Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 117. Spy From Faraway



Duh, gimana ya yang lain?!


Kira-kira mereka pada aman nggak,


ya?!


Kalo nggak anak anjing satu ini,


mungkin gue bisa bantu Myllo sama yang lainnya!


“Hoho…sepertinya anda terlihat


buru-buru, Anak Haram.”


“…”


Cih, brengsek High Elf ini!


“Siapa lo sebenernya?! Ke mana


Konnor yang asli?!”


“Fufufufu…anda masih berani ya


bernada tinggi seperti i—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“JAWAB GUE, ANJING!!!”


“…”


Hmm…


Gue gertak gitu aja udah


gemeteran.


“Si…Sialan! Mengapa anda


memiliki—”


“MASIH BELOM MAU JAWAB?!?!”


“Ba…Baiklah jika itu kemauan


anda.”


Tunggu…


Kenapa ‘paku’ yang nusuk gue ini


mulai agak kendor?


OK, gue tau harus apa.


“Sa…Saya adalah Avolios Xelfiul.


Saya adalah anggota Tangan Kiri yang diperintahkan langsung…oleh Tuan Aranual.”


Aranual?!


Itu…bapaknya Luvast, kan?!


“Kenapa lo bisa tau gue?!”


“I…Itu…”


Kelamaan nih orang!


“BURUAN JAWAB, ANJING!!!”


“Ka…Ka…Karena…pasukan Tangan Kiri


yang dipimpin oleh Tuan Rivrith menyadap Orb Call yang terhubung dengan Putri


Luvast!”


Tangan Kiri…


Kalo nggak salah Meldek pernah


cerita, kalo Tangan Kiri itu tuh pasukan tempur dari kakeknya Djinnardio.


Sedangkan Tangan Kanan itu pasukan sihir yang dipimpin sama…duh, lupa gue


namanya.


Sedangkan dari Luvast, gue tau


kalo pimpinan dari Tangan Kiri itu yang mimpin abangnya Luvast yang namanya Rivrith.


Yang bikin ngenes adalah, dua pimpinan itu orang-orangnya kepercayaan Aranual,


adik sekaligus musuh bebuyutan Luscika, ibunya Djinnardio.


Tapi, dia bilang kalo Orb Call


itu disadap, kan?


Gue nggak tau cara kerja Orb Call


gimana, yang pasti harusnya mereka tau dong kalo Luvast dipaksa kerja untuk


Goldiggia?!


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“!!!”


“DASAR ANJING!”


“A…A…Apa maksud an—”


“LO TAU KAN KALO LUVAST DIPAKSA


KERJA UNTUK GOLDIGGIA?!?!”


“Sa…Sa…Saya tidak tahu akan hal


i—”


“JAWAB JUJUR LO, ANJING!!!”


“SA…SAYA BERKATA JUJUR!”


“…”


“Sa…Sa…Saya hanya mengetahui


keberadaan anda yang masih hidup!”


Hmm…keliatannya dia nggak bohong.


Tambah lagi…paku ini udah kendor.


Tapi gue mending pura-pura masih


ditancep paku aja, sembari dia nggak sadar kalo paku ini udah kendor—


“Cih! Ti…Ti…Tidak saya sangka!”


“Hm?”


“Anak Haram seperti anda, bisa


mengeluarkan—”


“SEBUT GUE ANAK HARAM SEKALI


LAGI, MATI LO ANJING!!!”


“Keuk… Sepertinya anda terlalu


bahaya untuk kembali ke—”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“!!!”


Gue yakin kalo dia mau nyerang


gue!


Kalo gitu, mending gue yang


serang dia duluan, sebelum—


“*Shruk! (suara tertusuk)”


Brengsek! Apalagi yang nusuk


gue?!


“Fufufuahahaha! Anda pikir saya


tidak mengetahui bahwa Invisible Stake saya telah mengendur?!”


Sialan, ternyata dia jebak gue!


Tapi dia bilang apa?! Invisible


Stake?! Jadi yang nusuk gue itu pasak?!


“Judgement!”


“*Jgrum! (suara sihir petir)”


“Urgh…”


Untung dia masih bisa—


“Fufuahahaha! Tidak saya sangka


anda bisa menggunakan sihir, Djinnardio!”


Ke…Kenapa sihir gue nggak


mempan?!


“Seorang High Elf seperti saya


pasti kebal dengan sihir! Anda pikir sihir seperti itu bisa—”


“*Bzzt… (suara tersetrum petir)”


“Urgh…”


Hah? Gue samber petir nggak


mempan, tapi petir itu nempel di badan dia?


“A…Ada yang aneh?! Mengapa saya


masih merasa ada aliran petir di tubuh saya?”


Kalo masih ada sisa petir gue,


mungkin gue masih bisa—


“*Shruk! (suara melepas tusukan)”


Anjing! Sakit banget!


Bahkan kaki gue bolong segede


ini!


“…”


Aduh! Tiba-tiba sembuh sendiri!


“Mu…Mustahil…”


“Apaan?!”


“Me…Mengapa anda bisa


regenerasi?!”


Gue juga nggak tau jawabannya…


“Se…Sepertinya saya benar-benar


harus membunuh anda sekarang juga!”


“Ayo, anjing! Karena gue juga mau


bunuh lo!”


Mending gue samperin dia


langsung!


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“Judgement—”


“*Swush! (suara sihir pasak


melayang)”


Untung aja gue bisa ngerasain


sihir orang ini karena terbiasa kena serangannya!


“Invisible Stake!”


“*Swush! (suara sihir pasak


melayang)”


Brengsek! Gue bisa rasain sihir


dia ada di depan gue!


Mumpung semua gerakan jadi lambat


di mata gue, mending gue pikirin cara hindarinnya!


Oh iya!


Wulfrag Art!


“*Dhuk! (suara tendangan)”


Untung gue bisa ngerasain sihir


itu!


mending gue tendang aja sihir ini!


Masalahnya…


“*Shruk! (suara sihir pasak


bertumbuh)”


Gimana cara gue mendarat—


“…”


Tunggu…


Kenapa gue tiba-tiba bisa liat


semua pasak yang kasat mata ini?


“…”


Ah! Ada celah dikit!


“Hup!”


Huh! Untuk gue dapet celah untuk


mendarat!


“A…Anak Haram!”


“!!!”


“Ma…Ma…Mata apa yang anda


gunakan?!”


Mata gue…?


“Kau Telah Menerima Mata Yang Akan Menghakimi Dunia dan Mengungkap Kebenaran.”


Mata ini…bisa liat apa yang kasat


mata…?


“…”


Oh iya ya.


Kan Mata ini juga bisa liat Jiwa


orang lain, ya?


“Hahaha…”


“Hm?! Apakah ada yang lucu?!”


Goblok juga gue.


Gue terlalu ngandelin apa yang


bisa nyerang, sampe gue lupa punya hal yang berguna banget kayak Mata ini.


Oh ya, gue hampir lupain sesuatu


lagi.


“Woy, anjing!”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Tadi gue udah bilang kan?”


“A…Apa yang kau bicara—”


“Mati lo kalo sekali lagi sebut


gue Anak Haram!”


“Cih! Baiklah, saya akan lebih


serius!”


Lebih serius?!


Artinya daritadi dia ngeremehin


gue dong?!


“Thousands Stakes!”


“!!!”


Brengsek! Sihir pasaknya ada


banyak banget!


“*Syut, syut, syut… (suara banyak


sihir pasak)”


Gue harus hindarin sihir pasak


ini!


Tapi yang lebih parah lagi…


“*Shruk, shruk, shruk… (suara


sihir pasak dari tanah)”


…sihir pasak yang dateng dari


tanah ini!


Yang bisa gue andelin cuma satu.


“*Swush, swush, swush! (suara


melompat cepat)”


Karena ajaran Lupherius, gue jadi


bisa pake semua pasak sihir ini untuk jadi pijakan gue!


Mau nggak mau, pilihan gue cuma


lompat sana-sini doang untuk hindarin semua sihir pasak ini!


“Hahaha! Anda hanya bisa


menghindar saja, Djinnardio!”


“*Swush, swush, swush! (suara


melompat cepat)”


“Lantas, bagaimana cara anda


membunuh saya?!”


Hmph! Dia kira gue nggak punya


otak, ya?!


Kan gue lompat nggak sembarang


lompat doang!


“*Syut, syut, syut… (suara banyak


sihir pasak)”


Masa dia nggak tau kalo gue sengaja


lompat sana-sini di atasnya, sambil tendang balik pasak yang dia tembak ke gue?!


“Ke…Keterlaluan!”


“…”


Bagus dia menghindar!


“…”


Tambah lagi, sihir pasak ini


ilang semua semenjak dia ngehindar!


OK, gue nggak boleh buang-buang


waktu lagi!


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


Mending gue bunuh High Elf Bangsat


i—


“*Swush! (suara ayunan pukulan)”


Anak anjing!


Dia tamengin badannya pake pasak


sihir dia sendiri!


Terus gimana cara gue pukul di—


“*Shruk! (suara tertusuk sihir


pasak)”


“Urgh…”


Cih! Dia jadi punya waktu untuk aktifin


sihirnya lagi!


“Fufufufu…”


“*Crat, crat, crat… (suara


kucuran darah)”


“Fuahahaha! Saya kira saya akan


mati! Ternyata anda yang a—”


“*Shrrrk… (suara badan tergores


pasak)”


Cih! Sakit banget!


Mending gue paksa lengan gue


untuk lepas dari pasak-pasak ini!


“A…Anda masih berani—”


“*Shrrrk… (suara badan tergores


pasak)”


Tahan…Djinn!


“Dji…Djinnardio! Sekalinya anda


bergerak, anda akan mati—”


“Heaaaaargh!”


“*Shruk! (suara tertusuk pasak)”


“*Tap! (suara memegang kepala)”


Bagus, seenggaknya gue berhasil


pegang kepala dia!


Walaupun tangan gue harus ketusuk


sihir pasak yang tamengin kepalanya!


“Ke…Keterlaluan—”


“Judgement: Charge.”


“*Jgrumm (suara sambaran petir)”


“AAAAAARGH—”


“*Crat! (suara kepala pecah)”


“Huff…Huff…”


Untung gue masih bisa menang


lawan orang sekuat ini.


Tapi, waktu gue liat mata dia,


gue nggak sengaja liat sesuatu.


Ternyata High Elf satu ini bunuh


Konnor Trasles yang asli, sebelum kita semua berangkat untuk kawal bangsawan


itu.


Artinya, udah berapa hari dia


nyamar di tengah-tengah Petualang itu semua?


Oh ya!


Gue nggak boleh buang-buang waktu


lagi!


“*Swush! (suara berlari cepat)”


Myllo! Gia!


Tunggu gue!