Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 406. Suicidal Woman



“Dunia yang dihuni dengan sangat banyak pendekar bela diri, kah? Hm. Sepertinya menarik. Andai aku punya kekuatan sepertimu, mungkin aku akan menguji bela diriku melawan semua pendekar yang ada di dunia itu.”


Haaaaah…!


Capek juga jelasin sepanjang itu!


Nggak cuma ke Ayasaki aja! Gue juga capek jelasin ke pembaca!


“…”


Eh…?


Tadi gue mikir apaan—


“Apakah kau sudah menguasai kekuatan baru yang kau dapatkan di tempat ini, Pria Terjanji?”


“…”


“Pria Terjanji—”


“Kayaknya belom semua. Mungkin masih ada satu atau dua hal lain yang masih harus gue pelajarin lagi.”


Gue ngomong kayak gitu ke Ayasaki.


Itu semua karena…


“Anda memiliki kemampuan lain, Yang Mulia!”


“Mohon pelajari kekuatan Anda, Yang Mulia!”


“Karena kekuatan kali ini sangatlah penting untuk menyelamatkan teman-teman Anda, Yang Mulia!”


…arahan dari Suara Alam ini.


“Seperti itu kah? Baiklah. Aku akan menunggumu.”


“…”


Tunggu.


Kok gue mulai ngerasa aneh ya?


“Ayasaki.”


“Ada apa, Pria Terjanji?”


“Kenapa lo tungguin gue terus? Emangnya lo nggak bosen?”


“Hm? Bosan?”


“Ya. Kan lo udah—”


“Pffttt…! Hahaha!”


Loh? Kok cewek ini malah ketawa?


“Maafkan aku, Pria Terjanji! Hanya saja, pertanyaanmu mengingatkanku pada pertanyaan yang ada di benakku,


selama ribuan tahun! Tidak kusangka ada yang bertanya seperti itu, walaupun dengan maksud yang berbeda!”


Nih cewek kenapa sih—


“Tenang saja. Aku menunggumu di sini karena kewajibanku sebagai seorang Dungeon God. Oleh karena itu, kau tidak perlu khawatir. Alangkah baiknya jika kau memastikan menguasai seluruh kemampuan yang kau miliki saat ini.”


“…”


Mungkin gue agak curiga sama cewek ini. Tapi yang dia bilang bener juga.


Yaudah deh, mending gue fokus untuk latih kekuatan gue.


Apalagi…


“Yang Mulia!”


“Yang Mulia!”


““Yang Mulia!””


…Suara Alam gue udah berisik banget, supaya gue latih kekuatan gue.


……………


Gue pelajarin tentang kekuatan gue yang lainnya. Kira-kira makan waktu selama 3 jam untuk pelajarin kekuatan ini.


“Berhati-hatilah, Yang Mulia!”


“Kekuatan Anda tidak ada batasnya, tetapi Tubuh Anda adalah Fana, Yang Mulia!”


“Tentunya Anda akan merasakan sakit yang luar biasa, jika berlebihan, Yang Mulia!”


“…”


Bener banget! Dari tiga hal yang gue pelajarin tentang kekuatan gue sekarang, kekuatan ini yang paling berguna, tapi paling bahaya!


Tapi gue nggak boleh ngandelin kekuatan ini terus.


Sesuai yang dibilang Suara Alam ini. Kalo gue pake secara berlebihan, bisa aja gue kenapa-kenapa.


“Sudahkah kau selesai mempelajari kekuatanmu, Pria Terjanji?”


“…”


Suara Alam udah hilang. Artinya mereka udah nyatu sama Jiwa gue. Ya, kan?


“Pria Terjanji—”


“Udah. Emangnya kenapa—”


“Baiklah, jika sudah.”


“*SWUSH!!!”


“!!!”


Eh! Kok nih cewek tiba-tiba serang—


“Mari kita mulai latihan kita!”


Hah?! Latian?!


((Kaze Tsume))


“*SWUSH!!!”


Woy…! Gila nih cewek…!


Kalo gue telat dikit hindarin serangannya, mungkin gue udah luka-luka pake cakar anginnya!


“Mari hadapi aku dengan serius, Pria Terjanji!”


“*Swush, swush, swush…”


“Gunakanlah seluruh kekuatan yang telah kau dapatkan!”


Cih! Latian sih latian! Tapi nggak gini juga, kali—


“*BHUK!!!”


Aduh! Sakit banget pukulannya—


“*DHUK!!! CHRAK!!!”


Woy! Kok dia serius banget nyerangnya?!


“*Crat, crat, crat…”


Bahkan gue sampe luka-luka kayak gini—


“Jangan lengah!”


“*Swush…”


***** nih cewek!


“*DHUK!!!”


“*BRUK!!!”


“Argh…!”


Saking keselnya, gue terpaksa tendang dia sekeras-kerasnya, sampe nembus dari ruangan ini!


“…”


Mungkin ini kesempatan gue untuk


serang dia lagi. Tapi ada satu hal yang gue pastiin dulu!


“Woy, Ayasaki! Latian macem apa ini?!”


“…”


“Dibanding latian, ini lebih kerasa kayak bunuh-bunuhan! Emangnya gue—”


“*SWUSH!”


Cih! Dasar cewek rubah satu ini! Tuh kuping pajangan doang ya?!


“Apakah kau pikir Pengacau bernama Leonard itu akan menahan serangannya, jika ia mengetahui dirimu yang


sudah menjadi lebih kuat?!”


Hah?! Leonard—


“Jika kau benar-benar ingin menyelamatkan teman-temanmu, maka hadapilah aku, seperti kau menghadapi Leonard! Gunakanlah seluruh kemampuanmu!”


“…”


Entah kenapa ada yang nggak beres!


Dari kata-katanya, gue ngerasa ada maksud yang dia sembunyiin—


{Kitsujutsu: Hateshinai Kaze}


“*BHUKBHUKDHUKDHUKBHUKDHUKBHUKBHUK……”


K-Keras bang—


“*BHUK!!!”


“*Boink, boink, boink…”


A-Anjing…!


Bela diri… macem apa tuh…?!


P-Pukulan sama tendangannya… cepet banget…! Gue bahkan nggak bisa tahan atau hindarin… serangannya…!


Tapi… dia bilang apa…? Kitsujutsu…?


Apa mungkin… itu Wulfrag Arts yang jauh lebih kuat… dibanding yang gue tau…?!


“Apa yang kau lakukan?! Cepat pulihkan dirimu, Pria Terjanji!”


“…”


“Jika kau masih ragu seperti itu, kau tidak akan pernah bertemu dengan teman-temanmu lagi!”


“…”


“Tidak hanya terpisah dari mereka! Bahkan kau tidak akan pernah menyampaikan salam perpisahanmu kepada mereka—”


“*DHUM!!!”


“!!!”


Aura gue juga udah balik ya?


Mungkin karena efek dari latian bareng Suara Alam tadi, jadinya aura gue lebih keras daripada pertama kali gue masuk dunia ini.


Tapi yang sekarang lebih penting tuh…


“Lo mau gue serius. Ya, kan?”


“…”


“OK kalo itu mau lo, Ayasaki!”


…cara bales cewek rubah sialan satu ini!


“*SWUSH!!!”


Gue lompat sekenceng-kencengnya ke arah dia.


“*BHUK!!!”


Gue pukul dia sekeras-kerasnya…


“*Swush…”


“*Boink, boink, boink…”


“Uhuk, uhuk, uhuk—”


“*Boink…”


Waktu gue nyusul dia ke awan yang ada di depan gue ini, gue liat dia udah batuk-batuk berdarah.


“*SWUSH!!!”


Dia lompat cepet untuk serang gue balik. Tapi hindarin serangannya gampang banget.


““*Swush, swush, swush…””


““*Tap, tap, tap…””


Kita sama-sama hindarin atau tangkis serangan masing-masing.


Mungkin karena sekarang gue nggak punya Kekuatan Mata gue, jadinya gue agak kesusahan karena gerakannya yang cepet banget.


Tapi kesusahan hindarin serangannya bukan berarti nggak bisa.


Nggak. Lebih tepatnya, harusnya gue nggak bisa hindarin serangan dia.


Itu semua karena satu hal.


“*Swush, swush, swush…”


Karena cara dia nyerang gue yang nggak cuma ngasal banget, tapi juga gampang gue baca.


Makanya itu, gue mikir.


“*Swush, swush, swush…”


Masa sih rekannya Pahlawan Pertama cuma segini aja?


Masa sih punya serangan kayak gini mau nantangin Cheon-Ma?


Masa sih serangan dia yang tadi cuma kebetulan doang?


“*BHUK!!!”


“Heaaaagh!”


“*BHUK!!!”


“*Boink, boink, boink…”


Lagi-lagi gue pukul dia sekeras-kerasnya sampe mantul-mantul di awan ini.


“Cuh!”


Terus dia ngeludah darah dari dalem mulutnya.


{Kazedoryū…


“SWUSH!!!”


…Seishi}


“*SWUSH!!!”


Lagi-lagi gue hindarin serangannya, yang kali ini pake teknik khusus Kitsune.


“…”


Mumpung jarak dia lagi deket…


((Judgement: Electrocution))


“*Chrrrkkkchrrkkchrrkk…”


“Keuk!”


…mending gue pake kekuatan gue ini, yang sebelumnya gue pake di Runecraft gue!


“Kau mau menggunakan sihir?!”


“*FWUSH…”


“Baiklah! Datanglah kepadaku!”


“…”


Dia nantangin gue pake kekuatan angin?!


((Judgement: Charge))


“*Jgrum…”


((Harikēn ga Fuku))


“*FWUSH…”


“…”


Bener, sesuai dugaan gue.


Ternyata aliran petir gue langsung hancur karena diisolasi anginnya yang kenceng.


Artinya gue butuh aliran petir yang lebih keras lagi untuk serang dia—


“*FWUSH!!! FWUSH!!! FWUSH!!!”


Dia nggak ngasih gue waktu untuk mikir ya?!


“*FWUSH!!! FWUSH!!! FWUSH!!!”


“Mengapa kau hanya menghindar saja?! Apakah hanya itu saja kemampuanmu sebagai seseorang yang sangat dinantikan oleh Melchizedek?!”


Cih! Bacot banget nih cewek!


“*FWUSH!!! FWUSH!!! FWUSH!!!”


Gue cuma bisa hindarin angin-anginnya aja!


Terus gimana cara gue hindarin…


Tunggu dulu.


Kekuatan gue nggak semuanya petir kan?


Gue masih punya bela diri gue!


Apalagi, di tempat yang kayak gini…


“*Boink! Boink! Boink!”


…harusnya gue bisa lebih gampang untuk pake—


“{Kitsujutsu}?! Darimana kau mempelajarinya—”


“*JGRUM!!!”


“Urgh…”


Ya! Harusnya gue juga bisa pake {Wulfrag Arts}!


“Keuk! Kau tidak—”


“Heaaagh!”


“*BHUK!!!”


Pukul dia dulu pake {Pencak Silat} gue, sebelum…


“*Tap…”


“*Swush… swush… SWUSH!!!”


…gue lempar jauh dari sini!


“*SWUSH!!!”


Sesuai dugaan gue! Pasti dia langsung lari ke depan gue!


Karena itu, waktunya pake serangan terakhir!


((Judgement: Volt Shot))


“*JGRUM!!!”


“Uaaargh!”


“*Boink, boink, boink…”


“…”


Keliatannya udah selesai—


“A-Aku yakin…”


“*Crat, crat, crat…”


“…bahwa engkau masih belum mengeluarkan seluruh kemampuan yang kau miliki… Pria Terjanji…!”


D-Dia masih ngomong, walaupun udah—


“A-Apakah kau pikir… kau bisa menahan kekuatanmu… untuk menghadapi—”


“Itu urusan gue sama Leonard!”


“U-Urusanmu… dengan Leonard…?! Sudah kubilang… bahwa kau harus—”


((Judgement: Chronos Breath))


“*Fwuh…”


“!!!”


Itu salah satu kekuatan baru gue, dimana gue bisa pake Pernapasan gue untuk balikin kondisi orang ke beberapa jam yang lalu.


Gue baru tau tentang mantra itu waktu gue pelajarin kekuatan baru gue, sehabis balik dari dunia pendekar itu.


Bisa dibilang kekuatan gue itu salah satu cara untuk sembuhin orang.


Tapi gue nggak akan pake mantra itu di depan Garry, supaya dia aja yang sembuhin orang—


“M-Mengapa kau menyembuhkanku, Pria Terjanji?!”


“…”


“Sudah berapa kali harus kubilang kepadamu, bahwa kau harus menganggapku sebagai Leonard! Apakah kau akan menyembuhkan Leonard, ketika—”


“Sekarang gue yang tanya ke lo, Ayasaki!”


“…”


“Kenapa lo pengen banget mati?!”


“!!!”


Dari reaksi kagetnya, artinya dia udah ketauan.


Mulai dari yang tiba-tiba nyerang gue, terus pancing emosi gue, samnpe ke dia yang pura-pura lemah.


Walaupun gue sempet marah, tapi gue ujung-ujungnya sadar kalo dia mau gue untuk bunuh dia.


Sama kayak tujuannya yang mau punya anak, supaya anaknya bunuh dia.


“K-Kau… tidak akan mengerti dengan apa yang telah kurasakan, Pria Terjan—”


“Tadi, sebelum gue liat rekaman memori di Chamber of Ancient Armament, gue bilang ke lo kan, kalo ada banyak yang mau gue tanyain ke lo, Ayasaki.”


“…”


Dia ngangguk doang.


Mungkin ada banyak banget yang mau gue tanya.


Tapi…


“Tolong ceritain ke gue tentang hidup lo selama ini, sampe lo pengen banget mati.”


…gue harus tau dulu alesan dia yang mau mati.


Emang harus gue akuin kalo cewek ini agak ngeselin. Tapi dia ini temen lamanya Melchizedek. Dia juga gurunya Myllo sama Bocil Naga. Jadinya gue masih agak segan sama rubah satu ini.


Makanya itu, gue penasaran sama kehidupan sosok legenda ini.


Tambah lagi…


“Namun Ketahuilah Ini; Mahluk Fana Menginginkan Keabadian. Mahluk Abadi Menginginkan Kefanaan…”


…gue juga masih penasaran sama maksud dari pesan Melchizedek.