
Kembali
ke perjalanan Myllo dan Royce.
“Ja…Jadi…begitulah
cerita mengapa saya bisa masuk Hidden Dungeon ini. Saya tidak menyangka bahwa
kami semua terpisah seperti itu.”
“Fyuh!
Ya, gue juga.”
Balas
Myllo, setelah ia mengalahkan 3 ekor Wyvern, 10 ekor Drake, 5 ekor Wyrm, dan 2
ekor Naga seorang diri, sambil
mendengar cerita Royce.
“Pri…Pria ini sangat kuat!
Tidak hanya melindungi dan mendengar cerita saya saja, ia bahkan mengalahkan 18
ekor Dragonkin dan 2 ekor Naga sendirian?!”
Pikir
Royce setelah menyaksikan pertarungan Myllo.
“Kekuatan besarnya tidak terkira lagi! Apa mungkin…”
“Oi,
Royce…”
“…ia seorang Sa—”
“Rooooyce!”
“Hah?!
Ya?! Ada apa?!”
Balas
Royce yang terkejut setelah dipanggil oleh Myllo karena tidak fokus.
“Lo
masuk-masuk juga kepisah dari yang lain, kan?”
“Ya.
Ketika tiba di tempat ini, saya bingung karena seorang diri di tempat ini.
Tiba-tiba saya dikejar oleh beberapa Drake, hingga akhirnya bertemu anda,
Myllo.”
Jawab
Royce.
“Gitu
ya… Harrit sama Urlant…”
“Ya.
Kami gegabah. Kami mengira selama ada Maha dan Zorlyan, yang sama-sama memiliki
lencana Tingkat Kuning, pasti kami bisa mengalahkan para Dragonewt itu. Namun…
Erkstern ada di level yang berbeda!”
“*Bruk… (suara memukul tanah)”
“Sialan!”
Seru
Myllo yang kesal mendengar berita kematian Urlant dan Harrit.
Di
tengah perbincangan Myllo dan Royce, tiba-tiba Naga yang baru saja Myllo
kalahkan terbangun.
“Grrrr…”
“My…Myllo!
Naga itu—”
“Tenang.
Gue yakin nggak ada tanda-tanda kebencian dari dia.”
Balas
Myllo ketika Royce hendak panik.
“Oi,
Naga! Nama lo siapa?!”
“!!!”
Royce
terkejut ketika Myllo dengan santainya bertanya kepada seekor Naga.
“(Ra tukh Kalla maza—)”
“Haaaaah?!
Gue nggak ngerti Bahasa Naga! Lo kan bisa Bahasa Mahluk Fana, kan?! Pake bahasa
itu aja, dong!”
“(Ba…Baiklah.
Karena kau mengalahkan aku, maka aku akan menuruti perintahmu.)”
“Hah?!
Perintah?! Itu permintaan, bukan perintah!”
“(Ba…Baiklah…)”
Balas
Naga itu dengan suaranya yang berat ketika mendengar pernyataan Myllo.
“Bahkan Naga itu menuruti permintaannya?! Pria macam
apa yang begitu santainya berbicara dengan seekor Naga tanpa ada rasa takut
sama sekali?!”
Pikir
Royce yang menyaksikan perbincangan Myllo dengan Naga itu.
“(Aku adalah Göhran. Aku adalah salah satu Naga
yang melindungi tempat ini, bersama dengan ratusan Naga lainnya.)”
“HAH?!
MASIH ADA RATUSAN NAGA LAIN?!”
“(Benar.)”
“Hmm…”
Myllo
memikirkan sesuatu.
“Oh
ya, nama gue Myllo Olfret, calon Petualang Nomor—”
“(My…Myllo
Olfret?!)”
“Hmm?
Lo kenal gue?!”
“(Tentu
saja! Kau pasti terpisah dari rekan-rekanmu, kan?!)”
“Ya,
bener!”
“(Baiklah!
Naik ke atas punggungku! Biarkan aku membantumu mencari rekan-rekanmu!)”
“Haaaah?!
Emangnya nggak apa-apa?! Kan lo masih punya tanggungan untuk jaga tempat i—”
“(Haha…
Tenang saja. Anggap saja ini bayaran atas kekalahan saya melawan anda.)”
“Hmm…
OK kalo gitu!”
Balas
Myllo sambil berusaha menaiki punggung Göhran.
Namun
masih ada perasaan khawatir dari Royce.
“My…Myllo?
Apakah anda percaya Naga ini? Bagaimana jika semuanya hanya jeba—”
“Tenang
aja! Naga ini baik, kok!”
“…”
“Ayo!
Tunggu apa lagi, Royce?!”
Dengan
agak ragu, Royce pun ikut menaiki punggung Göhran.
“(Apakah
kalian semua sudah siap?!)”
“Si—”
“*FWUSHHH!
(suara terbang dengan sangat cepat)”
“KYAAAAAA!!!”
“WUHUUUUUU!!!”
Göhran
terbang dengan sangat cepat, hingga membuat Royce berteriak histeris. Namun
tidak bagi Myllo. Ia begitu menikmati aksi terbang cepat dari Göhran.
Göhran
yang terbang dengan sangat cepat kemudian menurunkan kecepatannya.
“(Haha!
Bagaimana?! Apakah kau menikmatinya?!)”
“Wuhuuuu!
Seru banget, Göhran!”
“JIKA
ANDA DAPAT TERBANG DENGAN PELAN, MENGAPA ANDA HARUS TERBANG SECEPAT TADI?!”
Teriak
Royce yang kesal dengan Göhran.
“(Hahaha!
Reaksi kalian berdua mirip sekali dengan Sylv dan rekan-rekannya ketika
terbang denganku!)”
“HAAAAAHHH?!
LO KENAL KAK SYLV?!”
“(Tentu
saja! Beliau bahkan tidak ada habisnya menceritakan tentang adiknya! Mungkin
takdir menuntunmu untuk mempertemukan kita, Myllo!)”
“Haha…
Kak Sylv…”
Sambil
terbang, mereka sama-sama bercerita tentang Pahlawan Sylvia Starfell.
“Apa?!
Ia mengalahkan semua Naga seorang diri?!”
“(Haha!
Tentu saja itu semua berkat Dewa kami, Fire
God of Dilligence, Arkathaz.)”
“Hah?
Maksudnya?”
“Sama
sepertimu yang seorang Saint dari Dewi Zegin, Sylv juga seorang Saint dari Dewa
Arkathaz.”
Mereka
begit menyayat hati Göhran.
“(Sy…Sylv…meninggal
dunia?!)”
“Ya…
Se…Semua salah gue… Ma…Ma…Maafin gue, Göh—”
“(Jangan
salahkan dirimu, Myllo!)”
“…”
“(Jika
kau masih menyalahkan dirimu, kau sama saja tidak menghormati kakakmu!)”
Tegas
Göhran kepada Myllo.
“(Tentu
saja aku sedih. Orang yang sangat ceria dan baik hatinya, harus meninggal dunia
di tangan Iblis. Tetapi, ia mati sebagai seorang Pahlawan. Walaupun bertemu dengannya
sementara, aku tetap bangga terhadapnya.)”
Lanjut
Göhran.
Mendengar
Göhran, Myllo tersenyum dengan perasaan bangga dan rindu akan kakaknya.
“Ya,
makasih banyak Göh—”
“Maafkan
saya sebelumnya jika memotong, tapi…bukankah itu Djinn?!”
Kata
Royce yang memotong perbincangan Myllo dan Göhran.
“Ah!
Iya! DJIIII—”
“*Cruk!
(suara tertembak)”
“(Si…Sial! Myllo! Royce! Waspada! Aku akan
terjatuh!)”
Tegas
Göhran setelah sayapnya tertembak senapan jitu.
““GÖHRAN!””
“(Pegang
aku dengan erat!)”
“*Bruk!
(suara terjatuh)”
Mereka
pun bersama-sama terjatuh ke permukaan. Untungnya Myllo dan Royce aman di balik
punggungnya.
“(Ma…Maafkan
aku, Myllo, Royce…)”
“Nggak.
Kita yang seharusnya minta maaf. Kita masuk sini bareng Dragonewt yang
keliatannya punya rencana jahat!”
Balas
Myllo.
Ia dan Royce pun menjelaskan kepada Göhran
tentang Erkstern, Morri, dan Dragonewt misterius yang hendak memasuki Hidden
Dungeon dengan tujuan misterius.
Namun,
Göhran mengerti tujuan mereka.
“(Aku tahu maskud kedatangan mereka!)”
“Hm?”
“(Mereka
hendak membawa raja kami, Fire Dragon King Tarzyn, ke dunia luar!)”
““!!!””
Myllo
dan Royce pun terkejut atas pernyataan Göhran.
Seketika,
Göhran merubah wujudnya menjadi Wujud Manusia, dengan rambut berwarna merah,
kulit yang kecoklatan, serta pupil berwarna kuning.
“Ayo
kita bergegas sekarang, Myllo, Royce! Tidak akan aku biarkan mereka mengganggu peristirahatan Raja Tarzyn!”
Seru
Göhran dengan ekspresi yang kesal.
Mereka
pun bersama-sama untuk mencari semua anggota Joint Party, sekaligus
memperingatkan semua Naga terhadap rencana para Dragonewt.
……………
Di
sisi lain, Gia dan keempat anaknya berhasil menemukan sebuah goa setelah mereka
semua dipertemukan dengan Zorlyan yang masih tidak sadarkan diri.
Melihat
kondisi Zorlyan yang sedang kritis, keempat anak Gia bersama-sama mencoba
menyembuhkannya dengan sihir mereka masing-masing.
Namun,
ketika Zorlyan membuka mata…
“Hmph!”
“*Jlub!
(suara tertusuk duri)”
““MAMA!!!””
“Tenang,
Zorlyan. Ini aku, Gia.”
…ia
mengira jika ia telah diculik oleh salah seorang Dragonewt.
Maka
dari itu, ia secara spontan menusuk siapapun yang ada di depan matanya dengan durinya.
“Gi…Gia!
Maafin gue!”
“Ya.
Kalian juga tenang ya, anak-anak.”
““Grrrr!!!””
Karena
melihat ibunya terluka, keempat anaknya tersebut secara naluri bersiap-siap
untuk menyerang Zorlyan.
“Tu…Tunggu!
A…Anak-anak…?”
“Hihi!
Iya! Anak-anak aku!”
Gia
pun menjelaskan tentang dirinya yang terpisah dan bertemu dengan anak-anaknya.
“O…Oh…gitu
ya…”
Jawab
Zorlyan yang masih tidak percaya mendengar cerita Gia.
“Zorlyan,
tadi sebelum kamu pingsan, kamu bilang mereka udah pada masuk, kan?”
“Gue
bilang gitu, ya?”
“Hmph.”
“Ya.
Maafin kita Gia, karena kita gagal kalahin mereka di Partar Forest.”
Kali
ini giliran Zorlyan yang menjelaskan tentang kekalahan mereka melawan para
Dragonewt, pengorbanan Urlant dan kematian Harrit, serta bagaimana ia berpisah
dengan yang lainnya.
“Abis
itu…kamu ketemu Morri di tempat ini?!”
“Ya.
Gue terlalu kesel, sampe lupa dia sebenernya sekuat apa…”
Kata
Zorlyan dengan urat yang menjalar di kepalanya karena kesal dan kecewa atas
kekalahannya melawan Morri.
“Urlant…
Harrit…”
“Ya,
gue juga—”
“Kalo
gitu, kita nggak punya banyak waktu lagi!”
“Gia?”
“Ayo
kita cari yang lain secepetnya!”
“Ya!”
Gia
bersama dengan Zorlyan dan anak-anaknya keluar bersama dari goa untuk mencari
Myllo, Djinn, dan juga yang lainnya.
Akan
tetapi, tidak lama setelah mereka berjalan bersama, mereka melihat suatu
penampakan yang begitu mengerikan.
“I…Ini
semua…”
“Mama…kita shemua takut…”
“Ya.
Jangan liat itu ya, anak-anak.”
““Ya,
mama.””
“Ada
apa, ini?”
Mereka
masih tidak menyangka ada puluhan jasad Naga yang terbunuh, hingga
bertumpuk-tumpukan.