
Leonard berhasil membuat arena pertarungan di Chaoseum semakin kacau, dengan mengadu domba para Petualang dengan seluruh penonton dan anggota Leo yang tersisa.
Karena aksinya itu, sekitar 500,000 orang hendak menyerang Djinn dan para Petulang yang berada di tengah-tengah arena pertarungan. Namun dengan kekuatan baru yang kembali ia dapatkan, Djinn mampu menjatuhkan mereka semua.
“H-Hah?! K-Kekuatan macam apa itu…?!”
“A-Anggota gue bisa dikalahin kayak gitu aja?!”
“Ng-Nggak cuma anggota lo aja! Anggota gue sama anggota Black Guild lainnya juga diserang kayak gitu!”
Para penonton lainnya, yang diisi oleh sebagian besar pemimpin Black Guild, para mantan bangsawan, serta pemimpin negara, dibuat terkejut dengan aksi Djinn.
Akan tetapi, serangan Djinn tidak sepenuhnya mengalahkan sebagian besar dari antara mereka.
“Uhuk, uhuk, uhuk…!”
“S-Sial…! K-Kekuatan macam apa itu…?!”
“G-Gue kaget banget…! U-Untung aja masih bisa berdiri…!”
““…””
Terdapat sekitar 200,000 orang yang masih dapat berdiri kembali dari serangan Djinn.
“Gyehehehe! Liat tuh, bocah topeng! Ternyata lo nggak kalahin mereka semua!”
“Bacot lo, tolol!”
“Hah?! Apa lo bilang—”
“Diem dulu, Paul!”
“M-Maaf, bos…”
Balas Paul, setelah ditegur oleh Ollie.
“Semuanya! Jangan patah semangat! Kalopun mereka bisa berdiri lagi, seenggaknya jumlah mereka nggak sampe setengah dari yang sebelumnya!”
“Bener kata Zorlyan! Jumlah kita mungkin nggak sebanyak mereka, tapi kita pasti bisa lawan mereka semua!”
Seru Zorlyan dan Ollie kepada para Petualang.
“Ryūtaro-kun, apakah kita harus—”
“Lo nggak perlu ikut-ikut, Shogun.”
“Dj-Djinn-san…? Tetapi—”
“Mending lo sama Ryūtaro siap-siap untuk jagain kita dari Ryūhime sama Mahluk Abadi lainnya!”
Jelas Djinn kepada Tetsuo, dengan berbisik di kupingnya.
“Serang mereka!”
“S-Setidaknya kita harus… mendapatkan hadiah… yang dijanjikan oleh Leonard…!”
Seru beberapa orang yang hendak menyerang para Petualang, sebelum pertempuran dimulai.
““*Chring, chring, chring…””
““*Shrak!””
“Aakh!”
Suara pedang beradu mulai terdengar, dengan diikuti suara tebasan pedang.
“*Dor, dor, dor…”
“*Syut, syut, syut…”
Suara senjata jarak jauh, baik senapan atau panah, juga terdengar.
“*Boom!”
“*Bwush!”
“*Fwush…”
Suara ilmu sihir juga ikut terdengar di tengah peperangan antara kedua belah pihak.
……………
Di Lapisan Bawah, di mana Myllo masih mencari lokasi Zophiel, ibu kandungnya, dengan ditemani Garry.
“Ayo! Semangat atuh, Myllo!”
“Bawel! Kenapa gue harus cari dia sambil gendong lo?!”
“Et! Lari aing teh kurang kenceng! Lagian teh salah sia yang mau bawa aing!”
Balas Garry, sambil digendong oleh Myllo yang terus mencari keberadaan Zophiel.
Sementara di sisi lain Lapisan Bawah, di mana Leonard telah menemui Zophiel, di sebuah ruangan terpencil yang hanya ia ketahui.
“*Phak!”
“…”
Zophiel hanya terdiam dengan merasa bersalah, walaupun Leonard menampar pipinya.
“Lo tau kan kesalahan lo apa, Zophiel?!”
“H-Hamba tidak sengaja… menumpahkan cawan yang berisi darah milik Cyclops… yang hamba kendalikan… Tuan Leonard…”
Jawab Zophiel kepada Leonard, sambil menundukkan kepalanya.
“Kenapa bisa tumpah?! Gue cuma suruh lo di sini untuk jagain semua cawan ini, kan?!”
“K-Karena… Karena hamba merasakan adanya… seorang tuan… yang pernah hamba layani… sebelum bertemu dengan-Mu, Tuan Leonard…”
“Hah?! Maksud lo?!”
“M-Maksud hamba… seorang Dewa… yang terlupakan di dunia ini… yang bahkan hamba lupa seperti apa rupa-Nya… Tuan Leonard…”
“!!!”
Leonard seketika menyadari apa yang dikatakan Zophiel, karena teringat tentang apa yang pernah ia bicarakan dengan Sylvia, kala ia sedang berpesta dengan dirinya dan Party mereka masing-masing.
“Pokoknya… ada orang yang disebut Pria Terjanji… yang katanya Reinkarnasi… dari pilar… hicc!”
“…”
Karena teringat akan penjelasan Sylvia, Leonard mengepalkan tangannya yang gemetar dengan sekuat tenaga, dengan maksud menguatkan dirinya dari kecemasan dan ketakutan yang dirasakannya.
“Cih! Yaudah deh! Mending lo panggil arahin semua Tantangan ke tengah arena Chaoseum!”
“Baiklah, Tuan Leonard.”
Balas Zophiel, sebelum melakukan apa yang diperintahkan oleh Leonard.
Karena itu…
“*BRRRRR……”
““!!!””
…terjadi gempa yang sangat keras di tengah arena pertarungan di dalam Chaoseum.
“…”
Leonard berusaha menahan 3 Cawan yang berada di depan Zophiel, agar tidak ada setetes pun darah yang tumpah dari setiap Cawan.
“A-Ada apa ini?! M-Mengapa ada gempa yang keras sepert ini?!”
Seru Luvast dengan heran.
Hingga tidak lama kemudian, datanglah 2 Mahluk Abadi di hadapan semua yang berada di dalam Chaoseum.
“W-W-Woy…! B-B-Bukannya itu… Giant sama Iblis…?!”
Seru Ollie dengan terkejut, setelah menyaksikan kehadiran dua Mahluk Abadi yang berukuran raksasa itu.
Tetapi kehadiran 2 Mahluk Abadi itu bukanlah yang terbesar di antara mereka.
“RUOOAAAAAAARRRR!!!”
““!!!””
Kali ini mereka semua dikejutkan dengan kedatangan Ryūhime yang dalam Wujud Naga miliknya.
“GRRRRYYAAAAAAAWWW!!!”
“*ZHUMMM…!!!”
““*Bruk…””
Seketika seisi Chaoseum merasakan ketakutan yang luar biasa, setelah Iblis raksasa itu mengeluarkan aura yang mengerikan.
Tetapi berbeda halnya dengan Djinn.
“*SWUSH!!!”
((Judgement: Hammer Fist))
“*JGRUM!!!”
“*BRUK!!!”
““!!!””
Khususnya, Luvast.
“Luar biasa…! Jika kamu memang sekuat itu, seharusnya tidak ada lagi warga Vamulran Kingdom yang meremehkanmu, Djinn!”
Pikir Luvast dengan takjub akan aksi saudaranya.
Hingga ia dan beberapa Petualang lainnya lupa, bahwa masih ada Mahluk Abadi lain yang masih harus mereka hadapi.
“*BRUK!!!!”
““DJIIIINNN!!!””
Teriak Luvast, Gia, Mahadia, dan Petualang lainnya yang akrab dengan Djinn, setelah mereka melihat Djinn yang dipukul ke tanah oleh sesosok Giant.
“…”
Giant tersebut tidak langsung mengangkat tangannya. Ia tetap menekan Djinn dengan tangannya yang sangat
besar.
“K-KETERLALUAN—”
“Tunggu!”
“Tunggu?! Apakah anda tidak lihat, bahwa—”
“Perhatikan tangan Giant itu!”
Seru Tetsuo kepada Luvast, sambil menyaksikan lengan Giant tersebut yang bergetar.
“aaaaaaghhhh…”
““Hm?””
Mereka semua mendengar suatu raungan kecil dari balik tangan Giant tersebut.
Hingga akhirnya…
“HEAAAAAAAAAGGGGHHH!!!”
“*Swush…”
“*BRUK!!!”
““!!!””
…mereka kembali dikejutkan dengan aksi Djinn, yang membanting Giant itu, walaupun telah tertimpa oleh pukulannya.
“Semuanya! Giant ini pasti bisa gerak lagi! Kita harus bikin Giant ini nggak bisa gerak!”
“Aku juga siap membantu!”
“Machinno… akan menahannya.”
Seru Luvast dan Machinno, yang bersama-sama menghampiri Giant tersebut.
Bantuan pun juga datang dari anggota Andromeda dan Lynx.
“*Blub, blub, blub…”
“Aku juga bisa bantu kalian!”
Seru Winona dengan gelembung-gelembung ciptaannya.
((Earth Magic: Rock Stomp))
“*BRUK!!!”
“…”
Evri juga datang dengan sihirnya.
Selain mereka berempat…
((Kaze Tsume))
“*FWUSH!!!”
“Eh! Lo itu kan…”
“Izinin gue bantu lo, Djinn!”
…Hakuya juga datang.
Bersama-sama, mereka berenam hendak menghentikan Giant itu yang hendak berdiri.
Akan tetapi…
“RUOAAAAAARRR!!!”
“Djinn-san! Awas—”
“*FWUSSSHHH!!!”
““Aaargh!””
““*BRUK!!!””
…Ryūhime menghempaskan mereka semua, hingga mereka keluar dari Chaoseum.
“*FWUSSSHHH!!!”
““Aaaargh!!!””
Gia, Mahadia, Royce, Molly, dan Sonda, juga sama-sama dihempaskan oleh Ryūhime hingga keluar Chaoseum.
“Ryūtaro-kun!”
“Baiklah, Shogun-sama!”
““!!!””
“(Aku akan menahannya!)”
Seru Ryūtaro, yang perubahan wujudnya menjadi sesosok Naga mengejutkan seisi Chaoseum.
Tetapi ada dari antara orang-orang yang menyaksikannya…
“Haaaah…! S-Sekarang udah pada aneh-aneh…! Gue jadi nggak terlalu kaget lagi sama semuanya…!”
…yang sudah tidak terkejut dengan semua yang terjadi di Chaoseum.
“M-Mustahil…! A-Apakah Putri Luvast baik-baik saja…?!”
Tanya pelayan Rivrith, yang datang bersamanya di dalam Chaoseum.
Namun ada sesuatu yang tidak disadarinya, karena terlalu fokus menyaksikan pertarungan di dalam Chaoseum.
“T-Tuan Muda…? Apa yang harus kita lakukan…?!”
“…”
“Tuan Muda—Tu-Tuan Muda?! Anda pergi ke mana?!”
Serunya dengan terkejut, setelah dirinya tidak menyadari bahwa Tangan Kiri Raja yang ia layani sudah pergi meninggalkan dirinya.
……………
Kembali ke Lapisan Bawah, di mana Leonard berada bersama Zophiel.
“…”
Ia menyaksikan peperangan di Chaoseum, dengan adanya pantulan bayangan dari darah di setiap Cawan, di mana terdapat siaran dari sudut pandang setiap Mahluk Abadi yang dikendalikan Zophiel.
“Grahahahaha!!! Ternyata mereka berhasil dipisahin ya?!”
Seru Leonard dengan tawa, karena rencananya untuk menghempaskan sebagian besar anggota Aquilla, Andromeda, serta Lynx, berhasil ia laksanakan.
“Passio! Marwell! Sekarang giliran kalian! Pokoknya gue mau kalian bunuh mereka! Biar gue yang urus Myllo!”
“Terus gimana hadiah untuk para penonton yang ikut nyerang semua Petualang, bos?”
“Hmph! Mereka cuma orang-orang tolol yang gampang dipancing pake uang! Emangnya gue bakal bayar mereka?!
Lagian kalo emang orang Centra Geoterra itu mati, ujung-ujungnya gue juga bantai mereka!”
Jelas Leonard kepada Marwell yang bertanya.
Namun, walaupun rencananya sudah berhasil, Leonard juga merasakan sedikit keraguan.
“Tapi gue nggak sangka, kalo Kitsune itu gagal ditangkep Wind Dragon Princess! Tambah lagi, Wind Dragon itu bukannya yang gue lawan di Kumotochi? Apa ada kemungkinan kalo dia bisa bunuh Wind Dragon Princess itu?”
Pikir Leonard dengan heran akan Tetsuo dan Ryūtaro.
Sementara Zophiel mendapati sesuatu yang ia pikir tidak dirasakan oleh Leonard.
“T-Tuan Leonard, jejak Mana-Mu—”
“Oh itu?! Gue sengaja kok tinggalin jejak Mana gue! Kan gue mau pancing anak lo ke sini, Zophiel!”
Jelas Leonard, terkait alasannya yang meninggalkan jejak Mana sebagai umpan untuk Myllo.
Akan tetapi ia tidak mengetahui, bahwa yang mendapati jejak Mana tersebut bukanlah Myllo.
“Ia meninggalkan jejak Mana yang sangat jelas. Saya bahkan tidak mengerti bahwa tindakannya adalah suatu kecerobohan atau kesombongan. Apa boleh buat, karena pada akhirnya saya akan membunuh pria itu.”
Bisik Rivrith, yang mengikuti jejak Mana milik Leonard, seakan ia sedang memburunya.