
“Ayo kita serang pria itu, Piedda!”
“Baik!”
Satu lawan dua, ya?
Ya gue nggak begitu peduli, sih.
Mau berapa pun jumlah mereka, mau lawan gue cowok atau cewek.
Yang pasti gue udah kesel banget, gara-gara kaki gue digigit hiu tadi!
“*Swush!”
Mending gue yang langsung nyerang aja!
Dia pake sihir yang sama, kan?!
“*Swush!”
Lo pikir gue takut?!
“Mu-Mustahil! Cepat sekali gerakan—”
“*Jgrum!”
Cih! Sebenernya ini tuh dipake Narciel waktu lawan gue di dalem kastil[1]! Tapi selama itu sihir yang efektif untuk lawan yang keliatannya kuat, nggak ada salahnya kalo gue pake!
“*Shrrrkk…”
Tuh, kan.
Buktinya aja dia bisa langsung pasang Ice Magic, sebelum gue bisa tendang kepalanya!
“*Chrrrkkk……”
“*Swush!”
Cewek yang namanya Piedda itu ternyata kenceng juga ya, gerakannya? Tapi mumpung dia lagi jaga jarak dari gue, mendingan gue serang cewek yang namanya Jenna ini aja dulu!
“*Swush!”
Sialan! Dia bahkan bisa hindarin pukulan gue yang ada di depan matanya?!
“Hyaaaagh!”
“*Bwush!”
“!!!”
Buset! Dia ternyata juga bisa pake sihirnya untuk serang gue yang ada di depan mukanya! Untung aja gue masih bisa hindarin serangan air yang keluar dari telapak tangannya!
“Piedda! Serang wanita itu, sekarang juga!”
“Baiklah! Nyonya Jenna!”
Dia mau nyerang Ocean Witch?!
Lo kira bakal gue bia—
“*Bwush!”
“Jangan kau pikir kau bisa pergi ke dariku, Djinn Dracorion!”
Sialan!
“*Dhuk!”
“Urgh!”
“*Bruk, bruk, bruk…”
“Akh!”
Bagus! Seenggaknya dia udah kepental agak jauh, deh!
“Hyaaaa—”
“*Swush!”
“!!!”
Untung aja gue bisa gerak cepet, sebelum Piedda berhasil nyerang cewek ini!
“*Tap!”
Gue tahan lengan yang dia pake untuk nyerang cewek ini.
Abis itu…
“*Bhuk!”
“Urgh!”
“*Swush!”
“*Bruk, bruk, bruk…”
…gue lempar Piedda supaya nggak deket-deket cewek ini!
“Djinn. Biarkan saja.”
Biarkan?
“Maksud lo apa—”
“Biarkan saja mereka membunuhku.”
“…”
Kenapa gue bawaannya kesel banget dengernya?
“Jika keberadaanku berbahaya, serta kematianku membawa perdamaian, alangkah baiknya jika—”
“Bawel! Kenapa lo pengen banget mati, sih?!”
“Karena—”
“Denger gue baik-baik! Gue dulu juga pengen mati!”
“!!!”
“Tapi apa itu bawa damai?! Hah! Omong kosong! Jangankan buat dunia! Bahkan buat diri sendiri aja nggak bawa damai!”
“Djinn…”
“Lo pikir lo itu siapa?! Emangnya kematian lo bener-bener bisa bawa—”
““Hyaaaagh!””
Brengsek, mereka cepet banget baliknya!
“…”
Karena pake Mata ini, gue bisa liat telapak tangan mereka yang berair.
Kalo gitu…
““*Tap…””
…gue tahan telapak tangan mereka, terus…
“*Crrrkcrrrkkcrrrkkk…”
““Aaaargh!””
…gue setrum mereka berdua pake petir gue!
Tapi nggak sampe situ aja!
““*Swush!””
Mending gue lempar aja dulu mereka berdua, sampe jauh dari cewek satu ini!
Tapi ada yang aneh…
Kenapa cara nyerang mereka sama?
Di mata gue, kesannya mereka itu kayak orang-orang yang—
“Djinn. Mengapa kau begitu susah payah untuk menolongku?”
“…”
Kenapa ya?
Apa karena dia lupa ingetan?
Apa karena gue yakin dia nggak salah?
Atau mungkin karena gue penasaran dia siapa sebenernya?
Nggak, bukan itu jawabannya.
“Gue cuma mau temenin lo aja, supaya lo nggak ngerasa kesepian.”
“…”
Ya, cuma itu jawabannya. Entah kenapa ada dorongan untuk kasian sama cewek satu ini. Karena rasa kasian itu, jadi timbul dorongan untuk temenin dia. Ya, semoga aja perasaan ini nggak berlebihan. Yang pasti, gue punya firasat kalo gue bisa percaya sama cewek ini.
“Djinn…”
“Apaan?”
“Terima kasih banyak, Djinn. Tidak kusangka, kau tidak seperti yang wanita itu katakan di dalam memoriku.”
Sebenernya jangan bilang makasih ke gue.
Kalo nggak karena Kapten gue yang dongo itu, yang terlalu naif untuk anggap semua orang itu temennya, mungkin gue nggak akan kepikiran kayak gitu.
“Kalo lo mau bilang makasih, mending ngomong aja ke Kapten gue—”
“Djinn Dracorion!”
“…”
Mereka udah balik lagi, ya?
“Mengapa…”
“Mm?”
“Mengapa kau bersikeras membantu perempuan itu?! Memangnya siapakah perempuan itu di matamu?!”
Dia nanya gue gitu?
“Kalian penasaran? Kalo gitu, kenapa kalian pengen banget bunuh cewek ini?!”
“Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan!”
“…”
Keliatannya mereka mulai jaga jarak, ya?
Kalo gitu, sekarang waktunya yang tepat untuk…
“Jawab pertanyaan pake pertanyaan?! Emangnya kenapa?! Suka-suka gue, dong! Apalagi jawab pertanyaan dua cewek gila kayak kalian! Mana gue pikirin?!”
…pancing emosi mereka!
“Apa katamu?! Kami ini orang gi—”
“Emang! Dasar psikopat! Gila darah!”
“Di-Diam, Djinn—”
“Pembunuh!”
“Henti—”
“Bahkan Monster Intelektual lebih baik daripada kali—”
“HENTIKAN!”
“*BWUSH!”
Bagus!
Piedda mulai nyerang gue duluan, walaupun dari jarak jauh.
Tapi serangan sihir dia keliatannya susah untuk dikontrol!
Kalo gitu…
“TARIK KATA-KATA KASARMU DARI NYONYA—”
“*Swush!”
…mending gue samperin dia yang lagi nyerang gue untuk gue ha—
“*Bwush!”
Cih! Dia di-cover Jenna,
ya?!
“Piedda! Jangan terpancing oleh provokasinya! Ia berusaha untuk mencari kesempatan untuk menyerang kita!”
“Ba-Baiklah, Nyonya Jenna.”
Hmm…
Kenapa ada yang baru gue sadarin, ya?
Selain Jenna yang selalu dipanggil “Nyonya” sama Piedda…
“…”
…Jenna juga bisa regenerasi?!
“*Tap…”
“*Ngunggg…”
Cuma modal disentuh aja, Jenna bisa sembuhin Piedda yang udah sekarat?!
Gila! Siapa sih sebenernya cewek ini?!
“Tunggu di sini terlebih dahulu, Piedda. Biar aku yang melawannya.”
“Tu-Tunggu, Nyonya Jen—”
“Kubilang tunggu!”
“Ba-Baiklah.”
Cih!
Entah kenapa, feeling gue nggak enak.
“Djinn Dracorion. Kali ini, aku akan menghadapimu dengan serius.”
Hah?!
Maksudnya daritadi dia main-main aja, gitu?!
“*Bwush…”
Tunggu! Dia bilang apa?!
Apalagi…
“…”
…kenapa tiba-tiba ada kumpulan air gitu di atas kepalanya?!
“*Bwushwushwush…”
“!!!”
Dia bisa tembakin air dari bola air itu?!
“*Brukbrukbrukbruk…”
Bahkan tembakan air itu bisa hancurin bebatuan di sekitar goa ini, ya?!
Sialan! Gue nggak ada pilihan lain, selain menghindar!
“*Swush, swush, swush…”
Kalo nggak karena Mata ini, kali badan gue udah bolong-bolong karena nggak bisa hindarin serangan dia!
Sambil lompat sana-sini, mending gue siapin Sihir Petir gue untuk bales serangan dia!
“*Crrkkcrrkkcrrkk…”
Kumpulin semua Mana di dalem badan gue, terus—
“Sudah kuduga. Selain menggunakan Thunder Magic milikmu itu, kau juga menggunakan Extra Capacity, benar?”
“!!!”
Dia tau soal kemampuan gu—
“*DHUMMM……”
Brengsek! Aura itu la—
“*Bwushwushwush…”
Sialan! Jadi kenceng ba—
“Sekarang! Piedda!”
“*Shruk!”
“Urgh!”
“Djinn!”
Brengsek!
Gue nggak sadar ada Piedda yang ngumpet-ngumpet serang gue pake ekor ikan pari yang dia panggil pake sihirnya!
“*Bruk, bruk, bruk…”
Gu-Gue nggak nafas!
Badan gue susah bergerak!
“Baiklah! Waktunya aku membunuhmu sekarang juga, Djinn Dracorion!”
“*Bwushwushwush…”
Bo-Bola air dia kenapa jadi gede banget!
“*BWUSH!”
Cih! Bola itu nggak bakalan bisa gue hinda—
“…”
“!!!”
Kenapa Ocean Witch berdiri di depan gue?!
“Woy! Ming—”
“Tidak akan kubiarkan temanku menderita demi a—”
“*BWUSH!”
“Keuk!”
Ke-Keras banget sihir air i—
“!!!”
Badan gue udah bisa ge—
“*BRUK!!!”
Urgh! Sakit banget nabrak dinding goa ini!
“*Bruk, bruk, bruk…”
Untungnya gue masih bisa tahan Ocean Witch ini!
Tapi keliatannya dia udah nggak sadar!
“Woy! Bangun, woy!”
“…”
Cih! Kenapa dia keliatannya kayak udah mati, ya?!
“*Tap, tap, tap…”
Bahkan gue tepok aja dia nggak bangun!
“Woy! Lo masih sadar, kan?!”
“*Tap, tap, tap…”
“Woy!”
“*Tap…”
“…”
Dari tepokan terakhir gue, tiba-tiba semua jadi lambat.
Semakin lambat, tiba-tiba jadi berhenti.
Entah kenapa, rasanya kayak pukulan terakhir gue ke Tarzyn[2].Artinya, secara nggak langsung gue bakal liat memori dia, ya?
Tapi, gimana cara gue liat memori orang yang lupa ingetan?
_______________
[1]Chapter 136; Narciel menunjukkan miliknya di dalam kastil.
[2]Chapter 85; Pukulan Djinn ketika melawan Tarzyn di atas langit.