
Para petinggi Serpentis datang ke Gazomatron untuk mengalahkan empat Undead Dragon yang tersisa.
Namun sebelum itu, ketika Klavak hampir selesai mengalahkan Zoe, Eighth Acolyte.
((Slavery Curse: Heaven Catcher))
““*Kranggg…””
Dengan kekuatan kutukan yang ia gunakan, Zoe mengeluarkan sangat banyak rantai dari dalam tanah. Rantai-rantai tersebut berhasil menangkap Klavak.
“Anda tertangkap! Saatnya saya—”
“*Bwush…”
“!!!”
Zoe dikejutkan dengan Klavak yang tiba-tiba berubah menjadi air dan terlepas dari rantai-rantai yang mengikatnya.
“M-Mustahil! Bukankah itu—”
“Union Utuh. Itu kan, maksud lo?”
“*SHRAK!!!”
Potong Klavak, yang tiba-tiba berada di belakangnya dan menusuknya dengan tangannya yang berbentuk air, di mana air tersebut memiliki ujung yang sangat lancip.
“*Bruk…”
“K-Keterlaluan! Anda bahkan menghancurkan Jiwa saya?!”
“Emang gitu kan cara lawan penyembah Iblis? Daripada nggak selesai-selesai karena regenerasinya, mending
langsung hancurin aja Jiwa-nya. Lagian gue juga nggak mau kelamaan lawan lo.”
Jawab Klavak, setelah berhasil menghancurkan Jiwa Zoe.
“S-S-Sial! Sa-Saya masih harus—”
((Water Magic: Instant Bullet))
“*Bwush!”
“Aaaargh!!!”
Klavak menembak Zoe yang hendak melarikan diri dengan sihir air miliknya. Sihir air yang ia gunakan memiliki rupa seperti peluru, yang ia tembak tepat di kakinya. Karena sihir tersebut, kaki Zoe pun berlubang, hingga membuatnya merasakan sakit yang luar biasa, setelah kemampuan regenerasinya menghilang.
“S-Sakit! Sakit seka—”
“Lo pikir lo bisa lari dari gue? Daripada lari…”
“Aaargh!”
“…mending lo jawab pertanyaan gue, penyembah Iblis!”
Seru Klavak, sambil menjambak rambut Zoe, tanpa memperdulikan rasa sakit yang ia derita.
“A-Anda bilang… anda ada urusan dengan saya. Apakah anda hendak mencari seseorang?!”
Tanya Zoe, sambil menahan rasa sakitnya.
“Oh, ternyata lo udah tau ya? Bagus, deh. Kalo gitu gue nggak perlu basa-basi lagi.”
“*Bwush…”
Klavak menciptakan pedang yang panjang menggunakan sihir air miliknya. Pedang tersebut ia arahkan ke bawah
dagu Zoe.
“Klarra Osseana. Kemana orang itu?”
Tanya Klavak kepada Zoe.
Namun, alih-alih menjawab, Zoe hanya tertawa.
“Fufufu…”
“Hm?”
“Tentu saja anda bertanya tentang Fifth Acolyte itu! Mengetahui siapa anda beberapa tahun yang lalu bersama Pahlawan Sylvia, saya yakin anda memiliki kaitannya dengan perempuan tersebut!”
Jawab Zoe, sambil tertawa dan mulai tidak memperdulikan rasa sakitnya.
“Klavak Osseana, apakah anda tahu?”
“Tahu apa?”
“Bahwa saudari satu klan anda itu adalah wanita yang aneh dan sangat mengganggu! Bahkan Mermaid sepertinya bisa disamakan dengan seorang pelacur! Hahaha—”
“*Shrak!”
“Aaaaargh!”
Klavak memotong lengan Zoe, setelah ia menghina wanita yang sedang dicarinya.
“T-Ternyata anda marah besar kepada saya karena—”
“Nggak. Gue nggak marah soal itu. Bahkan gue juga setuju kok sama lo.”
“Hm?! A-Apa maksud anda?!”
“Cewek yang gue cari itu nggak beda jauh sama pelacur. Tapi yang bikin gue kesel itu cuma satu.”
“…”
“Harusnya yang berhak nanya di sini gue! Bukan lo!”
Jelas Klavak dengan kesal.
“Yaudah deh! Daripada lo kelamaan ngerasain sakit, mending jawab gue! Di mana cewek yang lo bilang pelacur itu?!”
“…”
Zoe hanya tersenyum saja.
“Buat apa… saya menjawab pertanyaan an—”
“*Shruk!”
“…”
Klavak merasa usahanya menginterogasi Zoe hanya sia-sia jika dilanjutkan lebih lama lagi. Oleh karena
itu, ia menusuk dagunya yang langsung membunuhnya.
“…”
Dari belakangnya, Klavak mulai merasakan adanya seseorang yang telah memperhatikannya sejak bertarung dengan Zoe.
“Gue tau lo ada di sana, Snake!”
““…””
Snake pun menampakkan dirinya.
Bersama-sama, mereka mulai berjalan menuju puncak Mount Gazo. Di lokasi tersebut, mereka menemukan Djinn yang berusaha untuk bangkit untuk melawan Jarvanaag, yang terus menyerangnya.
“*Prok, prok, prok…”
“Hm?! Siapa lagi yang berani datang?!”
Tanya Jarvanaag, yang lalu menengok ke belakang setelah mendengar adanya suara tepuk tangan.
“Cih! Ada lagi seorang penghambat yang lebih besar, yang datang kemari!”
Pikirnya dengan kesal, karena merasakan kedatangan Snake yang jauh lebih berbahaya daripada Djinn.
“Siapa kau?! Apa urusanmu datang ke tempat i—”
“Saya yakin bahwa anda adalah pria yang memimpin Children of Purgatory, bukan?”
Potong Snake yang menjawab dengan pertanyaan.
“*ZHUMMM……”
“Jawablah pertanyaanku! Jika kau datang untuk menghentikanku, maka aku tidak akan berniat untuk menahan kekuatanku!”
Seru Jarvanaag, sambil mengerahkan aura Iblis miliknya,
“Anda bertanya siapa saya?”
“*DHUMMM……”
“Lebih baik anda tahu diri sedikit! Karena anda telah merusak segalanya!”
Jawab Snake, sambil mengeluarkan auranya yang sangat besar. Dengan amarah yang meluap, ia hendak membunuh Master dari Children of Purgatory tersebut.
Namun, pertarungan mereka harus berhenti.
“*SWUSH!!!”
“Snake! Belakang lo!”
“!!!”
Snake dengan reflek yang sangat cepat menghindari Djinn yang berlari dengan kekuatan petir yang mengalir di kepalan tangannya. Namun, target utama Djinn bukanlah dirinya.
“Heaaaaagh!”
“*JGRUM!!!”
“BERANI-BERANINYA TADI LO PEGANG KEPALA GUE?!?! HAAAAH?!?!”
Teriak Djinn, memukul Jarvanaag
dengan sangat keras, hingga jatuh terguling-guling.
“S-Sial kau… Djinn Dracorion—”
“ANJING LO, JARVANAAG!!!”
“*JGRUM!!!”
“Uaaargh…”
Kali ini Djinn menginjak kaki Jarvanaag dengan kekuatan petir yang mengalir pada kakinya, hingga menghancurkan kaki Jarvanaag.
“Hraaaaagh!”
“…”
Dengan amarah yang meluap, Jarvanaag menyerang Djinn dengan kekuatan api hitam miliknya. Beruntung Djinn dapat menghindari serangannya, dengan melompat ke belakang hingga ia berada di tidak jauh dari Snake.
“…”
Djinn menunjukkan jarinya ke arah Snake.
“K-Kali ini… bukan giliran lo, breng—Urgh!”
“*Bruk…”
Djinn tiba-tiba terjatuh sambil memegang kepalanya.
“Klavak.”
“Ya.”
Balas Klavak, yang kemudian berjalan untuk membawa Djinn.
Namun, sebelum ia berhasil membawanya…
““*SWUSH!!!””
“*Chringgg…”
Snake berlari dengan cepat untuk melindungi Djinn dari Jarvanaag yang sangat murka dan ingin membunuh Djinn.
“JANGAN HALANGIKU, TOPENG ULAR!!!”
“Tidak! Pria ini adalah seseorang yang saya butuhkan! Justru, anda yang seharusnya pergi dari tempat ini, penyembah berhala!”
Balas Snake.
Tidak lama kemudian, datanglah beberapa orang yang menghentikan pertarungan mereka.
“*Vwrung…”
“Master, cukup.”
“…”
Jarvanaag hanya menatap murid-murid yang berada di belakangnya.
“Raazog. Strishen. Apa yang kalian lakukan di tempat i—”
“Master. Maaf kalo kita lewatin batas kita. Tapi kita udah kalah, Master. Daripada lama-lama di sini, mending kita pergi sekarang.”
“…”
Jarvanaag hanya terdiam sebelum menentukan pilihannya.
“Baiklah. Aku akan pergi bersama kalian.”
Jawab Jarvanaag, sambil berjalan menuju dua muridnya.
“Dengarlah, kalian bertiga. Jangan kalian pikir aku akan melupakan kekalahan memalukan yang kalian berikan
kepadaku, khususnya—”
“Lo nggak tau bahaya macem apa yang dibawa Iblis 5,000 tahun yang lalu, Jarvanaag Mistyx! Nggak! Lebih
tepatnya, Jarvanaag Kronovik!”
““!!!””
Semua terkejut dengan apa yang diucapkan Djinn, khususnya Jarvanaag.
“Ma-Master! Cukup! Jangan bikin keadaan kita lebih kacau!”
“Cih!”
“*Vwrung…”
Jarvanaag dan kedua muridnya melarikan diri dengan portal yang ia gunakan.
“Sepertinya semua sudah selesai, kah—”
“Aaaaaargh!!!”
“*BRUK, BRUK, BRUK!!!”
“J-Jangan tampilin apa-apa lagi, brengsek!!!”
Seru Djinn, sambil membenturkan kepalanya ke tanah.
“Snake! Minggir!”
“*SHRUK!!!”
Klavak yang mengambil Wavebringer yang tergeletak di tanah langsung menusuk Djinn.
“M-Mendingan?”
“Mendingan sih. Tapi Mana gue semakin—”
“Biarkan saya yang menyentuhnya.”
Sahut Snake, yang kemudian memegang Wavebringer yang menusuk Djinn, agar Mana miliknya dapat diserap olehnya.
“Bagaimana sekarang? Apakah anda merasa lebih baik?”
“…”
Djinn hanya terdiam karena tidak ingin mengakui bantuan yang ia dapatkan dari Snake.
“*Vwrung…”
“Marilah kita ke—”
“Apa rencana lo, Snake?!”
Tanya Djinn yang masih mencurigai Snake.
“Rencana? Apa maksud anda? Saya hanya ingin kembali ke negara saya saja.”
“N-Negara lo?! Apa maksud—”
“Djinnardio. Saat ini anda sedang tertusuk dan menyerap Mana saya. Masihkah anda harus merepotkan saya lebih jauh lagi?”
“Cih! Dasar brengsek!”
Ketus Djinn dengan tidak berdaya dan merasa hanya bisa mengikuti kata-katanya saja.
Karena tidak punya pilihan lain, Djinn pun ikut bersama Snake dan Klavak memasuki portal yang Snake ciptakan.
Ketika ia memasukinya, ia terkejut dengan tujuan portal tersebut.
“I-Ini kan—”
“Woy, Djinn! Lo kenapa ditusuk kayak gitu?!”
“Hah?! Myllo?! Styx?!”
Sahut Djinn setelah tiba di Snellsham Point dan bertemu Myllo dan Styx.
““…””
Mereka berbincang bersama, khususnya Djinn yang menjelaskan semuanya kepada Myllo.
Hingga pada akhirnya, mereka dikejutkan dengan sebuah fakta yang tidak bisa mereka terima.
“A-Anda itu kan…”
“Hmm? Nirron, kah? Apakah anda baik-baik saja?”
“Ya! Saya baik-baik aja, Pak Presiden!”
““…””
Djinn, Myllo, dan Styx hanya bisa menatap Nirron dan Snake dengan tidak percaya.
“Nirron ya, nama lo?”
“I-Iya, Djinn. Maafin saya sebelumnya, karena anda harus—”
“Nggak, nggak nggak. Gue nggak peduli soal itu. Tadi lo manggil orang ini apa?”
Tanya Djinn yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Pak Presiden. Dia ini orang yang pimpin negara ini.”
““…””
Mereka bertiga tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Sementara Snake hanya tersenyum.
“*Vwrung…”
“Snake, aku datang membawakan seseorang yang ingin kau temui.”
“K-Kenapa anda bawa sa—”
“Auqveern. Sepertinya anda terlihat baik-baik saja. Syukurlah karena anda tidak berubah menjadi Iblis.”
“A-A-Anda itu… Nggak salah lagi! Anda itu Sang Pengelana, bukan?!”
“!!!”
Djinn, yang sebelumnya bertanya-tanya tentang Sang Pengelana yang ditemui Auqveern, kini mendapatkan
jawabannya. Namun, ketika mendengar jawaban tersebut, ia marah besar.
“*Tap!”
Ia pun menyingkirkan tangan Snake yang menyentuh Wavebringer, walaupun ia sadar bahwa Mana miliknya
menjadi semakin lebih cepat terserap.
“Hey, Djinnardio Vamulran. Mengapa anda melepas—”
“Daripada gue… berutang budi sama orang manipulatif kayak lo… Mending gue pikirin cara gue… kendaliin kekuatan ini…!”
Jawab Djinn, dengan letih karena Mana yang diserap oleh Wavebringer.