Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 52. They Afraid



Ketika Djinn berlari mengejar Derrek, Myllo dan Gia


berusaha untuk mengalahkan ratusan Ghoul yang meneror Xia Village dan


melindungi semua penduduk yang ada.


“Graaaaaw!”


“To…Tolong—”


“*Prang! (suara serangan pedang besar)”


“Lari dari sini, cepet!”


“Y…Ya!”


Gia berhasil melindungi salah seorang warga yang


hendak dimakan oleh Ghoul. Namun di saat yang bersamaan…


“Tolong! Tolong!”


Teriak Phineas yang terjepit oleh bebatuan dan hendak


dimakan oleh sesosok Ghoul. Ia melihat Gia yang berada tidak jauh darinya.


“Gi…Gia! To…Tolong!”


“…”


Gia hanya menatap Phineas yang sedang terjebak.


“Kamu juga salah satu orang yang terlibat bareng


Derrek, kan? Buat apa aku nolong orang yang bahkan rela ayahnya dijadiin bahan


eksperimen?”


“Ta…Tapi—”


“*Cuh! (suara meludah)”


Gia pun hanya meludah dan pergi dari Phineas.


“Gi…Gia! Dengar! Ayah saya pantas menerima itu! Saya


percaya akan rencana paman! Tapi dia meninggalkan saya begitu saja!”


“…”


“Saya melakukan ini demi desa ini! Saya masih layak


hi—”


“Haaaap!”


“Aaaarrgghhh!”


Gia hanya menatap Phineas yang dilahap oleh Ghoul.


Ia merasa Phineas pantas menerima ganjarannya.


“*Prang! (suara serangan pedang besar)”


Ia pun menghabisi Ghoul tersebut setelah Phineas telah


dilahapnya.


Saat ia berjalan, ia melihat kakeknya yang sedang


menolong warga yang lainnya. Namun keduanya hendak dimakan oleh Ghoul.


“*Pranggg… (suara pedang besar)”


“Kakek nggak apa-apa, kan?!”


Beruntung Gia datang lebih cepat untuk menolong


kakeknya.


“Gia! Tolong bantu kakek!”


“Ada apa, kek?!”


“Tolong arahin semua warga ke kedai kakek!”


“OK, kek!”


Jawab Gia sambil menahan serangan beberapa Ghoul yang


ingin melahap mereka.


“*Tuk! Tuk! Tuk! (suara banyak pukulan tongkat)”


“…”


Myllo juga berusaha menahan semua Ghoul yang menyerang


desa.


“Myllo! Aku bawa warga ke kedai kakek! Tolong hadang


Ghoul yang mau masuk desa ya, Myllo!”


“OK! Nanti lo harus jaga kedai itu ya Gia!”


“Siap, Myllo!”


Setelah menerima perintah dari Myllo, Gia pun


mengantar siapapun yang ia temui ketika ia, Fred, dan warga yang mereka tolong


ke kedai milik Fred.


Myllo pun masih bersikeras untuk menahan ratusan Ghoul


yang hendak memasuki desa.


“*Tuk! Tuk! Tuk! (suara banyak pukulan tongkat)”


“*Huff…*gak abis-abis mereka!”


Bisik Myllo sambil menyerang Ghoul yang datang tiada


habisnya.


“Myllo! Pake kekuatan Gue—”


“Belom waktunya!”


“Tapi—”


“Tunggu, Zegin! Insting gue bilang belom waktunya!”


Tegas Myllo terhadap Zegin yang memanggil lewat


pikirannya.


“OK. Gue hargain pilihan lo. Tapi kalo lo butuh


kekuatan Gue, panggil aja.”


“Hehe! Thanks, Zegin!”


Balas Myllo terhadap kepercayaan yang diberikan oleh


Zegin.


Hanya bermodalkan tenaga, insting, dan tongkatnya


saja, Myllo berhasil menaklukan puluhan Ghoul yang berlari ke arahnya. Namun,


Myllo juga memiliki batas tenaga.


“Grraaaaww!”


“Agh!”


Karena kelelahan, Myllo pun terkena serangan dari


salah satu Ghoul.


“Sialan!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


Seru Myllo sambil memukul Ghoul yang menyerangnya.


“Cepetan, Gia! Gue gak bisa lama-lama lagi!”


Pikir Myllo tentang progres Gia yang berusaha


menyelamatkan beberapa warga.


Sedangkan Gia, ia berhasil membawa Fred dan warga


lainnya ke dalam kedai milik Fred.


“Seharusnya di sini udah aman ya, kek.”


Kata Gia sambil meninggalkan kedai Fred.


Namun Fred merasa khawatir terhadap cucu satu-satunya.


“Gia! Kamu mau kemana?!”


“Masih ada beberapa warga lagi yang harus aku tolong,


kek.”


“Ja…Jangan—”


“Tolong percaya sama aku untuk kali ini aja, kek!”


Seru Gia atas kekhawtiran Fred.


Fred pun tidak bisa berkata apa-apa, sembari ia


menatap cucunya yang terlihat kuat dengan rasa bangga.


“Keliatannya kamu udah siap untuk jadi Petualang ya,


Gia. Mergie, kalo kamu liat anak kamu sekarang, pasti kamu bangga banget sama


dia, nak.”


Pikir Fred sambil menatapnya.


Gia pun bergegas untuk menyelamatkan warga lainnya.


“Tolong!”


“Ayo kita lari dulu, sayang—”


“Aduh!”


“Grraaa—”


“*Prang! (suara serangan pedang besar)”


“Pergi ke kedai! Cepat!”


““Y…Ya!””


Balas sepasang suami-istri yang ditolong Gia saat sang


“OK, seharusnya tinggal satu keluarga lagi yang harus diselamatin.”


Bisik Gia yang menghitung beberapa keluarga yang ia


selamatkan.


“Huaaaaa! Ayaahhh!”


“Grraa—”


“*Prang! (suara serangan pedang besar)”


Gia menahan Ghoul dengan pedang besarnya Ghoul


tersebut hendak memakan seorang perempuan yang menangis karena kepergian


ayahnya.


“Ayo cepat lari, Kak Patrice!”


“Ta…Tapi ayah saya—”


“Ayahnya Kak Patrice mati untuk nyelamatin kakak!


Jangan sampe usaha dia sia-sia! Lari dari sini, Kak Pat—”


“Grraaaaww!”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Argh!”


Saat sedang berbicara dengan warga tersebut, Gia


tiba-tiba diserang oleh salah satu Ghoul.


“Grraaaaww!”


“Dasar sialan!”


“*Prang! Prang! (suara serangan pedang besar)”


Gia pun menyerang Ghoul tersebut dengan pedang


besarnya. Namun ia menyadari satu hal yang merugikannya.


“Sial! Karena serangan Ghoul tadi, tambah rasa


capek ini, serangan aku jadi kurang kuat, walaupun serangan aku pun aslinya


juga nggak ada apa-apanya kalo dibandingin pertahanan aku!”


Pikir Gia tentang kondisinya saat ini, sambil kembali


ke kedai membawa perempuan bernama Patrice itu, yang pingsan ketika ia tolong.


Namun, karena ia sedang mengangkat wanita tersebut, ia


tidak bisa mempersiapkan pedangnya yang berada di punggungnya. Oleh karena itu,


ia dengan mudahnya diserang oleh Ghoul yang berlari ke arahnya.


“Grraaaaww!”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Ugh!”


Gia pun terpaksa menerima serangan Ghoul tersebut,


karena ia memprioritaskan keselamatan dari wanita tersebut.


Tanpa berpikir panjang, ia pun terus berlari ke arah


kedai untuk membawa wanita tersebut.


“Huff…huff…”


“Grraaaaww!”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Urgh!”


Gia harus menahan rasa sakit yang ia terima ketika


Ghoul yang sama masih mengejar dan mencakarnya.


Hingga ia tiba di kedai milik kakeknya, ia langsung


meletakkan wanita tersebut dan langsung menyerang Ghoul itu.


“*Prang! (suara serangan pedang besar)”


“Grraaagh…”


“Huh…seharusnya udah selesai, walaupun cuma ini aja


yang bisa aku tolong…”


Kata Gia sambil mengusap kepalanya.


“Untuk kasih tanda ke Myllo…ah! Pake itu aja! Maaf ya,


kek kalo harus aku hancurin”


Bisik Gia yang melihat lonceng besar di atap kedai


milik Fred.


Ia pun melihat batu yang tergeletak di dekatnya dan


melempar batu itu ke arah lonceng.


“*Dung… (suara lonceng)”


Mendengar suara dari lonceng itu, Myllo pun mengerti


sinyal dari Gia.


“Hehe!”


Tawa Myllo yang mendengar aba-aba dari Gia.


“Zegin, gue mohon kasih 50 per—”


“5% aja udah cukup, Myllo!”


Seru Zegin terkait permintaan Myllo.


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


Seketika, seluruh tubuh Myllo dipenuhi dengan sinar


berwarna hijau.


““Grraaaa—””


“Zegin’s Blow!”


“*Fwuuushh! (suara tiupan angin)”


Dengan kekuatan Zegin, Myllo meniupkan angin kencang


yang menghempaskan puluhan Ghoul ketika ia memutarkan tongkatnya.


“Grraaaaww!”


“…”


Salah satu Ghoul hendak menyerang Myllo, akan tetapi


serangannya seperti mencakar angin saja. Hal itu disebabkan oleh tubuh Myllo


yang seketika terbentuk dari angin karena kekuatan Zegin.


“Zegin…Smash!”


“*Fwuuush! (suara hempasan angin)”


““Grraaaaww!””


Myllo memukul udara, akan tetapi efek dari pukulan itu


menghasilkan tiupan angin kencang yang menghempaskan sangat banyak Ghoul.


““Grrr…grrr…””


Akibat serangan besar-besaran dari Myllo, para Ghoul


pun menjadi ketakutan. Namun…


““Grraaaaww!””


Bukannya melarikan diri, semua Ghoul yang ada


dihadapan Myllo justru bersama-sama hendak menyerang Myllo.


“Aneh. Padahal mereka keliatan takut, tapi mereka


malah maju nyerang? Apa mungkin ini karena mereka nyerang karena udah pasrah


sama hidup mereka? Atau mungkin…karena perintah Derrek?!”


Pikir Myllo yang menyaksikan banyak Ghoul yang


menghampirinya.


“Myllo! Mereka mau—”


“Ya. Gue udah tau.”


Balas Myllo yang memotong peringatan Zegin.


Dengan berat hati, Myllo pun terpaksa mengeluarkan


serangan jitunya untuk menghentikan mereka semua.


“Maaf.”


Bisik Myllo sambil menahan air mata.


“Zegin’s Twister…”


Tongkat milik Myllo seketika terisi kekuatan dari


Zegin. Ia lalu melempar tongkatnya hingga tongkat tersebut berputar-putar.


“*Fwuuuusssshhh… (suara angin topan)”


““Grraaaaaa…””


Putaran tongkat yang ia lempar terus berputar, hingga


membentuk menjadi angin topan yang menyapu bersih semua Ghoul yang berada di


hadapannya.


“*Tap! (suara menangkap tongkat)”


“Udah selesai, ya?”


Bisik Myllo sambil menanggalkan kekuatan Zegin.