Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 215. Unrevealed Heir



Udah hampir seminggu gue ngikutin Melchizedek di Kronovik bareng Velltrish.


Makin ke sini, mereka makin mesra.


“Kita pergi dulu ya, Bu Grecia!”


“Ya! Semoga hubungan kalian berdua semakin awet, ya!”


“Bu-Bu Grecia, ih!”


Bahkan disindir gitu aja muka mereka berdua langsung merah.


Tapi nggak cuma itu aja yang gue perhatiin selama seminggu.


“Liat Mistyx itu yang lagi mesra-mesraan.”


“Iya, ya. Kasian banget orang itu karena nggak tau Mistyx aslinya kayak gimana.”


“Andai cowok itu tau kalo Klan Mistyx isinya pembunuh semua.”


Ternyata di masa lalu ini udah ada beberapa orang yang nggak suka Mistyx warga sini, termasuk Dragonewt.


Tapi nggak cuma Mistyx aja yang jadi bahan omongan warga.


“Dasar sok asik tuh Dragonewt!”


“Emang! Ras yang numpang aja bisa seenaknya ngomongin orang kayak gitu!”


“Tenang, tenang, tenang! Dia nggak terlalu salah kok, walaupun gue ngerasa agak tersindir…”


Dragonewt pun juga jadi bahan omongan warga, termasuk Mistyx.


Gue kira warga negara ini setentram itu, ternyata nggak juga ya.


Tambah lagi, sekarang…


“Apakah anda yang bernama Velltrish?!”


“Y-Ya. Saya Velltrish…”


…Melchizedek sama Velltrish kepergok sama beberapa Mistyx.


“Apa yang anda lakukan bersama pria itu?”


“Di-Dia cuma pacar saya aja, kok.”


Eh?! U-Udah pacaran?!


“…”


Kayaknya belom, deh.


Mukanya Melchizedek semerah itu waktu dia bilang kayak gitu.


“Emangnya kenapa, ya?”


“Tidak. Hanya penasaran saja.”


Mungkin Mistyx itu cuma ngomong penasaran doang.


Tapi gue yakin, kalo dia…


““…””


…nggak cuma sekedar penasaran aja, karena ada banyak banget Mistyx yang awasin mereka sambil sembunyi-sembunyi!


“Ve-Velltrish, maafkan aku. Karena aku, kau menjadi diawasi sanak saudaramu seperti i—”


“*Bruk…”


“Ve-Velltrish?! Apa yang sedang kau lakukan?!”


Dia masuk-masukin barang?


“Melchi, ayo kita pergi dari sini!”


“Pergi dari tempat i—”


“Di sini udah nggak aman! Mending kita pergi cari penginapan aja, sebelum kita punya rumah!”


Eh?! Serius mau cari rumah?!


Emangnya segampang itu?!


“Ve-Velltrish, dengarkan aku terlebih dahulu.”


“Masukin ini, ini, terus i—”


“Ve-Velltrish! Kau tidak perlu pergi dari sini! Biar aku saja yang pergi dari—”


“Aku nggak mau kehilangan kamu, Melchi!”


Eh…?


“Mungkin kita kenal nggak selama itu. Ta-Ta-Tapi aku mau habisin waktu bareng kamu, walaupun… aku harus relain klan aku, yang sebelumnya paling aku sayang dan hormatin di dunia!”


Gue nggak tau seberapa besar rasa sayang dia sama klannya. Tapi kalo diliat dari tangannya yang gemeteran waktu masuk-masukin barang, mungkin emang dia sebenernya juga nggak tega untuk tinggalin klannya.


“Aku juga, Velltrish.”


Eh?!


“Selama aku hidup, aku telah mengorbankan semuanya, termasuk keinginanku.”


“Me-Melchi…?”


Dia mau ngungkapin dirinya sekarang?


“Namun, untuk kali ini saja, aku ingin mementingkan diri sendiri! Oleh karena itu…”


“*Tap…”


“…aku tidak ingin kehilangan momen bersamamu!”


“Melchi…”


“*Cup…”


Ah… gue nggak liat. Gue nggak liat.


“Velltrish.”


“Ya?”


“Sebelum kita pergi, aku hanya ingin memastikan lagi kepadamu.”


“Hm? Pastiin apa?”


“Apakah… engkau benar-benar yakin untuk meninggalkan klanmu, mengingat apa yang telah mereka lakukan untukmu?”


Hah?


Nih orang…


Jangan bilang dia liat masa lalunya Velltrish…?


“Kamu mungkin prioritas aku, Melchi. Tapi aku nggak akan pernah bisa lupain klan aku. Pokoknya, aku selalu


usahain untuk ada untuk kalian semua, mau itu kamu atau Mistyx.”


“Baiklah jika itu jawabanmu, Velltrish.”


Akhirnya mereka berdua nginep di kedai minum yang ada penginapannya.


Tapi gue masih kepikiran sama kata-katanya Melchizedek.


Gue tau kalo dia udah berkorban banyak, tapi apa aja sebenernya yang dia korbanin?


Terus, apa maksud pertanyaan terakhirnya?


……………


Beberapa hari kemudian, semua pasukan Kronovik dateng.


Melchizedek ada di tengah-tengah penduduk negara ini yang nyambut pasukan perang ini, sedangkan Velltrish lagi ada di kastil untuk siapin hidangan buat semua pasukan ini.


Tapi, ada yang menarik perhatian gue di sini.


“Selamat datang kembali, Pangeran Kravo!”


“Untung aja Pangeran Kravo selamat!”


“Kami berhutang nyawa sama Pangeran Kravo!”


Kembar sulung dari Pangeran Krevorik, Kravo Kronovik, disambut sama semua Klan Mistyx.


“Puji Dewa dan Dewi karena Yang Mulia selamat, Pangeran Krovo.”


“Terima kasih atas dukungannya kepada kami, kaum Dragonewt!”


“Semoga Yang Mulia terus dilimpahi kesehatan, Pangeran Krovo!”


Sedangkan kembar bungsu, Krovo Kronovik, disambut baik sama semua Dragonewt.


Masalahnya, gue nggak liat adanya satupun Mistyx yang nyambut Krovo. Hal yang sama juga dialamin Kravo. Dia nggak disambut sama Dragonewt.


Mungkin, dari sini gue yakin udah ada unsur pilih kasih dari dua pangeran itu.


Pantes aja nantinya ada Faksi Kemanusiaan sama Faksi Persatuan.


“Instingku tidak baik! Sepertinya aku harus menemui Velltrish di dalam sana!”


Hah? Dia mau ke dalem kastil?


Emangnya dia mau ngapain?!


((Self-Hidden))


Hm? Sihir macem apa, tuh?


“Selamat datang kembali, Yang Mulia.”


“Ya.”


“…”


Gi-Gila!


Padahal badannya keliatan banget di mata gue! Tapi orang-orang bisa nggak tau ada dia?!


Gue yakin banget Kekuatan Mata gue nggak aktif! Artinya dia bisa bikin dirinya nggak diketahuin semua orang, gitu?!


“Hey.”


“HIII—”


“Sssst! Ini aku!”


Gi-Gimana nggak kaget ceweknya, yang ngeliat dia yang tau-tau nongol?!


“Melchi! Kamu ngapain di sini?! Kok bisa masuk?!”


“Aku merindukanmu! Hihi!”


“I-I-Iiiihhh! Kamu nggak jawab pertanyaan aku, tau!”


Ma-Malah mesra-mesraan…


Apa harus gue liatin masa lalu kayak gini?


“Akan tetapi, alangkah baiknya kau pergi meninggalkan tempat ini, Velltrish. Instingku berkata akan terjadi suatu yang buruk yang berada di tempat ini.”


“Maksud kamu apa?!”


Insting, ya? Entah kenapa gue keinget satu orang yang—


“*Prang!”


Eh! Kok ada suara beling pecah?!


“*Brak!”


“Ve-Velltrish!”


Velltrish langsung buru-buru ke arah suara itu.


Nggak cuma dia doang, sebagian orang-orang yang kerja di kastil ini juga nyamperin suara itu.


“Su-Suara apa itu?!”


“Pe-Perhatikan baik-baik, Velltrish…”


Emangnya ada apa, sih?


Gue sendiri jadi penasaran…


“Dengar saya baik-baik, Kravo! Saya mendukung anda menjadi Pangeran yang memimpin negara ini, namun saya tidak akan diam saja jika anda mengusir Dragonewt dari negara ini!”


“Lihat baik-baik, Krovo! Negara ini tidak lebih besar daripada Erviga, Arschtein, maupun Makhenvi! Dengan adanya Dragonewt, populasi menjadi naik tidak karuan! Baik usia mereka yang bisa sampai 500 tahun lebih, serta angka kelahiran mereka, kedua hal tersebut tidak sebanding dengan persediaan yang ada di negara kita! Janganlah naif!”


Ternyata itu ya sumber permasalahannya?


Semua karena persediaan yang terbatas.


Dari sini, gue nggak bisa tentuin mana yang bener mana yang salah…


Oh ya, ngomong-ngomong pemimpin negaranya ada di mana, ya?


Mending gue cari dulu…


“!!!”


Dia bukannya Dragonewt yang jadi Sage?! Kenapa dia ngendap-ngendap ada di kastil ini?!


Mending gue ikutin aja kali, ya?!


……………


“…”


Dia mau masuk ke ruangan itu?


Kalo diliat dari design-nya sih, kemungkinan itu ruang privasinya Pangeran Krevorik.


Apalagi ruangan itu ada pengawalnya.


Tapi kok Dragonewt ini mau masuk ke sana?


((Whisper Seeker))


Hm?


Dia pake sihir untuk nguping sesuatu dari jarak sejauh ini?


Untungnya sih gue nggak keliatan, jadinya gue bisa masuk ke ruang privasi ini.


Ya. Karena gue sendiri sebenernya juga penasaran.


“…”


Ternyata di dalem ruang privasi ini ada Pangeran Krevorik bareng pelayannya, ya?


“Inilah surat wasiatku, Barghomen. Dengan surat wasiat ini, maka anak pertamaku, Kravo, akan menjadi Kaisar, setelah Principality of Kronovik melebur dengan Negragari Empire.”


“Jika boleh saya tahu, apakah kita menyerahkan diri kepada kekaisaran tersebut?”


“Tidak. Anak dari Kaisar Negragari tidak memiliki anak lelaki. Oleh karena itu, Kravo akan mempersunting Putri Vivia Negragari dan menjadi Kaisar di negara tersebut.”


Oh! Sebenernya udah ada warisannya?!


Tapi kok kalo dari cerita Styx, dia nggak nyiapin wasiat apa-a—


“*Bruk…”


Eh! Kok Pangeran Krevorik tiba-tiba tumbang—


“A-A-Aku merasakan racun! Bukankah kau yang memberikan minum ini, Barghomen?!”


“…”


Wah, anjing! Dia ternyata pengkhianat?!


Jangan bilang dia i—


“*Shrrrttt…”


Dia ngerobek surat wasiatnya?!


“Ba-Barghomen! Apa rencana—”


“Ah, ah, ah. Tidak seharusnya kau dan leluhurmu menampung Dragonewt, Krevorik. Mengapa kau tidak mengambil Jiwa mereka? Bahkan negara asal mereka, Erviga, sudah memusnahkan mereka, serta mengambil Jiwa mereka semua.”


“…”


“Ah, sudah mati, kah? Tidak kusangka racun yang kusiapkan terlalu ampuh.”


Brengsek!


Udah nggak salah lagi, dia pasti—


“*Brak!”


“Cih! Sudah ada yang menyerang, kah?!”


“…”


Eh?! Si Sage ini kok munculnya kayak gitu?!


“…”


Bu-Buset…


Pengawal ruang privasi ini udah dihajar sama Sage ini sampe pingsan.


“Hm? Apakah kau adalah seorang Sage?”


“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Malaikat?!”


Tuh kan! Gue udah yakin orang ini pasti Malaikat!


“Sepertinya kau telah mengetahui siapa diriku sebenarnya. Namun, apakah hal tersebut akan—”


“*Chring!”


Loh, loh, loh!


Sinar apaan nih—


“!!!”


Hah?! Kok tiba-tiba ada Melchize—


((Divine Art: Spirit Oust))


“*Tap…”


Gi-Gi-Gila!


Dia bisa ngeluarin Roh Malaikat itu dari badannya?!


“Ka-Kau adalah—”


((Spirit Magic: Spirit Obliration))


“ME-ME-MELCHIZE—”


“*Fwuzzz…”


BAHKAN DIA BISA HANCURIN ROH SEGAMPANG ITU?!?!


Gila! Bahkan gue sama temen-temen gue sampe mati-matian ngalahin Narciel! Sedangkan dia bisa kalahin Malaikat segampang itu?!


“Gu-Guru Besar, maafkan sa—”


“*Tap…”


((Mind Magic: Alter))


Dia ngapain, tuh?


“Apakah anda akan merubah memori kedua pengawal itu?”


“Ya. Namun, semuanya belum selesai.”


Belom selesai?!


Emangnya dia mau ngapain lagi?!


((Time Magic: Revert State))


“…”


Gila nih orang!


Mulai dari pintu yang hancur karena dijebolin, meja yang penuh bercak darah pangeran ini, bahkan sampe dua pengawal yang jatoh itu, semuanya bisa dia balikin seperti semula!


Tapi…


“Uhuk! Uhuk, uhuk, uhuk!”


…keliatannya sihir itu bikin Melchizedek kesakitan, deh.


“Gu-Guru Besar! Apakah anda baik-baik sa—”


“*Tap…”


((Space Magic: Open Portal))


“*Vwrung…”


“Ce-Cepat kita pergi dari sini!”


“Baik, Guru Besar!”


Mereka berdua pergi ke penginapannya Melchizedek sama Velltrish lewat portal yang Melchizedek bikin sendiri. Abis itu, Sage Dragonewt ini bantu sembuhin dia pake sihirnya.


“Guru Besar, apakah tidak apa-apa jika kita tinggalkan semua dalam kondisi seperti itu?”


“Ya. Andai saja aku bisa mengembalikan apa yang sudah musnah, atau mengembalikan apa yang telah tiada.”


Maksudnya dia pengen hidupin pangeran itu lagi?!


“Ma-Maafkan saya, Guru Besar. Andai saya lebih si—”


“Tidak usah menyalahkan dirimu. Sekarang, kita akan dihadapkan dengan tantangan yang sulit, Sage. Dengan


kematian Pangeran Krevorik, serta bukti wasiat yang telah hilang, maka hanya ada perang saudara yang akan terjadi di negara ini.”


Ya. Ternyata kayak gini ya awal mulai peperangannya?


Kalo nggak ada Melchizedek, bisa aja Dragonewt makin disalahin karena ulah Sage ini.


Cih! Makin benci gue sama Malaikat yang ada di dunia ini!