
Kondisi di sekitar Vigrias
Capital saat ini.
““*SWUSH! (suara terbang beberapa
Naga)””
Myllo masih dalam perjalanan ke
Vigrias bersama dengan Gia, Garry, Bismont, Verdian, serta beberapa Dragonewt
dan Naga-Naga lainnya, termasuk Rakhzar.
“Djinn, tunggu gue!”
Pikir Myllo yang mengkhawatirkan
Djinn.
“Bang Myllo! Vigrias udah
keliatan!”
Sahut Bismont kepada Myllo dari
atas punggung Naga yang ia tumpangi.
“Hehe! OK semua! Waktunya kita
siap-siap masuk ke ibuko—”
“Tunggu, bang!”
“Hm?”
“Kita nggak boleh gegabah untuk
masuk kota itu!”
Jelas Bismont kepada Myllo yang
bersemangat untuk memasuki Vigrias.
“Haaaah?! Kenapa emangnya?!”
“Kita semua yang ada di sini bisa
jadi orang yang paling dicari di Erviga! Makanya itu, kita perlu hati-hati
untuk—”
“Kalo emang kita ini buronan,
buat apa juga hati-hati?! Mending kita hajar aja siapapun yang ada di depan
mata kita!”
Tegas Myllo kepada Bismont yang
ragu-ragu.
Pernyataan Myllo pun didukung
oleh Verdian.
“Ia ada benarnya, Bismont!
Kondisi saat ini sepertinya sangat mustahil untuk kita memasuki kota itu secara
sembunyi-sembunyi!”
Kata Verdian.
“Bismont! Lo nggak perlu
khawatir!”
“Bang Myllo?”
“Mau sebahaya apapun yang
nantinya kita hadapin, gue yakin kalo kita bisa lewatin semuanya! Percaya sama
gue!”
Tegas Myllo kembali kepada
Bismont.
“Gia! Garry! Kalian gimana?!
Setuju kan sama gue?!”
“Se…Setu—”
“Aaargh! Sia teh…ganggu aing…lagi
ti…Zzzzzz…”
Balas Garry, yang berbicara dalam
tidurnya di pangkuan paha Gia.
“I…Iiih! Ga—”
“Ahahaha! Biarin dia aja! Gue
yakin dia siap untuk pertarungan kita nanti!”
Seru Myllo kepada Gia yang hendak
membangunkan Garry.
Dari dalam pikirannya, Zegin
berbicara kepada Myllo.
“Myllo. Mungkin lo ngomong ke
mereka kayak gitu. Tapi sebagai Dewi lo, Gue bisa ngerasain kecemasan lo.”
Kata Zegin dari dalam pikirannya.
Mendengar Zegin, Myllo pun
memasuki pikirannya untuk berbicara dengannya.
“Ya. Seenggaknya gue ngomong gitu
supaya yang lain nggak patah semangat.”
Jelas Myllo.
“Tapi, apa yang sebenernya lo
khawatirin, Myllo?”
“…”
Myllo diam sejenak sebelum
menjawab pertanyaan Zegin.
“Insting gue bilang…yang bakal
kita hadapin nanti tuh yang paling bahaya dari semuanya. Tambah lagi…insting
gue bilang ada sesuatu yang nggak bisa Djinn tanggung sendirian.”
Balas Myllo kepada Zegin.
“Yaudah. Kalo gitu lo harus
hati-hati ya.”
“OK, sobat.”
Balas Myllo sembari kembali dari
dalam pikirannya.
Mendengar dialog antar Myllo dengan
Bismont dan Verdian, Rakhzar pun mengambil inisiasi untuk mencari tahu keadaan
di Erviga lewat telepatinya.
“Göhran, apakah kau sudah
berada di Vigrias Capital?”
Tanya Rakhzar kepada Göhran lewat
telepatinya.
Sedangkan di sisi lain, Göhran
disibukkan dengan upayanya untuk membebaskan beberapa tahanan.
“Ya! Aku sudah berada di
Vigrias!”
“Bagaimana kondisi di sa—”
“Tunggu dulu terlebih dahulu,
Rakhzar! Aku tidak bisa fokus untuk keluar dari kota ini, jika kau terus
berbicara!”
Tegas Göhran dengan telepatinya.
Di hadapannya, ada dua Royal
Knights yang tersisa untuk melawannya.
Namun…
“Huff… Huff… Huff…”
“Si…Sial! Bahkan orang ini udah
kecapean!”
“Te…Terus kita gimana untuk
keluar dari tempat ini?!”
…Göhran sudah cukup lelah karena
telah melawan beberapa Royal Knight.
Sedangkan bandit dan Petualang
lainnya, termasuk Alethra dan Zorlyan, merasa tidak sanggup untuk melawan
mereka.
“Gimana kita lawan mereka
berdua?!”
“Cih! Nggak enak banget cuma jadi
beban kayak gini!”
Kata Alethra dan Zorlyan secara
bergantian ketika dihadapkan dengan kedua Royal Knights itu.
Di tengah keputusasaan mereka,
tiba-tiba terdengar suara dari kerusuhan dari dalam kota.
““Drapdrapdrapdrap… (suara lari
bersama-sama)””
“Minggir! Kita mau keluar dari
kota ini!”
“Ada bangsawan yang nyerang
kita!”
“Ko…Kota ini udah nggak aman!”
Seru beberapa warga, dengan
Lupherius yang digotong oleh mereka.
“Orang itu…”
“Lupherius?!”
Sahut salah seorang bandit dan
Petualang ketika melihat Lupherius yang tidak sadar.
Melihat warga-warga yang hendak
keluar dari Vigrias, dua Royal Knights itu tidak tinggal diam.
““Ruoaaaaarr!””
Mereka bersama-sama menggunakan
Dragon Cry untuk menakuti warga.
““…””
Raungan mereka terbukti efektif,
karena tidak hanya warga saja yang takut gemetar akan raungan mereka.
Bahkan para tahanan pun juga
tidak kuasa menahan ketakutan itu.
“Keterlaluan! Mereka bisa
menggunakan Dragon Cry!”
Pikir Göhran yang tidak bisa
berbuat apa-apa.
Dua Royal Knights itu hendak
menggunakan kesempatan mereka untuk membunuh semua yang mereka lihat.
Namun…
“*Boom! (suara ledakan bom)”
…Dalbert berhasil datang dengan
menyelinap dari antara beberapa warga dan membunuh satu Royal Knight dengan bom
yang ia curi dari kumpulan jasad anggota Vulpus.
“Keterlaluan! Siapa yang—”
“*Vwusshhh… (suara hempasan asap)”
“Akkh! Akh! Aaaakh!”
Dalam kondisinya yang belum
sembuh, Yssalq juga membantu dengan menghembuskan asap tebal, yang masuk ke
dalam paru-paru Royal Knight terakhir.
Melihat kejadian itu, Göhran
telat menyadari jika Yssalq adalah seorang Naga.
“Kau adalah Naga?!”
“Ya. Aku bertemu dengan Djinn.
Namun aku diculik karena terlalu le—”
“Bukan waktunya kita membahas itu
semua. Alangkah baiknya jika kita pergi secepatnya!”
“Baik.”
Balas Yssalq sambil ditopang oleh
Zorlyan.
““BOOOOSSSS!!!””
Sapa para bandit ketika melihat
Dalbert.
“Bos! Kok bisa ada di sini?!”
“…”
Dalbert merasa kesal ketika
ditanya oleh Alethra.
“Orang itu…nusuk gue, bahkan
lempar gue ke luar kastil!”
“Tapi tenang! Untungnya gue curi
Potion dari mayat yang ada di kastil itu!”
“Mayat?! Maksudnya—”
“Nggak ada waktu! Mending kita
keluar dulu dari kota ini!”
Tegas Dalbert kepada rekan-rekan
banditnya.
Namun, Dalbert merasa khawatir.
“Kira-kira Djinn gimana, ya?!
Dia bahkan kepental lebih jauh pake petir yang gue liat tadi!”
Pikir Dalbert yang teringat akan momen
terakhir kali melihat Djinn.
Bersama dengan Petualang yang
menjadi tahanan, serta semua warga Vigrias, Lupherius yang tidak sadar, dan
juga Göhran yang terluka, Dalbert memimpin warga untuk keluar dari kota itu.
……………
Di sisi lain Erviga Kingdom, di
Karkas City.
“Serang orang itu!”
““Hraaagh!””
Terdapat beberapa prajurit yang
melawan sesorang.
““*Syut! (suara tembakan panah)””
““Argh!””
“Keterlaluan! Ia sangat kuat!
Bahkan 50 dari kita tidak ada apa-apa dibandingkannya! Siapa sebenarnya orang
ini?!”
Seru salah seorang prajurit yang
putus asa, ketika orang tersebut mengalahkan 15 pasukan, hanya dengan sekali
tembakan dari busurnya.
“Hah? Lo nggak kenal gue?
Walaupun sekarang gue cuma jadi pengawal doang, seenggaknya dulu gue juga
Petualang, kali!”
“Pe…Petualang?!”
“Ya iyalah! Masa lo nggak pernah denger
Petualang yang namanya Alphonso Andersen?!”
“Hiieekh!”
Prajurit itu begitu terkejut,
ketika ia mengetahui bahwa orang yang ia hadapi adalah mantan rekan dari
Pahlawan Sylvia Starfell.
“Haaah… Selesain sekarang aja,
deh!”
Bisik Alphonso yang mempersiapkan
serangan sihirnya.
“Phoenix Soar!”
“*Vwummm! (suara kobaran api)”
““Aaaaargh…””
Dengan sihirnya, Alphonso
menembak satu panahnya, yang seketika berubah menjadi Burung Api yang besar,
yang menaklukan semua pasukan yang tersisa.
Setelah berhasil menaklukan
mereka semua, ia pun bergegas untuk menjemput Dalton yang bersembunyi.
“Tuan Muda—”
“Phonsooo!!! Huaaaa!!!”
Tangis Dalton yang ketakutan dan
menangis, sambil memeluk Alphonso dengan keras.
“Yang lain nggak apa-apa, kan?!”
“Ti…Tidak apa-apa!”
“Terima…kasih, Tuan Phonso—”
“Yaudah! Mumpung semuanya udah
aman, mending bawa Tuan Muda ke Vigrias! Cepetan!”
““Ba…Baik!””
Seru Alphonso kepada beberapa
anggota Riorio Mechant.
“Pho…Phonso! Kakak gi—”
“Tenang aja. Saya percaya Nyonya
Dahlia masih aman, Tuan Muda.”
“Te…Terus Phonso mau ngapa—”
“Nanti saya nyusul, ya. Masih ada
yang mau saya urus di sini.”
“O…OK, Phonso. Hati-hati, ya?!”
Balas Dalton, sambil berjalan
dengan ditemani oleh beberapa anggota Riorio Merchant.
Melihat mereka sudah pergi cukup
jauh darinya, Alphonso berjalan untuk mencari sesuatu di sekitar Kaskar.
“Pffttt… Ahahaha! Gue udah yakin
kalo lo ada di sini!”
“Hihi!”
Alphonso hanya saling tertawa
dengan seseorang yang ia temui di dalam lorong kecil.
……………
Sedangkan jauh dari Vigrias, di
Calmisiu Village.
“Pe…Permisi Tuan-Tuan sekalian.
Apa yang sedang kalian lakukan di desa ini?”
Tanya Flippus, Kepala Desa
Calmisiu, yang sedang kedatangan tamu.
“Saya Iqherd, dengan pria
di samping saya, Pittero. Kami adalah personil dari House of Siegfried!”
“…”
Menyaksikan kedua tamu, serta 20
pasukan yang berada di belakang mereka, terlintas sesuatu di kepala Flippus.
“Tuan Bismont, seseorang telah
menjual anda!”
Pikir Flippus, setelah melihat
Pittero, personil dari House of Louisson, yang dengan bangga mengakui bahwa ia
adalah personil dari House of Siegfried.
Namun ia berusaha tetap tenang,
sembari ada pasukan dari bangsawan di hadapannya.
“Mohon maaf sebelumnya, Tuan-Tuan
sekalian. Jika saya boleh tahu, apakah keperluan anda sekalian di desa
sederhana ini?”
“Kami datang karena mendengar
adanya laporan seseorang yang menolak untuk meninggalkan desa ini!”
“Mohon maaf. Bukan saya menolak
evakuasi, namun saya sebagai Kepala Desa, tidak bisa meninggalkan desa
kesayangan sa—”
“Keselamatan anda adalah perintah
dari Raja Glennhard! Jika anda menolak evakuasi, sama saja anda menolak
perintah Raja Glennhard!”
Tegas Iqherd kepada Flippus.
Walaupun ia takut, bahkan dahinya
telah berkucuran keringat, Flippus berusaha untuk tetap tenang.
“Mohon maaf, Tuan-Tuan sekalian.
Saya merasa ada yang janggal.”
“Hm? Apa maksud anda, Kepala Desa
Flippus?”
“Jika anda mengetahui saya yang
menolak evakuasi, saya yakin bahwa Tuan-Tuan sekalian tahu bahwa sudah tidak
ada warga desa lainnya di tempat ini, selain saya. Apakah saya benar?”
“Ya. Anda benar, Kepala Desa
Fli—”
“Jika anda mengetahui itu,
lantas, mengapa ada orang sebanyak ini untuk membawa saya?!”
Tanya Flippus kepada Iqherd dan
lainnya.
Karena mengetahui maksud
kedatangan mereka, Flippus pun semakin khawatir akan apa yang ia sembunyikan.
“A…Aku harap kalian tidak
ketahuan, anak-anak dari Tuan Bismont!”
Pikir Flippus.
Di saat Flippus sedang berbicara
dengan para prajurit itu, anak-anak Bismont dan juga anak-anak dari Gia hanya
bisa mengamati mereka dari balik rumah.
“Pa…Papa…”
Pikir Charzielle yang mengkhawatirkan
ayahnya.
…………
Dan kembali lagi ke kastil
kerajaan di Vigrias.
“*Bruk! (suara tembok hancur)”
“…”
Djinn dikalahkan oleh Maverick
Orbloom, hingga ia pingsan dan terpental jauh keluar dari Vigrias
Capital.
“Ah! Sial, sial, sial! Aku
terlalu marah, hingga melupakan Jiwa Tarzyn yang ia bawa!”
Seru Maverick dengan kesal karena
ia melupakan Ark Blade yang dibawa oleh Djinn.
“Haaaah! Baiklah, lupakan saja!”
Kembali seru Maverick, yang
tiba-tiba keberadaannya menghilang dari Ruang Singgasana, untuk bersatu kembali
dengan separuh dirinya yang berada di ruangan miliknya.
Di ruangannya itu, terdapat
dirinya yang memegang suatu kubus, yang mana terdapat Jiwa Flamiza.
“Cih! Mana-ku sudah hampir
habis karena bertarung dengan pria bodoh itu! Sedangkan Mana yang
terkandung di dalam Jiwa Flamiza juga sudah tidak bisa terisi lagi! Andaikan
pria bodoh itu gagal membebaskan para tahanan itu, mungkin aku masih bisa
mengisi Jiwaku dengan Jiwa mereka!”
Seru Maverick dengan panjang
lebar dengan perasaan kesal.
“Haaaah…baiklah! Karena semuanya
hendak pergi ke titik tersebut, mungkin waktunya memulai perintah
terakhir!”
Kembali seru Maverick.
Sambil mengerahkan seluruh
kekuatannya, kubus yang ia pegang itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang sangat
terang.
“*Shringgg… (suara cahaya sinar)”
“Kuperintahkan untuk semua
Kaum Naga! Waktunya kalian menyerang seluruh Mahluk Fana di sekitar Vigrias!”
Perintah Maverick kepada seluruh
Kaum Naga yang berada dalam kendalinya.
Dengan perintahnya, malapetaka
paling besar yang pernah terjadi di Erviga Kingdom segera dimulai.