Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 126. Slaughtered



Kembali ke kastil, ketika semua


personil kerajaan pergi meninggalkan kastil tersebut.


“…”


“Keliatannya udah aman, Bos.”


“OK, kita masuk diem-diem.”


Anggota Vulpus berhasil memasuki


teritori kastil.


Mereka memasuki kastil secara mengendap-endap.


Namun, Shunnel merasa ada yang


aneh.


“Kok tiba-tiba ada prosedur evakuasi ya personil kerajaan?”


Tanyanya dengan berbisik-bisik.


“Iya. Gue juga heran. Kenapa mereka—”


“Fokus! Mau rame atau sepi, tujuan kita itu untuk temuin raja mereka!”


Tegas Hendrick, sambil berbisik.


Ketika mereka berjalan


mengendap-ngendap, tiba-tiba salah seorang ksatria mengetahui adanya kehadiran


seseorang.


“Hey! Siapakah yang ada di


sana?!”


“!!!”


Terkejut akan panggilan tersebut,


beberapa anggota dari Vulpus pun panik.


“Bos! Kita ketauan!”


“Jadi kita ngapain, bos?!”


“Yaudah! Kita lawan mereka


semua!”


““Ya!””


Mereka pun bersama-sama


mempersiapkan diri untuk melawan sekitar 20 ksatria dari House of Siegfried.


“Shark Strike!”


“*Bwush! (suara pukulan sihir)”


“Aaargh…”


Sama seperti Djinn, Keln adalah


seorang Martial Artist. Dengan gabungan bela diri dan sihirnya, Keln


mengalahkan beberapa ksatria hanya dengan sekali pukul.


“Semuanya! Mari kita aktifkan


Jiwa Dragonewt kita!”


““Ya!””


““!!!””


Beberapa dari anggota Vulpus


terkejut dengan apa yang mereka dengar.


Namun…


“Gue bilang fokus! Mau apapun


yang mereka buat, kita buktiin kalo kita lebih kuat daripada mereka!”


““Ya, Bos!””


…Hendrick mengingatkan mereka


agar sekiranya mereka tidak terpengaruh dengan trik yang digunakan oleh para


ksatria itu.


“Serang mereka!”


““Hraaagh!””


Para ksatria pun hendak menyerang


mereka.


Namun di hadapan mereka semua ada


seorang Beastman dengan bentuk gorila yang bernama Vankaar Gangoq.


“Iron Mode!”


“*Shringgg… (suara besi beradu)”


Dengan sihirnya, Vankaar menahan


besi tersebut dengan tubuhnya yang seketika dilapisi dengan besi.


Walaupun begitu…


“*Crat… (suara tetesan darah)”


“Urgh…”


…ada beberapa pedang dari ksatria


tersebut yang menembus kulit besinya.


“Hrrragh!”


““…””


Para ksatria pun menarik mundur


dirinya karena gagal menyerang Vankaar.


Namun, ketika mereka berpijak…


“A…Ada apa ini?!”


“Mengapa kita tidak bisa


bergerak!”


…mereka semua tidak bisa bergerak


karena perangkap yang dibuat oleh Shunnel, saat mereka menyerang Vankaar.


“Bos! Mereka udah kena perangkap,


Bos!”


Seru Shunnel kepada Hendrick.


Dengan terperangkapnya para


ksatria, Hendrick pun menyerang mereka semua dengan sihirnya.


“Summon Magic: Frozen-Flame Fox!”


““Rrrrr!””


Dengan sihirnya, Hendrick


memanggil dua ekor rubah yang terdiri dari Rubah Es dan Rubah Api. Kedua rubah


itu langsung menyerang dan memakan para ksatria itu.


“Haarp!”


“Aaaargh!”


“*Vwumm! (suara terbakar)”


““Aaargh!””


“*Shrrrkkk… (suara membeku)”


““…””


Dengan serangannya itu, Hendrick


mengalahkan semua ksatria yang tersisa.


Namun, ketika mereka berhasil


mengalahkan semua ksatria itu, Vankaar justru merasa kesakitan karena serangan


ksatria yang ia lawan tadi.


“Urgh…”


“Vankaar?! Kenapa?!”


“Ba…Badanku…panas!”


Melihat kondisi itu, Zevhla pun


memeriksa kondisi tubuh Vankaar.


“*Tap… (suara menyentuh)”


“Hm. Badannya kebakar. Mungkin karena pedang ksatria tadi.”


Pikir Zevhla ketika menyentuh


tubuhnya.


Setelah beberapa saat, tubuhnya


kembali sembuh karena sentuhan Zevhla.


“Mendingan?”


“Ya. Makasih.”


Balas Vankaar dengan singkat.


“Udah selesai, kan? Kalo udah,


ayo kita masuk sekarang. Jangan buang-buang waktu.”


““…””


Semua hanya diam saja mendengar


kata-kata Hendrick.


Perasaan campur aduk antar amarah


dan kasihan melingkupi anggota Vulpus.


Mereka marah karena Hendrick semakin


tidak memperdulikan mereka semua.


Namun, mereka juga merasa sedih


karena trauma yang diderita olehnya ketika bertemu dengan Myllo.


“Semuanya. gue minta kalian untuk


tetap waspada waktu kita masuk kastil ini. Paham?”


““Paham, Bos.””


Sahut mereka semua, sambil


memasuki kastil.


Namun ketika mereka memasuki


kastil tersebut…


“Hey! Hey!”


“Hah?!”


“Si…Siapa itu yang ngomong?!”


“Ini…telepati?!”


…mereka merasakan adanya suara di


kepala mereka.


“Bo…Bos…lo denger nggak—”


“Gue denger.”


Balas Hendrick dengan tenang.


Namun hanya Shunnel dan Zevhla


yang menyadari sesuatu darinya.


“…”


“Bo…Bos?”


Mereka melihat tangan Hendrick


yang gemetar.


“Mari ke Ruang Singgasana! Jangan ragu-ragu!”


Kata suara itu yang kembali


memanggil mereka untuk ke ruang tersebut.


Sambil berjalan, ketakutan mereka


pun semakin menjadi.


““…””


Tubuh mereka semakin gemetar.


“Bo…Bo…Bos…? Jadi…kita…gimana?”


“A…Ayo.”


Balas Hendrick kepada Shunnel.


Bersama-sama, mereka pun


melanjutkan perjalanan mereka menuju Ruang Singgasana.


Akan tetapi, semakin mereka


mencapai Ruang Singgasana, mereka semakin ketakutan.


Bahkan…


“*Shrak! (suara tebasan)”


“Ze…Zevhla…?”


“Hah?! Ta…Tadi itu apa?!”


…beberapa di antara mereka seakan


merasakan kematian mereka.


“Bo…Bos, ta…tadi itu apa—”


“Cih! Domi, ya?!”


Balas Hendrick, sebagai


satu-satunya orang yang tidak merasakan kematiannya.


““…””


Mereka pun hampir tiba di depan


Ruang Singgasana.


Namun sebelum mereka memasuki


ruang tersebut, Hendrick memastikan sesuatu kepada mereka semua.


“Semua, tolong denger gue.”


““…””


Mereka pun menghentikan langkah


mereka.


“Gue tau kalo kalian pada takut.”


““…””


Setelah mendengar kata-kata dari


Hendrick, beberapa dari mereka mengerti maksud darinya.


“Bo…Bos!”


“Ja…Jangan—”


“Denger gue dulu baik-baik!”


““…””


Mereka pun terdiam ketika


mendengar teguran dari Hendrick.


“Kalian semua…ma…maaafin gue kalo


selama ini gue bikin salah.”


““…””


“Gue tau kalo gue bukan Leader


yang baik, tapi kalian masih mau untuk ikut gue selama beberapa tahun ini.”


““…””


“Makasih untuk semua waktu yang


gue habisin bareng kalian. Makanya itu—”


“He…Hendrick!”


“*Phak! (suara tamparan)”


Shunnel seketika menampar


Hendrick dengan kesal.


“Shu…Shunnel—”


“Ja…Jangan ngomong begitu!”


“…”


“Nggak ada kata perpisahan dari


kita! Paham?!”


Tegas Shunnel, yang membuat


Hendrick tidak bisa berkata apa-apa.


“Ka…Kalo emang ini momen terakhir


kita, kita lewatin sama-sama!”


“Ya. Makasih, Shunnel.”


“Semua juga begitu, kan?!”


Tanya Shunnel sambil


memperhatikan anggota lainnya.


Ia mengira bahwa semua akan ikut


bersama dengannya. Akan tetapi…


“Ma…Ma…Maaf, Hendrick, Shunnel.”


“Keln…?”


…secara tidak mereka duga, Keln


begitu takut untuk ikut melangkah bersama dengan mereka.


Melihat tingkah lakunya membuat


Shunnel naik pitam.


“Da…Dasar pecundang!”


“*Phak! (suara tamparan)”


“Lo nggak berani ikut Hendrick?!


Masih berani lo sebut diri lo Petualang?!”


“Keuk…”


Tanpa diperingatkan oleh Shunnel


pun, Keln pun juga merasa kecewa dengan dirinya sendiri.


Akan tetapi, Shunnel tidak bisa


merasakan apa yang dirasakannya. Hanya amarah dan kekecewaan yang dirasakannya


terhadap Keln.


“Dasar pecundang! Gue benci sama


orang kayak lo! Mati lo sa—”


“Shunnel! Cukup!”


Tegas Hendrick yang


menghentikannya.


“Hendrick! Tapi dia—”


“Keln, gue nggak akan maksa lo


untuk ikut masuk ke Ruang Singgasana ini.”


“Bo…Bos—”


“Makasih untuk waktunya selama


ini di Vulpus, Keln.”


“…”


Dengan tangan yang gemetar, Keln


pun hendak pergi meninggalkan Vulpus.


Akan tetapi…


“*DHUMMMM… (suara tekanan aura


yang sangat besar)”


…tiba-tiba mereka merasakan aura


yang sangat kuat dan besar.


“Huff…Huff…Huff…”


“Ta…Ta…Tadi tuh…apa…?”


Kata beberapa anggota Vulpus


setelah merasakan aura itu.


“Hey, kalian. Mengapa kalian tidak semuanya yang ikut masuk ke tempat


ini?”


““!!!””


Mereka kembali mendengar suara


itu di kepala kalian.


“Hmm…sepertinya kalian tidak ada yang hendak melarikan diri kembali,


seperti Merman itu.”


““!!!””


Mereka terkejut ketika semuanya


menengok ke belakang.


““KELN!!!””


Seru mereka semua, ketika mereka


melihat Keln dengan kepala terpenggal.


“Ah, sepertinya kalian semua begitu takut, sampai tidak sadar bahwa


Merman ini baru saja kubunuh.”


Kata suara itu kepada mereka.


Seketika, Hendrick merasa salah


besar karena telah membawa Party-nya ke dalam tempat ini.


Hanya ada satu hal yang ada di


pikirannya.


“Semua! Lari!”


Seru Hendrick yang meluapkan isi


pikirannya.


Mereka pun mulai berlari untuk


pergi dari kastil itu.


Namun, saat mereka berlari dari


tempat itu, serangkaian tragedi pun berjalan selangkah demi selangkah.


“*Shrak! (suara tebasan)”


Shunnel terbunuh.


“*Shrak! (suara tebasan)”


Vankaar terbunuh.


“*Shrak! (suara tebasan)”


Hingga Zevhla pun terbunuh.


Berlari dengan ketakutan,


Hendrick berhasil menghindari serangan acak itu, walaupun…


“*Shrak! (suara kaki terpotong)”


“Argh!”


…ia harus kehilangan kakinya.


Di dalam ketakutannya, hanya satu


hal yang ada pikirannya.


“Sylvia! Apa yang salah dari gue?! Kenapa gue harus begini—”


“Hey, hey! Jangan sebut nama itu!


Aku benci wanita itu! Kami membenci wanita itu!”


Seru orang yang berbicara lewat


telepati tadi, yang menampakkan dirinya di hadapan Hendrick.


“Lo…Lo…Lo itu—”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


Hendrick pun mati terbunuh oleh


orang itu.


Saat ia berdiri di depan mayat


Hendrick, Sebastian pun datang ke hadapan orang itu.


“Yang Mulia, apa yang bisa saya—”


“Sebastian, sebaiknya kau turun


tangan untuk membantu Royal Knights.”


“Baik, Yang Mulia.”


Balas Sebastian kepadanya.


Ia pun meninggalkan orang itu.


Namun yang tetap berada di pikirannya…


“Cih! Bahkan Royal Knights pun tidak bisa menghentikannya, ya?!


Baiklah. Sepertinya aku akan menemuinya.”


…adalah orang lain yang


menurutnya sangat berbahaya.