
Di suatu hutan yang tidak
dikenal, di mana ada sekelompok Petualang yang sedang menjalankan Quest.
“Haaaah…akhirnya kita sampe
juga!”
“Cuma serang kandang Monster aja,
kan?!”
“Bener! Apalagi, lawannya cuma
sebatas Goblin!”
Mereka adalah Petualang Kasta
Hijau yang menerima Quest untuk mencari keberadaan sekumpulan Goblin di Erviga.
Sekarang, mereka telah menemukan
salah satu hutan besar di ujung selatan Erviga, yang mereka yakini adalah
tempat di mana para Goblin berkumpul.
Ketika mereka hendak memasuki
hutan tersebut, tiba-tiba ada sosok bayangan yang berlari di pinggir hutan.
“Tu…Tunggu!”
““Hm?””
“A…Ada yang lewat!”
““…””
Dua Petualang lainnya mencari
bayangan yang dikatakan oleh salah satu dari mereka, namun mereka tidak
menemukannya.
“Ah, elah! Dasar penakut!”
“Andai kita punya Observer! Nggak
perlu khawatir sama sekitar kita, deh!”
“Cih! Di kira gue bohong kali,
ya?!”
Sambil memasuki hutan itu, mereka
pun mulai berdebat.
Hingga…
“*♫Ting, ting, tring… (suara harpa)”
“Di…Diem dulu!”
““Hm?””
“Ka…Kalian nggak denger ada suara musik, ya?!”
…terdengar suara petikan harpa, walaupun hanya satu
dari mereka yang mendengarnya.
“Cih! Ini lagi malah—”
“Diem dulu! Coba denger baik-baik!”
““…””
Ketika dua Petualang lainnya hendak mendengar suara
tersebut, tiba-tiba suara itu menghilang.
“Aaaah! Dasar dua Petualang aneh! Yang satu bilang ada
yang lewat! Yang satu lagi bilang ada suara musik!”
“Lah! Lo kira gue bohong! Tadi beneran ada yang lewat!”
“Itu mah emang lo aja yang aneh! Yang pasti, gue inget
jelas ada suara musik!”
“Lo yang aneh!”
“Nggak! Lo yang aneh!”
“Ah, diem lo semua! Lo sama-sama aneh!”
““Lo lebih aneh karena nggak ngerasa aneh!””
Perdebatan mereka pun semakin menjadi.
Semakin mereka ke dalam hutan, mereka pun semakin
menghujat satu sama lainnya.
“Sstt, sstt…”
“Hah?! Kenapa kalian ada yang nyuruh diem?!”
“Hah?! Nyuruh diem?!”
“Nah kan! Mulai aneh Petualang satu ini!”
“Cih, dasar sialan! Lo nggak denger ada yang nyuruh
diem?!”
““Mending lo diem aja, dasar aneh!””
Petualang terakhir pun kesal karena hanya ia yang
mendengar suara itu.
Sambil mereka berjalan, mereka tidak sadar karena
menginjak sesuatu.
“*Cyut… (suara terikat tali)”
“Loh, kok kita—”
“*Wung… (suara tertarik tali)”
““Wuaaaah!””
Mereka sama-sama terkena jebakan ketika menginjak
sesuatu, hingga kaki mereka terikat tali yang kemudian menarik mereka ke atas.
Maka dari itu, mereka pun tergantung dalam posisi
terbalik.
“Cih! Kita kena jebakan kayak gini!”
“Gara-gara kalian yang debat mulu”
“Loh?! Kok salah gu—”
“Tunggu dulu!”
““Hm?””
Salah satu dari mereka merasa ada yang aneh.
“Kok…Kok Monster bisa bikin jebakan kayak gini ya?!”
“I…Iya ya?!”
“Apa mungkin yang jebak kita—”
“*Tuk! (suara terkena lemparan batu)”
“Aduh!”
Salah satu dari mereka terkena lemparan batu.
“Si…Siapa yang berani lempar batu kayak gini?!”
“Nggak mungkin kita, dong!”
“I…Iya, dia ben—”
““…””
Mereka semua tiba-tiba menyaksikan sangat banyak
Monster Intelektual dari dalam hutan.
“Je…Jebakan ini…”
“Mereka yang bikin?!”
“Cih! Kalo gitu kita harus—”
“Dasar Manusia sialan!”
“Kita padahal nggak ganggu kalian!”
“Ya! Pergi kalian!”
““!!!””
Mereka bertiga terkejut karena Monster-Monster yang
berada di depan mereka bisa menggunakan Bahasa Mahluk Intelektual.
“Ke…Kenapa kalian bisa Bahasa Intelek—”
“Emangnya kenapa?! Di kira kita nggak punya otak, ya?!”
“Dasar sombong!”
“Kita cincang aja mereka!”
““Ya!””
““Hieeekh!””
Mereka bertiga menjerit ketakutan mendengar ancaman
dari para Monster Intelektual.
Ketika mereka bertiga hendak diserang, datanglah
seorang Orc yang terlihat sangat tua, yang hendak berbicara dengan mereka.
“Punten, Para Petualang.”
““…””
“Saya teh Kepala Suku di tempat ini. Hampura
pisan ini mah kalo pada galak penduduk sini, namanya teh juga
Monster! Gyahaha!”
Jelas Kepala Suku Monster tersebut.
“Ke…Kepala Suku! Mereka jelas-jelas mau serang teritori
kita! Liat aja senjata yang mereka—!”
“Et, et, et! Tenang dikit, atuh!”
“Tapi…”
Tegas Kepala Suku Monster itu kepada Monster lainnya.
“La…Lawan Monster yang lain? Saya aja pake tangan
kosong bisa!”
“Iya! Saya juga bisa—”
“Aih, aih, aiiih! Kan kita lebih kuat daripada Manusia,
atuh!”
“Oh iya, ya!”
““Gyaahahaha!””
Semua Monster Intelektual pun menertawakan mereka.
Tidak terima dengan cemoohan mereka, salah satu
Petualang pun tidak tinggal diam.
“*Shrak! (suara tali terpotong)”
“Oi, oi, oi! Lo mau lawan mereka semu—”
“Denger ini, mahluk rendahan! Kalian pikir kalian
siapa?!”
““…””
“Kalian kira, cuma modal bisa mikir sama ngomong kayak
kita aja, bikin kalian semua jadi lebih unggul dari kita?! Hah?!”
““…””
Para Monster Intelektual hanya diam saja mendengar
Petualang tersebut yang mencemooh balik mereka.
“Maju sini! Dasar mahluk laknat!”
Seru Petualang itu yang bertujuan untuk mengajak Para
Monster bertarung dengannya.
“Woy! Lo ada di kandang mereka!”
“Li…Liat! Mereka ada banyak jumlahnya—”
“Diem, pengecut! Gue masih punya harga diri sebagai
Petualang! Mereka pikir mereka lebih kuat daripada kita?!”
Tegas Petualang tersebut kepada rekannya.
“Hoho…menarik juga ya!”
“Kepala Suku, biar saya aja yang—”
“Jangan, atuh. Mending…”
““…””
“Ah, Babar! Kamu teh berani nggak lawan om itu?”
“Siap, Kepala Suku!”
Sahut seorang Goblin cilik, dengan pedang kecil di
tangannya.
“Hmph! Di kira gue takut lawan Goblin cilik kayak—”
“Roaring Tiger Claw!”
“*Shrak! (suara lengan terpotong)”
Karena terlalu menganggap remeh lawannya, Petualang itu
pun terpotong lengannya oleh Goblin cilik itu.
“Aaaargggh! Lengan gu—”
“Ey, Petualang lainnya.”
““Hiieekhh!””
“Kalian teh masih berani nggak lawan anak kecil
ini?”
“Ng…Nggak!”
“Ki…Kita lebih pilih pergi dari sini! Maafin kami!”
Mengaku kalah, dua Petualang tersebut pun dilepaskan
dan hendak pergi dengan membawa rekannya yang terluka.
Akan tetapi…
“Eits, kalian teh mau ngapain?”
“Ba…Bawa rekan ki—”
“Loh, kalian teh rekanan?! Saya kira teh kalian
semua ketemuan di jalan waktu mau kesini.”
“Ng…Nggak sih—”
“Lagian orang ini teh mencemoohkeun kita semua.
Makanya orang ini teh nggak akan saya lepasin!”
“Ng…Nggak, kita sama jalan dari—”
“Ah, jangan nego-nego deh sama saya. Kan saya udah
bilang, atuh. Orang ini nggak akan saya lepasin.”
““!!!””
Mereka berdua terkejut dengan pernyataan dari Kepala
Suku Para Monster, yang juga menatap mereka dengan tajam.
“Atau kalian mau ikut orang ini lawan kita?”
““…””
“Wo…Woy, kalian—”
“Ka…Kalo itu kemauan Kepala Suku, saya cuma bisa iyain
aja!”
“Ya! Selama kita berdua selamat, kita terima!”
Setelah berkata seperti itu, mereka berdua pun berlari
sekuat tenaga untuk keluar dari hutan itu.
“Da…Dasar sialan kalian berdua!”
Seru Petualang itu, karena merasa ditinggalkan.
“Gyaahahaha! Emang ya, yang
namanya Manusia teh pasti nggak setia kawan, ya—”
“Diem lo! Brengsek!”
“Hmm… Nih, yang mau lawan
orang ini teh maju, atuh.”
Mendengar pernyataan dari
Kepala Suku, semua Monster Intelektual pun berlari ke arah Petualang itu dengan
maksud menyerangnya.
“Hu…Huaaaaargggh…”
“…”
Kepala Suku pun berjalan ke
luar hutan, sambil meninggalkan Petualang yang diserang beberapa Monster
Intelektual.
……………
Di luar hutan, ia melihat
seseorang sedang tertidur pulas.
Lalu…
“*Tung! (suara memukul
kepala)”
…ia memukul orang tersebut.
“Uhm… Siapa atuh yang
mau pacaran sama aing?”
“Heh! Kamu teh!
Gara-gara kamu, ada yang dateng ke persembunyian, atuh! Harusnya mah kamu nggak boleh banyak tidur untuk jagain rumah kita!”
Tegas Kepala Suku tersebut.
“Ah, nggak apa-apa, atuh!
Jarang ada pengunjung, euy! Barangkali ada teteh geulis yang
dateng! Ehehe—”
“Ishhh, kamu teh pikirannya cewek terus, atuh! Tadi aja yang dateng cowok-cowok!”
“Hah?! Sini bawakeun ke aing! Biar aing hajar—”
“Telat! Udah saya usir!”
Kembali tegas Kepala Suku.
“Yaudah, saya teh balik lagi, ya! Jangan tidur terus kamu tuh, Garry!”
“Cih! Iya, iya, iya!”
Kepala Suku pun berjalan
kembali ke dalam hutan.
Sedangkan pria yang bernama
Garry itu…
“Haaaah… Padahal mah tadi hampir mimpi ketemu teteh geulis. Ah,
apa boleh buat. Mending aing tidur lagi. Moga-moga waktu aing buka mata, ada teteh geulis di depan muka aing.”
…melupakan tanggung jawabnya
dan kembali tidur.