Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 414. On The Verge of Defeat



Pertarungan antara Leo dan keempat Party masih berlanjut. Kini mereka semua dihadapkan dengan adanya mantan anggota Argus Navis yang saat ini mengabdi kepada Leonard.


“*Chring, chring, chring…”


“…”


“Cih!”


Mahadia sedang kesulitan untuk menyerang Groutaine Hillminer, seorang Dwarfett yang merupakan Frontliner Kasta Jingga.


“Hmph! Striker kok nggak bisa nyerang gue?!”


Seru Groutaine dengan niat meledek Mahadia.


“*Shrak!”


“Keuk!”


“…”


Pada pertarungan lainnya, Awva tertusuk oleh tombak yang tertancap pada pundaknya.


“Oooh!”


“*Swush…”


“Ternyata Sea Elf satu ini juga bisa regenerasi ya?! Kuat juga ya kalian! Pantes aja kalian Sea Elf bisa jajah


laut tempat tinggal kaum gue!”


Seru seorang Merman yang bernama Marinus Aguos, mantan Striker Kasta Kuning, setelah ia menarik kembali tombak yang ia lempar kepada Awva.


“Hmph! Kalo kaum gue bisa jajah laut, artinya kalian selemah itu ya, Merfolk!”


“Keuk!”


Cemooh Awva, yang membuat Marinus kesal.


““*Vwumm…””


Sonda menembakkan panah berapinya kepada mantan anggota Argus Navis yang sedang ia hadapi.


Tetapi…


(Water Magic: Raindrop))


“*Bwush…”


…panah berapi yang ia lesakkan dengan mudah dipadamkan oleh lawannya dengan sihir berupa rintik hujan.


“Udah? Gitu aja? Nggak ada lagi serangan yang bahaya dari lo?”


Tanya seorang pria bernama Doyle Winchell, mantan Observer Kasta Jingga, dengan niat mencemoohnya.


“Oh gitu?”


“Hm?”


“Kalo emang lo bisa pake sihir air kayak gitu, coba terus berhentiin panah gue!”


Tantang Sonda kepada Doyle, dengan menarik panah pada busurnya dengan sekuat tenaga.


“*Swung…”


“…”


Alethra mengayunkan pedang besarnya kepada Phinara Eyfina, seorang Elf wanita yang sebelumnya merupakan


seorang Keeper Kasta Jingga.


“*Shrak!”


“Cih!”


“Hmph!”


Alethra tersenyum, ketika ia berhasil menyerang Phinara, walaupun ia tidak mampu menghadapi balasan darinya.


((Summon Magic: River Lady))


“*BHUK!!!”


“Keuk!”


Dengan sihirnya, Phinara memanggil seorang wanita berambut panjang yang memukul Alethra dengan keras


menggunakan rambut panjangnya.


“*Ngunggg…”


Wanita tersebut juga mampu menyembuhkan Phinara yang terluka akibat serangan Alethra.


“*Crat, crat, crat…”


Alethra pun terluka karena rambut keras wanita yang dipanggil oleh Phinara.


“Mengapa kamu tidak menggunakan sihirmu? Buat apa kamu mengayunkan pedangmu seperti itu, mengingat tanganmu hanya tersisa satu?”


“…”


Alethra terdiam ketika mendengar pertanyaan Phinara. Hingga akhirnya, Phinara paham dengan situasinya.


“Tunggu, apakah kamu tidak bisa menggunakan sihir?”


“…”


“Oh! Seperti itu kah?! Hmph! Kamu ternyata Elf yang sangat memalukan!”


“Cih!”


Alethra pun kesal dengan pernyataan Phinara, sebelum ia hendak melanjutkan pertarungan dengannya.


 “*Swush, swush, swush…”


“…”


Radomila terus menghindari serangan dari Treeva, wanita yang sebelumnya merupakan Striker Kasta Jingga, dengan Artifact berupa dua pasang tangan tambahan di punggungnya, yang memegang pedang.


“Ayo hindarin terus! Gue yakin lo nggak akan bisa lebih lama lagi ayunan pedang gue!”


Seru Treeva kepada Radomila.


Sementara Radomila sendiri…


“Duh…! A-Aku bisa kena serangan dia karena kecapean…!”


…merasa khawatir dengan stamina yang ia miliki.


“*Prang, prang, prang…”


“Hmph! Kuat juga lo untuk sekelas Striker Kasta Kuning!”


“Harusnya gue yang ngomong gitu ke lo yang cuma sekedar Rounder!”


“Sekedar Rounder?! Liat nih! Dulu gue itu Rounder Kasta—”


“Sorry, maksud gue lo itu cuma sekedar Rounder yang ngumpet di ketek Leonard, daripada harus mati dibunuh dia!”


“Oho! Ternyata bacot lo bisa bikin sakit hati ya!”


Seru Peck Perkins, yang sebelumnya merupakan Striker Kasta Jingga, dengan senyum kepada Lozrick, walaupun ia sangat marah dengan perkataannya.


“*Cyut! Cyut! Cyut!”


“…”


Hobart, yang merupakan satu-satunya Keeper dari antara anggota dari keempat Party, harus terus menghindari lemparan pisau dari Neilla Knives, mantan Observer Kasta Kuning.


““…””


Pertarungan yang sedang dihadapi mereka sangatlah sengit dan seimbang, karena 7 orang dari kedua belah pihak harus kewalahan untuk menghadapi lawan mereka masing-masing.


Namun beda halnya dengan Machinno, Ervi, dan Paul.


{Hammer Impact}


“*CHRANG!!!”


“Humph!”


“*CHRANG!!!”


“Mau ngapain lagi, Mahluk Aneh?! Apa cuma itu doang yang lo bisa?! Hah?!”


Seru Luvic Nazet, mantan Striker Kasta Merah, yang terus menghancurkan sihir Machinno, serta menghinanya.


“*Shrak!”


“Keuk…!”


“Mungkin gue ini agak nggak tega untuk nyerang cewek kayak lo. Tapi kita bertarung pake nyawa sebagai taruhan nyawa kita. Makanya itu jangan dendam ya sama gue, kalo ketemu gue sehabis lo mati.”


Kata Ervi, setelah ia berhasil melukai Masey Dotoo, mantan Striker Kasta Merah.


“*Chringgg…”


“Tidak. Saya tidak akan dendam. Namun daripada memikirkan saya…”


“*Shrak!”


“…alangkah baiknya jika anda memikirkan serangan anda yang sangat sederhana dan sangat mudah terbaca oleh saya.”


Kata Masey, yang berhasil membalas Ervi dengan melukai pundaknya.


“…”


Ervi memandang luka kecil yang ia terima. Tetapi ia merasa ada yang janggal.


“*Crat…”


“O-Oi! Kok darah gue… deras banget keluarnya…?!”


Tanya Ervi dengan heran.


“((Multiple Severance)). Dengan sihir pedang saya, maka saya akan melipatgandakan luka yang saya terima dan membalaskannya kepada anda.”


Jelas Masey kepada Ervi terkait sihir yang ia gunakan.


Sedangkan Paul…


“*BWUNG!!!”


“Aaargh!”


“*Bruk!”


…harus terkena pukulan perisai yang keras dari Reubenn, hingga menghantam tembok dengan keras.


“Cuh!”


“…”


Paul pun meludah. Tidak hanya darah saja yang keluar dari mulutnya. Dua giginya juga terlepas dari dalam


mulutnya.


“Hmm. Saya harus akui ketangkasan anda, Striker. Alangkah baiknya jika saya membunuh anda secepatnya, agar rekan-rekan saya menjadi lebih unggul dengan kehadiran saya.”


Kata Reubenn, seakan ia merasa bahwa Paul akan mati di tangannya.


Sementara itu di depan Gerbang Selatan, di mana grup yang dipimpin oleh Zorlyan dan Ollie menghadapi para


Executioners.


((Blizzard Lance))


“*Shrrrkk!!!”


Luvast hendak menyerang Passio menggunakan sihir es untuk menciptakan es raksasa yang ia tembakkan dari pedangnya.


““…””


Tetapi sihir Passio, yang berupa ratusan sabit darah, mampu menghancurkan es tersebut dan hendak menyerang Luvast.


{Vlerion Sword Art: Dancing Blade}


“*Chring, chring, chring…”


Luvast pun menghalau ratusan sabit darah itu dengan teknik pedangnya.


“Woy! Sayang darah yang udah gue panen dong—”


“♫La la lala la…”


“…”


Oleh karena itu…


“*Chringgg…”


…Slasher datang dan langsung menyerang Passio yang sedang lengah, tetapi Passio mampu menggerakkan Tubuh-nya dan menghalau serangan Slasher.


“Uhuk! Uhuk, uhuk, uhuk…!”


“Hey! Apakah anda baik-baik sa—”


“S-Saya baik-baik saja—”


“*Ngunggg…”


“Mungkin sihir penyembuhan saya tidak sebesar Garry atau Zorlyan. Tetapi semoga saja sihir saya dapat membantu anda.”


“T-Terima kasih.”


Balas Royce, setelah Luvast menyembuhkannya dari batuk berdarah yang tiba-tiba ia alami.


((Shitokaze))


“*FWUSH!!!”


Slasher berusaha untuk menyerang Passio dengan sihir angin miliknya.


((Giant Blood Sickle))


“*SWUSH!!!”


“!!!”


Sementara Passio hendak menyerangnya dengan sabit darah raksasa yang ia ciptakan dari Harvestia miliknya.


“Hey! Apakah anda baik-baik saja?!”


“Ya! Gue belom mati!”


“J-Jangan tunggu mati terlebih dahulu sebelum menyesal…”


Balas Royce dengan heran, setelah Slasher menghindari serangan Passio dan berdiri di sampingnya.


“Cih! Andai aku sekuat Bibi Luscika, mungkin aku bisa membekukan darah itu!”


Pikir Luvast terkait cara mengalahkan Passio.


“*Prangprangprang…”


“Keuk…!”


Gia terus menahan serangan Marwell, yang menggunakan tulang belulang raksasa.


“Molly! Sekarang!”


((Summon Magic: Poisonous Slime Gun))


“*Bwush!”


Dengan sihirnya, Molly memanggil seekor Slime yang menembak Marwell lewat celah-celah tulang yang tebal dan rapat.


“*Pwush…”


“Keuk…! Dasar Mermaid bajingan…!”


Seru Marwell dengan kesal, setelah ia keracunan karena harus menerima serangan dari Slime yang Molly panggil.


“Racunnya ada dari tangan gue?! Kalo gitu…”


“*Shrak!”


““!!!””


“…gue terpaksa potong tangan ini!”


Pikir Marwell sambil memotong tangannya, hingga membuat Gia dan Molly terkejut karenanya.


“Fokus! Jangan peduliin dia!”


“*Jlub, jlub…”


“Dia itu kuat! Daripada merhatiin dia, mending pikirin aja langkah selanjutnya!”


Tegas Zorlyan kepada Gia dan Molly, yang masih tidak percaya dengan aksi Marwell.


“*Chring, chring, chring…”


“Muahahaha! Ternyata masih berani lo ya macem-macem?! Emangnya lo belom cukup puas sama hajaran gue—”


“Diem lo, gendut!”


“*Chringchringchring…”


“!!!”


“Lo pikir gue bakal biarin lo hidup, semenjak apa yang udah lo buat ke Vizrox sama Kristotte?!”


Seru Ollie dengan amarah yang meluap, sembari ayunan dua kapaknya bergerak sangat cepat, serta kekuatan yang sangat keras darinya.


“Nggak masuk akal! Padahal sebelumnya dia nggak sekuat ini! Kenapa tiba-tiba dia kuat banget?!”


Pikir Bastheus, yang tidak menyadari…


““…””


…bahwa Garry dan Kritach bersama-sama meningkatkan kekuatannya.


““…””


Pertarungan pun terus berlangsung antara anggota Aquilla, Andromeda, Lynx, serta Taurus, melawan Leo beserta mantan anggota Argus Navis.


Hingga akhirnya…


““*DHUUUMMMMMMMMM………!!!””


““*Bruk…””


…mereka semua merasakan aura yang dahsyat, hingga membuat mereka semua terjatuh, termasuk ketiga Executioners.


“A-Aura ini…!”


“Jangan-jangan ini tuh…”


“Dua Union Domi yang saling beradu?!”


Pikir Reubenn, Passio, serta Kritach, terkait aura yang mereka rasakan.


Tidak hanya mereka saja.


“A-Ada apa ini…?!”


“K-Kenapa gue… nggak bisa bergerak…?!”


Bahkan orang-orang yang berada di seluruh bagian di Chaos Island juga merasakannya.


“*BRRRRRR!!!”


Karena aura itu, gempa yang hebat mengguncang Chaos Island.


“*BRUK!!!”


“Aaargh!”


“E-Eh?! K-Kenapa ada bangunan-bangunan yang roboh?!”


Sahut salah seseorang yang berada di dalam Chaos Island, setelah melihat hancurnya beberapa bangunan.


Sementara itu, di Lapisan Bawah, di mana anggota dari keempat Party jatuh bersama dengan beberapa mantan anggota Argus Navis karena Union Domi yang mereka rasakan.


“Keuk…!”


Paul berusaha bangkit berdiri. Ia melihat adanya kesempatan emas yang harus ia gunakan untuk membunuh semua anggota Argus Navis.


“Evri… Awva… gue minta tolong ke kalian…”


“A-Ada apa… Paul…?”


“J-Jangan bilang-bilang ini…”


“…”


“(…ke Bos Ollie…!)”


““!!!””


Semua yang berada di sekitar Paul terkejut dengan Paul yang berubah wujud dengan mengerikan.


“(Groooaaargh!)”


“*CRAT!!! CRAT!!! CRAT!!! CRAT!!! CRAT!!! CRAT!!!”


“(Groaaaargh!)”


“*CRAT!!! CRAT!!! CRAT!!! CRAT!!!”


Dengan perubahan wujudnya, Paul menginjak kepala milik seluruh mantan anggota Argus Navis dengan sangat keras, hingga hancur.


““…””


Rekan-rekan Paul lainnya hanya terdiam dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Tetapi tidak bagi Evri, yang merupakan sesama rekannya di Lynx.


“Paul! Cukup! Jangan tunjukkin lagi—”


“(Ya. Gue tau.)”


“…”


“Karena gue juga ngerasa jijik sama penampilan gue!”


Balas Paul, yang kembali seperti semula.


“Kalian ada yang bisa bergerak, nggak?!”


““…””


“Hm, keliatannya belom ada yang bisa gerak. Terus gimana cara kita keluar dari sini—”


“Machinno… bisa antar.”


Balas Machinno, dengan berdiri bersama Paul di antara rekan-rekannya.


((Barrier Magic: Floating Lane))


Kemudian Machinno menciptakan sebuah papan yang melayang dengan sihirnya, untuk menampung seluruh rekan-rekan yang belum bisa bergerak.


“Ayo, jelek! Kita pergi dari sini!”


“Jelek. Haha.”


“Hah?!”


Tanya Paul kepada Machinno yang tertunduk lemas, sembari mengangkat rekan-rekannya dengan sihirnya.


““…””


Mereka sama-sama pergi keluar dari gerbang yang telah dihancurkan oleh Zorlyan dan Ollie. Ketika mereka


keluar, mereka menyaksikan rekan-rekan mereka yang belum bisa bangkit berdiri bersama dengan para Executioners.


Tetapi, tidak hanya mereka saja yang datang.


““*BRUK!!!””


““!!!””


Kali ini mereka semua dikejutkan dengan Myllo, Tarruc, serta Leonard, yang sama-sama mendarat dari dalam


Chaoseum, dengan keadaan yang terluka berat.


Tetapi…


“…”


…Leonard mampu menyembuhkan luka miliknya, sementara Myllo dan Tarruc tidak bisa melakukan hal yang sama.


“Grahahaha! Ini salah satu pertarungan gue yang paling seru!”


Tawa Leonard, karena yakin bahwa kemenangan ada di depan matanya.