Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 146. Since Beginning



Ribuan tahun yang lalu, di suatu


tempat tidak diketahui keberadaannya di Geoterra, terdapat dua Malaikat yang


saling berbicara satu sama lain, dengan salah satu Malaikat berada dalam posisi


terbaring.


“Sudahkah kau siap, Narciel?”


“Aku siap.”


“Baik. Namun, satu pesanku


kepadamu.”


“Mm?”


“Jangan anggap remeh Mahluk Fana.


Karena bisa saja mahluk seperti Melchizedek ada di antara mereka.”


“Ya. Akan kuingat pesanmu.”


Balas Malaikat yang bernama


Narciel, sembari memejamkan matanya dan merapalkan mantra.


“Divine Magic: Spirit Oust.”


Setelah merapal mantra itu, Tubuh


Narciel hancur menjadi abu, seakan ia pergi untuk selama-lamanya.


Namun, bukan artinya ia meninggal


dunia.


“Wah! I…Ini anak kita!”


“Pujilah Dewa dan Dewi atas


karunia-Nya”


“Sayangku, bisakah kau


menamainya?”


“A…Aku akan menamainya dengan


nama Raevalus.”


Narciel justru terlahir sebagai


seorang Manusia yang bernama Raevalus.


“Saudara-saudaraku, jika


kalian melihat ini, ketahuilah bahwa aku berhasil menyelinap di kehidupan


Manusia dengan selamat.”


Pikir Raevalus kecil, tanpa


diketahui oleh kedua orang tuanya.


……………


Narciel yang hidup sebagai


Raevalus pun mempelajari pola hidup Kaum Manusia, yang sudah 20 tahun semenjak


mereka merebut Erviga Kingdom dari Kaum Dragonewt.


Namun pada kala itu, Kaum


Dragonewt masih berusaha sekuat tenaga untuk mengambil alih tanah kelahiran


mereka.


“Awas! Ada Dragonewt!”


“*Vwummm! (suara kobaran api)”


“Pergi kalian, penjajah!”


Serangan Kaum Dragonewt tidak ada


habisnya.


Peperangan dengan kaum tersebut


pun berlangsung selama puluhan tahun.


“Sayangku! Kita pergi dari sini!”


“Na…Namun bagaimana dengan


Raeva—”


“*Bruk! (suara rumah hancur


terbakar)”


“RAEVALUUUSS!!!”


“Cih! Ma…Maafkan aku karena tidak


bisa melindunginya!”


“Hiks! Hiks!


Anakku…”


Kedua orang tua Raevalus terpaksa


meninggalkan anaknya, yang kala itu berusia 10 tahun, yang tertimpa oleh


puing-puing rumah yang terbakar karena peperangan.


Mereka meninggalkan anak


sulungnya itu dengan air mata yang tiada hentinya.


Namun…


“*Bruk! (suara melempar


puing-puing)”


“Haaaaah! Untung saja kedua keturunan


budak itu pergi meninggalkanku!”


…Raevalus justru lega ketika


kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya.


“Divine Magic: Soul Split.”


““…””


Dengan rapalan sihirnya, Raevalus


membelah Jiwa miliknya menjadi tiga. Dua dari tiga Jiwa yang ia belah itu


seketika berwujud seperti dirinya, walaupun hanya dirinya saja yang bisa


melihatnya.


Setelah mempraktikan sihir


tersebut, dua belahan Jiwa-nya itu langsung menghampiri peperangan antara bala


tentara Erviga melawan Kaum Dragonewt.


““*Shrak! (suara banyak tebasan


tangan)””


““Aaaargh!””


Dua belahan Jiwa itu langsung


menghabisi semua yang terlibat dalam peperangan. Baik Manusia mauapun


Dragonewt, semua dihabisi dirinya.


Setelah tidak ada sisa dari kedua


belah pihak, Raevalus pun mengambil semua Jiwa mereka tanpa sisa.


“Haaaah…bahkan kumpulan Jiwa


mereka pun hanya sebatas bayi Naga saja. Hmph, dasar dua ras tidak berguna!”


Bisik Raevalus, setelah ia


menghisap semua Jiwa para korban yang ia bunuh tanpa sisa.


Tidak lama kemudian, datanglah bala


bantuan dari Erviga.


Namun, mereka begitu terkejut


setelah melihat tidak ada yang hidup, kecuali seorang anak kecil berusia 10


tahun di tengah-tengah peperangan.


“Nak, siapa namamu?”


Tanya seorang jendral yang


memimpin bala bantuan.


“Raevalus Horinner.”


“Baiklah, ikutlah denganku.”


Raevalus pun ikut bersama bala


bantuan untuk ke Vigrias Capital.


Ketika sampai di sana, ia diasuh


oleh salah satu keluarga yang menjadi personil kerajaan dan diarahkan untuk


sekolah di ibukota tersebut.


……………


Setelah bersekolah selama 5


tahun, Raevalus pun menunjukkan kecerdasan yang luar biasa, yang bahkan


diarahkan langsung kepada Kaki Tangan Raja untuk digali potensinya.


“Kau adalah permata bagi negara


ini, Raevalus. Aku harap, kau bisa menggantikanku untuk melayani Raja Erviga di


kemudian hari.”


“Terima kasih atas pujianmu, Guru


Denaver.”


Itulah kata-kata yang keluar dari


mulut Raevalus.


Namun yang ada di pikirannya


justru berbeda.


“Hmph! Kau pikir kau ini


siapa?! Memang harusnya aku yang berada di samping budak yang berlagak seperti


raja itu! Tidak, malah seharusnya kakiku yang berada di atas kepala budak yang berlagak seperti raja itu! ”


……………


Beberapa tahun kemudian, Raevalus


resmi menjabat sebagai Kaki Tangan Raja.


Ia pun berada di posisi tersebut


selama puluhan tahun.


Walaupun sejatinya adalah seorang


Malaikat, namun Raevalus terpaksa meninggalkan peran tersebut karena termakan usia


sebagai Manusia.


“Guru Raevalus—”


“Ingviar, izinkan aku…bertemu


dengan istrimu…”


“Baik, Guru.”


Pria bernama Ingviar itu pun


membawakan istrinya yang sedang hamil ke hadapan Raevalus yang sudah menua.


“Ada apa, Tuan Horriner?”


“Tidak. Aku hanya ingin…berbicara


dengan anak kalian yang masih berada di dalam kandungan.”


Mendengar jawaban Raevalus, istri


dari Ingviar memberikan perutnya agar dapat disentuh olehnya.


yang cerdas, yang…melebihi saya.”


““…””


Ingviar dan istrinya hanya bisa


tersenyum mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Raevalus.


Padahal, mereka tidak mengetahui


isi pikiran darinya.


“Divine Magic: Spirit Oust…”


Pikir Raevalus yang merapal


mantra ke bayi yang masih di dalam kandungan itu.


Beberapa tahun kemudian, Raevalus


menemui ajalnya.


Namun tidak bagi Narciel.


“Wah! Inikah anak kita?!”


“Ya!”


“Baiklah! Kalau begitu, izinkan


aku namai anak ini dengan nama Morris!”


“Baiklah, suamiku! Aku setuju


denganmu!”


Ingviar dengan istrinya begitu bahagia


dengan anaknya yang baru lahir.


Namun, mereka tidak sadar…


“Hmph! Ternyata semudah ini


menyamar di tengah-tengah Manusia?!”


…bahwa orang yang begitu


disanjung Ingviar sebenarnya terlahir kembali sebagai anaknya.


……………


Ribuan tahun telah Narciel jalani


dengan cara yang sama.


Terlahir kembali sebagai Manusia,


bersekolah dan menjadi yang paling menonjol di antara teman-temannya, menjadi


Kaki Tangan Raja, mempersiapkan murid, meninggal dunia, lalu terlahir kembali.


Ia berpikir bahwa caranya


tersebut sangat mudah.


Namun, ada satu hal yang berada


di luar dugaannya.


“*Brak! (suara membuka pintu


dengan keras)”


“Royvert! Keterlaluan! Kau berani


bermain di belakang saya?!”


Teriak Raja Gregorius Ervigus


kepada Royvert, identitas Narciel pada saat itu, setelah ia menemukan fakta


bahwa Kaki Tangan darinya menyiksa dan membunuh Kaum Dragonewt.


“Raja Gregorius! Maafkan hamba,


Yang Mulia. Hamba tidak—”


“Tangkap dia!”


““Baik, Yang Mulia!””


Seru pasukan raja tersebut, yang


lalu maju untuk menangkap Royvert.


Namun, mereka tidak tahu dirinya


yang sebenarnya.


“Baiklah jika kau hendak


menangkapku, Gregorius. Akan tetapi, jangan kau pikir pasukan seperti mereka


bisa menangkapku semudah itu.”


“Hmph.”


Raja Gregorius hanya tersenyum


kecil mendengar perkataan Royvert.


“Mengapa kau tertawa?”


“Saya sudah berjaga-jaga,


semenjak saya mengetahui anda yang bisa mengambil Jiwa Dragonewt semudah itu.”


“Mm?”


“Maka dari itu, saya membawakan


pria ini di hadapan anda!”


“!!!”


Royvert begitu terkejut ketika


melihat sosok pria yang dibawakan oleh Raja Gregorius.


“Pria itu…”


“Ya! Gue ini Pahlawan Dalbert, Saint dari Mountain God Styrorke! Jangan lo pikir gue bisa biarin


lo hidup! Dasar biadab!”


“Cih!”


Mereka pun bertarung hebat selama


lebih dari 10 hari.


Namun, Royvert tetap berusaha menjaga


identitas rahasianya.


Oleh karena itu, ia dikalahkan


oleh Pahlawan Dalbert.


“Fufufu…”


“???”


“Fufuahahaha! Kau pikir…kau pikir


aku tidak akan—”


“*Shrak! (suara kepala


terpenggal)”


Pahlawan Dalbert berhasil


membunuh Royvert.


Namun, mereka sedikit telat.


Semua itu dikarenakan Narciel,


identitas asli dari Royvert, berhasil mempersiapkan semuanya.


Setelah ia terlahir kembali, ia


melakukan sumpah.


“Saudara-saudaraku sekalian, jika


aku harus dihadapkan dengan sebuah variabel yang tidak terprediksi seperti


pembunuhku, maka izinkan aku untuk menunjukkan identitasku, agar aku tidak mati


memalukan seperti identitasku sebelumnya!”


Sumpah Narciel.


……………


Narciel pun melanjutkan semua


yang telah ia lakukan ribuan tahun yang lalu.


Mulai dari kelahirannya kembali,


keberlangsungannya perburuan Dragonewt oleh House of Siegfried, hingga


pengumpulan Jiwa untuknya.


Akan tetapi, selain kelahirannya


kembali, semua progres berlangsung dengan sangat pelan.


Maka dari itu, ia memikirkan cara


yang begitu cepat selama ratusan tahun, hingga ia menemukan sesuatu yang


menurutnya dapat mengakhiri penantiannya untuk menghukum Kaum Manusia yang


berada di Erviga.


“Hoo…jadi inikah pemimpin Goldiggia yang bernama Bjüdrox?”


“Hieeekh!”


“Ssshh, ssshh, sshh… Tenanglah.


Aku tidak akan menangkapmu. Justru, aku bisa membuat bisnismu semakin melebar


dan membuatmu semakin kaya.”


“…”


Narciel yang telah menjadi


Maverick Orbloom pun menjalin kerja sama dengan Bjüdrox, pemimpin Goldiggia.


“Apakah kau adalah pemimpin House


of Siegfried saat ini?”


“Ya. Nama hamba adalah Sebastian


Siegfried, Yang Mulia. Inilah pusaka dari leluhur kami.”


“Fufufu…”


Ia tertawa, sambil menerima Jiwa


milik Flamiza dari Sebastian.


“Kau kah sekarang yang menjadi


Kapala Saudagar dari Riorio Merchant?”


“Ya. Na…Nama saya Dahlia, Yang


Mulia.”


Balas Dahlia kepada dirinya.


Dengan dirinya berkuasa atas tiga


hal yang ia butuhkan, ia memulai langkah besarnya dalam menyerang Erviga.


……………


Akan tetapi, semua yang ia


rencanakan menjadi kesia-siaan.


Semua karena satu hal tidak


terduga yang muncul selama rencananya sedang berlangsung.


Oleh karena itu, ia pun memenuhi


sumpahnya dan menunjukkan identitasnya sebagai Malaikat.


“Aku adalah Narciel. Pria Terjanji, karena kau


telah memaksaku untuk menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya, maka aku akan


menghabisimu bersama teman-temanmu ini, sebelum menghancurkan Erviga.”


Sahut Narciel kepada Djinn dan


rekan-rekannya yang siap untuk mengalahkan dirinya.