Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 120. Wait For Us



Myllo menyaksikan Djinn dan


Lupherius yang pergi ke dalam portal.


Melihat Djinn dan Lupherius masih


bisa berdiri dan bertarung, membuat Myllo bersemangat untuk menyusul mereka.


Akan tetapi…


“*Craaat… (suara darah mengucur)”


“Uhok, ohok…”


…lagi-lagi Myllo melupakan


kondisi fisiknya yang sudah sangat tidak kuat.


“Myllo! Cukup! Jangan beranjak


lagi!”


“Huff…Huff… Gue…nggak bisa


diem aja…Zegin—”


“Diem! Jangan banyak ngomong


lagi!”


Tegas Zegin dari dalam pikiran


Myllo.


“Denger ya! Jangankan temen lo


itu, Gue pun marah kalo lo masih nggak sadar sama kondisi fisik lo!”


“…”


Myllo hanya terdiam saja


mendengar teguran Zegin.


Walaupun ditegur, Myllo mengerti


maksud dibalik tegurannya.


“Zegin…lo itu…takut kehilangan


gue, kan?”


“…”


“Djinn juga takut kehilangan


gue…karena dia trauma sama rasa itu.”


“Ya. Gue tau waktu dia cerita


ke lo—”


“Kalo dipikir-pikir…siapa sih


yang suka kehilangan sesuatu? Kehilangan Kak Sylv pun…masih membekas di hati


sama pikiran gue.”


“Myllo…”


“Tapi tenang aja! Gue nggak akan


mati segampang itu!”


Tegas Myllo kepada Zegin.


Ia pun mencoba untuk berdiri.


“Urgh…”


“Myllo! Jangan—”


“Luka…ini…”


“*Crat… (suara kucuran darah)”


“…nggak ada apa-apanya…”


“*Crat… (suara kucuran darah)”


“Myllo—”


“…dibanding…kehilangan…Kak…Sylv—”


“*Bruk! (suara terjatuh)”


Ia terjatuh setelah gagal untuk


berdiri.


“Huff… Sialan!”


“Cu…Cukup, Myl—”


“Sekali lagi!”


Lagi, Myllo bersikeras untuk


berdiri.


Hingga…


“*Tung! (suara kepala terpukul)”


…seseorang datang dan memukul


kepalanya.


“Aduh! Siapa yang berani pukul—”


“Sianying! *Sia*teh kenapa


sok kuat kitu?!”


Tegas Garry kepada Myllo.


“Haaaah?! Lo dari mana aja?!


Kenapa baru dateng seka—”


“…”


Garry tidak menjawab karena


memperhatikan begitu banyak Monster, Petualang, dan pasukan dari Bismont yang


sekarat.


“Ba…Bang Myllo! Lo nggak apa-apa,


bang?!”


Tanya Bismont yang menghampiri


mereka berdua.


“Bismont…maafin gue karena gagal


taklukin—”


“Nggak apa-apa, bang! Justru…kalo


nggak karena gue…mungkin—”


“Jangan minta maaf!”


Tegas Myllo kepada Bismont.


“Bang Myllo?”


“Daripada minta maaf, kenapa lo


nggak minta tolong ke—”


“Lu…Lupain aja, bang.”


“Lupain…?”


“*Bruk… (suara berlutut)”


“Mungkin…gue udah nggak bisa


ketemu anak-anak gue lagi, bang.”


Jelas Bismont dengan gemetar


hingga ia duduk berlutut.


“Bismont…”


“Tapi…gue janji…untuk bantu warga


Monster ini…dari orang itu!”


“*Bruk! (suara memukul tanah)”


Lanjut Bismont dengan memukul


tanah karena marah.


Melihat Bismont, Myllo justru


merasa ada sesuatu.


“Orang itu…? Maksudnya


Sebastian? Atau ada orang lain selain dia?”


Pikir Myllo.


Ketika mereka sedang berbicara,


Garry yang mendengar perbincangan mereka pun mengerti apa yang harus ia


lakukan.


Walaupun…


“Punten…”


“Hm?”


“*Sia*teh orang yang ikut


nyerang hutan ini, ya?”


“I…Iya…”


…ia begitu kesal melihat Bismont.


Namun, ia teringat akan nasihat


dari Wilfred, gurunya.


*“*Sia teh kalo jadi orang harus


kebuka atuh hati dan pikirannya. Kalo ada yang sengaja bikin salah,


pasti ada alesannya.”


“Kang Wilfred…”


Pikir Garry setelah teringat


nasihat dari Wilfred.


“Haaaah… Sianying!”


““Hm?””


“Kerjaan aing teh jadi dobel gini, *atuh*mah!”


““…””


Myllo dan Bismont saling


bertatapan karena bingung dengan maksud Garry.


Seketika, Garry pun duduk


bersila.


“Uhm…lo mau ngapa—”


“Perhatiin dia baik-baik,


Bismont!”


“Perhatiin?”


“Insting gue bilang kalo calon


Keeper gue ini mau bikin kejutan besar-besaran! Hihihi!”


Jelas Myllo kepada Bismont,


sambil mereka berdua memperhatikan Garry.


Sambil duduk, Garry pun mulai


merapal tahapan mantra.


“Spirit Call: Soultake.”


“…”


Dengan sihirnya, Garry memanggil


Roh dari korban jiwa pertempuran itu untuk mengambil Jiwa mereka masing-masing.


Setelah itu, Garry melanjutkan


rapalan mantra sihirnya.


“Soul Integration: Thousands


Heal.”


Jiwa-Jiwa yang diambil oleh semua


Roh yang ia panggil tadi tergabung menjadi satu.


Karena kumpulan Jiwa itu


mengandung Mana yang sangat banyak, Garry pun menggunakannya untuk


menyembuhkan semua korban luka yang berada di sana.


“Bos August?! Luka-lukanya hilang


semua!”


“Tu…Tunggu! Kenapa saya tiba-tiba


sembuh?!”


“…”


Dengan sihirnya itu, Garry berhasil


menyembuhkan semua korban luka, walaupun sebagian masih belum sepenuhnya


sadar.


“Wuhuuuu! Gue sembuh total!”


“My…Myllo?!”


“Gia! Lo udah sadar?!”


“I…Iya! Aku kira aku hampir


mati!”


Seru Gia yang menghampiri Myllo.


Dari dalam pikirannya, Zegin


begitu terkejut melihat kondisi fisik Myllo.


“Myllo! Badan lo jadi sembuh


total! Bahkan energi kehidupan lo udah penuh!”


“Ahahaha! Ya jelas, lah! Kan


orang itu calon Keeper gue!”


Balas Myllo yang berbicara di


dalam pikirannya dengan Zegin.


“Gi…Gila. Ternyata ini


kekuatan sihirnya Shaman?”


Pikir Bismont yang begitu


terkejut dengan apa yang ia saksikan.


“Haaaaah…capek juga, euy!”


“Garryyyy!!!”


“Hah? Apa, anying?”


“Gilaaa! Keren banget lo bisa


nyembuhin kayak gitu!”


“Diem dulu! Aing teh capek pisan karena pake sihir i—”


“*Puk… (suara pelukan)”


“Garry! Makasih ya! Karena kamu,


aku jadi sembuh to—”


“WUOOOOHHH!!! HARUSNYA MAH AING YANG MAKASIH KARENA DIPELUK *TETEH*GEULIS!”


Myllo, Gia, dan Garry terus berbincang dan


tertawa bersama.


Melihat mereka bertiga, Kepala


Suku hanya bisa tersenyum karena ingat diskusinya dengan Wilfred.


“Laxka, Garry teh pasti


keluar dari hutan ini beberapa tahun nanti. Makanya itu, aing teh bisa percayakeun ke sia untuk saring orang-orang yang mau bawa dia, nyak?”


“Kenapa harus saya, atuh*?”*


“Kan kalian berdua teh sama-sama murid aing*\,* atuh*! Apalagi* sia teh murid


aing sebelum Garry*!”*


Mengingat permintaan Wilfred,


Kepala Suku yang bernama Laxka pun berpikir.


“Kang Wilfred, akhirnya ada


orang baik yang saya yakin bisa bawa Garry keluar dari sini.”


Pikirnya dengan senyum.


Karena kondisinya yang sudah


prima, Myllo pun kembali bersemangat untuk menyusul Djinn dan Lupherius.


“OK! Ayo kita berangkat!”


“Ke mana, Myllo?”


“Ke… Oh iya. Ke mana ya ki—”


“Ke Vigrias, bang.”


Jawab Bismont kepada mereka


bertiga.


“Ke ibukota?! Bukannya di sana


banyak banget pengungsi dari seluruh daerah di Erviga, ya?!”


“Kalo Bang Djinn sama Lupherius


emang ke Penampungan, artinya mereka sekarang lagi ada di sana.”


Jawab Bismont kepada Gia.


“Hah?! Djinn ada di ibukota?!


Bukannya—”


“Kita nggak ada waktu, Gia. Kalo


emang bener mereka berdua ada di ibukota, artinya ke sana tujuan kita


selanjutnya!”


“OK, Myllo!”


Karena mengetahui tujuan


selanjutnya, mereka pun bersiap pergi terlebih dahulu ke Vigrias Capital.


“Gue minta 4 kuda!”


“Baik, Yang Mulia!”


Pasukan Bismont pun mempersiapkan


kuda-kuda yang tersisa.


“Hah?! Empat?! Emangnya teh siapa kuda satu la—”


“Garry! Ayo kita berangkat!”


Seru Myllo kepada Garry yang


terlihat bingung.


Mendengar seruan Myllo, Garry


masih heran dengan dirinya yang bersikeras untuk mengajak dirinya.


“Sianying! Emangnya teh


aing harus ikut sia jadi Petualang?”


Tanya Garry kepada Myllo.


Karena pertanyaan itu, Myllo pun


bertanya kembali kepadanya.


“Jawab gue, Garry!”


“Hah?! Jawab a—”


“Lo juga mau keluar dari hutan


ini, kan?! Bukannya lo punya tujuan di luar hutan ini?!”


“…”


Garry hanya terdiam. Perasaannya


menjadi campur aduk karena pertanyaan Myllo.


Melihat ini pun, Kepala Suku


menghampirinya.


“Garry.”


“*Tap… (suara menepuk pundak)”


“Kang Wilfred teh bilang,


nanti ada waktunya anda keluar dari hutan ini.”


“Ta…Tapi—”


“Tenang. Kami teh nggak


akan lupain anda, atuh. Gih, kalo mau carikeun Kang Wilfred. Anda teh mau cari dia di dunia ini, kan?”


“…”


“Kemana pun anda pergi, anda teh pasti selalu jadi anggota keluarga ki—”


“Huaaaaa!”


“*Puk! (suara pelukan erat)”


“Kepala Sukuuuu!”


“Et, et, et! Jangan nangis


kenceng kitu, atuh! Hiks…”


Garry pun menangis


sekencang-kencangnya karena ia hendak pergi meninggalkan Monster-Monster itu,


yang telah menjadi keluarganya.


“Huhu…”


“Hiks…”


Myllo dan Gia pun juga tidak


kuasa melihat perpisahan Garry dengan para Monster.


“A…Aing janji untuk bebaskeun Monster-Monster yang ditahan, sebelum ikut petualangan bareng Myllo!”


“Ya. Nuhun, Garry!”


Jawab Kepala Suku kepadanya.


“OK, Kapten! Sebelum aing jadi


Petualang, tolong bantu bebaskeun sodara-sodara aing, atuh!”


“Ya! Pastinya!”


Jawab Myllo terhadap permintaan


Garry.


Sambil mereka pergi…


“Dadah, Garry!”


“Semoga seru petualangannya!”


“Kalo ketemu Kang Wilfred, titip


salam ya!”


“Iya, iya, iya!”


…para Monster memberikan salam


perpisahannya kepada Garry.


“Ahaha!”


“Kenapa lo ketawa, Gia?”


“Nggak. Aku cuma berandai-andai


aja. Andai desa aku seramah ini ke kita.”


“Hehe! Lo ngiri ya?!”


“Ngiri?! Nggak kok! Justru aku


lebih seneng Monster-Monster ini yang kasih salam perpisahan, dibanding warga


Xia!”


“Sama, gue juga!”


Balas Myllo.


Akhirnya Myllo pergi secepatnya


ke Vigrias bersama dengan Gia, Garry, dan Bismont.


“Djinn! Tunggu kita berempat!”


Pikir Myllo kepada Djinn, yang


sudah masuk Penampungan dengan Lupherius.