
“*Crat…”
“Uhuk, uhuk, uhuk…”
Dia batuk sampe berdarah-darah.
Zirah yang dia pake juga udah hancur berkeping-keping.
Artinya, gue cuma butuh serangan terakhir untuk kalahin dia.
Tapi sebelumnya, tentang cara gue bikin sekarat cewek ini.
……………
“Aku adalah Nemesia Laguna, kakak dari Delolliah dan Jennania, yang akan mengakhiri hidup mereka berdua.”
Dia bilang gitu, tapi nggak tau kenapa, gue ngerasa kalo dia sama bahayanya kayak Tarzyn.
Menurut gue, Tarzyn bahaya karena dia bergerak terlalu liar.
Sedangkan cewek yang namanya Nemesia ini bahaya karena dia bisa duduk se-tenang gitu, waktu dia tau gue ini Pria Terjanji. Beda sama Göhran atau Rakhzar yang langsung sujud. Beda sama Narciel yang mau panas-panasin gue. Beda juga sama Delolliah atau Jennania yang bawaannya mau bunuh gue.
“Pria Terjanji. Aku merasa heran.”
“Hm?”
“Jika kau telah bertemu dengan kedua adikku, seharusnya kau mengetahui tentang nubuat dari Melchizedek, benar?”
Waktu dia nanya gitu, gue ngerti arah pertanyaannya ke mana.
“Maksudnya tentang gue yang bawa kehancuran blablabla itu?”
“Hoo… Sepertinya kau telah mengetahuinya. Lantas, jika kau telah mengetahui itu, mengapa kau masih berani menghampiri tempat ini?”
Gue yakin kalo dia pikir gue cuma sekedar tau bagian itu doang.
“Hmph, kayaknya lo yang nggak tau, deh.”
“Hm? Apa maksudmu?”
“Bukannya ramalan Melchizedek bilang, kalo gue juga bisa bawa sesuatu yang hilang di dunia ini?”
“!!!”
Dari reaksi dia yang kaget kayak gitu, artinya gue bener.
“Ya, harus aku akui, bahwa kau benar. Namun, kau tidak akan kubiarkan masuk ke dalam Chamber of Ancient Armament!”
Waktu dia bilang gitu, gue mulai kesel.
“Kenapa emangnya?!”
“Karena…”
“Hm?”
“Karena Melchizedek berjanji kepada Kakak Euphonia! Bukan kepadaku!”
Bahkan sampe sekarang, gue sebenernya masih heran sama maksud dia.
“Keliatannya ini pertama kalinya gue dapet penolakan kayak gini. Beda banget sama di Erviga, ya?”
“Erviga?! Maksudmu negeri Kaum Naga?!”
“Oh lo tau, ya?”
“Tentu saja! Tunggu! Maksudku, apa yang kau maksud dengan berbeda?!”
“Oh itu? Ya di sana sih orang-orangnya pada baik. Walaupun harus sparring dulu, seenggaknya gue bisa masuk ke
ruang pedang ini tanpa ada masalah.”
“*Shringgg…”
““!!!””
Dia sama Siren yang ada di sini pada kaget lagi karena gue pamerin Ark Blade di depan dia.
“Tenang aja. Gue bukan Swordsman. Gue nggak akan pake pedang ini. Lagian ujung-ujungnya harus gue yang nentuin siapa yang pake pedang ini, bukan?”
“Keuk!”
“Hm?”
Ya. Gue kaget waktu dia keliatan kesel kayak gitu. Padahal itu janji Tarzyn ke gue. Tapi kenapa dia yang jadi sekesel itu?
Tapi karena dia kesel, makanya gue langsung buru-buru masukin pedang ini ke Fratta Pouch gue.
Karena…
“*Bwush!”
…gue tau dia mau ngelakuin sesuatu.
Tapi gue nggak nyangka, kalo dia pake sihir air untuk buat kurungan yang isinya cuma gue sama dia aja.
“Ya-Yang Mulia!”
“Ti-Tidakkah kami yang seharusnya menghadapi pria itu?!”
“Pria itu terlihat berbahaya, Yang Mulia!”
Dia pisah semua personilnya karena mau lawan gue satu lawan satu.
“Keluarkan Ark Blade yang kau bawa di hadapanku, Pria Ter—”
“Panggil Djinn aja, kali! Emangnya lo nggak ribet ya harus panggil gue sepanjang i—”
“Kau pikir aku ini temanmu?! Kau pikir kau siapa?! Kubilang cepat keluarkan pedang legendaris itu!”
“…”
Awalnya gue heran kenapa dia ngotot banget ke gue untuk keluarin Ark Blade. Tapi ujung-ujungnya, gue tau alesan dia.
“Kan udah gue bilang, kalo gue nggak bisa pake pedang! Dari dulu aja gue udah pake tangan kosong!”
“Apakah kau lebih percaya diri dengan tangan kosong?!”
“Hmph! Pastinya! Apalagi lawan cewek gila kayak lo!”
Nggak tau kenapa, gue rasa itu momen yang tepat untuk panas-panasin dia.
“Baiklah. Padahal aku hendak mengukur seberapa kuat senjata kakakku ini dibandingkan dengan senjata Flamiza.”
“Maksud lo apaan?!”
“Seperti yang kubilang! Inilah Wavebringer! Senjata milik kakakku, Syllia Laguna! Mantan rekan dari Melchizedek!”
Ya. Itu yang dia bilang.
Tombaknya keliatan panjang banget. Bentuknya rada unik, warnanya emas mengkilau kayak gitu, tambah lagi ada semacam permata di ujung tombak itu.
Kalo gue inget kata-kata Jennania…
“Atas kematian Kakak Euphonia, maka ia menjadi gila! Ia bahkan membuat seluruh Siren di dalam sana untuk bertarung dan dijadikan sebagai prajurit! Semua itu hanya untuk membunuh Pria Terjanji yang akan datang!”
…dia bilang cewek ini udah gila, ya?
Gue sih nggak nyalahin kalo dia ambil Ancient Armament itu. Cuma, nggak tau kenapa, gue ngerasa kalo dia yang ambil senjata itu sama artinya kalo dia udah gila.
“Hraaaagh!”
“*Swung! Swung! Swung!”
Dia terus nyerang gue pake tombak kakaknya.
Ya lagi-lagi untungnya karena Mata gue ini. Jadinya gue bisa segampang itu hindarin serangannya.
Masalahnya…
((Sirena: Torrente))
“*BWUSH!”
…waktu dia pake sihir khas Siren.
Tapi itu pun bukan hal yang rumit sih buat gue.
((Rune Spell: Reflector))
“*BWUSH!”
Gue tulis Sajak di ubin supaya semburan air dari dia itu balik nyerang dia.
“Hmph! Kau pikir aku bisa dikalahkan dengan sihirku sendiri?!”
Gue udah tau soal itu.
Karena tanpa dia sadar…
((Rune Spell: Overheat))
…gue udah tulis Sajak yang bikin ruangan ini jadi panas banget.
Karena pasang Sajak itu, gue jadi buru-buru selesain pertarungan kita berdua, sebelum gue kebakar sama sihir gue sendiri.
((Judgement: Charge))
“*BOOM!!!”
“Aaaargh!”
Karena udara yang panas, tambah lagi ada air laut yang menguap di badannya, jadinya dia meledak. Untungnya sih, kostum yang gue pake sekarang masih ada Sajak untuk kebal bakaran api. Jadinya kostum gue masih aman-aman aja, walaupun ada banyak luka bakar di badan gue.
……………
Kira-kira gitu cara gue bikin Nemesia sekarat.
Sekarang dia udah tumbang, bahkan dinding air ini pun langsung surut karena dia tumbang.
““*Shringgg…””
“Jangan bergerak, Pria Terjanji!”
Cih! Gue lupa sama pasukannya!
“Jangan kau pikir kau bisa pergi dengan selamat dari—”
“*Dhum!”
Gue keluarin aura gue, mereka langsung lepas tombak mereka. Yaudah deh, mending lanjut ke Chamber of Ancient Armament aja.
“Woy, Nemesia. Cepet tunjukin ke gue Chamber of An—”
“Seperti apa yang dikatakan para pengawalku, Pria Terjanji.”
“Hm?”
“Jangan kau pikir… kau bisa pergi… DENGAN SELAMAT!!!”
“!!!”
Wu-Wujud itu…
Ini kan wujud monster kayak yang gue liat di memorinya Delolliah!
“(Mati kau, Pria Terjanji!)”
Cih! Gue nggak nyangka dia bisa berubah juga! Tambah lagi, suaranya jadi berat ba—
“*SWUSH!”
Cepet banget gerakan—
“*BHUK!!!”
“*Brukkk…”
Si-Sialan nih cewek!
Tenaga macem apa, nih?!
“(Hraaaa…)”
Aduh! Dia mau sembur sesuatu ke gue!
“*BWUSH!”
“!!!”
Bahkan semburannya bisa bikin tembok hancur?!
“Ce-Cepat serang pria itu!”
““Ya!””
Aduh! Nyusahin banget sih Siren yang lainnya!
“*Bhuk! Dhuk! Dhuk! Bhuk!”
“Jangan ganggu gu—”
“(Hrrraaaggh!)”
“*BHUK!”
“Keuk!”
Sa-Sakit banget gue nahan pukulannya!
((Judgement—
“*Krrrtttt!”
“Akh!”
Te-Ternyata dia sekuat i—
“*Bruk! Brukbrukbrukbruk…”
Da-Dasar cewek brengsek! Berani-beraninya dia cekek terus banting gue berkali-kali, waktu gue mau aktifin petir gue!
“*Hup!”
“Heaaaaagh!”
“*Crat!”
“(Aaaaargh!)”
Jangan salahin gue yang tarik tangan lo sampe putus! Itu semua karena lo banting sambil cekek gue!
OK! Gue harus manfaatin momentum ini sekarang juga!
((Lightning Barrage))
“*Jgrumgrumgrumgrum…”
“(Aaaaargh!)”
“Heaaaa—”
“*Shruk!”
“Akh…”
Di-Dia masih bisa tusuk gue pake tombaknya yang gede itu…?
“Grrraaa—”
((Sirena: Aguanieve))
“*Bwush!”
“Myllo! Jennania! Machinno!”
Untung aja mereka tiba-tiba dateng!
“Machinno! Sekarang!”
((Barrier Magic: Pet Cage))
“*Bwung…”
“(Grrrr!)”
“*Bwung, bwung, bwung…”
Machinno langsung pake sihirnya untuk kurung dia.
“Myllo…”
“Ada apa, Machinno?!”
“Machinno…”
“*Krrkk…”
“…sudah tidak kuat…”
Cih! Bahkan sihirnya nggak mempan, ya?!
((Sirena: Rejuvenecer))
“*Ngunggg…”
Untung ada Jennania langsung sembuhin gue, selagi Machinno tahan Nemesia.
“Djinn! Alangkah baiknya jika kau pergi ke Chamber of Ancient Armament, yang berada di sana!”
“(JENNANIAAAA!!!)”
Gue pergi sendirian?!
“Terus kalian gimana?!”
“Tenang aja, Djinn! Biar kita bertiga yang tahan dia! Ada yang mau gue urus sama cewek satu ini!”
Maksud dia apaan…?
Tapi kalo emang itu yang dia bilang…
“Yaudah! Gue pergi dulu!”
“Hmph!”
…gue cuma bisa ikutin keputusannya aja, kan?
Mending gue manfaatin kesempatan
ini aja untuk ikutin jalan yang ditunjuk Jenna—
“(Selamat datang, Yang Mulia!)”
“(Ikutilah arah suara ini, Yang Mulia!)”
“(Kami menantikan kedatangan-Mu, Yang Mulia!)”
Suara-suara ini.
Nggak salah lagi.
Suara-suara ini persis kayak yang ada di Erviga!……………
Gue ikutin terus suara-suara ini.
Bedanya, gue nggak liat ada mural sama sekali di sekitar Hidden Dungeon ini.
Sampe akhirnya…
“…”
…gue masuk di dalem Chamber of Ancient Armament.
“Ini Adalah Catatan yang Aku Simpan. Jika Kau Mampu Membaca Catatan Ini, Maka Kau Adalah Pria Terjanji yang Dinantikan Dunia Ini.”
Tulisan ini…
Kalo nggak salah sama persis kayak yang ada di—
“*JGRUM!!!”
“(*Ngingggggg….)”
Ti-Tiba-tiba ada petir… ke kuping gue …yang bikin… gue… ping…
“*Bruk…”