
Duh, gimana ya yang lain?!
Kira-kira mereka pada aman nggak,
ya?!
Kalo nggak anak anjing satu ini,
mungkin gue bisa bantu Myllo sama yang lainnya!
“Hoho…sepertinya anda terlihat
buru-buru, Anak Haram.”
“…”
Cih, brengsek High Elf ini!
“Siapa lo sebenernya?! Ke mana
Konnor yang asli?!”
“Fufufufu…anda masih berani ya
bernada tinggi seperti i—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“JAWAB GUE, ANJING!!!”
“…”
Hmm…
Gue gertak gitu aja udah
gemeteran.
“Si…Sialan! Mengapa anda
memiliki—”
“MASIH BELOM MAU JAWAB?!?!”
“Ba…Baiklah jika itu kemauan
anda.”
Tunggu…
Kenapa ‘paku’ yang nusuk gue ini
mulai agak kendor?
OK, gue tau harus apa.
“Sa…Saya adalah Avolios Xelfiul.
Saya adalah anggota Tangan Kiri yang diperintahkan langsung…oleh Tuan Aranual.”
Aranual?!
Itu…bapaknya Luvast, kan?!
“Kenapa lo bisa tau gue?!”
“I…Itu…”
Kelamaan nih orang!
“BURUAN JAWAB, ANJING!!!”
“Ka…Ka…Karena…pasukan Tangan Kiri
yang dipimpin oleh Tuan Rivrith menyadap Orb Call yang terhubung dengan Putri
Luvast!”
Tangan Kiri…
Kalo nggak salah Meldek pernah
cerita, kalo Tangan Kiri itu tuh pasukan tempur dari kakeknya Djinnardio.
Sedangkan Tangan Kanan itu pasukan sihir yang dipimpin sama…duh, lupa gue
namanya.
Sedangkan dari Luvast, gue tau
kalo pimpinan dari Tangan Kiri itu yang mimpin abangnya Luvast yang namanya Rivrith.
Yang bikin ngenes adalah, dua pimpinan itu orang-orangnya kepercayaan Aranual,
adik sekaligus musuh bebuyutan Luscika, ibunya Djinnardio.
Tapi, dia bilang kalo Orb Call
itu disadap, kan?
Gue nggak tau cara kerja Orb Call
gimana, yang pasti harusnya mereka tau dong kalo Luvast dipaksa kerja untuk
Goldiggia?!
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“!!!”
“DASAR ANJING!”
“A…A…Apa maksud an—”
“LO TAU KAN KALO LUVAST DIPAKSA
KERJA UNTUK GOLDIGGIA?!?!”
“Sa…Sa…Saya tidak tahu akan hal
i—”
“JAWAB JUJUR LO, ANJING!!!”
“SA…SAYA BERKATA JUJUR!”
“…”
“Sa…Sa…Saya hanya mengetahui
keberadaan anda yang masih hidup!”
Hmm…keliatannya dia nggak bohong.
Tambah lagi…paku ini udah kendor.
Tapi gue mending pura-pura masih
ditancep paku aja, sembari dia nggak sadar kalo paku ini udah kendor—
“Cih! Ti…Ti…Tidak saya sangka!”
“Hm?”
“Anak Haram seperti anda, bisa
mengeluarkan—”
“SEBUT GUE ANAK HARAM SEKALI
LAGI, MATI LO ANJING!!!”
“Keuk… Sepertinya anda terlalu
bahaya untuk kembali ke—”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“!!!”
Gue yakin kalo dia mau nyerang
gue!
Kalo gitu, mending gue yang
serang dia duluan, sebelum—
“*Shruk! (suara tertusuk)”
Brengsek! Apalagi yang nusuk
gue?!
“Fufufuahahaha! Anda pikir saya
tidak mengetahui bahwa Invisible Stake saya telah mengendur?!”
Sialan, ternyata dia jebak gue!
Tapi dia bilang apa?! Invisible
Stake?! Jadi yang nusuk gue itu pasak?!
“Judgement!”
“*Jgrum! (suara sihir petir)”
“Urgh…”
Untung dia masih bisa—
“Fufuahahaha! Tidak saya sangka
anda bisa menggunakan sihir, Djinnardio!”
Ke…Kenapa sihir gue nggak
mempan?!
“Seorang High Elf seperti saya
pasti kebal dengan sihir! Anda pikir sihir seperti itu bisa—”
“*Bzzt… (suara tersetrum petir)”
“Urgh…”
Hah? Gue samber petir nggak
mempan, tapi petir itu nempel di badan dia?
“A…Ada yang aneh?! Mengapa saya
masih merasa ada aliran petir di tubuh saya?”
Kalo masih ada sisa petir gue,
mungkin gue masih bisa—
“*Shruk! (suara melepas tusukan)”
Anjing! Sakit banget!
Bahkan kaki gue bolong segede
ini!
“…”
Aduh! Tiba-tiba sembuh sendiri!
“Mu…Mustahil…”
“Apaan?!”
“Me…Mengapa anda bisa
regenerasi?!”
Gue juga nggak tau jawabannya…
“Se…Sepertinya saya benar-benar
harus membunuh anda sekarang juga!”
“Ayo, anjing! Karena gue juga mau
bunuh lo!”
Mending gue samperin dia
langsung!
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“Judgement—”
“*Swush! (suara sihir pasak
melayang)”
Untung aja gue bisa ngerasain
sihir orang ini karena terbiasa kena serangannya!
“Invisible Stake!”
“*Swush! (suara sihir pasak
melayang)”
Brengsek! Gue bisa rasain sihir
dia ada di depan gue!
Mumpung semua gerakan jadi lambat
di mata gue, mending gue pikirin cara hindarinnya!
Oh iya!
Wulfrag Art!
“*Dhuk! (suara tendangan)”
Untung gue bisa ngerasain sihir
itu!
mending gue tendang aja sihir ini!
Masalahnya…
“*Shruk! (suara sihir pasak
bertumbuh)”
Gimana cara gue mendarat—
“…”
Tunggu…
Kenapa gue tiba-tiba bisa liat
semua pasak yang kasat mata ini?
“…”
Ah! Ada celah dikit!
“Hup!”
Huh! Untuk gue dapet celah untuk
mendarat!
“A…Anak Haram!”
“!!!”
“Ma…Ma…Mata apa yang anda
gunakan?!”
Mata gue…?
“Kau Telah Menerima Mata Yang Akan Menghakimi Dunia dan Mengungkap Kebenaran.”
Mata ini…bisa liat apa yang kasat
mata…?
“…”
Oh iya ya.
Kan Mata ini juga bisa liat Jiwa
orang lain, ya?
“Hahaha…”
“Hm?! Apakah ada yang lucu?!”
Goblok juga gue.
Gue terlalu ngandelin apa yang
bisa nyerang, sampe gue lupa punya hal yang berguna banget kayak Mata ini.
Oh ya, gue hampir lupain sesuatu
lagi.
“Woy, anjing!”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Tadi gue udah bilang kan?”
“A…Apa yang kau bicara—”
“Mati lo kalo sekali lagi sebut
gue Anak Haram!”
“Cih! Baiklah, saya akan lebih
serius!”
Lebih serius?!
Artinya daritadi dia ngeremehin
gue dong?!
“Thousands Stakes!”
“!!!”
Brengsek! Sihir pasaknya ada
banyak banget!
“*Syut, syut, syut… (suara banyak
sihir pasak)”
Gue harus hindarin sihir pasak
ini!
Tapi yang lebih parah lagi…
“*Shruk, shruk, shruk… (suara
sihir pasak dari tanah)”
…sihir pasak yang dateng dari
tanah ini!
Yang bisa gue andelin cuma satu.
“*Swush, swush, swush! (suara
melompat cepat)”
Karena ajaran Lupherius, gue jadi
bisa pake semua pasak sihir ini untuk jadi pijakan gue!
Mau nggak mau, pilihan gue cuma
lompat sana-sini doang untuk hindarin semua sihir pasak ini!
“Hahaha! Anda hanya bisa
menghindar saja, Djinnardio!”
“*Swush, swush, swush! (suara
melompat cepat)”
“Lantas, bagaimana cara anda
membunuh saya?!”
Hmph! Dia kira gue nggak punya
otak, ya?!
Kan gue lompat nggak sembarang
lompat doang!
“*Syut, syut, syut… (suara banyak
sihir pasak)”
Masa dia nggak tau kalo gue sengaja
lompat sana-sini di atasnya, sambil tendang balik pasak yang dia tembak ke gue?!
“Ke…Keterlaluan!”
“…”
Bagus dia menghindar!
“…”
Tambah lagi, sihir pasak ini
ilang semua semenjak dia ngehindar!
OK, gue nggak boleh buang-buang
waktu lagi!
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
Mending gue bunuh High Elf Bangsat
i—
“*Swush! (suara ayunan pukulan)”
Anak anjing!
Dia tamengin badannya pake pasak
sihir dia sendiri!
Terus gimana cara gue pukul di—
“*Shruk! (suara tertusuk sihir
pasak)”
“Urgh…”
Cih! Dia jadi punya waktu untuk aktifin
sihirnya lagi!
“Fufufufu…”
“*Crat, crat, crat… (suara
kucuran darah)”
“Fuahahaha! Saya kira saya akan
mati! Ternyata anda yang a—”
“*Shrrrk… (suara badan tergores
pasak)”
Cih! Sakit banget!
Mending gue paksa lengan gue
untuk lepas dari pasak-pasak ini!
“A…Anda masih berani—”
“*Shrrrk… (suara badan tergores
pasak)”
Tahan…Djinn!
“Dji…Djinnardio! Sekalinya anda
bergerak, anda akan mati—”
“Heaaaaargh!”
“*Shruk! (suara tertusuk pasak)”
“*Tap! (suara memegang kepala)”
Bagus, seenggaknya gue berhasil
pegang kepala dia!
Walaupun tangan gue harus ketusuk
sihir pasak yang tamengin kepalanya!
“Ke…Keterlaluan—”
“Judgement: Charge.”
“*Jgrumm (suara sambaran petir)”
“AAAAAARGH—”
“*Crat! (suara kepala pecah)”
“Huff…Huff…”
Untung gue masih bisa menang
lawan orang sekuat ini.
Tapi, waktu gue liat mata dia,
gue nggak sengaja liat sesuatu.
Ternyata High Elf satu ini bunuh
Konnor Trasles yang asli, sebelum kita semua berangkat untuk kawal bangsawan
itu.
Artinya, udah berapa hari dia
nyamar di tengah-tengah Petualang itu semua?
Oh ya!
Gue nggak boleh buang-buang waktu
lagi!
“*Swush! (suara berlari cepat)”
Myllo! Gia!
Tunggu gue!