
““*Drap, drap, drap… (suara
langkah kaki pasukan)””
Cih! Kacau banget!
Ini pasukannya Siegfried, ya?!
Tapi yang bener-bener gue sangka itu,
ada Bismont yang tiba-tiba ikut dia!
“Hadirin sekalian! Yang Mulia
Tuan Sebastian Siegfried hendak menyampaikan sesuatu kepada kalian semua!”
“*Tuk, tuk, tuk… (suara langkah
kuda)”
“…”
Oh, itu bangsawan yang namanya
Sebastian Siegfried?
“Wahai kalian Mahluk Hina!
Dengarkan saya!”
““…””
“Saya adalah Sebastian Siegfried,
Duke dari tanah saya tercinta, Erviga Kingdom! Saya hendak—”
“Halo semuanyaaaa!”
“Hai, Kepala Suku!”
“…”
Waduh, kok kayak mau pan—
“Ada burung terbang di awan,
Sambil terbang, dia gigit jari!
Katanya mah dia bangsawan!
Tapi mukanya teh semesum Garry!”
““BWAHAHAHAHA!!!””
“Sianying! *Sia*teh kalo
pantun jangan bawa-bawa nama aing, anying!”
Hahaha! Nggak cuma
Monster-Monster aja yang ketawa, bahkan beberapa Petualang yang nggak kenal
Garry pun juga ketawa!
Tapi…
“Cih! Keterlaluan!”
…Ada yang nggak seneng tuh
mukanya.
“Diam kalian!”
““Hah?””
“Dengar ini, baik para Monster
dan Petualang sampah! Saya tidak suka ada yang memotong kata-kata saya!”
“…”
Hmm…buka kartu.
Tapi…coba juga nggak ya?
“Dasar biadab kalian semua! Tidak tahu malukah
kalian—”
“Woy, semuanya!”
““…””
Aduh, sialan!
Bales, kek!
““…””
Ah, tanggung lah! Lanjutin aja!
“A…Ada kota yang namanya
Balikpapan,
Ada juga kota yang namanya Demak!
Dia bilang dia bangsawan?!
Kok jenggotnya kayak
semak-semak?!”
““…””
AAAAAHHHH MALU SENDIRI GUE!!!
HARUSNYA GUE NGGAK—
““Pfft…AHAHAAHAHA!!!”
Huuuuhhhh…untung pada ketawa!
“Ke…Keterlaluan! Siapa anda?!
Mengapa anda—”
“Oi, oi, oi! Gue juga mau coba!”
““…””
Duh…sekarang feeling gue baru nggak enak!
Udah Myl! Lo nggak akan nger—
“Di sana ada batu,
Di sini ada gandum!
Daripada denger bangsawan itu,
Mending kita minum!”
““Hah…?””
Bi…Bisa pantun juga dia!
Walaupun semua ujung-ujungnya
nggak ada yang nger—
““AHAHAHAHAHA!!!””
Kayaknya denger pantun apapun, mereka
pasti ketawa!
“Hmph!”
Lah Si Dongo itu!
Kenapa kesannya kayak nantangin
adu pantun?!
“Gyaaaaargh! Semuanya! Serang
mereka!”
“SERAAAANG!!!”
““HRUAAAAGH!””
Cih!
Mau nggak mau kita harus perang,
ya—
““*Swush! (suara terbang)””
Loh! Kok pada terbang pasukan
itu?!
““*Shrak! (suara banyak
tebasan)””
““Argh!””
Untungnya sih yang pada di darat
masih bisa ngimbangin semua pasukan ini.
Masalahnya itu…
““*Boom! (suara banyak ledakan)””
““Uargh!””
…pasukan yang terbang-terbang
ini!
“*Syut! (suara tembakan panah)”
“*Boom! (suara ledakan)”
“Argh!”
“Gawat! Ada yang memakai pa—”
“*Boom! (suara ledakan)”
Untung ada Padomus yang pake
panah sihirnya!
“Equos! Kita serang pasukan yang
terbang itu!”
““Siap, Bos!””
OK, nggak ada yang perlu gue
khawatirin lagi kayaknya—
“Serang pria berambut putih itu!”
““Hraaagh!””
Cih! Ada juga yang maju ke arah
gue!
“Mati kau, Petualang Bia—”
“*Jgrum! (suara sihir petir)”
““Aaaargh!””
Hmph! Kena petir aja udah
langsung—
“Hraaa—”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Urgh!”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Argh!”
Gue kira pasukan-pasukan ini tuh
sekuat itu, ternyata biasa a—
“Serang mereka! Jangan kasih
ampun, bahkan wanita dan anak kecil sekalipun!”
““Ya!””
Eh! Mereka mau nyerang Gia—
“Iron Slasher!”
“*Prang! (suara sihir pedang
besar)”
“Urgh…”
“Hraaaagh!”
“*Prang! (suara serangan pedang
besar)”
““Aargh!””
Untung Gia masih bisa lawan 5
orang yang ada di depan!
“Huaaargh!”
Eh! Belakang dia!
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Akh!”
Untung gue masih bisa jagain dia!
“Djinn! Makasih—”
“Fokus dulu, Gia! Mereka masih
banyak jumlahnya!”
“Ya!”
Gue juga harus fokus!
Ini pertama kalinya gue perang besar-besaran
kayak gini!
……………
“Swift Darkness…”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
““*Shrak! (suara tebasan banyak
pedang)””
“Aaakh…”
Nelzei langsung bantai 10 pasukan
Dia bergerak kayak bayangan,
sambil tebas pasukan itu.
“Mountain Blade!”
“*Bruk, bruk, bruk! (suara
tusukan batu)”
““Aaargh!””
August juga nggak mau kalah.
Dia pake sihir untuk bikin ombak
batu, yang bunuh lebih dari 15 pasukan.
Masalahnya itu…
“*Shrak! (suara tebasan)”
““Argh!””
…ksatria berkuda yang ada di
depan gue ini.
Sekali tebas aja, udah lebih dari
5 Monster yang mati.
“*Jgrum! (suara sihir petir)”
“…”
Dih! Kudanya kuat banget!
Kuda itu bahkan kebal petir gue!
“Ngiiihiiiek!”
“Hm…”
“…”
Dia natap tajem gue.
“…”
“Hragh!”
“Ngiiiihiieek!”
Bagus, dia lari ke arah gue.
“Blazing Sword!”
“*Vwummm… (suara kobaran api)”
Gue nggak peduli sama pedang
berapi dia!
Karena yang gue incer itu…
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Ngiiihiiik…”
…kudanya!
“…”
Oh, gue kira dia bakal jatoh,
ternyata mendaratnya mulus banget.
“Petualang yang bernama Djinn. Walaupun
Kasta Kuning, saya masih tidak percaya jika anda yang mengalahkan Fire Dragon
King Tarzyn.”
“Hmph! Emangnya gue peduli lo
percaya atau nggak?!”
“Baiklah. Mari saya uji apakah
anda sekuat itu atau tidak!”
Dia lari ke arah gue.
“Hraaagh!”
“*Vwuuum…(suara ayunan pedang
berapi)”
“…”
“*Vwuuum…(suara ayunan pedang
berapi)”
Keliatannya dia pede pake pedang
apinya itu.
Tapi, nggak ada api yang lebih
bahaya daripada apinya Tarzyn!
“*Jgrumm! (suara sihir petir)”
“*Boom! (suara ledakan)”
“Argh!”
Sama kayak lawan Tarzyn yang
ngandelin apinya, gue cuma perlu samber pake petir gue supaya ada ledakan.
Abis itu…
“*Swush! (suara ayunan pukulan)”
Brengsek! Cepet juga dia
ngehindarin pukulan gue!
“Hmph! Apakah itu pukulan yang
membunuh—”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Urgh…”
“Kalo lagi berantem nggak usah
banyak bacot, anjing!”
Ternyata orang ini tolol juga.
Dia ngeremehin gue karena
berhasil pukulan gue.
Tapi dia kira serangan gue cuma
sekali aja.
“Cuh!”
Bahkan luka dia sampe darah
semua.
“Keterlaluan! Bahkan tanpa
senjata pun, anda bisa membuat saya berdarah seperti ini!”
“Hmph! Makanya kalo lemah jangan
jadi ksatria, anjing!”
“Hah?! Anda bicara apa kepada
sa—”
“Kalo ksatria aja selemah lo,
mending gue bantai aja nih negara!”
“Dasar keterlaluan! Dasar mulut
sampah! Dasar—”
“DASAR GOBLOK, TOLOL, IDIOT, BEGO,
DONGO!”
Ayo, marah dong!
Biar nggak sia-sia sampah dari
mulut gue yang baru aja gue keluarin!
“HRAAAAAGH!”
Bagus! Dia ma—
“Fire Slash!”
“*Swush! (suara bilah api)”
Sialan nih orang! Sekarang malah
main jauh!
“Saya adalah Dienhart Valvaer!
Saya akan membunuh anda dengan senang hati!”
“Hah?! Mana gue peduli sama muka
pantat kayak—”
“Hraaagh!”
““*Vwuuum…(suara banyak ayunan
pedang berapi)””
Serangan dia lebih brutal!
Karena emosi sama gue, dia jadi
ngasal banget nyerangnya!
“Minggir!”
“*Vwuuum…(suara ayunan pedang
berapi)”
“Argh!”
Bahkan beberapa pasukannya
dibunuh gara-gara ngehalangin dia yang mau bunuh gue.
Haha, emang bego nih orang.
“*Jgrum! (suara pukulan petir)”
“*Boom! (suara ledakan)”
“*Chrang, rang, rang… (suara
pedang terjatuh)”
Bagus! Pedangnya jatoh!
Kalo gitu, gue cuma perlu ambil
pedangnya!
“Argh! Dasar keterlalu—”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
“…”
Gue langsung ambil pedang dia,
terus gue tebas dia sampe jadi dua.
Dasar tolol. Ksatria kok gampang
emosi—
“*Swung… (suara serangan sihir)”
“Argh!”
Anjing! Apaan nih yang nembak
gue?!
“*Brak! (suara menghantam pohon)”
“Urgh!”
Kenapa gue kayak ditusuk paku?!
“…”
Anehnya, paku nggak keliatan sama
sekali! Disentuh pun juga nggak bisa!
“*Drap, drap, drap… (suara
langkah kaki)”
“!!!”
Brengsek! Jangan bilang karena
Petualang ini!
“Heh, anjing! Apaan maksud lo
nyerang gue—”
“Sshh, sshh, sshh…”
Kenapa gue nyuruh gue diem?!
“Djinnardio Vamulran. Tidak saya sangka Anak Haram seperti anda bisa
sekuat ini, ya.”
“!!!”
Siapa nih orang?! Kenapa kenal
gue?!
“Siapa lo sebenernya, Konnor?!”
“Konnor? Maksud anda…Konnor
Trasles?”
“Hah?! Emangnya lo sia—”
“Maafkan saya jika anda mengira saya sebagai
Petualang yang bernama Konnor Trasles itu.”
“!!!”
O…Orang ini…