
Aku pun menghabiskan 4 tahun bersama dengan Djinnardio dan kakek.
Walaupun ia dibilang anak terkutuk karena tidak memiliki Mana, namun ia memiliki wawasan yang sangat luas. Aku dan beberapa cucu yang lain pun belajar banyak darinya.
Dan 4 tahun kemudian, ketika Vamulran Kingdom sedang menjalani upacara pernikahan Paman Balzaer, Anak Ketujuh dari kakek.
Kala itu, kakek dan Bibi Luscika tidak dapat menghadiri upacara pernikahan itu karena dihadang oleh munculnya
******* yang menyerang salah satu wilayah Vamulran Kingdom.
Maka, tanpa kehadiran mereka, anak-anak dari kakek yang lainnya bisa bertingkah seenaknya kepada Djinnardio.
“Sayangku, ada apa denganmu?”
“Kau bertanya ada apa?! Ayahku tidak menghadiri pernikahanku! Bayangkan perasaanku! Seorang anak yang
terlupakan oleh ayahnya sendiri!”
Aku mendengar kemarahan dari Paman Balzaer kepada calon pasangan hidupnya dari balik ruangan mereka berdua, sebelum upacara pernikahan dimulai.
Selesai upacara pernikahan, kami melanjutkannya dengan pesta bersama.
Dan pada kejadian ini lah, salah satu momen paling memalukan bagi Djinnardio bermula.
“*Prang! (suara piring pecah)”
“Makanan macam apa ini?! Apakah anda mencoba untuk meracuni saya?!”
“Maafkan saya, Nona Muda. Saya akan menyajikan makanan lain untuk anda.”
Yang membanting piring itu adalah Rosnia Vamulran. Ia adalah anak dari Bibi Mirieth, Anak Keempat dari kakek.
Sedangkan budak tersebut adalah seorang Dwarf yang merupakan keturunan dari Irons Federation, salah satu negara besar yang hampir dikalahkan oleh kerajaan ini.
Sebelum budak itu memungut makanan-makanan itu, Rosnia menginjak-injak makanan itu terlebih dahulu.
“Sekarang, makan makanan itu! Setidaknya makanan itu menjadi lebih nikmat dengan kaki saya!”
““Hahahaa!””
Hampir semua orang ikut tertawa melihat itu.
““…””
Namun, ada juga yang geram dengan tingkah lakunya, sama sepertiku.
“Hiks…”
Dengan air mata, budak itu hendak memakan makanan yang sudah tidak berbentuk itu.
Namun…
“Mari saya temani.”
“A…Anda…”
“Panggil saja saya Djinnardio.”
“Tu…Tunggu, Tuan Mu—”
“…”
…Djinnardio tiba-tiba datang dan melahap makanan tersebut tanpa ragu.
“Li…Lihat, kan? Setidaknya masih bisa dimakan! Ahahaha!”
“Hey, Djinnardio! Mengapa kau tidak ajak-ajak aku!”
“Kau juga tidak mengajakku, Bralen!”
“Diam, Dralen!”
Mereka adalah adalah Si Kembar Bralen dan Dralen. Mereka berdua adalah anak-anak dari Bibi Edhlein, Anak
Keenam dari kakek, dan juga orang yang sangat mengagumi dan menghormati Bibi Luscika.
Aku pun hendak ikut bersama mereka bertiga. Akan tetapi…
“*Tap… (suara menepuk pundak)”
“Ka…Kakak—”
“Jangan kesana. Kamu hanya memperburuk keadaan, Luvast.”
“…”
“Lihat mereka semua.”
Rivrith, kakakku, mengingatkanku akan orang-orang yang memandang mereka bertiga dengan tatapan bagaikan serigala kelaparan yang melihat mangsa di depan matanya.
Khususnya, ayahku.
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Argh!”
““Djinnardio!””
Ayah tiba-tiba menendangnya dengan sangat keras, hingga ia terpental jauh.
“Aranual! Apa yang anda lakukan?!”
“Keterlaluan! Apa-apaan anda ini?!”
“Apakah pantas anda menendang—”
“*Vwumm… (suara api)”
“Berani berbicara dengan saya, maka jangan kalian pikir saya bisa menahan diri untuk membakar kalian bertiga.”
Mereka bertiga adalah Paman Frinuil, Bibi Edhlein, dan Paman Vharlo. Sama seperti Bibi Edhlein, kedua paman
itu adalah orang yang sangat menghormati Bibi Luscika.
Kedua paman itu adalah Anak Ketiga dan Kedelapan dari kakek.
Mereka memiliki tingkat pengolahan sihir yang sangat besar dan ahli di bidang mereka masing-masing,
namun mereka bukanlah seorang petarung.
Maka dari itu, ketika ayah mengancamnya dengan sihir api, mereka tidak bisa apa-apa.
“Paman! Hentikan!”
“Jangan macam-macam kepada Djinn—”
“Edhlein, saya beri kesempatan bagi anda untuk membawa anak-anak anda.”
“…”
Bibi Edhlein pun langsung bergegas untuk menarik Bralen dan Dralen dari dekat Djinnardio.
“Ma…Maafkan Bibi, Djinnardio.”
“Ti…Tidak apa-apa, Bibi.”
“I…Ibu! Jangan tinggalkan Djinnardi—”
“Maafkan ibu, Bralen! Ibu tidak bisa berbuat apa-apa!”
Bibi Edhlein pun pergi meninggalkan Djinnardio.
Setelah mereka meninggalkannya, Djinnardio mulai dipermalukan.
Tidak hanya ayah saja, bahkan ayah pun mengajak anak serta para keponakannya untuk berbuat serupa dengannya secara bergiliran.
Dari semua yang ada di ruangan ini, banyak sekali yang ikut tertawa dan terhibur karenanya.
Namun, yang tidak tertawa pun tidak bisa berbuat apa-apa, termasuk anak-anak dari kakek lainnya yang
menghormati Bibi Luscika.
“Anda dilarang ikut campur!”
“Siapa anda?! Berani-beraninya anda—”
“Hormat saya hanya kepada Tuan Aranual Vamulran!”
Ya. Ayah adalah pemimpin dari militer kerajaan ini. Tidak seperti Bibi Luscika yang memilih untuk bertarung
sendirian, ayah justru memiliki pasukan yang sangat banyak.
Maka dari itu, bahkan anggota militer pun bahkan hanya menuruti kehendak ayah.
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Urgh!”
“Theorlt!”
Paman Theorlt, Anak Terbungsu dari kakek, bahkan menerima pukulan dari pasukan ayah karena berusaha untuk
menolong Djinnardio.
Karena marah, aku pun berpikir,
“Jika tiada yang bisa menolongnya, maka aku harus menolongnya!”
“…”
“Luvast! Tidak!”
Aku pun berlari dengan nekat untuk menghadang yang lainnya dari Djinnardio.
“Cu…Cukup, ayah…”
Saat aku tiba di hadapan ayah, tubuhku mulai gemetar tidak karuan.
“*Phak! (suara tamparan)”
“Dasar anak memalukan, Luvast.”
Aku kira ayah akan berhenti jika aku menghentikannya. Namun nyatanya ayah bahkan tidak segan menamparku.
Di tengah ketidakberdayaanku karena tamparan ayah, seketika aku merasakan lantai yang begitu dinginnya.
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
Setelah merasakan tekanan aura yang begitu kerasnya, tiba-tiba seisi ruangan ini dipenuhi dengan es, yang
bahkan sebagian besar orang yang ada di tempat ini menjadi beku.
“Si…Sial! Mengapa anda datang, Lusci—”
“*Shrak! (suara tusukan dari es)”
“Urgh!”
Bibi datang dan menusuk ayah dengan sihir es-nya, yang datang dari lantai dan langsung menusuk tubuh ayah.
Ia kemudian menggendong Djinnardio yang sudah tidak sadarkan diri.
Setelah ia keluar, semua es di ruangan ini pecah dan suhu menjadi normal.
Walaupun aku merasa kesal karena tidak bisa melindunginya, namun aku merasa bersyukur karena ada Bibi Luscika yang bisa menolong Djinnardio.
..............
Selang beberapa lama, setelah pesta pernikahan Paman Balzaer, aku mendengar percakapan antara Bibi Luscika
dengan kakek dari luar ruangan kakek.
“Apa?! Anda akan meninggalkan kerajaan ini?!”
“Yang benar saja! Saya tidak mau kehilangan—”
“Jika anda takut kehilangan ‘senjata utama’ anda, setidaknya anak anda yang satu lagi adalah seorang yang
handal kepemimpinannya.”
“…”
Aku benar-benar terkejut.
Empat tahun aku bersama Djinnardio, dan itu adalah satu-satunya pelarianku dari ayahku sendiri.
Namun, mendengar Djinnardio yang akan pergi adalah pukulan terbesar yang pernah aku rasakan.
“Ti…Tidak! Saya tidak peduli dengan peperangan ini! Anda adalah anak saya! Saya tidak mau kehilangan
keluarga—”
“Saya juga punya kelurga, ayah! Tidak ada tempat yang aman bagi anak dan suami saya! Mau itu Vamulran,
mau itu Arschtein, semuanya sama—”
“Jangan bilang kalian tidak ada tempat! Aku menerima kalian semua—”
“Anda menerima kami, namun tidak dengan kerajaan ini! Tidak dengan budaya ini! Dan tidak dengan keluarga anda!”
“Lu…Luscika—”
“Bahkan suami saya pun dilarang masuk ke tempat ini karena ia adalah Manusia!”
Aku pun berlari dari depan ruangan itu.
Aku masih tidak bisa membayangkan hidupku tanpa Djinnardio.
Mengapa hari terakhir bersamanya harus ditutup dengan kenangan pahit darinya?
Namun, aku hanya bisa menerima realita, karena pada akhirnya Djinnardio dan Bibi Luscika benar-benar tidak
kembali ke Vamulran Kingdom.
Aku sangat sedih mendengarnya yang benar-benar pergi.
Tidak hanya aku saja, bahkan Bralen, Dralen, dan beberapa cucu kakek pun sangat bersedih ketika tidak bisa bertemu dengan Djinnardio lagi.
Sebagian anak-anak dari kakek pun juga merasakan hal yang sama.
Namun…
“Sial, kita kehilangan ‘hiburan’ kita.”
“Saya yakin, sebentar lagi ayah pasti akan menyesal memberikannya perhatian yang lebih besar kepadanya
dibandingkan kita, namun tetap ditinggalkannya pada akhirnya.”
“Ya, setidaknya tidak ada lagi ‘kutu’ lagi di tengah-tengah kita.”
…anak-anak lainnya, termasuk ayah, justru merasa senang karena kepergian mereka berdua.
Aku kira aku tidak akan bisa berbicara dengannya lagi.
Hingga tiba-tiba, aku menerima sebuah surat yang diantarkan oleh salah satu budak ayah.
“Halo, Luvast! Maaf jika aku tidak sempat berpamitan denganmu! Aku tidak akan menyebut perpisahan, karena
dengan surat ini aku masih bisa menghubungimu! Kutunggu balasan darimu!”
Betapa senangnya hatiku menerima kabar darinya.
Bahkan aku pun tidak kuasa menahan air mataku ketika mendengar kabar darinya.
Walaupun kami tidak bertemu, setidaknya kami masih bisa berkomunikasi lewat surat ini, walaupun aku harus
bersembunyi dari ayah untuk menyampaikan surat ini.
Kami pun menghabiskan waktu 4 tahun untuk berbicara lewat surat. Tidak hanya aku saja, bahkan cucu-cucu yang
dekat dengannya pun melakukan hal yang sama.
Ya, 4 tahun. Karena ketika kami berumur 15 tahun, aku tidak mendengar kabar darinya lagi.
“*Brak! (suara terjatuh dari kursi)”
“A…Apa katamu…”
“Ma…Maafkan hamba, Yang Mulia! Ka…Karena kelemahan hamba… Nyo…Nyo…Nyonya Muda telah…”
Mendengar kabar dari Phistria, orang yang menemani Bibi Luscika dan keluarganya, Vamulran Kingdom pun berduka.
Di tengah kesedihanku, aku menjadi sangat khawatir akan Djinnardio.
Aku ingin menemuinya.
Karena aku terlalu memikirkannya, aku pun teringat akan kata-katanya lewat surat.
“Kamu mau jadi Petualang? Pasti kakek izinin kok! Lagian kan, Petualang itu pekerjaan yang baik karena
menolong orang!”
Ya, satu-satunya cara untuk menemuinya adalah dengan menjadi Petualang.
Maka dari itu, aku memberanikan diri untuk menyampaikan cita-citaku kepada kakek. Hingga pada akhirnya aku dan ayah dipanggil di hadapannya.
“Tidak! Saya tidak mengizinkan anak saya menjadi Petualang!”
“Mengapa?”
“Sesuai peraturan leluhur kita! Tidak boleh ada yang menginjak tanah diluar negara kita, selain untuk menjaga
kehormatan ki—”
“Luvast! Semoga anda menjadi Petualang hebat di luar sana!”
“A…Ayah!”
“Anda berani menentang raja anda, Aranual?!”
“Ti…Tidak. Maafkan hamba, Yang Mulia.”
Ayah pun meninggalkan ruang singgasana. Yang tersisa hanya aku dan kakek saja.
“Luvast, kemarilah.”
Ketika aku menghampiri kakek,
tiba-tiba kakek memeluk erat tubuhku.
“Ka…Kakek?”
Terasa air mata di pundakku.
“Ji…Jika kamu menemuinya, tolong kabari kakek, nak!”
“Hiks… Ba…Baik, kakek!”
Kami pun berpelukan sebelum aku memulai perjalananku sebagai Petualang.
..............
Dua tahun aku menghabiskan waktuku menjadi seorang Petualang, sambil mencari tempat tinggal Djinnardio. Hingga pada akhirnya, aku mendapatkan Quest untuk menginvestigasi Black Guild yang bernama Goldiggia.
“A…Apakah anda adalah Putri Luvast?!”
“Sial! Karena ayah anda, maka kami dijual seperti ini!”
“Seandainya saja Putri Luscika masih hidup!”
Mereka adalah korban dari ayah.
Tidak hanya tindakannya saja yang kotor kepada Djinnardio.
Ketika aku menemukan warga Vamulran yang ditangkap oleh Goldiggia, aku pun menemukan fakta bahwa tindakan ayah juga keji kepada rakyatnya sendiri.
Namun, momen ketika aku menemukan warga-warga Vamulran pun sebenarnya adalah jebakan untukku.
“Kubiarkan mereka hidup, jika anda mau kerja untuk saya, ‘Putri’ Vast. Hahahaha!”
Aku pun tidak bisa berbuat banyak.
Demi menebus nama burukku karena ayah, aku harus membuktikan diri kepada mereka dengan menyelamatkan mereka.
Pemerasan, pembunuhan, dan kejahatan-kejahatan lainnya harus kulakukan.
Hingga pada akhirnya, aku menemukan tempat tinggal Djinnardio, yang terdapat di desa yang telah diserang
oleh pasukan Goblin.
Ketika tiba di kediamannya, aku menemukan sebuah racun dan sepucuk surat di atas meja.
“Aku lelah. Lebih baik aku mati saja. Jika aku mati, semoga aku terlahir kembali dengan hidup yang lebih
berwarna.”
“Dji…Dji…Djinnardio…?”
Aku pun bingung dan ketakutan.
Bagaimana jika ia benar-benar bunuh diri?
Sampai pada akhirnya aku menemukan dirinya yang berada di dalam sebuah Penampungan milik Goldiggia.
Wajah pucat dan tatapan kosong, seakan ia telah mati.
“…”
“Mau kemana lo, Vast?”
Aku tidak memperdulikan pertanyaan itu.
Karena…
“Hiks…hiks… Djinnardio… Maafkan aku, saudaraku!”
Aku hanya ingin menangis saja.
Aku benar-benar merasa kehilangan.
Namun pada kenyataannya tidak.
Aku bersyukur ia masih hidup.
Akan tetapi…
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
Siapa sebenarnya dia?
Mengapa ia menjadi sangat berbeda?
Apakah ia masih saudara yang kukenal?
“…”
..............
Sekarang ia berada di hadapanku, dengan tidak sadarkan diri.
Aku pun menjadi gelisah harus berbuat apa di depannya.
Haruskah aku menyambutnya ketika ia bangun?
Atau…haruskah kubunuh selama ia masih tidak sadarkan diri?