
Ribuan tahun yang lalu, di suatu
tempat tidak diketahui keberadaannya di Geoterra, terdapat dua Malaikat yang
saling berbicara satu sama lain, dengan salah satu Malaikat berada dalam posisi
terbaring.
“Sudahkah kau siap, Narciel?”
“Aku siap.”
“Baik. Namun, satu pesanku
kepadamu.”
“Mm?”
“Jangan anggap remeh Mahluk Fana.
Karena bisa saja mahluk seperti Melchizedek ada di antara mereka.”
“Ya. Akan kuingat pesanmu.”
Balas Malaikat yang bernama
Narciel, sembari memejamkan matanya dan merapalkan mantra.
“Divine Magic: Spirit Oust.”
Setelah merapal mantra itu, Tubuh
Narciel hancur menjadi abu, seakan ia pergi untuk selama-lamanya.
Namun, bukan artinya ia meninggal
dunia.
“Wah! I…Ini anak kita!”
“Pujilah Dewa dan Dewi atas
karunia-Nya”
“Sayangku, bisakah kau
menamainya?”
“A…Aku akan menamainya dengan
nama Raevalus.”
Narciel justru terlahir sebagai
seorang Manusia yang bernama Raevalus.
“Saudara-saudaraku, jika
kalian melihat ini, ketahuilah bahwa aku berhasil menyelinap di kehidupan
Manusia dengan selamat.”
Pikir Raevalus kecil, tanpa
diketahui oleh kedua orang tuanya.
……………
Narciel yang hidup sebagai
Raevalus pun mempelajari pola hidup Kaum Manusia, yang sudah 20 tahun semenjak
mereka merebut Erviga Kingdom dari Kaum Dragonewt.
Namun pada kala itu, Kaum
Dragonewt masih berusaha sekuat tenaga untuk mengambil alih tanah kelahiran
mereka.
“Awas! Ada Dragonewt!”
“*Vwummm! (suara kobaran api)”
“Pergi kalian, penjajah!”
Serangan Kaum Dragonewt tidak ada
habisnya.
Peperangan dengan kaum tersebut
pun berlangsung selama puluhan tahun.
“Sayangku! Kita pergi dari sini!”
“Na…Namun bagaimana dengan
Raeva—”
“*Bruk! (suara rumah hancur
terbakar)”
“RAEVALUUUSS!!!”
“Cih! Ma…Maafkan aku karena tidak
bisa melindunginya!”
“Hiks! Hiks!
Anakku…”
Kedua orang tua Raevalus terpaksa
meninggalkan anaknya, yang kala itu berusia 10 tahun, yang tertimpa oleh
puing-puing rumah yang terbakar karena peperangan.
Mereka meninggalkan anak
sulungnya itu dengan air mata yang tiada hentinya.
Namun…
“*Bruk! (suara melempar
puing-puing)”
“Haaaaah! Untung saja kedua keturunan
budak itu pergi meninggalkanku!”
…Raevalus justru lega ketika
kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya.
“Divine Magic: Soul Split.”
““…””
Dengan rapalan sihirnya, Raevalus
membelah Jiwa miliknya menjadi tiga. Dua dari tiga Jiwa yang ia belah itu
seketika berwujud seperti dirinya, walaupun hanya dirinya saja yang bisa
melihatnya.
Setelah mempraktikan sihir
tersebut, dua belahan Jiwa-nya itu langsung menghampiri peperangan antara bala
tentara Erviga melawan Kaum Dragonewt.
““*Shrak! (suara banyak tebasan
tangan)””
““Aaaargh!””
Dua belahan Jiwa itu langsung
menghabisi semua yang terlibat dalam peperangan. Baik Manusia mauapun
Dragonewt, semua dihabisi dirinya.
Setelah tidak ada sisa dari kedua
belah pihak, Raevalus pun mengambil semua Jiwa mereka tanpa sisa.
“Haaaah…bahkan kumpulan Jiwa
mereka pun hanya sebatas bayi Naga saja. Hmph, dasar dua ras tidak berguna!”
Bisik Raevalus, setelah ia
menghisap semua Jiwa para korban yang ia bunuh tanpa sisa.
Tidak lama kemudian, datanglah bala
bantuan dari Erviga.
Namun, mereka begitu terkejut
setelah melihat tidak ada yang hidup, kecuali seorang anak kecil berusia 10
tahun di tengah-tengah peperangan.
“Nak, siapa namamu?”
Tanya seorang jendral yang
memimpin bala bantuan.
“Raevalus Horinner.”
“Baiklah, ikutlah denganku.”
Raevalus pun ikut bersama bala
bantuan untuk ke Vigrias Capital.
Ketika sampai di sana, ia diasuh
oleh salah satu keluarga yang menjadi personil kerajaan dan diarahkan untuk
sekolah di ibukota tersebut.
……………
Setelah bersekolah selama 5
tahun, Raevalus pun menunjukkan kecerdasan yang luar biasa, yang bahkan
diarahkan langsung kepada Kaki Tangan Raja untuk digali potensinya.
“Kau adalah permata bagi negara
ini, Raevalus. Aku harap, kau bisa menggantikanku untuk melayani Raja Erviga di
kemudian hari.”
“Terima kasih atas pujianmu, Guru
Denaver.”
Itulah kata-kata yang keluar dari
mulut Raevalus.
Namun yang ada di pikirannya
justru berbeda.
“Hmph! Kau pikir kau ini
siapa?! Memang harusnya aku yang berada di samping budak yang berlagak seperti
raja itu! Tidak, malah seharusnya kakiku yang berada di atas kepala budak yang berlagak seperti raja itu! ”
……………
Beberapa tahun kemudian, Raevalus
resmi menjabat sebagai Kaki Tangan Raja.
Ia pun berada di posisi tersebut
selama puluhan tahun.
Walaupun sejatinya adalah seorang
Malaikat, namun Raevalus terpaksa meninggalkan peran tersebut karena termakan usia
sebagai Manusia.
“Guru Raevalus—”
“Ingviar, izinkan aku…bertemu
dengan istrimu…”
“Baik, Guru.”
Pria bernama Ingviar itu pun
membawakan istrinya yang sedang hamil ke hadapan Raevalus yang sudah menua.
“Ada apa, Tuan Horriner?”
“Tidak. Aku hanya ingin…berbicara
dengan anak kalian yang masih berada di dalam kandungan.”
Mendengar jawaban Raevalus, istri
dari Ingviar memberikan perutnya agar dapat disentuh olehnya.
yang cerdas, yang…melebihi saya.”
““…””
Ingviar dan istrinya hanya bisa
tersenyum mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Raevalus.
Padahal, mereka tidak mengetahui
isi pikiran darinya.
“Divine Magic: Spirit Oust…”
Pikir Raevalus yang merapal
mantra ke bayi yang masih di dalam kandungan itu.
Beberapa tahun kemudian, Raevalus
menemui ajalnya.
Namun tidak bagi Narciel.
“Wah! Inikah anak kita?!”
“Ya!”
“Baiklah! Kalau begitu, izinkan
aku namai anak ini dengan nama Morris!”
“Baiklah, suamiku! Aku setuju
denganmu!”
Ingviar dengan istrinya begitu bahagia
dengan anaknya yang baru lahir.
Namun, mereka tidak sadar…
“Hmph! Ternyata semudah ini
menyamar di tengah-tengah Manusia?!”
…bahwa orang yang begitu
disanjung Ingviar sebenarnya terlahir kembali sebagai anaknya.
……………
Ribuan tahun telah Narciel jalani
dengan cara yang sama.
Terlahir kembali sebagai Manusia,
bersekolah dan menjadi yang paling menonjol di antara teman-temannya, menjadi
Kaki Tangan Raja, mempersiapkan murid, meninggal dunia, lalu terlahir kembali.
Ia berpikir bahwa caranya
tersebut sangat mudah.
Namun, ada satu hal yang berada
di luar dugaannya.
“*Brak! (suara membuka pintu
dengan keras)”
“Royvert! Keterlaluan! Kau berani
bermain di belakang saya?!”
Teriak Raja Gregorius Ervigus
kepada Royvert, identitas Narciel pada saat itu, setelah ia menemukan fakta
bahwa Kaki Tangan darinya menyiksa dan membunuh Kaum Dragonewt.
“Raja Gregorius! Maafkan hamba,
Yang Mulia. Hamba tidak—”
“Tangkap dia!”
““Baik, Yang Mulia!””
Seru pasukan raja tersebut, yang
lalu maju untuk menangkap Royvert.
Namun, mereka tidak tahu dirinya
yang sebenarnya.
“Baiklah jika kau hendak
menangkapku, Gregorius. Akan tetapi, jangan kau pikir pasukan seperti mereka
bisa menangkapku semudah itu.”
“Hmph.”
Raja Gregorius hanya tersenyum
kecil mendengar perkataan Royvert.
“Mengapa kau tertawa?”
“Saya sudah berjaga-jaga,
semenjak saya mengetahui anda yang bisa mengambil Jiwa Dragonewt semudah itu.”
“Mm?”
“Maka dari itu, saya membawakan
pria ini di hadapan anda!”
“!!!”
Royvert begitu terkejut ketika
melihat sosok pria yang dibawakan oleh Raja Gregorius.
“Pria itu…”
“Ya! Gue ini Pahlawan Dalbert, Saint dari Mountain God Styrorke! Jangan lo pikir gue bisa biarin
lo hidup! Dasar biadab!”
“Cih!”
Mereka pun bertarung hebat selama
lebih dari 10 hari.
Namun, Royvert tetap berusaha menjaga
identitas rahasianya.
Oleh karena itu, ia dikalahkan
oleh Pahlawan Dalbert.
“Fufufu…”
“???”
“Fufuahahaha! Kau pikir…kau pikir
aku tidak akan—”
“*Shrak! (suara kepala
terpenggal)”
Pahlawan Dalbert berhasil
membunuh Royvert.
Namun, mereka sedikit telat.
Semua itu dikarenakan Narciel,
identitas asli dari Royvert, berhasil mempersiapkan semuanya.
Setelah ia terlahir kembali, ia
melakukan sumpah.
“Saudara-saudaraku sekalian, jika
aku harus dihadapkan dengan sebuah variabel yang tidak terprediksi seperti
pembunuhku, maka izinkan aku untuk menunjukkan identitasku, agar aku tidak mati
memalukan seperti identitasku sebelumnya!”
Sumpah Narciel.
……………
Narciel pun melanjutkan semua
yang telah ia lakukan ribuan tahun yang lalu.
Mulai dari kelahirannya kembali,
keberlangsungannya perburuan Dragonewt oleh House of Siegfried, hingga
pengumpulan Jiwa untuknya.
Akan tetapi, selain kelahirannya
kembali, semua progres berlangsung dengan sangat pelan.
Maka dari itu, ia memikirkan cara
yang begitu cepat selama ratusan tahun, hingga ia menemukan sesuatu yang
menurutnya dapat mengakhiri penantiannya untuk menghukum Kaum Manusia yang
berada di Erviga.
“Hoo…jadi inikah pemimpin Goldiggia yang bernama Bjüdrox?”
“Hieeekh!”
“Ssshh, ssshh, sshh… Tenanglah.
Aku tidak akan menangkapmu. Justru, aku bisa membuat bisnismu semakin melebar
dan membuatmu semakin kaya.”
“…”
Narciel yang telah menjadi
Maverick Orbloom pun menjalin kerja sama dengan Bjüdrox, pemimpin Goldiggia.
“Apakah kau adalah pemimpin House
of Siegfried saat ini?”
“Ya. Nama hamba adalah Sebastian
Siegfried, Yang Mulia. Inilah pusaka dari leluhur kami.”
“Fufufu…”
Ia tertawa, sambil menerima Jiwa
milik Flamiza dari Sebastian.
“Kau kah sekarang yang menjadi
Kapala Saudagar dari Riorio Merchant?”
“Ya. Na…Nama saya Dahlia, Yang
Mulia.”
Balas Dahlia kepada dirinya.
Dengan dirinya berkuasa atas tiga
hal yang ia butuhkan, ia memulai langkah besarnya dalam menyerang Erviga.
……………
Akan tetapi, semua yang ia
rencanakan menjadi kesia-siaan.
Semua karena satu hal tidak
terduga yang muncul selama rencananya sedang berlangsung.
Oleh karena itu, ia pun memenuhi
sumpahnya dan menunjukkan identitasnya sebagai Malaikat.
“Aku adalah Narciel. Pria Terjanji, karena kau
telah memaksaku untuk menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya, maka aku akan
menghabisimu bersama teman-temanmu ini, sebelum menghancurkan Erviga.”
Sahut Narciel kepada Djinn dan
rekan-rekannya yang siap untuk mengalahkan dirinya.