Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 76. Endangered



Kembali


ke perjalanan Myllo dan Royce.


“Ja…Jadi…begitulah


cerita mengapa saya bisa masuk Hidden Dungeon ini. Saya tidak menyangka bahwa


kami semua terpisah seperti itu.”


“Fyuh!


Ya, gue juga.”


Balas


Myllo, setelah ia mengalahkan 3 ekor Wyvern, 10 ekor Drake, 5 ekor Wyrm, dan 2


ekor Naga seorang diri, sambil


mendengar cerita Royce.


“Pri…Pria ini sangat kuat!


Tidak hanya melindungi dan mendengar cerita saya saja, ia bahkan mengalahkan 18


ekor Dragonkin dan 2 ekor Naga sendirian?!”


Pikir


Royce setelah menyaksikan pertarungan Myllo.


“Kekuatan besarnya tidak terkira lagi! Apa mungkin…”


“Oi,


Royce…”


“…ia seorang Sa—”


“Rooooyce!”


“Hah?!


Ya?! Ada apa?!”


Balas


Royce yang terkejut setelah dipanggil oleh Myllo karena tidak fokus.


“Lo


masuk-masuk juga kepisah dari yang lain, kan?”


“Ya.


Ketika tiba di tempat ini, saya bingung karena seorang diri di tempat ini.


Tiba-tiba saya dikejar oleh beberapa Drake, hingga akhirnya bertemu anda,


Myllo.”


Jawab


Royce.


“Gitu


ya… Harrit sama Urlant…”


“Ya.


Kami gegabah. Kami mengira selama ada Maha dan Zorlyan, yang sama-sama memiliki


lencana Tingkat Kuning, pasti kami bisa mengalahkan para Dragonewt itu. Namun…


Erkstern ada di level yang berbeda!”


“*Bruk… (suara memukul tanah)”


“Sialan!”


Seru


Myllo yang kesal mendengar berita kematian Urlant dan Harrit.


Di


tengah perbincangan Myllo dan Royce, tiba-tiba Naga yang baru saja Myllo


kalahkan terbangun.


“Grrrr…”


“My…Myllo!


Naga itu—”


“Tenang.


Gue yakin nggak ada tanda-tanda kebencian dari dia.”


Balas


Myllo ketika Royce hendak panik.


“Oi,


Naga! Nama lo siapa?!”


“!!!”


Royce


terkejut ketika Myllo dengan santainya bertanya kepada seekor Naga.


“(Ra tukh Kalla maza—)”


“Haaaaah?!


Gue nggak ngerti Bahasa Naga! Lo kan bisa Bahasa Mahluk Fana, kan?! Pake bahasa


itu aja, dong!”


“(Ba…Baiklah.


Karena kau mengalahkan aku, maka aku akan menuruti perintahmu.)”


“Hah?!


Perintah?! Itu permintaan, bukan perintah!”


“(Ba…Baiklah…)”


Balas


Naga itu dengan suaranya yang berat ketika mendengar pernyataan Myllo.


“Bahkan Naga itu menuruti permintaannya?! Pria macam


apa yang begitu santainya berbicara dengan seekor Naga tanpa ada rasa takut


sama sekali?!”


Pikir


Royce yang menyaksikan perbincangan Myllo dengan Naga itu.


“(Aku adalah Göhran. Aku adalah salah satu Naga


yang melindungi tempat ini, bersama dengan ratusan Naga lainnya.)”


“HAH?!


MASIH ADA RATUSAN NAGA LAIN?!”


“(Benar.)”


“Hmm…”


Myllo


memikirkan sesuatu.


“Oh


ya, nama gue Myllo Olfret, calon Petualang Nomor—”


“(My…Myllo


Olfret?!)”


“Hmm?


Lo kenal gue?!”


“(Tentu


saja! Kau pasti terpisah dari rekan-rekanmu, kan?!)”


“Ya,


bener!”


“(Baiklah!


Naik ke atas punggungku! Biarkan aku membantumu mencari rekan-rekanmu!)”


“Haaaah?!


Emangnya nggak apa-apa?! Kan lo masih punya tanggungan untuk jaga tempat i—”


“(Haha…


Tenang saja. Anggap saja ini bayaran atas kekalahan saya melawan anda.)”


“Hmm…


OK kalo gitu!”


Balas


Myllo sambil berusaha menaiki punggung Göhran.


Namun


masih ada perasaan khawatir dari Royce.


“My…Myllo?


Apakah anda percaya Naga ini? Bagaimana jika semuanya hanya jeba—”


“Tenang


aja! Naga ini baik, kok!”


“…”


“Ayo!


Tunggu apa lagi, Royce?!”


Dengan


agak ragu, Royce pun ikut menaiki punggung Göhran.


“(Apakah


kalian semua sudah siap?!)”


“Si—”


“*FWUSHHH!


(suara terbang dengan sangat cepat)”


“KYAAAAAA!!!”


“WUHUUUUUU!!!”


Göhran


terbang dengan sangat cepat, hingga membuat Royce berteriak histeris. Namun


tidak bagi Myllo. Ia begitu menikmati aksi terbang cepat dari Göhran.


Göhran


yang terbang dengan sangat cepat kemudian menurunkan kecepatannya.


“(Haha!


Bagaimana?! Apakah kau menikmatinya?!)”


“Wuhuuuu!


Seru banget, Göhran!”


“JIKA


ANDA DAPAT TERBANG DENGAN PELAN, MENGAPA ANDA HARUS TERBANG SECEPAT TADI?!”


Teriak


Royce yang kesal dengan Göhran.


“(Hahaha!


Reaksi kalian berdua mirip sekali dengan Sylv dan rekan-rekannya ketika


terbang denganku!)”


“HAAAAAHHH?!


LO KENAL KAK SYLV?!”


“(Tentu


saja! Beliau bahkan tidak ada habisnya menceritakan tentang adiknya! Mungkin


takdir menuntunmu untuk mempertemukan kita, Myllo!)”


“Haha…


Kak Sylv…”


Sambil


terbang, mereka sama-sama bercerita tentang Pahlawan Sylvia Starfell.


“Apa?!


Ia mengalahkan semua Naga seorang diri?!”


“(Haha!


Tentu saja itu semua berkat Dewa kami, Fire


God of Dilligence, Arkathaz.)”


“Hah?


Maksudnya?”


“Sama


sepertimu yang seorang Saint dari Dewi Zegin, Sylv juga seorang Saint dari Dewa


Arkathaz.”


Mereka


begit menyayat hati Göhran.


“(Sy…Sylv…meninggal


dunia?!)”


“Ya…


Se…Semua salah gue… Ma…Ma…Maafin gue, Göh—”


“(Jangan


salahkan dirimu, Myllo!)”


“…”


“(Jika


kau masih menyalahkan dirimu, kau sama saja tidak menghormati kakakmu!)”


Tegas


Göhran kepada Myllo.


“(Tentu


saja aku sedih. Orang yang sangat ceria dan baik hatinya, harus meninggal dunia


di tangan Iblis. Tetapi, ia mati sebagai seorang Pahlawan. Walaupun bertemu dengannya


sementara, aku tetap bangga terhadapnya.)”


Lanjut


Göhran.


Mendengar


Göhran, Myllo tersenyum dengan perasaan bangga dan rindu akan kakaknya.


“Ya,


makasih banyak Göh—”


“Maafkan


saya sebelumnya jika memotong, tapi…bukankah itu Djinn?!”


Kata


Royce yang memotong perbincangan Myllo dan Göhran.


“Ah!


Iya! DJIIII—”


“*Cruk!


(suara tertembak)”


“(Si…Sial! Myllo! Royce! Waspada! Aku akan


terjatuh!)”


Tegas


Göhran setelah sayapnya tertembak senapan jitu.


““GÖHRAN!””


“(Pegang


aku dengan erat!)”


“*Bruk!


(suara terjatuh)”


Mereka


pun bersama-sama terjatuh ke permukaan. Untungnya Myllo dan Royce aman di balik


punggungnya.


“(Ma…Maafkan


aku, Myllo, Royce…)”


“Nggak.


Kita yang seharusnya minta maaf. Kita masuk sini bareng Dragonewt yang


keliatannya punya rencana jahat!”


Balas


Myllo.


Ia dan Royce pun menjelaskan kepada Göhran


tentang Erkstern, Morri, dan Dragonewt misterius yang hendak memasuki Hidden


Dungeon dengan tujuan misterius.


Namun,


Göhran mengerti tujuan mereka.


“(Aku tahu maskud kedatangan mereka!)”


“Hm?”


“(Mereka


hendak membawa raja kami, Fire Dragon King Tarzyn, ke dunia luar!)”


““!!!””


Myllo


dan Royce pun terkejut atas pernyataan Göhran.


Seketika,


Göhran merubah wujudnya menjadi Wujud Manusia, dengan rambut berwarna merah,


kulit yang kecoklatan, serta pupil berwarna kuning.


“Ayo


kita bergegas sekarang, Myllo, Royce! Tidak akan aku biarkan mereka mengganggu peristirahatan Raja Tarzyn!”


Seru


Göhran dengan ekspresi yang kesal.


Mereka


pun bersama-sama untuk mencari semua anggota Joint Party, sekaligus


memperingatkan semua Naga terhadap rencana para Dragonewt.


……………


Di


sisi lain, Gia dan keempat anaknya berhasil menemukan sebuah goa setelah mereka


semua dipertemukan dengan Zorlyan yang masih tidak sadarkan diri.


Melihat


kondisi Zorlyan yang sedang kritis, keempat anak Gia bersama-sama mencoba


menyembuhkannya dengan sihir mereka masing-masing.


Namun,


ketika Zorlyan membuka mata…


“Hmph!”


“*Jlub!


(suara tertusuk duri)”


““MAMA!!!””


“Tenang,


Zorlyan. Ini aku, Gia.”


…ia


mengira jika ia telah diculik oleh salah seorang Dragonewt.


Maka


dari itu, ia secara spontan menusuk siapapun yang ada di depan matanya dengan durinya.


“Gi…Gia!


Maafin gue!”


“Ya.


Kalian juga tenang ya, anak-anak.”


““Grrrr!!!””


Karena


melihat ibunya terluka, keempat anaknya tersebut secara naluri bersiap-siap


untuk menyerang Zorlyan.


“Tu…Tunggu!


A…Anak-anak…?”


“Hihi!


Iya! Anak-anak aku!”


Gia


pun menjelaskan tentang dirinya yang terpisah dan bertemu dengan anak-anaknya.


“O…Oh…gitu


ya…”


Jawab


Zorlyan yang masih tidak percaya mendengar cerita Gia.


“Zorlyan,


tadi sebelum kamu pingsan, kamu bilang mereka udah pada masuk, kan?”


“Gue


bilang gitu, ya?”


“Hmph.”


“Ya.


Maafin kita Gia, karena kita gagal kalahin mereka di Partar Forest.”


Kali


ini giliran Zorlyan yang menjelaskan tentang kekalahan mereka melawan para


Dragonewt, pengorbanan Urlant dan kematian Harrit, serta bagaimana ia berpisah


dengan yang lainnya.


“Abis


itu…kamu ketemu Morri di tempat ini?!”


“Ya.


Gue terlalu kesel, sampe lupa dia sebenernya sekuat apa…”


Kata


Zorlyan dengan urat yang menjalar di kepalanya karena kesal dan kecewa atas


kekalahannya melawan Morri.


“Urlant…


Harrit…”


“Ya,


gue juga—”


“Kalo


gitu, kita nggak punya banyak waktu lagi!”


“Gia?”


“Ayo


kita cari yang lain secepetnya!”


“Ya!”


Gia


bersama dengan Zorlyan dan anak-anaknya keluar bersama dari goa untuk mencari


Myllo, Djinn, dan juga yang lainnya.


Akan


tetapi, tidak lama setelah mereka berjalan bersama, mereka melihat suatu


penampakan yang begitu mengerikan.


“I…Ini


semua…”


“Mama…kita shemua takut…”


“Ya.


Jangan liat itu ya, anak-anak.”


““Ya,


mama.””


“Ada


apa, ini?”


Mereka


masih tidak menyangka ada puluhan jasad Naga yang terbunuh, hingga


bertumpuk-tumpukan.