
Gia dan rekan-rekannya berhasil mengalahkan Marwell, yang mati di tangan Mahadia. Itu semua berkat pengorbanan Royce, yang terus memaksakan dirinya untuk menggunakan Union yang telah mencapai batas.
“Royce! Bangun! ROYCE!!!”
Mahadia mulai mencemaskan Royce yang tidak kunjung sadar setelah pertarungannya menghadapi Marwell.
“M-Maha, keliatannya kita harus bawa dia balik, supaya dia bisa disembuhin Keeper yang ada di dalam Chaoese—”
“*Bruk…”
“Gia!”
Ketika sedang berbicara, Molly juga dikejutkan dengan Gia yang terjatuh dan tidak sadarkan diri karena lelah
yang dirasakannya.
Sama seperti Royce, Gia sebagai seorang Frontliner juga harus terus menghadapi gelombang serangan dari Marwell. Oleh karena itu ia kelelahan, walaupun kondisinya tidak lebih buruk dibandingkan Royce.
“T-Terus… kita harus gimana…?”
Tanya Sonda, yang juga kelelahan, karena terus menggunakan Mana untuk menyerang Marwell.
“Gue pergi sekarang untuk cari—”
“*Bruk…”
Mahadia, yang hendak mengangkat Royce, juga harus terjatuh karena terus menggunakan Mana untuk melakukan
teleportasi bagi rekan-rekannya.
“S-Sial…! A-Andai aja… ada Keeper… di antara kita…!”
Bisik Molly, yang terluka karena serangan dari Marwell.
Sementara itu di bagian lain Chaos Island, di mana terdapat Djinn dan rekan-rekannya.
“*Ngunggg…”
Winona berusaha menyembuhkan lengan Luvast yang terbakar. Walaupun Luvast sudah tidak merasakan sakit pada lengannya, tetapi bekas luka pada lengannya tidak kunjung menghilang.
“Ayo…! Sembuh dong…!”
Bisik Winona, yang berusaha menyembuhkan lengan Luvast dengan sekuat tenaga.
“…”
Djinn mengerti dengan keputusasaan yang dirasakan oleh Winona, karena gagal untuk memulihkan kondisi
seseorang sebagai seorang Keeper.
“Win, mundur sebentar. Biar gue aja.”
Kata Djinn kepada Winona.
“Kalian jangan ada yang bilang-bilang ya kalo gue punya kekuatan ini! Khususnya Garry! Bisa-bisa dia jadi males-malesan!”
Tegas Djinn kepada Luvast dan Winona, sementara mereka hanya menganggukkan kepala mereka.
((Judgement: Chronos Breath))
“*Fwuh!”
““Hm?””
Djinn merapal sihirnya. Akan tetapi tidak ada perubahan pada lengan Luvast.
“Ada yang aneh! Kenapa nggak bisa sembuh?! Apa mungkin gue salah mantra?! Atau mungkin karena gue kehabisan Mana?! Atau semua… karena Ark Blade…?”
Pikir Djinn dengan heran, setelah ia tidak mampu menyembuhkan Luvast.
Namun ia tidak menyerah. Ia terus mencoba menyembuhkannya.
“*Fwuh!”
“…”
“*Fwuh!”
“…”
“*Fwuh!”
“…”
Akan tetapi usahanya tidak ada yang berhasil.
“K-Kamu ngapain sih, Djinn…?”
Tanya Winona dengan heran.
“Di dalem Hidden Dungeon, gue sembuhin Ayasaki pake mantra ini! Tapi kenapa sekarang nggak bi—”
“A-Ayasaki?! Apakah yang kamu maksud itu adalah… Kazedori Ayasaki, The Deadly Maiden?!”
Tanya Luvast dengan semangat karena mendengar sedikit penjelasan dari Djinn.
“…”
Djinn memperhatikan Hakuya yang masih tidak sadarkan diri, sebelum menjelaskan masa lalu Ayasaki kepada Luvast dan Winona.
“Seperti itu, kah? Ia bahkan tidak bisa membunuh dirinya sendiri. Karena itu ia dengan sengaja melahirkan seseorang yang mampu membunuhnya.”
“Tragis banget, ya. Entah kenapa aku jadi bersyukur karena aku punya umur pendek sebagai Manusia.”
Sahut Luvast dan Winona, terkait masa lalu pahit Ayasaki.
“…”
Setelah mendengar cerita Djinn, Winona kembali berusaha untuk menyembuhkan Luvast. Tetapi Luvast menghentikannya.
“Cukup, Winona Waters.”
“Eh? Kok—”
“Perhatikanlah. Masih ada banyak dari antara kita yang membutuhkan pertolongan anda. Oleh karena itu—”
“Terus luka lo gimana, Vas?!”
Tanya Djinn dengan khawatir.
“Saudaraku. Kamu tidak perlu khawatir. Biarlah luka ini menjadi pengingat bagiku, bahwa aku harus menjadi
semakin lebih kuat seperti ibumu, Bibi Luscika, tanpa adanya bantuan kekuatan seperti tadi.”
“…”
Djinn pun terdiam, walaupun kekhawatiran masih terlihat di wajahnya. Sementara Winona pergi menghampiri
Evri dan Slasher untuk menyembuhkan mereka.
“Oh ya, Vas.”
“Hm?”
“Sebelumnya, maafin gue karena kata-kata gue yang kasar ke abang lo.”
“Tentu saja aku memaafkanmu, karena kau berusaha melindungiku darinya. Hanya saja, aku bersyukur dengan
kedatangannya, sebagai satu-satunya kakak kandung yang peduli denganku.”
“Mungkin kamu lupa ingatan tentang Kakak Rivrith, Djinn. Oleh karena itu, biarlah aku jelaskan sedikit tentang kakakku itu.”
“…”
“Kakak Rivrith, sebagai cucu paling tua dari antara kita, adalah salah satu High Elf terkuat selain kakek dan Bibi Luscika. Mungkin ia adalah anak sulung dari ayah. Tetapi ia adalah pria dengan prinsip yang teguh, serta pola pikir yang berbeda.
Oleh karena itu ia menjadi salah satu penentang terbesar dari ayah, walaupun ia berada di pihak yang netral dan tidak memihak pada Bibi Luscika.
Namun dari semua itu, ia adalah pria yang sangat baik hati, yang peduli dan dicintai oleh rakyat Vamulran
Kingdom.”
Jelas Luvast tentang Rivrith kepada Djinn.
Mendengarnya, Djinn pun tersenyum.
“Ya. Gue yakin dia baik.”
“Hm? Mengapa kamu berpikir seperti itu?”
“Karena selain lo, cuma dia aja satu-satunya High Elf yang nggak sebut gue sebagai Anak Haram. Makanya
gue yakin, kalo dia pasti baik ke banyak orang, termasuk ke gue juga, Si Anak Haram. Haha…”
“Hihi! Mengapa aku mendengarmu seperti kamu menghina dirimu sendiri?!”
Tawa Luvast, sambil melanjutkan perbincangannya dengan Djinn.
Setelah mereka saling berbincang bersama, Djinn pun berdiri.
“Yaudah deh. Gue pergi dulu ya.”
“Apakah kamu mau pergi menuju Chaoseum?”
“Ya. Karena gue yakin, kalo Leonard masih ada di dalem sana!”
“Baiklah! Semoga kamu bisa mengalahkannya bersama Myllo!”
“Mm!”
Djinn mengangguk, sebelum berjalan menuju Chaoseum.
“…”
Djinn pun berjalan menuju Chaoseum. Selama di dalam perjalanan, ia menemukan ada sangat banyak jasad.
Baik itu jasad Petualang, anggota Leo, anggota dari tiap Black Guild, maupun anggota militer dari suatu negara. Bahkan jasad mantan bangsawan dan pemimpin negara juga ia temui.
“S-S-Sial…! Kenapa kita… harus… mati… di si…”
“…”
Ia juga menyaksikan beberapa orang yang sedang terluka dengan keadaan kritis, sebelum meninggal dunia.
Akan tetapi, ada satu orang tidak dikenal yang tiba-tiba menarik perhatiannya.
“I-I-I… Ibu…”
“!!!”
Djinn seketika menghentikan langkahnya. Perhatiannya langsung tertuju kepada seorang wanita yang merupakan
anggota Leo, yang terdengar seperti memanggil ibunya.
“…”
Ia pun menghampiri wanita tersebut, lalu menopangnya.
“I-I-Ibu… m-ma… ma… maafin aku… yang lari dari ibu…”
“…”
“A-A-Andai… A-Andai… a-a-aku punya kesempatan… u-untuk balik… k-ke masa lalu… m-m-mungkin aku… nggak akan pernah… tinggalin ibu sendirian… bertani… bu…”
“…”
“K-K-Karena keegoisan a-aku… yang p-pentingin diri sendiri… untuk j-jadi Petualang d-dan tinggalin ibu… a-aku
harus… rasain penderitaan i-ini…! A-Aku t-t-terpaksa… untuk kerja… d-di bawah… monster yang namanya… L-Leonard i-itu… bu…! A-Aku nyesel… bu…! Hiks…!”
“…”
Djinn terus mendengar apa yang dikatakan oleh anggota Leo tersebut.
“Ibu…”
Pikir Djinn, karena teringat oleh ibunya.
“Kalo ibu liat gue yang sekarang, kira-kira apa reaksinya, ya? Apa mungkin dia bangga karena gue buka hati gue untuk orang lain? Atau justru dia kecewa sama gue, karena gue nggak ada bedanya dibanding pembunuh yang nggak mikir dua kali untuk cabut nyawa orang?”
Kembali pikirnya, sebelum dirinya…
((Judgement: Chronos Breath))
“*Fwuh!”
…menyembuhkan wanita tersebut dengan kekuatannya.
“E-E-Eh?! K-Kok gue—Kyaaa!”
Teriak wanita tersebut dengan terkejut karena baru menyadari bahwa ia sedang ditopang Djinn.
“Lo bilang, lo nyesel kan?”
“L-Lo… denger yang gue bilang—”
“Gue nggak tau lo siapa. Tapi denger gue baik-baik.”
“…”
“Lo masih punya kesempatan untuk pergi dari sini, untuk minta maaf sama ibu lo. Makanya itu, sana pergi.”
Kata Djinn kepada Petualang tersebut, setelah memberikannya kesempatan kedua.
“K-Kesempatan? A-Apa mungkin… gue bisa bebas gitu aja…? E-Emangnya gue nggak akan dikejar Leonard—”
“Leonard pasti gue kalahin hari ini juga! Lo jangan khawatir sama dia! Mending lo khawatirin kondisi ibu lo, yang mungkin masih nunggu lo!”
“…”
Petualang tersebut terdiam dengan berlinang air mata.
“M-Makasih ya…! Hiks, hiks, hiks…”
Seru Petualang tersebut, sambil menyaksikan Djinn yang berjalan menuju Chaoseum.
Namun Djinn tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di arena pertarungan tersebut…
“*Crat, crat, crat…”
“Grahahahaha!!! Bagus! Gue kira kalian mati begitu aja! Ternyata kalian masih berani berdiri untuk lawan gue!”
““…””
…bahwa hanya tersisa Zorlyan, Ollie, Paul, dan Daphine saja yang masih mampu berdiri untuk menghadapinya.