Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 115. He Who Hunts Me Down



““*Drap, drap, drap… (suara


langkah kaki pasukan)””


Cih! Kacau banget!


Ini pasukannya Siegfried, ya?!


Tapi yang bener-bener gue sangka itu,


ada Bismont yang tiba-tiba ikut dia!


“Hadirin sekalian! Yang Mulia


Tuan Sebastian Siegfried hendak menyampaikan sesuatu kepada kalian semua!”


“*Tuk, tuk, tuk… (suara langkah


kuda)”


“…”


Oh, itu bangsawan yang namanya


Sebastian Siegfried?


“Wahai kalian Mahluk Hina!


Dengarkan saya!”


““…””


“Saya adalah Sebastian Siegfried,


Duke dari tanah saya tercinta, Erviga Kingdom! Saya hendak—”


“Halo semuanyaaaa!”


“Hai, Kepala Suku!”


“…”


Waduh, kok kayak mau pan—


“Ada burung terbang di awan,


Sambil terbang, dia gigit jari!


Katanya mah dia bangsawan!


Tapi mukanya teh semesum Garry!”


““BWAHAHAHAHA!!!””


“Sianying! *Sia*teh kalo


pantun jangan bawa-bawa nama aing, anying!”


Hahaha! Nggak cuma


Monster-Monster aja yang ketawa, bahkan beberapa Petualang yang nggak kenal


Garry pun juga ketawa!


Tapi…


“Cih! Keterlaluan!”


…Ada yang nggak seneng tuh


mukanya.


“Diam kalian!”


““Hah?””


“Dengar ini, baik para Monster


dan Petualang sampah! Saya tidak suka ada yang memotong kata-kata saya!”


“…”


Hmm…buka kartu.


Tapi…coba juga nggak ya?


“Dasar biadab kalian semua! Tidak tahu malukah


kalian—”


“Woy, semuanya!”


““…””


Aduh, sialan!


Bales, kek!


““…””


Ah, tanggung lah! Lanjutin aja!


“A…Ada kota yang namanya


Balikpapan,


Ada juga kota yang namanya Demak!


Dia bilang dia bangsawan?!


Kok jenggotnya kayak


semak-semak?!”


““…””


AAAAAHHHH MALU SENDIRI GUE!!!


HARUSNYA GUE NGGAK—


““Pfft…AHAHAAHAHA!!!”


Huuuuhhhh…untung pada ketawa!


“Ke…Keterlaluan! Siapa anda?!


Mengapa anda—”


“Oi, oi, oi! Gue juga mau coba!”


““…””


Duh…sekarang feeling gue baru nggak enak!


Udah Myl! Lo nggak akan nger—


“Di sana ada batu,


Di sini ada gandum!


Daripada denger bangsawan itu,


Mending kita minum!”


““Hah…?””


Bi…Bisa pantun juga dia!


Walaupun semua ujung-ujungnya


nggak ada yang nger—


““AHAHAHAHAHA!!!””


Kayaknya denger pantun apapun, mereka


pasti ketawa!


“Hmph!”


Lah Si Dongo itu!


Kenapa kesannya kayak nantangin


adu pantun?!


“Gyaaaaargh! Semuanya! Serang


mereka!”


“SERAAAANG!!!”


““HRUAAAAGH!””


Cih!


Mau nggak mau kita harus perang,


ya—


““*Swush! (suara terbang)””


Loh! Kok pada terbang pasukan


itu?!


““*Shrak! (suara banyak


tebasan)””


““Argh!””


Untungnya sih yang pada di darat


masih bisa ngimbangin semua pasukan ini.


Masalahnya itu…


““*Boom! (suara banyak ledakan)””


““Uargh!””


…pasukan yang terbang-terbang


ini!


“*Syut! (suara tembakan panah)”


“*Boom! (suara ledakan)”


“Argh!”


“Gawat! Ada yang memakai pa—”


“*Boom! (suara ledakan)”


Untung ada Padomus yang pake


panah sihirnya!


“Equos! Kita serang pasukan yang


terbang itu!”


““Siap, Bos!””


OK, nggak ada yang perlu gue


khawatirin lagi kayaknya—


“Serang pria berambut putih itu!”


““Hraaagh!””


Cih! Ada juga yang maju ke arah


gue!


“Mati kau, Petualang Bia—”


“*Jgrum! (suara sihir petir)”


““Aaaargh!””


Hmph! Kena petir aja udah


langsung—


“Hraaa—”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Urgh!”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Argh!”


Gue kira pasukan-pasukan ini tuh


sekuat itu, ternyata biasa a—


“Serang mereka! Jangan kasih


ampun, bahkan wanita dan anak kecil sekalipun!”


““Ya!””


Eh! Mereka mau nyerang Gia—


“Iron Slasher!”


“*Prang! (suara sihir pedang


besar)”


“Urgh…”


“Hraaaagh!”


“*Prang! (suara serangan pedang


besar)”


““Aargh!””


Untung Gia masih bisa lawan 5


orang yang ada di depan!


“Huaaargh!”


Eh! Belakang dia!


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Akh!”


Untung gue masih bisa jagain dia!


“Djinn! Makasih—”


“Fokus dulu, Gia! Mereka masih


banyak jumlahnya!”


“Ya!”


Gue juga harus fokus!


Ini pertama kalinya gue perang besar-besaran


kayak gini!


……………


“Swift Darkness…”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


““*Shrak! (suara tebasan banyak


pedang)””


“Aaakh…”


Nelzei langsung bantai 10 pasukan


Dia bergerak kayak bayangan,


sambil tebas pasukan itu.


“Mountain Blade!”


“*Bruk, bruk, bruk! (suara


tusukan batu)”


““Aaargh!””


August juga nggak mau kalah.


Dia pake sihir untuk bikin ombak


batu, yang bunuh lebih dari 15 pasukan.


Masalahnya itu…


“*Shrak! (suara tebasan)”


““Argh!””


…ksatria berkuda yang ada di


depan gue ini.


Sekali tebas aja, udah lebih dari


5 Monster yang mati.


“*Jgrum! (suara sihir petir)”


“…”


Dih! Kudanya kuat banget!


Kuda itu bahkan kebal petir gue!


“Ngiiihiiiek!”


“Hm…”


“…”


Dia natap tajem gue.


“…”


“Hragh!”


“Ngiiiihiieek!”


Bagus, dia lari ke arah gue.


“Blazing Sword!”


“*Vwummm… (suara kobaran api)”


Gue nggak peduli sama pedang


berapi dia!


Karena yang gue incer itu…


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Ngiiihiiik…”


…kudanya!


“…”


Oh, gue kira dia bakal jatoh,


ternyata mendaratnya mulus banget.


“Petualang yang bernama Djinn. Walaupun


Kasta Kuning, saya masih tidak percaya jika anda yang mengalahkan Fire Dragon


King Tarzyn.”


“Hmph! Emangnya gue peduli lo


percaya atau nggak?!”


“Baiklah. Mari saya uji apakah


anda sekuat itu atau tidak!”


Dia lari ke arah gue.


“Hraaagh!”


“*Vwuuum…(suara ayunan pedang


berapi)”


“…”


“*Vwuuum…(suara ayunan pedang


berapi)”


Keliatannya dia pede pake pedang


apinya itu.


Tapi, nggak ada api yang lebih


bahaya daripada apinya Tarzyn!


“*Jgrumm! (suara sihir petir)”


“*Boom! (suara ledakan)”


“Argh!”


Sama kayak lawan Tarzyn yang


ngandelin apinya, gue cuma perlu samber pake petir gue supaya ada ledakan.


Abis itu…


“*Swush! (suara ayunan pukulan)”


Brengsek! Cepet juga dia


ngehindarin pukulan gue!


“Hmph! Apakah itu pukulan yang


membunuh—”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Urgh…”


“Kalo lagi berantem nggak usah


banyak bacot, anjing!”


Ternyata orang ini tolol juga.


Dia ngeremehin gue karena


berhasil pukulan gue.


Tapi dia kira serangan gue cuma


sekali aja.


“Cuh!”


Bahkan luka dia sampe darah


semua.


“Keterlaluan! Bahkan tanpa


senjata pun, anda bisa membuat saya berdarah seperti ini!”


“Hmph! Makanya kalo lemah jangan


jadi ksatria, anjing!”


“Hah?! Anda bicara apa kepada


sa—”


“Kalo ksatria aja selemah lo,


mending gue bantai aja nih negara!”


“Dasar keterlaluan! Dasar mulut


sampah! Dasar—”


“DASAR GOBLOK, TOLOL, IDIOT, BEGO,


DONGO!”


Ayo, marah dong!


Biar nggak sia-sia sampah dari


mulut gue yang baru aja gue keluarin!


“HRAAAAAGH!”


Bagus! Dia ma—


“Fire Slash!”


“*Swush! (suara bilah api)”


Sialan nih orang! Sekarang malah


main jauh!


“Saya adalah Dienhart Valvaer!


Saya akan membunuh anda dengan senang hati!”


“Hah?! Mana gue peduli sama muka


pantat kayak—”


“Hraaagh!”


““*Vwuuum…(suara banyak ayunan


pedang berapi)””


Serangan dia lebih brutal!


Karena emosi sama gue, dia jadi


ngasal banget nyerangnya!


“Minggir!”


“*Vwuuum…(suara ayunan pedang


berapi)”


“Argh!”


Bahkan beberapa pasukannya


dibunuh gara-gara ngehalangin dia yang mau bunuh gue.


Haha, emang bego nih orang.


“*Jgrum! (suara pukulan petir)”


“*Boom! (suara ledakan)”


“*Chrang, rang, rang… (suara


pedang terjatuh)”


Bagus! Pedangnya jatoh!


Kalo gitu, gue cuma perlu ambil


pedangnya!


“Argh! Dasar keterlalu—”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


“…”


Gue langsung ambil pedang dia,


terus gue tebas dia sampe jadi dua.


Dasar tolol. Ksatria kok gampang


emosi—


“*Swung… (suara serangan sihir)”


“Argh!”


Anjing! Apaan nih yang nembak


gue?!


“*Brak! (suara menghantam pohon)”


“Urgh!”


Kenapa gue kayak ditusuk paku?!


“…”


Anehnya, paku nggak keliatan sama


sekali! Disentuh pun juga nggak bisa!


“*Drap, drap, drap… (suara


langkah kaki)”


“!!!”


Brengsek! Jangan bilang karena


Petualang ini!


“Heh, anjing! Apaan maksud lo


nyerang gue—”


“Sshh, sshh, sshh…”


Kenapa gue nyuruh gue diem?!


“Djinnardio Vamulran. Tidak saya sangka Anak Haram seperti anda bisa


sekuat ini, ya.”


“!!!”


Siapa nih orang?! Kenapa kenal


gue?!


“Siapa lo sebenernya, Konnor?!”


“Konnor? Maksud anda…Konnor


Trasles?”


“Hah?! Emangnya lo sia—”


“Maafkan saya jika anda mengira saya sebagai


Petualang yang bernama Konnor Trasles itu.”


“!!!”


O…Orang ini…