Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 250. Sickness



“*DOR! DOR! DOR!”


““Aaargh!””


Dalbert terus menembak anggota Children of Purgatory.


“Si-Sialan! Kenapa bisa mereka—”


“Humph!”


“*BHUK!!!”


“…”


Zhivreeg dengan pukulan kerasnya berhasil mengalahkan salah seorang anggota Children of Purgatory, tepat di Jiwa-nya.


((Kinetic Arrow: Rainstorm))


“…”


Dengan sihirnya, Eìmgrotr menembak Jiwa milik banyak anggota Children of Purgatory.


“Udah semua, ya?”


“Sepertinya begitu, Dalbert Dalrio.”


Jawab Eìmgrotr kepada Zhivreeg, setelah mereka mengalahkan seluruh anggota sekte tersebut.


Dari antara mereka berempat…


“*Bruk…”


…Garry yang pertama kali jatuh kelelahan.


“Ca-Ca-Capek euy! Anying!”


Seru Garry dengan kelelahan.


“Ca-Capek…?”


“Ya iyalah, anying! Sia kira teh aing nggak kecapean harus pasangkeun Roh di sekitar kalian untuk cari Jiwa mere…”


““!!!””


Garry seketika pingsan.


“Lihat! Itu Gazobile untuk mengevakuasi warga Gazomatron!”


“Dalbert, mending kita bawa Garry pergi dari sini!”


“Y-Yaudah. Bawa dia aja dari sini!”


Seru Dalbert dengan perasaan sedikit kecewa.


“Semoga kalian baik-baik aja ya selama perjalanan!”


“Ya. Kami akan usahakan sebisa kami!”


Balas pengendara Gazobile yang aka membawa Garry pergi menuju titik evakuasi.


Namun, tidak lama setelah dirinya terpingsan, gelombang kedua datang.


“Ruoaaaar!”


“Sial! Ada Undead Dragon!”


Seru Dalbert dengan cemas.


“Tidak hanya itu saja! Perhatikan baik-baik! Di Undead Dragon tersebut, terdapat anggota Children of Purgatory!”


“Ya, udah gue duga! Pasti pasukan mereka nggak cuma ini aja!”


Balas Dalbert kepada Eìmgrotr.


“Cih! Giliran Garry pergi, kita harus lawan mereka semua!”


Pikir Dalbert dengan kesal, yang mengira bahwa anggota Children of Purgatory saja yang harus ia dan yang lainnya hadapi.


Namun pada kenyataannya…


“*BRUK!!!”


…Sickus, salah seorang Acolyte datang menghampiri mereka.


“Oi, oi, oi! Jangan lo kira mereka aja yang dateng! Gue orangnya gampang sakit hati loh kalo dilupain gitu aja!”


Sahut Sickus kepada Dalbert dan rekan-rekannya.


“Si-Siapa lo?! Kenapa tiba-tiba dateng di si—”


“*Zhum!”


Sickus mengeluarkan aura mengerikan, yang membuat Dalbert dan yang lainnya hampir berlutut ketakutan.


“Ups! Sorry sebelumnya! Gue ini orangnya terlalu sensitif! Gue nggak ada niat untuk nakut-nakutin kalian, loh!”


Kata Sickus, dengan niat meremehkan mereka.


“Coba jelasin ke gue, dong! Gimana cara ngalahin kerdil-kerdil ini. Padahal tadinya kita percaya diri banget loh bisa nggak ada—”


“Woy… Niat lo ke sini… bukan untuk ngobrol bareng kayak gini, kan…?”


“…”


Sickus hanya menatap Dalbert dengan tajam.


“Haaah… Susah emang ngobrol sama orang-orang sombong kayak kalian. Padahal gue cuma udah coba


untuk bersahabat loh sama kali—”


“Hah…! Buat apa gue bersahabat sama orang-orang yang nggak punya tempat di dunia, yang akhirnya jadi teroris…?!”


““!!!””


Tidak hanya anggota Children of Purgatory saja yang terkejut dan marah besar dengannya, bahkan Eìmgrotr dan Zhivreeg sama terkejutnya dengan hinaannya.


“Da-Dalbert! Apa yang telah kau katakan?!”


“Yang gue bilang? Itu semua fakta, kok. Mereka itu orang-orang yang hidupnya tertindas waktu kecil, sampe akhirnya Children of Purgatory yang kebetulan dateng seakan-akan jadi semacam pahlawan di mata mereka.”


Jelas Dalbert kepada mereka semua.


Namun, Dalbert mengerti apa yang mereka rasakan sebenarnya.


“Nggak cuma Auqveern yang orang tuanya jadi anggota sekte sesat itu! Beberapa anggota Riorio Merchant atau BBE juga punya kerabat yang juga jadi bagian dari mereka!”


Pikir Dalbert.


“Aku mengerti maksudmu, Dalbert. Tapi bukan waktunya kita—”


“Semuanya. Jangan sentuh orang itu. Dia bagian gue.”


Perintah Sickus kepada rekan-rekannya.


Namun, alih-alih mengikuti perintahnya, mereka semua justru melawan kehendaknya.


“Gila aja kali, Sickus!”


“Emangnya lo doang yang kesel?!”


“Woy! Gue juga kesel, woy! Gue mau bantai di—”


“*Zhum!”


“YANG BERANI NYENTUH DIA, GUE BUNUH SEKARANG JUGA!”


Teriak Sickus dengan marah besar dan aura yang menakutkan.


“Eìmgrotr, Zhivreeg, denger gue baik-baik.”


““Hm?””


“…”


Dalbert menjelaskan sesuatu kepada Eìmgrotr dan Zhivreeg.


“L-Lo gila kali, ya?!”


“A-Apakah kau yakin caramu akan berhasil?!”


Tanya mereka berdua dengan khawatir.


“Tenang aja! Biar gue yang—”


“Serang mereka! Sekarang!”


““Hraaaaagh!””


Sickus bersama anggota Children of Purgatory lainnya menyerang mereka bertiga.


“Waduh, gawat! Ayo gerak sekarang!”


Seru Eìmgrotr dan Zhivreeg, sambil mereka berdua berlari terpisah dari Dalbert.


Dengan begitu, Dalbert berlari sendirian dari kejaran Sickus, sementara dua rekannya berlari dari kejaran anggota Children of Purgatory.


((Pistol))


Dalbert merubah senapan jitu miliknya menjadi pistol.


“*Dor, dor, dor…”


Ia menembak Sickus tanpa henti.


Namun, berkat regenerasi yang abnormal, luka tembak milik Sickus langsung kembali seperti semula.


((Sick Ball))


“*Pwush…”


Dalbert menghindari lemparan bola dari Sickus, yang pecah ketika membentur benda padat.


Walaupun tidak mengetahui kemampuan bola tersebut, namun Dalbert mewaspadai bola-bola tersebut dengan berlari menjauhinya.


“Kira-kira bisa apa bola itu?! Dia nggak asal lempar aja, kan?! Entah kenapa, lemparannya sengaja banget!”


Pikir Dalbert yang menganalisa sihir milik Sickus.


“*Swush…”


“*Dor!”


Selain menghindarinya, Dalbert juga menembak bola-bola tersebut, sebelum hancur di dekatnya.


“Cih! Ini nih yang katanya terkenal di Erviga?! Ternyata cuma bisa menghindar doang, ya?! Hmph! Dasar sampah!”


Ejek Sickus sambil terus mengejar Dalbert.


Mendengarnya, Dalbert mendapatkan kesempatan baru.


“Hah?! Lo kecapean ngejar gue?! Oh iya! Kan lo biasa dikejar-kejar, ya?!”


Balas Dalbert kepada Sickus.


Karena balasan ejakan itu…


“DALBERT DALRIO!!!”


…Sickus menjadi lebih marah dari sebelumnya.


“*Swush, swush, swush…”


“*Dor, dor, dor…”


Ia melempar bola lebih banyak lagi, tetapi Dalbert menembak semua bola-bola tersebut.


Hingga pada akhirnya, Sickus masuk ke dalam jebakan yang Dalbert rancang.


“*Cyut…”


“Urgh! A-Apaan nih?! Kenapa lengket banget?!”


Seru Sickus, ketika ia terjebak di benang-benang lengket milik Zhivreeg.


Ketika ia menatap ke atas…


“!!!”


…ia melihat seluruh rekan-rekannya yang terjebak di dalam benang-benang lengket itu.


“S-S-Sialan lo, Dalbert Dalrio!”


“Hah! Ternyata segampang itu ya pancing orang yang emosian!”


Kembali ejek Dalbert kepada Sickus, walaupun…


“Cih! Dari semua orang, kenapa gue harus ikutin caranya Si Bego?!”


…ia merasa kecewa dengan rencananya.


“Hraaaagh!”


“*Swush, swush, swush…”


Dengan putus asa, Sickus melempar terus bola-bola yang ia ciptakan, sebelum ia benar-benar tidak bisa bergerak karena sihir milik Zhivreeg.


“*Dor, dor, dor…”


Lagi, dengan mudah Dalbert menembak bola-bola itu.


“Eìmgrotr, anggota lainnya udah pada pingsan, kan?”


“Sudah. Tidak kusangka, caramu ini terbukti efektif, walaupun sangat berbahaya bagimu.”


“Hmph! Tenang aja, Eìmgrotr! Gue nggak akan mati segampang itu!”


Balas Dalbert.


Akan tetapi, apa yang ia katakan tidak sesuai dengan yang ia harapkan.


“Artinya kita tinggal buat dia—”


“Uhok!”


“Da-Dalbert! Ada apa dengan—Uhuk! Uhuk, uhuk, uhuk!”


“A-A-Ada apa sama kita…?!”


Seru Zhivreeg, setelah mereka bertiga batuk berdarah bersama-sama.


Tidak hanya itu saja.


““*Bruk…””


Tubuh mereka bertiga seketika demam menggigil.


““…””


Indera perasa mereka terasa seperti mati rasa.


“*Ngiiiiiinnngggg…”


Telinga mereka berdengung kencang.


“Ke-Ke-Kenapa ini…?!”


“A-Ada apa sama ki—”


“*Prok, prok, prok…”


““!!!””


Mereka bertiga terkejut dengan tepuk tangan dari Sickus, yang terlepas dari benang lengket milik Zhivreeg, dengan wujud yang berbeda.


“D-Dia… masih orang yang sama…?”


“Hah? Ya pasti, lah! Bedanya, ini Demon Mode gue, Dalbert Dalrio!”


Jelas Sickus, dengan satu tanduk yang bercabang di ujungnya, serta sisik yang mengerikan di sekitar lengannya.


“Kenapa? Lo takut? Baru pertama kalinya liat wujud kayak gini?”


“…”


Dalbert hanya diam saja sambil memikirkan cara terbaik untuk menghadapi Sickus.


“Ayo diri! Buktiin kalo lo pantes dipuji-puji kayak di


Ervi—”


“…”


Dalbert pun bangkit berdiri sekuat tenaga untuk menghadapi Sickus.


“A-Apa maksud lo dipuji…?”


“Hm?”


“Sorry aja, gue bukan orang yang suka dipuji! Kalo perlu… hina gue sebanyak mungkin…! D-Dasar bego…!”


“!!!”


Mendengarnya membuat Sickus menjadi semakin marah.


“Haha… Udah mau mati pun, lo masih bisa bikin emosi, ya?!”


“…”


Dalbert hanya tersenyum saja, sebelum menghadapi pertarungan terbesar baginya.