
Kembali ke kastil, ketika semua
personil kerajaan pergi meninggalkan kastil tersebut.
“…”
“Keliatannya udah aman, Bos.”
“OK, kita masuk diem-diem.”
Anggota Vulpus berhasil memasuki
teritori kastil.
Mereka memasuki kastil secara mengendap-endap.
Namun, Shunnel merasa ada yang
aneh.
“Kok tiba-tiba ada prosedur evakuasi ya personil kerajaan?”
Tanyanya dengan berbisik-bisik.
“Iya. Gue juga heran. Kenapa mereka—”
“Fokus! Mau rame atau sepi, tujuan kita itu untuk temuin raja mereka!”
Tegas Hendrick, sambil berbisik.
Ketika mereka berjalan
mengendap-ngendap, tiba-tiba salah seorang ksatria mengetahui adanya kehadiran
seseorang.
“Hey! Siapakah yang ada di
sana?!”
“!!!”
Terkejut akan panggilan tersebut,
beberapa anggota dari Vulpus pun panik.
“Bos! Kita ketauan!”
“Jadi kita ngapain, bos?!”
“Yaudah! Kita lawan mereka
semua!”
““Ya!””
Mereka pun bersama-sama
mempersiapkan diri untuk melawan sekitar 20 ksatria dari House of Siegfried.
“Shark Strike!”
“*Bwush! (suara pukulan sihir)”
“Aaargh…”
Sama seperti Djinn, Keln adalah
seorang Martial Artist. Dengan gabungan bela diri dan sihirnya, Keln
mengalahkan beberapa ksatria hanya dengan sekali pukul.
“Semuanya! Mari kita aktifkan
Jiwa Dragonewt kita!”
““Ya!””
““!!!””
Beberapa dari anggota Vulpus
terkejut dengan apa yang mereka dengar.
Namun…
“Gue bilang fokus! Mau apapun
yang mereka buat, kita buktiin kalo kita lebih kuat daripada mereka!”
““Ya, Bos!””
…Hendrick mengingatkan mereka
agar sekiranya mereka tidak terpengaruh dengan trik yang digunakan oleh para
ksatria itu.
“Serang mereka!”
““Hraaagh!””
Para ksatria pun hendak menyerang
mereka.
Namun di hadapan mereka semua ada
seorang Beastman dengan bentuk gorila yang bernama Vankaar Gangoq.
“Iron Mode!”
“*Shringgg… (suara besi beradu)”
Dengan sihirnya, Vankaar menahan
besi tersebut dengan tubuhnya yang seketika dilapisi dengan besi.
Walaupun begitu…
“*Crat… (suara tetesan darah)”
“Urgh…”
…ada beberapa pedang dari ksatria
tersebut yang menembus kulit besinya.
“Hrrragh!”
““…””
Para ksatria pun menarik mundur
dirinya karena gagal menyerang Vankaar.
Namun, ketika mereka berpijak…
“A…Ada apa ini?!”
“Mengapa kita tidak bisa
bergerak!”
…mereka semua tidak bisa bergerak
karena perangkap yang dibuat oleh Shunnel, saat mereka menyerang Vankaar.
“Bos! Mereka udah kena perangkap,
Bos!”
Seru Shunnel kepada Hendrick.
Dengan terperangkapnya para
ksatria, Hendrick pun menyerang mereka semua dengan sihirnya.
“Summon Magic: Frozen-Flame Fox!”
““Rrrrr!””
Dengan sihirnya, Hendrick
memanggil dua ekor rubah yang terdiri dari Rubah Es dan Rubah Api. Kedua rubah
itu langsung menyerang dan memakan para ksatria itu.
“Haarp!”
“Aaaargh!”
“*Vwumm! (suara terbakar)”
““Aaargh!””
“*Shrrrkkk… (suara membeku)”
““…””
Dengan serangannya itu, Hendrick
mengalahkan semua ksatria yang tersisa.
Namun, ketika mereka berhasil
mengalahkan semua ksatria itu, Vankaar justru merasa kesakitan karena serangan
ksatria yang ia lawan tadi.
“Urgh…”
“Vankaar?! Kenapa?!”
“Ba…Badanku…panas!”
Melihat kondisi itu, Zevhla pun
memeriksa kondisi tubuh Vankaar.
“*Tap… (suara menyentuh)”
“Hm. Badannya kebakar. Mungkin karena pedang ksatria tadi.”
Pikir Zevhla ketika menyentuh
tubuhnya.
Setelah beberapa saat, tubuhnya
kembali sembuh karena sentuhan Zevhla.
“Mendingan?”
“Ya. Makasih.”
Balas Vankaar dengan singkat.
“Udah selesai, kan? Kalo udah,
ayo kita masuk sekarang. Jangan buang-buang waktu.”
““…””
Semua hanya diam saja mendengar
kata-kata Hendrick.
Perasaan campur aduk antar amarah
dan kasihan melingkupi anggota Vulpus.
Mereka marah karena Hendrick semakin
tidak memperdulikan mereka semua.
Namun, mereka juga merasa sedih
karena trauma yang diderita olehnya ketika bertemu dengan Myllo.
“Semuanya. gue minta kalian untuk
tetap waspada waktu kita masuk kastil ini. Paham?”
““Paham, Bos.””
Sahut mereka semua, sambil
memasuki kastil.
Namun ketika mereka memasuki
kastil tersebut…
“Hey! Hey!”
“Hah?!”
“Si…Siapa itu yang ngomong?!”
“Ini…telepati?!”
…mereka merasakan adanya suara di
kepala mereka.
“Bo…Bos…lo denger nggak—”
“Gue denger.”
Balas Hendrick dengan tenang.
Namun hanya Shunnel dan Zevhla
yang menyadari sesuatu darinya.
“…”
“Bo…Bos?”
Mereka melihat tangan Hendrick
yang gemetar.
“Mari ke Ruang Singgasana! Jangan ragu-ragu!”
Kata suara itu yang kembali
memanggil mereka untuk ke ruang tersebut.
Sambil berjalan, ketakutan mereka
pun semakin menjadi.
““…””
Tubuh mereka semakin gemetar.
“Bo…Bo…Bos…? Jadi…kita…gimana?”
“A…Ayo.”
Balas Hendrick kepada Shunnel.
Bersama-sama, mereka pun
melanjutkan perjalanan mereka menuju Ruang Singgasana.
Akan tetapi, semakin mereka
mencapai Ruang Singgasana, mereka semakin ketakutan.
Bahkan…
“*Shrak! (suara tebasan)”
“Ze…Zevhla…?”
“Hah?! Ta…Tadi itu apa?!”
…beberapa di antara mereka seakan
merasakan kematian mereka.
“Bo…Bos, ta…tadi itu apa—”
“Cih! Domi, ya?!”
Balas Hendrick, sebagai
satu-satunya orang yang tidak merasakan kematiannya.
““…””
Mereka pun hampir tiba di depan
Ruang Singgasana.
Namun sebelum mereka memasuki
ruang tersebut, Hendrick memastikan sesuatu kepada mereka semua.
“Semua, tolong denger gue.”
““…””
Mereka pun menghentikan langkah
mereka.
“Gue tau kalo kalian pada takut.”
““…””
Setelah mendengar kata-kata dari
Hendrick, beberapa dari mereka mengerti maksud darinya.
“Bo…Bos!”
“Ja…Jangan—”
“Denger gue dulu baik-baik!”
““…””
Mereka pun terdiam ketika
mendengar teguran dari Hendrick.
“Kalian semua…ma…maaafin gue kalo
selama ini gue bikin salah.”
““…””
“Gue tau kalo gue bukan Leader
yang baik, tapi kalian masih mau untuk ikut gue selama beberapa tahun ini.”
““…””
“Makasih untuk semua waktu yang
gue habisin bareng kalian. Makanya itu—”
“He…Hendrick!”
“*Phak! (suara tamparan)”
Shunnel seketika menampar
Hendrick dengan kesal.
“Shu…Shunnel—”
“Ja…Jangan ngomong begitu!”
“…”
“Nggak ada kata perpisahan dari
kita! Paham?!”
Tegas Shunnel, yang membuat
Hendrick tidak bisa berkata apa-apa.
“Ka…Kalo emang ini momen terakhir
kita, kita lewatin sama-sama!”
“Ya. Makasih, Shunnel.”
“Semua juga begitu, kan?!”
Tanya Shunnel sambil
memperhatikan anggota lainnya.
Ia mengira bahwa semua akan ikut
bersama dengannya. Akan tetapi…
“Ma…Ma…Maaf, Hendrick, Shunnel.”
“Keln…?”
…secara tidak mereka duga, Keln
begitu takut untuk ikut melangkah bersama dengan mereka.
Melihat tingkah lakunya membuat
Shunnel naik pitam.
“Da…Dasar pecundang!”
“*Phak! (suara tamparan)”
“Lo nggak berani ikut Hendrick?!
Masih berani lo sebut diri lo Petualang?!”
“Keuk…”
Tanpa diperingatkan oleh Shunnel
pun, Keln pun juga merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
Akan tetapi, Shunnel tidak bisa
merasakan apa yang dirasakannya. Hanya amarah dan kekecewaan yang dirasakannya
terhadap Keln.
“Dasar pecundang! Gue benci sama
orang kayak lo! Mati lo sa—”
“Shunnel! Cukup!”
Tegas Hendrick yang
menghentikannya.
“Hendrick! Tapi dia—”
“Keln, gue nggak akan maksa lo
untuk ikut masuk ke Ruang Singgasana ini.”
“Bo…Bos—”
“Makasih untuk waktunya selama
ini di Vulpus, Keln.”
“…”
Dengan tangan yang gemetar, Keln
pun hendak pergi meninggalkan Vulpus.
Akan tetapi…
“*DHUMMMM… (suara tekanan aura
yang sangat besar)”
…tiba-tiba mereka merasakan aura
yang sangat kuat dan besar.
“Huff…Huff…Huff…”
“Ta…Ta…Tadi tuh…apa…?”
Kata beberapa anggota Vulpus
setelah merasakan aura itu.
“Hey, kalian. Mengapa kalian tidak semuanya yang ikut masuk ke tempat
ini?”
““!!!””
Mereka kembali mendengar suara
itu di kepala kalian.
“Hmm…sepertinya kalian tidak ada yang hendak melarikan diri kembali,
seperti Merman itu.”
““!!!””
Mereka terkejut ketika semuanya
menengok ke belakang.
““KELN!!!””
Seru mereka semua, ketika mereka
melihat Keln dengan kepala terpenggal.
“Ah, sepertinya kalian semua begitu takut, sampai tidak sadar bahwa
Merman ini baru saja kubunuh.”
Kata suara itu kepada mereka.
Seketika, Hendrick merasa salah
besar karena telah membawa Party-nya ke dalam tempat ini.
Hanya ada satu hal yang ada di
pikirannya.
“Semua! Lari!”
Seru Hendrick yang meluapkan isi
pikirannya.
Mereka pun mulai berlari untuk
pergi dari kastil itu.
Namun, saat mereka berlari dari
tempat itu, serangkaian tragedi pun berjalan selangkah demi selangkah.
“*Shrak! (suara tebasan)”
Shunnel terbunuh.
“*Shrak! (suara tebasan)”
Vankaar terbunuh.
“*Shrak! (suara tebasan)”
Hingga Zevhla pun terbunuh.
Berlari dengan ketakutan,
Hendrick berhasil menghindari serangan acak itu, walaupun…
“*Shrak! (suara kaki terpotong)”
“Argh!”
…ia harus kehilangan kakinya.
Di dalam ketakutannya, hanya satu
hal yang ada pikirannya.
“Sylvia! Apa yang salah dari gue?! Kenapa gue harus begini—”
“Hey, hey! Jangan sebut nama itu!
Aku benci wanita itu! Kami membenci wanita itu!”
Seru orang yang berbicara lewat
telepati tadi, yang menampakkan dirinya di hadapan Hendrick.
“Lo…Lo…Lo itu—”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
Hendrick pun mati terbunuh oleh
orang itu.
Saat ia berdiri di depan mayat
Hendrick, Sebastian pun datang ke hadapan orang itu.
“Yang Mulia, apa yang bisa saya—”
“Sebastian, sebaiknya kau turun
tangan untuk membantu Royal Knights.”
“Baik, Yang Mulia.”
Balas Sebastian kepadanya.
Ia pun meninggalkan orang itu.
Namun yang tetap berada di pikirannya…
“Cih! Bahkan Royal Knights pun tidak bisa menghentikannya, ya?!
Baiklah. Sepertinya aku akan menemuinya.”
…adalah orang lain yang
menurutnya sangat berbahaya.