
Myllo menyaksikan Djinn dan
Lupherius yang pergi ke dalam portal.
Melihat Djinn dan Lupherius masih
bisa berdiri dan bertarung, membuat Myllo bersemangat untuk menyusul mereka.
Akan tetapi…
“*Craaat… (suara darah mengucur)”
“Uhok, ohok…”
…lagi-lagi Myllo melupakan
kondisi fisiknya yang sudah sangat tidak kuat.
“Myllo! Cukup! Jangan beranjak
lagi!”
“Huff…Huff… Gue…nggak bisa
diem aja…Zegin—”
“Diem! Jangan banyak ngomong
lagi!”
Tegas Zegin dari dalam pikiran
Myllo.
“Denger ya! Jangankan temen lo
itu, Gue pun marah kalo lo masih nggak sadar sama kondisi fisik lo!”
“…”
Myllo hanya terdiam saja
mendengar teguran Zegin.
Walaupun ditegur, Myllo mengerti
maksud dibalik tegurannya.
“Zegin…lo itu…takut kehilangan
gue, kan?”
“…”
“Djinn juga takut kehilangan
gue…karena dia trauma sama rasa itu.”
“Ya. Gue tau waktu dia cerita
ke lo—”
“Kalo dipikir-pikir…siapa sih
yang suka kehilangan sesuatu? Kehilangan Kak Sylv pun…masih membekas di hati
sama pikiran gue.”
“Myllo…”
“Tapi tenang aja! Gue nggak akan
mati segampang itu!”
Tegas Myllo kepada Zegin.
Ia pun mencoba untuk berdiri.
“Urgh…”
“Myllo! Jangan—”
“Luka…ini…”
“*Crat… (suara kucuran darah)”
“…nggak ada apa-apanya…”
“*Crat… (suara kucuran darah)”
“Myllo—”
“…dibanding…kehilangan…Kak…Sylv—”
“*Bruk! (suara terjatuh)”
Ia terjatuh setelah gagal untuk
berdiri.
“Huff… Sialan!”
“Cu…Cukup, Myl—”
“Sekali lagi!”
Lagi, Myllo bersikeras untuk
berdiri.
Hingga…
“*Tung! (suara kepala terpukul)”
…seseorang datang dan memukul
kepalanya.
“Aduh! Siapa yang berani pukul—”
“Sianying! *Sia*teh kenapa
sok kuat kitu?!”
Tegas Garry kepada Myllo.
“Haaaah?! Lo dari mana aja?!
Kenapa baru dateng seka—”
“…”
Garry tidak menjawab karena
memperhatikan begitu banyak Monster, Petualang, dan pasukan dari Bismont yang
sekarat.
“Ba…Bang Myllo! Lo nggak apa-apa,
bang?!”
Tanya Bismont yang menghampiri
mereka berdua.
“Bismont…maafin gue karena gagal
taklukin—”
“Nggak apa-apa, bang! Justru…kalo
nggak karena gue…mungkin—”
“Jangan minta maaf!”
Tegas Myllo kepada Bismont.
“Bang Myllo?”
“Daripada minta maaf, kenapa lo
nggak minta tolong ke—”
“Lu…Lupain aja, bang.”
“Lupain…?”
“*Bruk… (suara berlutut)”
“Mungkin…gue udah nggak bisa
ketemu anak-anak gue lagi, bang.”
Jelas Bismont dengan gemetar
hingga ia duduk berlutut.
“Bismont…”
“Tapi…gue janji…untuk bantu warga
Monster ini…dari orang itu!”
“*Bruk! (suara memukul tanah)”
Lanjut Bismont dengan memukul
tanah karena marah.
Melihat Bismont, Myllo justru
merasa ada sesuatu.
“Orang itu…? Maksudnya
Sebastian? Atau ada orang lain selain dia?”
Pikir Myllo.
Ketika mereka sedang berbicara,
Garry yang mendengar perbincangan mereka pun mengerti apa yang harus ia
lakukan.
Walaupun…
“Punten…”
“Hm?”
“*Sia*teh orang yang ikut
nyerang hutan ini, ya?”
“I…Iya…”
…ia begitu kesal melihat Bismont.
Namun, ia teringat akan nasihat
dari Wilfred, gurunya.
*“*Sia teh kalo jadi orang harus
kebuka atuh hati dan pikirannya. Kalo ada yang sengaja bikin salah,
pasti ada alesannya.”
“Kang Wilfred…”
Pikir Garry setelah teringat
nasihat dari Wilfred.
“Haaaah… Sianying!”
““Hm?””
“Kerjaan aing teh jadi dobel gini, *atuh*mah!”
““…””
Myllo dan Bismont saling
bertatapan karena bingung dengan maksud Garry.
Seketika, Garry pun duduk
bersila.
“Uhm…lo mau ngapa—”
“Perhatiin dia baik-baik,
Bismont!”
“Perhatiin?”
“Insting gue bilang kalo calon
Keeper gue ini mau bikin kejutan besar-besaran! Hihihi!”
Jelas Myllo kepada Bismont,
sambil mereka berdua memperhatikan Garry.
Sambil duduk, Garry pun mulai
merapal tahapan mantra.
“Spirit Call: Soultake.”
“…”
Dengan sihirnya, Garry memanggil
Roh dari korban jiwa pertempuran itu untuk mengambil Jiwa mereka masing-masing.
Setelah itu, Garry melanjutkan
rapalan mantra sihirnya.
“Soul Integration: Thousands
Heal.”
Jiwa-Jiwa yang diambil oleh semua
Roh yang ia panggil tadi tergabung menjadi satu.
Karena kumpulan Jiwa itu
mengandung Mana yang sangat banyak, Garry pun menggunakannya untuk
menyembuhkan semua korban luka yang berada di sana.
“Bos August?! Luka-lukanya hilang
semua!”
“Tu…Tunggu! Kenapa saya tiba-tiba
sembuh?!”
“…”
Dengan sihirnya itu, Garry berhasil
menyembuhkan semua korban luka, walaupun sebagian masih belum sepenuhnya
sadar.
“Wuhuuuu! Gue sembuh total!”
“My…Myllo?!”
“Gia! Lo udah sadar?!”
“I…Iya! Aku kira aku hampir
mati!”
Seru Gia yang menghampiri Myllo.
Dari dalam pikirannya, Zegin
begitu terkejut melihat kondisi fisik Myllo.
“Myllo! Badan lo jadi sembuh
total! Bahkan energi kehidupan lo udah penuh!”
“Ahahaha! Ya jelas, lah! Kan
orang itu calon Keeper gue!”
Balas Myllo yang berbicara di
dalam pikirannya dengan Zegin.
“Gi…Gila. Ternyata ini
kekuatan sihirnya Shaman?”
Pikir Bismont yang begitu
terkejut dengan apa yang ia saksikan.
“Haaaaah…capek juga, euy!”
“Garryyyy!!!”
“Hah? Apa, anying?”
“Gilaaa! Keren banget lo bisa
nyembuhin kayak gitu!”
“Diem dulu! Aing teh capek pisan karena pake sihir i—”
“*Puk… (suara pelukan)”
“Garry! Makasih ya! Karena kamu,
aku jadi sembuh to—”
“WUOOOOHHH!!! HARUSNYA MAH AING YANG MAKASIH KARENA DIPELUK *TETEH*GEULIS!”
Myllo, Gia, dan Garry terus berbincang dan
tertawa bersama.
Melihat mereka bertiga, Kepala
Suku hanya bisa tersenyum karena ingat diskusinya dengan Wilfred.
“Laxka, Garry teh pasti
keluar dari hutan ini beberapa tahun nanti. Makanya itu, aing teh bisa percayakeun ke sia untuk saring orang-orang yang mau bawa dia, nyak?”
“Kenapa harus saya, atuh*?”*
“Kan kalian berdua teh sama-sama murid aing*\,* atuh*! Apalagi* sia teh murid
aing sebelum Garry*!”*
Mengingat permintaan Wilfred,
Kepala Suku yang bernama Laxka pun berpikir.
“Kang Wilfred, akhirnya ada
orang baik yang saya yakin bisa bawa Garry keluar dari sini.”
Pikirnya dengan senyum.
Karena kondisinya yang sudah
prima, Myllo pun kembali bersemangat untuk menyusul Djinn dan Lupherius.
“OK! Ayo kita berangkat!”
“Ke mana, Myllo?”
“Ke… Oh iya. Ke mana ya ki—”
“Ke Vigrias, bang.”
Jawab Bismont kepada mereka
bertiga.
“Ke ibukota?! Bukannya di sana
banyak banget pengungsi dari seluruh daerah di Erviga, ya?!”
“Kalo Bang Djinn sama Lupherius
emang ke Penampungan, artinya mereka sekarang lagi ada di sana.”
Jawab Bismont kepada Gia.
“Hah?! Djinn ada di ibukota?!
Bukannya—”
“Kita nggak ada waktu, Gia. Kalo
emang bener mereka berdua ada di ibukota, artinya ke sana tujuan kita
selanjutnya!”
“OK, Myllo!”
Karena mengetahui tujuan
selanjutnya, mereka pun bersiap pergi terlebih dahulu ke Vigrias Capital.
“Gue minta 4 kuda!”
“Baik, Yang Mulia!”
Pasukan Bismont pun mempersiapkan
kuda-kuda yang tersisa.
“Hah?! Empat?! Emangnya teh siapa kuda satu la—”
“Garry! Ayo kita berangkat!”
Seru Myllo kepada Garry yang
terlihat bingung.
Mendengar seruan Myllo, Garry
masih heran dengan dirinya yang bersikeras untuk mengajak dirinya.
“Sianying! Emangnya teh
aing harus ikut sia jadi Petualang?”
Tanya Garry kepada Myllo.
Karena pertanyaan itu, Myllo pun
bertanya kembali kepadanya.
“Jawab gue, Garry!”
“Hah?! Jawab a—”
“Lo juga mau keluar dari hutan
ini, kan?! Bukannya lo punya tujuan di luar hutan ini?!”
“…”
Garry hanya terdiam. Perasaannya
menjadi campur aduk karena pertanyaan Myllo.
Melihat ini pun, Kepala Suku
menghampirinya.
“Garry.”
“*Tap… (suara menepuk pundak)”
“Kang Wilfred teh bilang,
nanti ada waktunya anda keluar dari hutan ini.”
“Ta…Tapi—”
“Tenang. Kami teh nggak
akan lupain anda, atuh. Gih, kalo mau carikeun Kang Wilfred. Anda teh mau cari dia di dunia ini, kan?”
“…”
“Kemana pun anda pergi, anda teh pasti selalu jadi anggota keluarga ki—”
“Huaaaaa!”
“*Puk! (suara pelukan erat)”
“Kepala Sukuuuu!”
“Et, et, et! Jangan nangis
kenceng kitu, atuh! Hiks…”
Garry pun menangis
sekencang-kencangnya karena ia hendak pergi meninggalkan Monster-Monster itu,
yang telah menjadi keluarganya.
“Huhu…”
“Hiks…”
Myllo dan Gia pun juga tidak
kuasa melihat perpisahan Garry dengan para Monster.
“A…Aing janji untuk bebaskeun Monster-Monster yang ditahan, sebelum ikut petualangan bareng Myllo!”
“Ya. Nuhun, Garry!”
Jawab Kepala Suku kepadanya.
“OK, Kapten! Sebelum aing jadi
Petualang, tolong bantu bebaskeun sodara-sodara aing, atuh!”
“Ya! Pastinya!”
Jawab Myllo terhadap permintaan
Garry.
Sambil mereka pergi…
“Dadah, Garry!”
“Semoga seru petualangannya!”
“Kalo ketemu Kang Wilfred, titip
salam ya!”
“Iya, iya, iya!”
…para Monster memberikan salam
perpisahannya kepada Garry.
“Ahaha!”
“Kenapa lo ketawa, Gia?”
“Nggak. Aku cuma berandai-andai
aja. Andai desa aku seramah ini ke kita.”
“Hehe! Lo ngiri ya?!”
“Ngiri?! Nggak kok! Justru aku
lebih seneng Monster-Monster ini yang kasih salam perpisahan, dibanding warga
Xia!”
“Sama, gue juga!”
Balas Myllo.
Akhirnya Myllo pergi secepatnya
ke Vigrias bersama dengan Gia, Garry, dan Bismont.
“Djinn! Tunggu kita berempat!”
Pikir Myllo kepada Djinn, yang
sudah masuk Penampungan dengan Lupherius.