Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 108. The Actual Feel



“Ruoaaaar!”


““Aaaaargh!””


Sialan! Kenapa dia tiba-tiba


ngamuk lagi?!


“Hraaaagh!”


“*Swung! (suara ayunan pedang


besar)”


“Ih! Badan dia jadi asap! Aku


jadi nggak bisa serang dia!”


Gia bahkan nggak bisa nyerang


Yssalq sama sekali.


Tapi kok…


“…”


…Garry duduk gitu aja?


“Ginn—”


“Djinn.”


“—Lo mau pilih mana, bantu warga


hutan ini kabur atau lawan Naga itu?”


Bantu warga kabur?


“Kenapa dibantu—”


“Lawan kita ini Naga. Bisa aja


dia ngelakuin sesuatu yang diluar dugaan.”


Hmm…ada benernya sih.


Tapi jawaban gue udah jelas, lah!


“Pasti bantu—”


“OK, nggak perlu dilanjutin. Kalo


gitu gue pergi bantu warga.”


“Hmph.”


Gue cuma ngangguk doang denger


jawaban Lupherius.


Nggak perlu buang-buang waktu


lagi, mending gue—


“Arrgh!”


“*Hup! (suara menangkap)”


Buset! Gie dilempar gitu aja,


dong!


Untung aja gue bisa tangkep dia!


“Djinn!”


“Lo nggak apa-apa—”


“Kita harus jaga Garry!”


“Jaga Garry…?”


“Iya! Dia katanya punya sihir yang berguna untuk


lawan Yssalq!”


Oh, gitu?


Tapi kan…


“Waktu itu Yssalq bise lepas dari


kontrol karena sihir gue. Mungkin gue bisa co—”


“Kamu harus hati-hati sama dia!”


Hah?! Harus hati-hati?!


“Dia bilang dia inget ‘perintah’


yang dia terima!”


“Perintah apa?”


“Perintah…untuk bunuh ‘Pria


Berambut Putih’!”


Maksudnya gue—


“Ruoaaaar!”


Duh, Yssalq langsung terbang ke


arah gue!


“Djinn! Lempar aku!”


“OK!”


Gue paham maksud Gia.


Dia mau jadi umpan untuk Yssalq


supaya gue bisa nyerang dia.


“*Swush! (suara lemparan)”


“Hraaaa—”


“*BHUK! (suara pukulan Naga)”


“Urgh! Sekarang, Djinn!”


OK, Gi!


“Judgment!”


“*Jgrumm! (suara sihir petir)”


OK, sihir gue udah sentuh dia.


Harusnya dia bebas—


“Ruoaar!”


Brengsek! Ternyata gagal!


“*Bhuk! (suara pukulan beradu)”


Urgh!


Keras juga pukulan dia!


“Ruoaaaar!”


“*Fwummm… (suara asap tebal)”


Duh! Dia ngeluarin asepnya, lagi!


“Haaa—”


“Urgh…”


Untung gue tau dia datengnya dari


mana!


Karena asep ini, dia mau coba


makan gue. Untung aja gue masih bisa tahan mulutnya yang gede ini, sebelum gue


bener-bener dimakan!


Karena gue bisa tangkep mulutnya


dia…


“Judgement!”


“*Jgrum! (suara sambaran petir)”


Mending gue pake petir gue untuk


setrum dia!


“*Jgrum! (suara sambaran petir)”


“Rrrr!”


Brengsek! Kenapa nggak mem—


“*Hup! (suara tangkapan)”


Cih! Gue lupa sama tangan di—


“*Krrrk! (suara tulang remuk)”


“Urgh!”


Brengsek! Dia remes gue gitu aja!


“*Jgrum! Jgrum! Jgrum! (suara


pukulan petir)”


“Ruoaaar!”


“*Bruk! (suara terlempar)”


“Akkh!”


Sakit banget, anjing!


Dia lempar gue ke tanah karena


tangannya gue pukul pake sihir gue!


“Hraaaagh!”


“*Swung! (suara ayunan pedang


besar)”


“Kenapa dia nggak bisa—”


“*Bruk! (suara serangan ekor


Naga)”


“Argh!”


Gia gagal serang Yssalq yang


bentuk badannya berasap, terus dia dipukul pake ekornya.


Waktu dia jatoh karena ekor itu…


“*Swung, wung, wung… (suara


pedang besar terjatuh)”


…pedangnya lepas dari dia!


Kalo gitu…


“Gia! Gue pinjem pedang lo!”


“I…Iya!”


…gue lompat, terus gue ambil


pedangnya.


“*Prang! (suara serangan pedang


besar)”


“Ruoaaar!”


Bagus! Untung gue bisa nyerang


dia!


“Djinn…kok kamu bisa serang


dia?!”


Gue juga nggak tau kenapa.


“Nih pedang lo!”


“Ya! Makasih—”


“Ruoaaaaaar!”


““…””


Gimana cara lawan Naga ini?!


“*Fwush! (suara kepakan sayap


Naga)”


Kenapa Yssalq terbang ke atas?!


“*FWUMMM! (suara semburan asap


tebal)”


Buset!


Karena sihir dia, hutan ini jadi


penuh asap tebel!


“Uhok!”


“Gia!”


“Djinn…aku sesek nafas…”


Cih, bener dugaan gue.


Asep ini…karbon dioksida yang


jauh lebih tebel daripada karbon dioksida lain yang ada di dunia lama gue!


Bisa semua yang ada di hutan ini sesek


nafas kayak Gia!


Kecuali—


“O…Oi…”


“…”


Garry manggil gue…?


“Te…Tenang…atuh…”


“Tenang?! Maksud lo apa—”


“Semua…bakal sembuh…”


Duh! Nggak keliatan lagi muka dia


karena asep tebel ini!


“Pure Spirit Summoning: Purification…”


“*Swush! Swush! Swush! (suara Roh


berterbangan)”


Hah?! Apaan ini yang


terbang-terbang?!


Karena ada yang terbang-terbang


ini, semua asapnya jadi ilang!


Nggak cuma itu doang…


“Huff! Djinn! Tiba-tiba


aku sembuh!”


Bahkan Gia pun udah mendingan!


Apa ini semua karena sihir Ga—


Nah, sekarang Yssalq udah


keliatan.


Dia lagi terbang di atas hutan i—


“Oi, anying…”


“!!!”


“Ga…Garry!”


Semuanya keliatan sembuh, kecuali


dia!


“Tolong…teteh geulis itu…”


Dia ngomong gitu, sambil nunjuk


Yssalq yang lagi terbang.


Karena dia yang terbang ke atas,


akhirnya gue coba untuk lompat dari pohon ke pohon untuk nyerang dia.


“Ruoaaar!”


Cih! Gara-gara liat gue, dia mau langsung


nyerang gue, ya?


Gue kira dia masih terbang di


atas hutan! Ternyata dia malah terbang ngikutin gue!


“*Chrak! (suara cakaran)”


“!!!”


Buset! Bahkan pohon-pohon aja


langsung hancur karena cakar dia yang gede!


Kalo gitu kenapa dia—


“!!!”


Tunggu!


Kalo gue liat lagi, badan dia


udah nggak ada asap sama sekali!


Apa jangan-jangan…karena asap


tebel yang dia keluarin tadi, dia jadi kekurangan asap?!


OK! Kalo gitu…


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Ruoaar!”


…keliatannya sekarang lebih aman


untuk serang dia langsung!


“*Bruk! (suara terjatuh dari


udara)”


“Heaaaagh!”


“*BHUK! (suara pukulan keras)”


“Ruoaaar!”


Cih! Dia masih belom sadar, lagi!


Gue kira dia langsung sadar kalo


gue pukul!


“*Jgrum! (suara pukulan petir)”


“Rrrr!”


Maaf ya, Salq.


“*Jgrum! Jgrum! (suara pukulan


petir)”


“Rrrr…”


Kenapa gue masih bisa ngerasain


kalo dia masih ada niat untuk nyerang gue, ya?!


“*Jgrum! Jgrum! Jgrum! (suara


banyak pukulan petir)”


“Rrrr…”


Kalo kayak gini mah, kayaknya gue


harus bikin dia pingsan, deh!


“*Jgrumgrumgrumgrumgrum… (suara


pukulan petir yang sangat banyak)”


“Rrr… Rrr…”


“Huuuh…”


Sekarang dia udah pingsan.


“Haaaah…”


Capek juga gue—


“Si…Sianying!”


“!!!”


Loh! Kok Garry masih sadar?!


Tambah lagi, kenapa dia digendong


Gia udah kayak tuan putri?!


“Ga…Garry—”


“Pu…Punten banget ini mah, *teh*geulis!”


Kayaknya dia mau ngelakuin sesuatu deh ke Yssalq.


“Heh, anying!”


“*Tung! (suara kepala terpukul)”


“Aduh! Apaan lo sentuh-sentuh kepala gue, an—”


“Sia teh hampir bunuh teteh geulis ini, anying!”


I…Iya sih…


“Kalo gitu, aing mau ‘panggil’ *teteh*geulis ini!”


Panggil?!


“Spirit Appro—”


“Garry!”


Eh?! Kepala Suku dateng bareng Myllo?!


“Apaan?! *Aing*teh mau—”


“Jangan!”


“Kenapa ja—”


“Anda teh mau terima efek sampingnya?!”


“…”


Efek samping?


“Kepala Suku, emang Garry mau ngapain?”


“Dia teh…mau samperin Roh


yang ada di dalem Naga ini pake Roh-nya sendiri! Masalahnya itu…sekalinya dia


tinggalin Tubuh-nya, bisa-bisa Tubuh-nya teh pelan-pelan membusuk, atuh!”


““!!!””


Busuk?!


Bahaya dong—


“Sianying!”


““!!!””


Kenapa Kepala Suku malah


dikatain?!


“Demi teteh geulis, *aing*mah rela lepasin—”


“Jangan! Saya teh masih


butuh anda, Garry—”


“Kepala Suku.”


“Ke…Kenapa, Petualang?”


“Percayain semuanya sama dia!”


“…”


Gue nggak tau kenapa Kepala Suku


itu terlalu protektif sama Garry, yang pasti tangan dia gemeteran waktu denger


Myllo ngomong.


“Pokoknya mah…anda harus balik


lagi, Garry!”


“Siap atuh, Bos!”


Garry pun coba praktekin


sihirnya.


“Spirit Approach…”


Selesai dia sebut mantranya…


“*Bruk… (suara terjatuh)”


…dia pingsan.


Kayaknya Roh dia lagi masuk ke


dalem Tubuh Yssalq.


Anehnya…


““*Shruk! (suara banyak tebasan)””


…badan dia tiba-tiba kayak


ditebas pedang gitu!


“Garry?! Kenapa dia—”


“Ba…Bahaya! Kayaknya mah orang yang kontrol Roh Naga ini teh lagi berantem sama Garry!”


““!!!””


Gila banget!


Bawaannya gue pengen turun tangan—


“Huff!”


Oh! Yssalq udah sadar, ya?!


“A…Apa yang telah kulakukan?!”


“Yssalq! Syukurlah kamu udah sa—”


“Bunuhlah aku!”


““!!!””


“Aku…tidak ingin…dikendalikan


seperti tadi lagi…hiks…”


Keliatannya dia trauma karena


nggak bisa—


“Daripada kita bunuh lo, mending


lo sembuhin Garry aja, Yssalq!”


“My…Myllo…?”


“Jangan lo pikir mati nyelesain


masalah! Garry ngorbanin dirinya supaya lo sadar, bukan untuk dibunuh!”


“Ba…Baiklah.”


Yssalq pun pake sihirnya untuk


sembuhin Garry.


Luka-luka di badannya mulai ilang


satu per satu.


“Keliatannya mah dia udah


sembuh, walaupun belum sadar.”


Hmm…keliatannya masalahnya udah


selesai.


““…””


Gia sama Myllo ngeliatin gue.


Karena masalahnya selesai,


mending gue pergi aja deh dari sini.


“Djinn! Tung—”


“Jangan tahan dia, Ryllo.”


Seperti biasa, tiba-tiba Lupherius


dateng.


“Kok lo nahan gu—”


“Nggak ada Kapten yang pantes


untuk minta maaf cuma demi anggotanya yang salah dan keras kepala.”


“Ta…Tapi—”


“Gue tau lo minta maaf ke Nia.


Tapi gue bisa toleransi itu karena dia juga mau minta maaf ke lo. Kalo urusan


lo sama Minn, nggak akan selesai kalo dia nggak ada rasa bersalah. Paham?”


Cih! Lagi-lagi dia ngurusin


masalah orang la—


“Lo masih takut untuk temuin


Kapten lo?”


“…”


Brengsek.


Tajem juga insting dia, ya?


“Cih!”


Mending gue pergi dari sini, deh.