekuatan besar yang ia miliki, Djinn bergegas secepatnya menuju puncak bukit tersebut.


Sementara di atas puncak bukit tersebut, Master mengetahui segala sesuatu yang terjadi Gazo Mount.


“Woy, Manusia.”


“…”


Master hanya menatap seseorang yang tertutup bayangan, yang memanggilnya.


“Kau adalah…”


“Hm? Emangnya lo kasih nama untuk gue? Kok lo nanya siapa gue, seakan-akan gue punya nama?”


“Hoo… Apakah engkau… Iblis Tanpa Nama?”


Tanya Iblis yang tidak bernama itu kepada Master.


“Jadi, apa tujuanmu datang ke tempat ini?”


“Apa tujuan gue?! Ya pastinya ngasih tau informasi ke lo, dong!”


“Informasi? Apakah informasi mengenai Gazomatron?”


“Kalo urusan di negara itu, lo pasti juga udah tau kan? Makanya itu, gue nggak perlu bertele-tele jelasin itu ke lo.”


“Lantas, informasi macam apa yang akan kau berikan?”


“Hah!”


Iblis Tanpa Nama hanya tersenyum, sebelum menjelaskan kepadanya.


“Yang mau gue kasih tau itu, tentang orang yang mau dateng ke lokasi ini.”


“Ah, ternyata Zoe saja tidak cukup, kah?”


“Ya, dia nggak cukup. Tapi, bukan salah dia. Ada orang lain yang dateng bantu “tamu” lo nanti. Jadi, sebelum lo lanjutin ritual lo untuk panggil yang lainnya…”


““*Bruk…””


“Nih, pake mereka semua untuk panggil beberapa dulu.”


Balas Iblis Tanpa Nama, sambil meletakkan sekitar 10 jasad di hadapan Master.


“Siapakah mereka yang kau bawa itu? Darimana kau mendapatkan mereka?”


“Hah?! Kok lo nanya?! Udah jelas-jelas mereka ini pelaut! Gue nemuin mereka lagi perbaikin kapal di daerah utara kepulauan ini!”


Jelas Iblis Tanpa Nama kepada Master.


“Jadi?! Lo pasti butuh beberapa orang yang mau jagain lo, kan?!”


“…”


Master tidak menjawab, sembari dirinya membuka topeng yang ia kenakan.


“…”


Ia mulai merapalkan sihir pada tumpukan jasad tersebut. Dengan sihirnya, terlihat ada cahaya gelap dari bawah tumpukan jasad tersebut yang perlahan-lahan menarik tumpukan jasad tersebut masuk ke dalam cahaya gelap itu.


Setelah dirinya selesai merapalkan sihirnya…


“Hah?! Badan baru?!”


“Wuhuohoo! Nggak disangka gue bisa ke sini duluan!”


…seketika beberapa mahluk berwujud aneh datang dari sinar-sinar tersebut.


“Woy! Kepalanya ada sisa, tuh! Cepetan dimakan!”


“Ah, nggak ah! Udah botak, berewokan lagi! Males banget makan gituan!”


“Dih! Kok lo banyak maunya?!”


“Suka-suka gue—”


“Ehem!”


““…””


Kumpulan orang yang baru datang itu terdiam setelah mendengar suara Master yang berdeham.


“Daripada kalian semua berdebat, alangkah baiknya jika kalian melindungiku dari seseorang yang akan datang.


Walaupun Tubuh yang kutawarkan kepada kalian bukanlah yang terbaik, namun aku berjanji akan membawa kalian semua dari Demonsia.”


““…””


Mereka semua hanya tersenyum.


“Bagus, deh! Kalo gitu gue ikut mereka, ya?!”


“Baiklah. Pergilah sekarang!”


““Ya!””


Jawab mereka semua, sambil keluar dari bayang-bayang gelap.


Semenjak mereka semua keluar dari ruang gelap itu, wujud asli mereka tertampak.


Mereka semua adalah kumpulan Iblis yang melakukan kontrak dengan Master. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya Iblis Tanpa Nama yang menawarkan tumpukan jasad kepadanya.


“Hehe! Ayo kita cari mangsa dulu! Soalnya kita masih laper—”


“Tunggu dulu…”


“Ada apa?! Kenapa kita—”


“Orangnya udah dateng!”


Seru salah satu Iblis, ketika ia melihat Djinn dari jarak jauh.


“Woy! Tunggu apa lagi! Ayo kita hajar orang itu!”


““*Swush!””


Hampir seluruh Iblis lainnya hendak menyerang Djinn.


“Woy! Jangan main lari gitu aja! Kalian nggak tau kalo—”


“*Jgrummm…”


“…”


Iblis Tanpa Nama itu hanya terdiam menyaksikan hampir semua Iblis terbunuh oleh kekuatan petir milik Djinn.


“Cih! Dasar tolol! Kenapa mereka main lari begitu aja?! Padahal gue “undang” mereka ke dunia ini supaya waspada sama orang itu!”


Bisiknya dengan kesal, sambil menatap Djinn yang berusaha melepaskan diri dari kejaran beberapa Iblis yang masih hidup.


“Minggir lo!”


“*Bhuk! Bhuk! Bhuk!”


““Aaargh…””


Beberapa Iblis dipukul oleh Djinn, yang sedang dikejar waktu sebelum Master menyelesaikan ritualnya.


“K-Kekuatan macem apa itu?! Kenapa—”


“*Dhum!”


““!!!””


Beberapa Iblis dikejutkan dengan adanya tekanan aura dari Djinn. Karena tekanan aura itu, timbulah keraguan bagi mereka untuk menyerangnya.


Melihat gelagat beberapa saudara satu ras darinya, Iblis Tanpa Nama mulai berlari untuk menyerang Djinn.


“Ngapain kalian?! Kenapa diem aja?! Cepet tahan orang i—”


“*Swush!”


“!!!”


Ia dikejutkan dengan Djinn yang dengan sangat cepat telah berada di hadapannya.


“*Swush!”


Djinn langsung mengayunkan pukulannya dengan sangat cepat, walaupun Iblis Tanpa Nama berhasil menghindarinya.


“*Swush, swush, swush…”


Mereka berdua terus saling melayangkan serangan yang masih mereka bisa hindari. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama.


“*Dhuk!”


“Urgh! Dasar breng—”


“*BHUK!!!”


Djinn dengan sangat cepat menendang kaki Iblis Tanpa Nama, yang langsung ia lanjutkan dengan pukulan yang


keras, hingga tanduk dari Iblis tersebut patah.


((Trickery Magic: Foul Follow))


“*Swush, swush, swush…”


Dengan sihir miliknya, Iblis tersebut berusaha untuk menipu Djinn dengan cara membuat gerakannya terlihat berlawanan arah dari gerakan aslinya.


Namun, berkat Mata yang dimiliki olehnya, Djinn mampu melihat tipu muslihatnya dengan sangat mudah terbaca.


“*Tap!”


Djinn berhasil menangkap pukulan dari Iblis Tanpa Nama.


“K-Keterlaluan! Kok lo bi—”


“*DUNG!!!”


“”*Krak!”


“Akh…”


Djinn menyundul kepala Iblis Tanpa Nama dengan sangat keras, hingga tanduk terakhir miliknya patah, walaupun usahanya terlihat sia-sia karena regenerasi kuat yang menjadi salah satu ciri khas Iblis sebagai Mahluk Abadi.


“D-Dasar brengsek!”


“*Vwumm…”


“Gue pake kekuatan gue yang lain! Sekarang juga!”


Teriak Iblis itu kepada Djinn, sambil melihat beberapa Iblis yang masih hidup datang menghampirinya dari belakang.


Dan lagi, Djinn mengetahui semua hal itu.


((Judgement: Multi-Charge))


““*Jgrumm!””


““Aaaaarrrgghh!!!””


Semua Iblis yang hendak menyerangnya dari belakang mati dan menjadi abu, setelah ia serang menggunakan kekuatan petir miliknya.


Namun karena merasa lawannya sedang lengah, Iblis Tanpa Nama hendak memanfaatkan momen tersebut untuk menyerangnya.


((Hell Flame))


“*Vwuuummmm……”


Ia mengeluarkan semburan api hitam yang besar dan panjang dari lengannya.


“Liat ini, Manusia Sialan! Sebagai Iblis yang satu kasta di bawah Herald, gue bisa pakai kutukan Iblis dari Demon Lord manapun! Jangan lo pikir lo bisa—”


“Ngomong apa sih, tong?!”


“Hiiekh!”


Iblis Tanpa Nama itu terkejut dengan Djinn yang tanpa ia sadari telah berada di belakangnya.


“K-Kenapa lo bisa di—”


“*SHRUK!!!”


Djinn menusuknya dengan Wavebringer, hingga menembus tanah.


Dan lagi, Iblis Tanpa Nama tidak menyadari sesuatu.


“L-L-Lo kira… lo bisa bunuh gue kayak gi—”


“Lo pasti mati. Bahkan lo nggak bakal balik ke Demonsia, karena gue berhasil tusuk Jiwa lo.”


“!!!”


Iblis tersebut sangat terkejut, sambil menyaksikan Tubuh-nya yang tercerai-berai menjadi abu.


“K-K-Keterlaluan…! G-Gue udah hidup lebih lama dari lo…! Nggak mungkin… gue harus mati… kayak… be…gi…”


“…”


Iblis Tanpa Nama tersebut mati.


Dengan begitu, Djinn kembali melanjutkan perjalanannya menuju puncak Gazo Mount. Semakin ia berjalan menuju puncak, ia melihat ada banyak jasad dari warga Gazomatron, yang bekerja di bukit tersebut.


“Cih! Dasar sekte bangsat!”


Bisik Djinn dengan kesal.


Tidak lama kemudian…


“*Bruk…”


…ia juga terjatuh karena merasakan letih di Tubuh-nya.


“K-Kenapa gue lemes banget?! Apa mungkin karena Mana gue mau abis?! Tunggu, gue lemes bukan karena Mana gue yang abis waktu lawan Zoe atau Iblis-Iblis tadi! Ini semua karena Wavebringer yang gue pake untuk stabilin Jiwa gue!”


Kembali bisik Djinn dengan kesal, setelah ia menganalisa letih yang ia rasakan saat ini.


Tanpa ia sadari, seseorang menghampirinya.


“P-Permisi…”


“*Shringgg…”


Djinn dengan tidak sengaja mengarahkan Wavebringer kepada salah satu warga yang masih bertahan hidup, karena ia terlalu waspada.


“Pak! Bapak masih bisa gerak?! Tunggu sebentar ya, pak!”


Seru Djinn dengan cemas.


Ia berusaha menyembuhkan pria tersebut, namun ia tidak mengetahui ilmu sihir yang mampu menyembuhkan seseorang.


“Aduh! Kalo nggak salah kan gue pernah pake Healing Magic[1]! Atau mungkin gue bisa sembuhin orang ini pake Runecraft?! Tapi gimana caranya?! Gue nggak tau soal i—”


“*Tap…”


“Tenang saja, anak muda. Waktu saya… tidak lama lagi.”


Sahut pria tersebut, setelah ia mengenggam lengan Djinn yang masih memikirkan cara menyembuhkannya.


“A-Anak muda… Waspadalah. Di atas sana… adalah orang yang sangat mengerikan… yang—”


“Saya tau, pak. Makanya itu, saya mau coba lawan di—”


“Apakah… anda yakin bisa mengalahkannya sendirian…?”


Tanya pria tersebut, yang suaranya semakin melemah dan akan menemui ajalnya.


“S-Saya yakin, pak—”


“Jika ada bantuan yang datang… terimalah…”


“…”


“Karena… sebagai Manusia… tentunya anda… mau menolong seseorang… yang kesulitan… bukan…?”


“…”


Djinn hanya mengangguk.


“Anda… tidak sendirian…! Saya yakin… ada banyak orang… yang ingin… membantu anda…! Begitu juga… sebaliknya…! Namun yang pasti…”


“…”


“Jangan… berhenti… berharap…!”


Djinn hanya menatap pria tersebut, yang kemudian meninggal dunia di sampingnya.


“…”


Ia kemudian meletakkan jasad pria tersebut, sebelum bergegas secepatnya menuju puncak Gazo Mount di mana Master berada.


Sambil berlari, ia merasakan sesuatu yang berbeda.


“Mungkin bapak-bapak tadi nggak isi Mana gue yang udah mau habis. Tapi entah kenapa, kok gue ngerasa lebih tenang ya untuk hadapin Master yang di atas sana?”


Pikir Djinn, sebelum ia menghadapi pertarungan hidup dan matinya.


Sementara di puncak Gazo Mount, Master sedang berdiri di hadapan sebuah patung besar. Sambil menatap patung tersebut dengan senyum sinisnya, ia berbisik…


“Persiapan sudah selesai.”


_______________


[1]Di sarang Ghoul yang berada di dekat Xia Village, di mana Djinn tanpa sadar menyembuhkan Myllo dan Gia (Chapter 49).