Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 114-1. The Man Who Can't Move On



Rovall Town, beberapa hari


sebelum Sebastian Siegfried dan Bismont Louisson tiba di Dungeon of Beast.


““Ruoaaaar!””


“Ki…Kita selamat!”


“Kaum Naga berhasil kabur!”


““Horeeee!!!””


Kaum Naga berhasil dikalahkan


oleh Vulpus, Party yang dipimpin oleh Hendrick Foxonze, mantan Striker dari


Aquilla.


Karena berhasil mengalahkan Kaum


Naga, warga pun bersorak-sorai tanpa hentinya.


Vulpus pun dibanjiri pujian oleh


warga sekitar.


“Gila! Bahkan 7 lawan puluhan


Kaum Naga pun, mereka masih bisa menang!”


“Siapa Kapten dari Party itu?!


Keren banget!”


“Masa nggak tau sih?! Dia itu kan


Hendrick Foxonze, Petualang Keempatbelas Terbaik di Geoterra!”


Namun, ditengah puji-pujian dari


beberapa warga…


“Falyer! Ta…Tahan sedikit!”


“Bo…Bo…Bos…”


“Fa…Falyer—”


“…”


“FALYEEEEERRR!!!”


…anggota Vulpus dilanda duka.


Salah satu Frontliner mereka,


Falyer Dulloah, meninggal dunia.


Pria berdarah Fratta itu menutup


karirnya sebagai Frontliner Kasta Merah dengan kematian.


Sebagai catatan, ia juga


merupakan Wakil Kapten dan anggota pertama dari Vulpus.


Walaupun semua anggota Vulpus


merasakan pahitnya kematian Falyer…


“Bo…Bos, Fa…Fa…Falyer—”


“Gue juga punya mata! Nggak perlu


lo ingetin gue lagi!


“…”


…Hendrick terlihat seakan tidak


memperdulikan kematian Falyer.


Ia merasa semuanya belum selesai.


“Aneh. Kenapa pergerakan mereka seakan-akan ada komando, ya?”


Pikir Hendrick, sambil menatap


kepergian dari Kaum Naga.


Ia masih merasa heran, bahkan


kematian rekrutan pertamanya pun tidak dipungkiri.


Saat ia sedang berpikir keras,


tiba-tiba ada suara yang berbicara ke pikirannya secara langsung.


“Hey, kau.”


“Si…Siapa i—”


“Tenang lah dan dengarkan aku baik-baik.”


“…”


“Masuklah ke lorong kecil itu dan ikutilah alurnya. Maka kau akan melihatku.”


“Lorong kecil?”


Melihat ada lorong kecil di


depannya, Hendrick mengikuti petunjuk dari suara yang ia dengar di pikirannya.


Ketika ia berjalan mengikuti


jalur lorong itu, ia menemukan seseorang ia menemukan seseorang yang sudah


sekarat.


“Si…Siapa lo?! Kenapa lo—”


“A…Aku…adalah…Lava Dragon…”


“!!!”


Jawaban dari Naga itu mengejutkan


Hendrick, hingga amarahnya meluap.


“Ja…Jadi lo ya yang bunuh


Falyer?!”


“Ji…Jika orang yang kau ma…maksud


itu adalah Kaum Fratta itu, maka…maka jawabannya adalah benar…”


Jawab Naga itu dalam Wujud


Manusia.


“Da…Dasar brengsek!”


“*Shruk! (suara tusukan pedang)”


“Urgh…”


Dengan amarahnya yang meluap,


Hendrick langsung menusuk Naga itu tanpa berpikir panjang.


Ketika ditusuk olehnya, Naga itu


menjelaskan sesuatu kepada Hendrick, sembari ia sedang menuju ajalnya.


“De…Dengar ini…Manusia…”


“Ta…Ta…Tanpa sadar…aku menemukan lokasi Penguasa yang me…me…mengontrol kami…”


Jelas Naga itu, dengan nada


tertatih-tatih.


“Apa maksud lo—”


“Carilah…Penguasa


itu…maka…Erviga…akan da…mai…”


Lanjut Naga itu, yang seketika


langsung tewas di tangan Hendrick.


Mendengar penjelasan Naga itu,


Hendrick semakin bingung.


“Penguasa? Mengontrol? Apa maksud Naga ini?”


Pikir Hendrick, sambil memegang


jasad Naga itu.


Di tengah kebingungannya,


Hendrick berjalan kembali ke anggotanya.


……………


Pada malam harinya, mereka


bersama-sama mengubur jasad dari Falyer.


Di tengah kesunyian dari mereka


semua, salah seorang anggota membuka suara.


“Jadi…kita bakal vakum dulu, ya?”


“Harusnya sih gitu.”


“Semuanya sih tergantung…”


““…””


Semua menatap Hendrick yang diam


tertegun.


Merasa harus memberikan respon


secepatnya, Hendrick pun mengemukakan pendapatnya.


“Semuanya belom selesai.”


““???””


Mereka bingung dengan pernyataan


Hendrick.


“Bos…maksudnya belom selesai


tuh…apa, ya?”


“Quest ini belom selesai, selama


akar permasalahannya masih ada.”


“Ta…Tapi kan Quest yang kita


terima—”


“Anggota kita ada yang mati!


Selama pembunuh asli Falyer masih hidup begitu aja, gue nggak akan maafin orang


itu!”


“Pe…Pembunuh asli Falyer…?”


Karena anggotanya terlihat


bingung, Hendrick pun menjelaskan pertemuan ia dengan Naga di lorong sempit


tadi.


“Ja…Jadi…”


“Kita pergi ke Vigrias Capital!”


Tegas Hendrick kepada anggotanya.


“Ke…Kenapa ke ibukota Erviga?”


“Naga itu bilang Penguasa. Siapa


lagi penguasa, selain raja itu sendiri?”


Jelas Hendrick kepada salah


seorang anggotanya.


Setelah membicarakan rencana


mereka, Hendrick berjalan menjauhi mereka semua untuk menyendiri.


Ketika ia berada agak jauh dari


mereka, salah seorang anggota membicarakan sesuatu tentang Hendrick.


“Ke…Kenapa Bos tiba-tiba ngincer


pembunuh itu?”


Tanya Shunnel Possal, seorang


Observer Kasta Merah.


“Iya, gue juga heran. Biasanya


dia orangnya objektif banget, entah kenapa dia jadi pemarah banget semenjak


ketemu dua mantan rekannya di Kaskar.”


Kata seorang Merman yang bernama


Keln Kevlas, yang merupakan Striker Kasta Jingga.


“Apa mungkin karena mau


ngelampiasin rasa dendamnya, ya?”


“Lampiasin rasa dendam?”


“Iya, semenjak dia nggak bisa balas


dendam ke mantan rekannya sendiri.”


Jawab seorang Insectant dengan


bentuk capung yang bernama Zevhla, yang merupakan Keeper Kasta Merah.


Hendrick pun menghabiskan waktu


di malam hari dengan menyendiri, sambil memikirkan Sylvia.


“Sylv, kalo lo jadi gue, kira-kira lo bakal ngapain? Apa gue udah jadi


Kapten yang baik kayak lo?”


Pikir Hendrick, sebelum tertidur.