Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 275. Farewell, Postriard



Selesai segel kekuatan gue, Maghroz kasih topeng ke gue.


Seinget gue, topeng gue itu hancur di dalam Hidden Dungeon of Whisper, kan? Tapi yang lebih parah lagi, gue nggak sadar kalo gue udah pergi sana-sini tanpa topeng gue! Kalo nggak karena dia, mungkin gue harus cari topeng lagi!


“…”


Topengnya sih warna putih. Di area kiri topeng ini ada garis hitem panjang. Selain itu, topeng ini lumayan mirip sama topeng gue yang dulu, sebelum gue ke Gazomatron. Walaupun tutup semua bagian wajah, topeng ini juga bisa masuk mulut, jadi gue nggak perlu buka-buka topeng kalo mau makan, minum, atau ngerokok.


““…””


Sekarang udah 5 hari setelah kekuatan disegel.


Di hutan ini, kita lagi ada di depan pemakaman Lephta.


“Hiks! Hiks! Hiks!”


Gia masih ngerasa bersalah banget karena gagal jagain Lephta waktu lawan salah satu Acolyte. Makanya dia yang paling sedih di sini.


Walaupun ada satu hal yang masih jadi pertanyaan buat gue.


“…”


Di “mimpi” yang gue liat itu, kenapa Lephta juga ikut dibawa bareng Myllo sama Styx?


Kalo Myllo, mungkin karena dia adeknya Sylvia, sedangkan Styx karena dia mungkin Mistyx yang spesial. Tapi gue masih nggak tau alesan Lephta diculik sekte sesat itu.


“Nyonya Maevin…”


“*Phuk, phuk, phuk…”


Bahkan temen-temennya Lephta juga ikut tenangin dia.


Gue bisa ngebayangin sih sedihnya dia gimana.


Orang yang jadi Frontliner punya tanggung jawab besar untuk pastiin rekan atau anggotanya nggak diserang. Kalo orang-orang disekitarnya aja bisa diserang, mereka pantes disalahin. Gimana kalo sampe mati? Ya wajar aja ngerasa bersalah separah itu.


“Lihatlah kami dari atas sana, sahabat. Semoga kami berhasil memulai kembali apa yang telah kita capai


sebelumnya.”


Ya. Angela ngomong kayak gitu.


Ternyata selama gue hibernasi selama lebih dari seminggu, mereka udah punya rencana untuk mulai ngebentuk Party lagi. Gue awalnya heran tentang siapa yang gantiin Lephta, karena jumlah mereka cuma ada 3 orang.


Mungkin gue udah tau siapa yang gantiin Lephta, tapi waktu dengernya gue tetep kaget!


“Jadi lo udah dapet Lencana Petualang, Del?”


“Sudah. Aku resmi menjadi Striker Kasta Hijau. Setidaknya aku tidak memulai karirku dengan Kasta Biru. Hahaha…”


“A-Apakah kau menyindirku, Kakak Delolliah?!”


“Hihi!”


Ya. Delolliah ikut bareng Angela.  Selain Delolliah, Jennania juga ikut bareng kakaknya.


Ternyata gue baru tau, kalo Virgo itu udah resmi dibubarin. Semua anggota Virgo sebelumnya resmi nyatain untuk pensiun dini. Mereka sekarang tinggal di Gazomatron sebagai penduduk biasa.


“Jadi lo balik lagi sebagai Petualang?!”


“Ya bisa dibilang gitu, sih. Mereka semua pada mau gue yang pimpin mereka. Jadinya mau nggak mau gue balik lagi deh!”


“Wuoaaaah!!! Terus gimana Dreschya?!”


“Dia bilang dia mau jadi Petualang. Tapi sebelumnya, dia mau buat bikin sesuatu dulu. Sampe penemuannya


berhasil, dia mau ikut gue jadi Petualang.”


Ternyata Berius balik lagi sebagai Petualang. Dia bilang, kalo dia mau fokus untuk keliling dunia sambil buat penemuan-penemuan tertentu, daripada buat satu Guild lagi.


“Terus, nama Party lo apa, Berius?!”


“Lepus. Arti nama itu kelinci, Myllo. Kita pake nama itu untuk selalu inget Lephta.”


“Oh gitu? Hehe! Bagus kok namanya, selama punya arti!”


Punya arti ya?


“Woy, Ger. Lo tau nggak arti Aquilla?”


“Si­-Si­-Sianying! Emangnya teh sia tau?!”


“Ya tau, lah! Makanya gue nanya lo!”


“Kalo tau teh kenapa nanya, anying?!”


Duh, dasar Si Mesum satu ini! Bilang aja kalo nggak tau!


……………


((Rune Spell: Electrocution))


“*Chrrkkkchrrkkchrkkk…”


((Rune Spell: Explosive Throw))


“*Boom!”


((Rune Spell: Trap))


“*Chrrkkkchrrkkchrkkk…”


Itu 3 Runecraft yang gue kuasaian selama 5 hari ini.


Untungnya ada Delolliah sama Angela, yang mau ajarin gue.


Ini semua gue lakuin untuk antisipasi kekuatan gue yang disegel. Makanya itu gue takut kalo Jiwa gue hancur. Kalo hancur, gimana cara gue pake Runecraft?


“Bagus, Tuan Dracorion. Anda telah menguasai Runecraft Stage-1. Walaupun untuk mencapai Runecraft Stage-2, sepertinya anda masih membutuhkan waktu yang sangat banyak.”


Ya. Gue udah bisa Runecraft Stage-1.


“Makanya itu gue butuh dilatih lo, yang udah latih Delolliah. Andai kita masih punya banyak waktu, mungkin aja lo masih bisa ngajarin gue.”


“Anda benar. Sepertinya Myllo sudah tidak sabar untuk kembali berpetualang, bukan?”


“Bener banget.”


Mungkin gue bisa protes ke Myllo karena gue masih mau latian sama Angela. Tapi kalo gue protes, sama aja itu bikin gue jadi orang yang egois.


Gue udah kelamaan hibernasi. Mungkin kita udah bisa jalan ke tempat lain kalo nggak karena gue.


“Baiklah. Mungkin hari ini kita sudah cukup, Tuan Dracorion, Delolliah.”


“Ya. Mari kita bersama menuju kedai di desa ini.”


“OK.”


Selesai latian, kita bertiga janjian bareng yang lain untuk dateng nyusul semacam acara perpisahan gitu.


Siapa yang punya rencana kayak gitu?


Ya pastinya bukan orang lain, selain…


“Wuooohhh… hicc!”


…Si Dongo satu ini.


Walaupun kita di sini untuk seneng-seneng, tapi gue ceritain ke mereka tentang apa yang gue liat di Chamber of Ancient Armament.


“D-Dengan kata lain… Kakak Syllia… sudah ditakdirkan untuk membunuh Siren Pria… sebagai bentuk hukumannya…?”


“A-Aku tidak menyangka… bahwa mereka saling jatuh cinta…”


Jujur aja, gue sebenernya mau tanya tentang Sang Omega yang dibilang Sakhtice. Tapi kalo ujung-ujungnya mereka juga nggak kenal Sakthice, keliatannnya percuma gue tanya. Apalagi ngeliat reaksi mereka yang sekaget itu waktu denger cerita gue, kayaknya gue tahan aja deh.


“P-Pahlawan Pertama kah yang menghancurkan Kronovik…”


“Apa kalian pikir… ia telah melakukan kesalahan besar…?”


“G-Gue juga nggak tau, Eìmgrotr. Karena kalo gue punya kekuatan sebesar dia… mungkin aja gue udah ngelakuin hal yang lebih parah waktu liat Lephta dibunuh…”


Untungnya di antara kita nggak ada Mistyx sama sekali. Jadinya gue bisa ceritain ke mereka tentang fakta tentang Sang Pengelana.


“Haaaaah…! Kok suram banget sih kalian semua… hicc! Ayo kita seneng-seneng lagi…! Masa lalu cuma masa


lalu…! Yang penting kita lebih happy di masa yang akan datang… hicc! Ya nggak Garry…?!”


“Betul pisan, Myllo! Kang Garry yang tampan ieu teh—”


“Hah…?! Emangnya lo ganteng…?!”


“Et! Sianying!”


““Hahahaha!””


“…”


Mungkin mereka ketawa-ketawa,karena emang lawakan Myllo sama Garry lucu-lucu aja buat gue.


Tapi…


Gue mulai ngerasa khawatir sama hilangnya kekuatan gue ini.


Apa mungkin ini tindakan yang bener untuk segel kekuatan gue?


“Kenapa lo nggak terus berkembang untuk semakin lebih kuat aja, supaya lo bisa jagain dia dari semua resiko yang dia pilih?”


Makanya itu gue jadi kepikiran sama kekuatan yang disegel itu. Kalo misalkan kekuatan gue disegel, pastinya gue lebih lemah. Tapi mungkin nggak ya gue masih bisa jagain mereka semua tanpa kekuatan gue itu?


“Gue mungkin butuh orang yang kuat. Tapi gue butuh orang yang merasa bahagia karena bisa lebih kuat! Gue


nggak butuh orang yang malah tersiksa setelah dia lebih kuat!”


Myllo juga ngomong begitu.


Tapi nggak tau kenapa, semenjak dia ngomong gitu gue jadi ngerasa bersalah. Satu hal yang bisa gue pikirin sih, mungkin karena dia harus tanggung beban yang seharusnya gue tanggung.


Emang sih itu tugas dia sebagai Kapten. Tapi—


“Oi, bego. Kok lo diem aja?”


“N-Nggak. Gue cuma… Eh! Ngomong apa lo, brengsek?!”


“Hah?! Gue nanya lo doang, bego!”


“Lo mau gue hajar, brengsek?!”


““…””


Yah, ujung-ujungnya acara perpisahan ini keganggu gara-gara gue sama Si Aneh satu ini.


Oh iya, ada satu hal yang bikin gue penasaran, sebelum kita berangkat.


“Mil.”


“A-Apa… hicc!”


“Lo bilang siang ini kita berangkat, kan? Emangnya gimana cara kita berangkat?”


“Haaaaah?! Kan ada… hicc! Ada kapalnya Lo—”


“*Tung!”


“Kan udah gue ceritain tentang Logrim sama crew-nya!”


“…”


Haaaah… Dasar dongo bocah satu ini! Kenapa dia malah lu—


“HAAAAAAHHH?!?! OH IYA!!! GIMANA CARA KITA PERGI?!?!”


“Oh iya! Waduh! Gimana dong, Myllo?! Djinn?!”


“Y-Yaudah, atuh! Artinya teh kita semua tambah liburannya di desa ini! Lagian teh… aing masih mau main sama teteh geulis! Muehehehe!”


““…””


Gue sama Dalbert liat-liatan doang. Artinya dia juga kepikiran tentang kita yang nggak punya kendaraan.


““Haaaaah…””


Kita berdua cuma bisa hela nafas dalem-dalem.


Andai kita berlima punya kapal, mungkin nggak perlu mikirin pergi sana-sini kali, ya?


“Tunggu! Sepertinya aku mendapatkan ide untuk kalian berlima!”


““…””


Delolliah bilang dia ada ide. Tapi kalo gue liat dari senyumannya, entah kenapa bawaannya gue jadi khawatir.


……………


““!!!””


“Bagaimana, Aquilla?!?! Apakah ide dariku menarik?!”


G-Gila ya cewek ini?! Masa kita pergi ke luar pulau ini pake—


“WUHUUUUU!!! Kita naik Jörnarr! Ahahaha! Asik banget!”


“M-Myllo! S-Sia teh seriusan mau naik eta Hueyacoatl?!”


“Ahaha! Aku juga penasaran serunya gimana!”


“Yaudah deh, bagus. Seenggaknya kita nggak lewat perjalanan udara, kan?”


“…”


Haaaah…! Kenapa sekarang cuma Garry doang yang otaknya masih bener?!


“OK, Aquilla! Waktunya kita ke Vamulran Kingdom! Ayo kita selamatin Lu—”


“Ih, Myllo! Luvast kan belom tentu ada di Vamulran Kingdom! Masa kamu lupa sih?!”


“Oh iya, bener juga! Hehe! Maaf, maaf, maaf…”


Myllo ada benernya juga, sih.


Kalo ada uler segede ini, mungkin aja kita bisa langsung—


“Tunggu! Ada yang lupa kujelaskan kepada kalian!”


Hm? Emangnya ada penjelasan apa lagi dari Jennania?


“Jika kalian menggunakan ((Drownless Breath)) milikku, mungkin kalian bisa bernafas atau berbicara di dalam laut. Tetapi, sihir milikku itu hanya akan bertahan sampai puncak siang, jika dimulai dari matahari terbit!”


Artinya sihirnya bertahan sampe jam 12 siang, kalo mulainya dari jam 6 pagi, ya? Berarti kita cuma punya waktu sekitar 6 jam doang?!


“Hehe! OK! Nggak masalah!”


“Hah?! N-Nggak masa—”


“OK, Jenna! Kalo gitu, tolong pasangin sihir kebal air untuk kita! Hihihi!”


“Hahaha! Baiklah, Myllo!”


((Drownless Breath))


Eh! Seriusan kita naik Jörnarr?! Emang sih kalo 6 jam naik dia, kita bisa tempuh jarak yang lumayan jauh! Tapi


kita beneran naik—


“Hmph! Ada yang takut air, nih!”


“!!!”


Dasar Si Brengsek satu ini!


“OK! Ayo mulai, Jen!”


((Drownless Breath))


““…””


Kita udah selesai dirapal, kan?!


“OK semuanya! Kita berlima berangkat!”


“Teh Angelaaa! Teh Delolliaaah! Teh Jennaaa!”


“Makasih banyak ya semuanya! Kita pergi sekarang!”


Myllo, Garry, sama Gia sampein salam ke semuanya.


“*Tap.”


“Terima kasih atas bantuanmu, teman.”


“Ya. Makasih juga, Del.”


““…””


Gue sama Delolliah salaman sebelum berangkat bareng Aquilla.


“Kita pergi ya semuanya! Ayo, Jörnarr! Kita berangkat!”


“(RRRRRRRR…)”


“*BWUSHHH…”


Akhirnya kita semua berangkat dari pulau ini, ya?


Jujur harus gue akuin. Di pulau ini lebih banyak pengalaman yang buruk daripada pengalaman indah.


Mulai dari awal kita dateng di pulau ini, sempet kehilangan Kapten kita, terlibat di banyak banget peperangan, sampai akhirnya apa yang kita perjuangin terasa sia-sia karena Ular Brengsek itu yang tiba-tiba dateng sebagai “orang penting” untuk Gazomatron atau Mistyx. Tambah lagi, kekuatan gue yang sia-sia, karena ujung-ujungnya harus disegel, saking nggak bisa dikontrol.


Walaupun nggak mungkin nggak selama di Erviga, tapi ada banyak hal yang gue pelajarin di pulau ini, khususnya tentang Djinnardio.


“*BWUSH!!!”


““Wuhuuuu!!!””


“HYAAAAAAHHH!!!”


Yaudah deh. Mungkin itu aja pengalaman yang bisa gue inget di Postriard.


Semoga aja, petualangan gue lebih menarik lagi di pulau selanjutnya. Selain itu, semoga aja gue sebagai Petualang bisa lebih kuat tanpa kekuatan gue yang udah disegel.


Selamat tinggal, Postriard.


Makasih atas pengalamannya untuk gue sama Aquilla.