
Rovall Town, beberapa hari
sebelum Sebastian Siegfried dan Bismont Louisson tiba di Dungeon of Beast.
““Ruoaaaar!””
“Ki…Kita selamat!”
“Kaum Naga berhasil kabur!”
““Horeeee!!!””
Kaum Naga berhasil dikalahkan
oleh Vulpus, Party yang dipimpin oleh Hendrick Foxonze, mantan Striker dari
Aquilla.
Karena berhasil mengalahkan Kaum
Naga, warga pun bersorak-sorai tanpa hentinya.
Vulpus pun dibanjiri pujian oleh
warga sekitar.
“Gila! Bahkan 7 lawan puluhan
Kaum Naga pun, mereka masih bisa menang!”
“Siapa Kapten dari Party itu?!
Keren banget!”
“Masa nggak tau sih?! Dia itu kan
Hendrick Foxonze, Petualang Keempatbelas Terbaik di Geoterra!”
Namun, ditengah puji-pujian dari
beberapa warga…
“Falyer! Ta…Tahan sedikit!”
“Bo…Bo…Bos…”
“Fa…Falyer—”
“…”
“FALYEEEEERRR!!!”
…anggota Vulpus dilanda duka.
Salah satu Frontliner mereka,
Falyer Dulloah, meninggal dunia.
Pria berdarah Fratta itu menutup
karirnya sebagai Frontliner Kasta Merah dengan kematian.
Sebagai catatan, ia juga
merupakan Wakil Kapten dan anggota pertama dari Vulpus.
Walaupun semua anggota Vulpus
merasakan pahitnya kematian Falyer…
“Bo…Bos, Fa…Fa…Falyer—”
“Gue juga punya mata! Nggak perlu
lo ingetin gue lagi!
“…”
…Hendrick terlihat seakan tidak
memperdulikan kematian Falyer.
Ia merasa semuanya belum selesai.
“Aneh. Kenapa pergerakan mereka seakan-akan ada komando, ya?”
Pikir Hendrick, sambil menatap
kepergian dari Kaum Naga.
Ia masih merasa heran, bahkan
kematian rekrutan pertamanya pun tidak dipungkiri.
Saat ia sedang berpikir keras,
tiba-tiba ada suara yang berbicara ke pikirannya secara langsung.
“Hey, kau.”
“Si…Siapa i—”
“Tenang lah dan dengarkan aku baik-baik.”
“…”
“Masuklah ke lorong kecil itu dan ikutilah alurnya. Maka kau akan melihatku.”
“Lorong kecil?”
Melihat ada lorong kecil di
depannya, Hendrick mengikuti petunjuk dari suara yang ia dengar di pikirannya.
Ketika ia berjalan mengikuti
jalur lorong itu, ia menemukan seseorang ia menemukan seseorang yang sudah
sekarat.
“Si…Siapa lo?! Kenapa lo—”
“A…Aku…adalah…Lava Dragon…”
“!!!”
Jawaban dari Naga itu mengejutkan
Hendrick, hingga amarahnya meluap.
“Ja…Jadi lo ya yang bunuh
Falyer?!”
“Ji…Jika orang yang kau ma…maksud
itu adalah Kaum Fratta itu, maka…maka jawabannya adalah benar…”
Jawab Naga itu dalam Wujud
Manusia.
“Da…Dasar brengsek!”
“*Shruk! (suara tusukan pedang)”
“Urgh…”
Dengan amarahnya yang meluap,
Hendrick langsung menusuk Naga itu tanpa berpikir panjang.
Ketika ditusuk olehnya, Naga itu
menjelaskan sesuatu kepada Hendrick, sembari ia sedang menuju ajalnya.
“De…Dengar ini…Manusia…”
“Ta…Ta…Tanpa sadar…aku menemukan lokasi Penguasa yang me…me…mengontrol kami…”
Jelas Naga itu, dengan nada
tertatih-tatih.
“Apa maksud lo—”
“Carilah…Penguasa
itu…maka…Erviga…akan da…mai…”
Lanjut Naga itu, yang seketika
langsung tewas di tangan Hendrick.
Mendengar penjelasan Naga itu,
Hendrick semakin bingung.
“Penguasa? Mengontrol? Apa maksud Naga ini?”
Pikir Hendrick, sambil memegang
jasad Naga itu.
Di tengah kebingungannya,
Hendrick berjalan kembali ke anggotanya.
……………
Pada malam harinya, mereka
bersama-sama mengubur jasad dari Falyer.
Di tengah kesunyian dari mereka
semua, salah seorang anggota membuka suara.
“Jadi…kita bakal vakum dulu, ya?”
“Harusnya sih gitu.”
“Semuanya sih tergantung…”
““…””
Semua menatap Hendrick yang diam
tertegun.
Merasa harus memberikan respon
secepatnya, Hendrick pun mengemukakan pendapatnya.
“Semuanya belom selesai.”
““???””
Mereka bingung dengan pernyataan
Hendrick.
“Bos…maksudnya belom selesai
tuh…apa, ya?”
“Quest ini belom selesai, selama
akar permasalahannya masih ada.”
“Ta…Tapi kan Quest yang kita
terima—”
“Anggota kita ada yang mati!
Selama pembunuh asli Falyer masih hidup begitu aja, gue nggak akan maafin orang
itu!”
“Pe…Pembunuh asli Falyer…?”
Karena anggotanya terlihat
bingung, Hendrick pun menjelaskan pertemuan ia dengan Naga di lorong sempit
tadi.
“Ja…Jadi…”
“Kita pergi ke Vigrias Capital!”
Tegas Hendrick kepada anggotanya.
“Ke…Kenapa ke ibukota Erviga?”
“Naga itu bilang Penguasa. Siapa
lagi penguasa, selain raja itu sendiri?”
Jelas Hendrick kepada salah
seorang anggotanya.
Setelah membicarakan rencana
mereka, Hendrick berjalan menjauhi mereka semua untuk menyendiri.
Ketika ia berada agak jauh dari
mereka, salah seorang anggota membicarakan sesuatu tentang Hendrick.
“Ke…Kenapa Bos tiba-tiba ngincer
pembunuh itu?”
Tanya Shunnel Possal, seorang
Observer Kasta Merah.
“Iya, gue juga heran. Biasanya
dia orangnya objektif banget, entah kenapa dia jadi pemarah banget semenjak
ketemu dua mantan rekannya di Kaskar.”
Kata seorang Merman yang bernama
Keln Kevlas, yang merupakan Striker Kasta Jingga.
“Apa mungkin karena mau
ngelampiasin rasa dendamnya, ya?”
“Lampiasin rasa dendam?”
“Iya, semenjak dia nggak bisa balas
dendam ke mantan rekannya sendiri.”
Jawab seorang Insectant dengan
bentuk capung yang bernama Zevhla, yang merupakan Keeper Kasta Merah.
Hendrick pun menghabiskan waktu
di malam hari dengan menyendiri, sambil memikirkan Sylvia.
“Sylv, kalo lo jadi gue, kira-kira lo bakal ngapain? Apa gue udah jadi
Kapten yang baik kayak lo?”
Pikir Hendrick, sebelum tertidur.