Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 359. How to Open The Path



Dalbert mulai menghadapi Atsutaka Akawashi, seorang Kepala Komisi Intelijensi di Bakufu.


“*Dor, dor, dor…”


“*Chring, chring, chring…”


Ia terus menembakinya tersebut, walaupun Beastman tersebut menangkal peluru-pelurunya dengan pedang.


“Senjata yang bernama pistol, yang menggunakan amunisi yang terbatas. Tetapi yang kulihat, ia terlihat sangat gegabah dalam menggunakan amunisinya. Berarti ada kemungkinan amunisi senjatanya berdasarkan Mana.”


Bisik Akawashi, sambil terus menangkal tembakan pistol Dalbert.


“Sekarang giliranku, Dalbert Dalrio!”


Serunya, sambil terbang dan mempersiapkan serangannya.


((Kakyū iki))


“*VWUMM!!!”


Dengan sihirnya, Akawashi menyemburkan bola api dari mulutnya.


“…”


Dalbert menghindari serangan itu. Namun sihir yang digunakan Akawashi belum selesai.


“*Boom!”


““*Chaaaaakkk!!!””


Ketika bola api itu meledak setelah menyentuh tanah, seketika muncul beberapa elang berapi yang mengejar


Dalbert.


“*Bruk!”


“*Boom! Boom! Boom!”


Dalbert terus menghindari beberapa elang berapi itu. Ia menggunakan beberapa benda yang ia temui di sekitarnya untuk menghadang elang berapi, yang meledak ketika menabraknya.


“*Chaaaak!”


“…”


Dalbert melihat adanya satu elang berapi yang tersisa.


“Bagus deh! Tinggal sisa satu!”


Pikirnya dengan lega.


Akan tetapi…


“Aduh!”


“T-Tidak! Anakku!”


“!!!”


…di depannya terdapat Beastman cilik yang terjatuh.


“Cih, sialan! Nggak mungkin kan gue pake anak ini untuk hadang elang berapi itu?!”


Pikirnya dengan kesal.


Oleh karena itu…


“*Boom!”


“Aaargh!”


…ie memprioritaskan keselamatan anak itu, dengan menggunakan Tubuh-nya untuk melindungi Beastman cilik itu.


“O-Onīchan…?”


“P-Pergi… dari sini… sekarang…!”


“Y-Ya!”


Balas Beastman cilik itu, yang langsung berlari bersama ibunya.


“*Prok, prok, prok…”


“…”


Dalbert menatap tajam Akawashi, yang menghampirinya sambil bertepuk tangan.


“Tidak kusangka, bahwa bandit sepertimu rela berkorban untuk menyelamatkan nyawa musuhnya. Sepertinya sebutan pahlawan Erviga tidaklah berlebihan untuk kriminal sepertimu.”


“Oh gitu…? Artinya… bandit kayak gue… lebih baik dong… daripada bajingan yang punya jabatan… tapi nggak peduli sama rakyatnya…!”


Kata Dalbert, yang membalas cemoohan Akawashi.


“Hahaha! Tidak peduli, kau bilang? Justru jika bukan karenamu, anak kecil itu tidak akan—”


“Emangnya… gue ngomongin soal anak kecil itu…?”


“Hm? Siapa maksudmu?”


“Warga Kumotochi yang ada di luar tempat ini…! Mereka hidupnya susah…! Tapi kalian… hidup nyaman di tempat ini…! Bahkan demi ngejar buronan pun… kalian tega bunuh mereka…!”


Seru Dalbert, sambil menahan rasa sakit karena ledakan elang berapi tadi.


Mendengar perkataan Dalbert, Akawashi justru hanya menyeringai.


“Hm? Warga Kumotochi? Buat apa kami memikirkan mereka? Bukankah salah nenek moyang mereka yang pergi


meninggalkan kota ini?”


“…”


“Andai nenek moyang mereka mau sujud kepada siapapun yang memimpin Bakufu, mungkin mereka tidak perlu tertindas seperti itu! Tetapi nenek moyang mereka pergi meninggalkan kota ini, karena tidak terima dengan Kazedori Satoshi-sama yang menjadi Shogun!”


“…”


“Hmph! Dasar binatang-binatang itu! Mereka pikir mereka siapa?! Bukankah nasib malang yang mereka rasakan karena ulah mereka sendiri?!”


“…”


Dalbert terus terdiam, tanpa memberikan komentar apapun.


“Sama sepertimu, Dalbert Dalrio!”


“…”


“Pahlawan Erviga?! Hmph! Bandit tetaplah bandit! Jangan kau pikir kau—”


“*Shrak!”


“!!!”


Akawashi terkejut, ketika mendapati kedua sayapnya yang terpotong oleh Obscure Cloak dan Bracelet Armament miliknya.


“Aaaaargh!”


Ia pun menjerit kesakitan.


Namun momen tersebut adalah momen yang ditunggu Dalbert.


“*Dhuk!”


“*Krak”


“Ummph!”


Dalbert menendang paruh elang milik Akawashi, hingga hancur.


“Pistol!”


“*Dor, dor, dor!”


Lalu ia menggunakan Bracelet Armament miliknya untuk menembak Akawashi dari jarak yang dekat.


“Blade!”


“*Shrak, shrak, shrak, shrak!”


Setelah itu ia memotong kedua lengan dan kakinya.


“*Krrrttt…”


Kemudian ditutup dengan menginjak kepalanya.


“Hmph! Untung aja lo terlalu banyak omong, sampe nggak tau tentang senjata gue yang kasat mata!”


“…”


Akawashi berusaha untuk melepas kepalanya dari kaki Dalbert, tetapi ia tidak memiliki lengan dan kaki setelah


dipotong olehnya.


“Lo bilang apa, sebelumnya?! Warga Kumotochi pada pergi dari sini karena nggak terima pemimpin negara ini?!”


“…”


“Hmph! Wajar aja mereka pergi, kalo salah satu anggota pemerintahnya kayak lo!”


“*Dhuk!”


“!!!”


“Dasar sampah! Bahkan bandit aja harga dirinya lebih tinggi daripada lo!”


Seru Dalbert, dengan menendang kepala Akawashi.


“Haaaah… capek juga lawan orang ini…!”


Kembali seru Dalbert, sambil berjalan meninggalkan Akawashi yang ia kalahkan.


Mungkin itu yang ia pikirkan.


Hingga…


“Hm?! K-Kenapa… tiba-tiba panas banget…?!”


…ia merasakan sesuatu yang aneh di sekitarnya.


“Haaaaah…”


“!!!”


Dalbert menoleh ke belakang dengan terkejut, ketika mendengar mendengar suara seseorang yang menghela nafas.


“Tidak kusangka…”


“*Vwumm…”


“…jika aku dipaksa menggunakan teknik terlarang ini!”


Seru Akawashi, dengan Tubuh-nya yang diselimuti oleh api yang sangat panas.


“Cih! Ternyata belom selesai!”


Seru Dalbert dengan kesal, sebelum ia kembali menghadapi Akawashi.


Sementara itu, Machinno yang dalam rupa Nue.


“*CHRAK!!!”


“WUAAAAARRRR!!!”


“Terima kasih karena telah membantu kami, Kazedori-sama—”


“Bawel! Lo kira semuanya udah selesai?!”


Seru salah seorang Kitsune, yang datang membantu para Kepala Komisi, yang sedang menghadapi Machinno.


“Hiboshino-dono! Nagaimimi-dono! Apakah kalian baik-baik sa—”


“(A-Aku butuh waktu sebentar… untuk memulihkan diriku!)”


“Sepertinya aku juga demikian!”


Balas Hirosuke dan Nagamichi kepada Yasukata, yang juga dalam keadaan terluka.


“K-Kazedori-sama—”


“Sembuhin diri kalian dulu! Jangan ikut campur kalo belom sembuh! Biar kita yang urus Nue ini!”


Seru salah seorang Kitsune, yang siap menghadapi Machinno dengan 19 Kitsune lainnya.


“Semuanya! Serang mahluk itu!”


““Ya!””


“*SWUSH!!!”


Seluruh Kitsune berpencar.


{Kazedoryū: Haku}


““*FWUSH!!!””


“WUAAAAARRRR!!!”


““Uaaaargh!””


5 Kitsune menggunakan teknik khas mereka untuk menyerang Machinno. Karena mereka, Machinno pun terhempas menuju Chūbo Town, hingga menimpa beberapa warga yang sedang evakuasi.


“K-Kazedori-sama! Waspadalah! Ada warga yang—”


“Emangnya kita pikirin?!”


“!!!”


Nagamichi begitu terkejut dengan pernyataan Kitsune tersebut.


“WRRRRRR!!!”


Machinno pun terluka. Ia hendak menyerang para Kitsune.


“WUAAAAARRR!!!”


“Cih! Dasar mahluk aneh! Kenapa belom hancur?!”


“Siapin serangan kita lagi!”


Seru dua orang Kitsune secara bergantian, sebelum Kitsune lainnya menyerang Machinno kembali.


{Kazedoryū: Seishi}


““*DHUK!!!””


“WUAAAAARRRR!!!”


“*BRUK!!!”


Dengan Teknik Kitsune yang mereka gunakan, Machinno ditendang dengan sangat keras, hingga ke atas udara. Namun ia kembali mendarat di tengah-tengah warga yang sedang melakukan evakuasi.


“…”


Melihat Kaum Kitsune yang tidak memperdulikan warga, Kepala Klan Nagaimimi pun berjalan menuju Chūbo Town.


“(N-Nagaimimi-dono…! A-Apa yang kau lakukan—)”


“A-Aku… tidak akan diam saja… melihat warga Chūbo yang terluka karena mereka…!”


Jawab Nagamichi kepada Hisrosuke, dengan kesal.


“(T-Tunggu! Tetapi—)”


“Aku akan mengikutimu, Nagaimimi-do—Tidak, Nagamichi-san!”


“Baiklah, Yasukata!”


Jawab Nagamichi, yang berjalan dengan diikuti oleh Yasukata dan meninggalkan Hirosuke.”


“WRRRR…”


Machinno tergeletak dan merasakan sakit yang luar biasa.


“T-Tolong aku…!”


“T-Tidak! A-Anak-anakku!”


“…”


Dalam keadaan yang terluka, ia menatap beberapa warga yang tersakiti karena pertarungannya dengan Kaum Kitsune.


Sementara itu, seluruh Kitsune hendak menghampirinya. Tetapi salah satu dari antara mereka mendapati suatu keunikan dari Nue yang mereka lawan.


“A-Ada yang aneh!”


“Hm? Ada apa?”


“Nue ini… kok punya Jiwa?! Nggak! Lebih tepatnya, semacam jantung buatan!”


““…””


Beberapa Kitsune pun memeriksa bagian dalam Tubuh Machinno. Mereka melihat adanya Druid Seed di dalamnya.


“Kalo gitu…”


“Kita hancurin aja!”


Jawab salah seorang Kitsune. Bersama-sama, mereka hendak menggunakan Teknik Kitsune yang paling berbahaya.


{Kazedoryū—


““*Swush!””


““…””


Bersama-sama, mereka menyaksikan Nagamichi dan Yasukata yang berdiri di depan Machinno, dengan maksud menghadang mereka semua.


“Ngapain kalian di sini—”


“Kami mohon…”


“*Druk…!”


“Hentikan pertarungan ini… Kazedori-sama!”


Seru Nagamichi, yang sujud di hadapan para Kitsune bersama Yasukata.


“Jika menghentikan mahluk ini bertujuan untuk membawa kedamaian bagi warga Chūbo, apakah cara kita terlihat seperti—”


“Minggir.”


“T-Tetapi—”


“Gue bilang minggir! Dia udah bunuh beberapa Kitsune!”


“T-Tetapi, tidakkah kematian beberapa Kaum Kitsune sebanding dengan—”


“*DHUMMMMMM……”


““…””


Nagamichi dan Yasukata gagal untuk meyakinkan Kaum Kitsune yang hendak membunuh Machinno. Salah satu dari antara mereka bahkan mengeluarkan aura yang sangat besar, yang membuat mereka berdua gemetar ketakutan.


“Daripada kalian banyak ngomong, mending gue—”


“Tunggu! Ada yang aneh!”


“Hah?! Ada apa?!”


“Liat tanah ini!”


““…””


Bersama-sama, mereka semua menyaksikan tanah di Chūbo Town yang sedikit menjulang ke atas. Tanah menjulang itu datang dari dalam Tenshujū menuju Kemono kai yang berada di pinggir Chūbo Town.


“K-Kenapa tanah ini—”


“*Swush!”


“Woy! Lo mau kemana—”


“Perasaan gue nggak enak! Gue harus ke tembok kota itu!”


Seru salah seorang Kitsune, yang bergegas menuju Kemono kai.


……………


Kembali ke pertarungan antara Dalbert dan Akawashi.


“*Crat, crat, crat…”


“…”


Tubuh Dalbert dipenuhi dengan luka bakar. Ia berusaha untuk tetap berdiri menghadapi Kepala Klan Atsutaka itu.


“Menyerahlah, Dalbert Dalrio.”


“…”


“Aku tidak tahu apa kaitanmu Yōkai yang mengamuk di Bakufu itu denganmu. Tetapi, jika ia merupakan rekanmu, ketahuilah ini.”


“…”


“Sekarang Kaum Kitsune sedang menghadapinya! Jika memang ia masih bernafas, sebentar lagi ia akan mati!”


Seru Akawashi kepada Dalbert.


“Tentu saja, dengan kematianmu dan dirinya, maka kau tidak akan sanggup membuka jalan untuk Perlawanan yang hendak ke sini, bukan?!”


“!!!”


Dalbert terkejut, ketika Akawashi mengetahui rencana yang ia rancang dengan Djinn.


“Satu-satunya jalan menuju kemari adalah Jigoku kōka yang hendak kau buka. Dengan adanya Yōkai itu sebagai pengecoh, kau berlari ke tempat ini dan membuka jalan bagi Perlawanan. Ku akui rencana kalian hebat. Namun sayangnya, kau terlalu lemah—”


“Kalo bego… nggak usah banyak omong…!”


Cemooh Dalbert, sambil tersenyum.


“Kau tersenyum?! Tidakkah kau seharusnya takut karena—”


“Emangnya… gue yang buka jalan buat mereka…?”


“!!!”


Akawashi terkejut, walaupun belum mendapatkan jawaban yang jelas darinya.


“A-Apa maksudmu, Dalbert Dalrio—”


“Justru… yang buka jalan untuk mereka itu… rekan gue… yang bahkan lo nggak tau… di mana lokasinya…!”


Jelas Dalbert kepada Akawashi.


Sementara itu, Kitsune yang berlari menuju Kemono kai.


“*Swush.”


Kitsune itu tiba di atas Kemono kai, yang berada di wilayah timur Bakufu. Ia hendak menyaksikan Eien Jigoku dari atas tembok besar itu.


Akan tetapi…


{Kazedoryū: Haku}


“*TUK!!!”


“Urgh…!”


…seketika seseorang datang menyerangnya dengan teknik yang ia gunakan.


“L-L-Lapor, Atsutaka-sama!”


“Hm?! Ada apa?!”


Tanya Akawashi, ketika mendapat laporan lewat telepati.


“T-Tiba-tiba… ada sebuah jembatan yang tercipta di atas Eien Jigoku! K-Karena itu… anggota Perlawanan pun memanjat atau menghancurkan Kemono Kai dengan mudah dan akan memasuki Chūbo Town!”


“!!!”


Akawashi pun terkejut dengan laporan tersebut.


“*BRUK!!!”


Ia juga menyaksikan Kemono kai yang dihancurkan hingga membentuk lubang besar.


“B-Bagaimana mungkin tiba-tiba ada jalan sepanjang itu?!”


Pikirnya dengan heran.


Sementara itu, di Tsumibito no ori.


“*Tring, ting, ting…”


“Haaaaah…! Capek pisan euy, anying! Bisa-bisanya sianying suruh aing mainkeun sihir segede kitu!”


Seru Garry sambil menghela nafas, setelah ia berjuang keras menciptakan jalan bagi anggota Perlawanan,


dengan menggunakan Habitat Maestro.


Ia pun teringat dengan rencana Dalbert, ketika mereka berada di dalam Fratta Pouch.


“Garry! Denger gue baik-baik! Kalo lo ngerasa gue atau Machinno kelamaan, lo harus bisa buat jalan panjang dari Tsumibito no ori untuk tutup Eien Jigoku! Paham—”


“Hueeeekkk!”


“B-Brengsek! Jangan muntah di sini—Umph!”


“…”


Setelah teringat itu…


“Haaaah…! Dasar… zzzzz….”


…ia pun tertidur dengan pulas karena lelah yang ia rasakan.