Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 87. When He Sees My Past



“Kalian adalah masa depan bagi


Dragonewt!


Rebutlah Erviga dari bedebah


yang menyebut dirinya sebagai Manusia itu!


Jangan ada kata ampun bagi


mereka!


Janganlah bergaul dengan


mereka!


Hukumlah mereka


seberat-beratnya!


Jika perlu, hukumlah sanak saudara


kalian sendiri jika mereka berkhianat!


Kau paham maksudku kan—”


“*Jgrum! (suara petir di langit)”


“Haaaffff!”


“…”


Oh, cuma mimpi ya…?


“Fuh… Untung masih selamat.”


Tapi…


“Urgh!”


…tangan gue nggak bisa numbuh


lagi!


Dasar cewek brengsek yang namanya


Gia itu!


Ditendang Tarzyn, gue harus


relain sebagian besar Mana gue cuma untuk regenerasi, nggak taunya dia


juga berhasil potong lengan gue!


Tambah lagi, cewek Fratta yang


namanya Mahadia itu!


Nggak gue sangka bisa baca pola


gue sama Morri!


“…”


Untungnya ada bagian di hutan ini


yang nggak kena bakaran dari Tarzyn!


Makanya gue masih bisa selamat!


Tambah lagi…


“*Swurwurwurwur… (suara hujan


deras)”


“*Jgrum… (suara petir)”


…di titik ini basah, jadinya gue


ngerasa nggak terlalu panas di sini.


“*Brrr… (suara getaran)”


“Ruaaaarr—”


“Dragon Bullet.”


“*Dor! (suara tembakan pistol)”


“Rurrr…”


Cih! Dasar Wyrm sialan!


Gara-gara dia, gue jadi harus


keluarin suara pistol!


Kalo kayak gini caranya, gue


harus pindah sebelum ketauan sama yang lain—


“*JGRUMMM!!! (suara petir yang


sangat keras)”


“…UAAAAAARRRR…”


Hah…?


Gila aja, kali…


Itu…Tarzyn, kan?


Kenapa dia bisa dikalahin…kayak


gitu…?


Dia itu kan…Fire Dragon King—


“*BRUK!!! (suara terjatuh dari


langit)”


“Urgh!”


Gue hampir terbang gara-gara dia


yang jatoh dari setinggi itu!


“*Bwush… (suara api padam)”


Api dari Tarzyn yang bakar


hutan-hutan ini…padam…?


Apa mungkin, dia mati…?


Ka…Kalo gitu…gue harus ambil


Jiwa-nya!


Jangan sampe karena dia mati,


semuanya jadi—


“(Kejar Naga dan Dragonkin


lainnya! Jangan sampai mereka menghancurkan negara ini!)”


“(Me…Mengapa mereka bertindak


begitu liar?!)”


“(Mereka kehilangan figur


pemimpinnya! Tanpa ada yang memberi mereka arahan, maka mereka akan bertindak


sesuai dengan insting dan naluri saja!)”


“…”


Gue nggak ketauan, kan?


Untung aja Naga-Naga yang lewat tadi


terlalu sibuk ngejar Wyvern-Wyvern itu.


Artinya, gue nggak perlu ambil


Jiwa Tarzyn lagi, kan?


“Aha…aha…ahahahaha!”


Akhirnya!


Akhirnya Erviga bisa hancur,


selama ada ratusan Dragonkin yang bikin kacau negara ini!


“Ibu! Ayah! Guru Brahal! Cita-cita


kita udah terwujud! Erviga yang dipimpin Manusia sebentar lagi hancur!


Ahahaha!”


Sekarang, gue udah nggak punya


tanggungan lagi!


“Morrizal! Erksternark! Kita


berhasil!”


Gue udah berhasil balasin dendam


leluhur gue!


Andai kalian bisa liat ini!


“Ibu…Ayah…Erkstern…Morri…”


Tapi…abis itu apa…?


Kalo pun berhasil, gue nggak


diajarin cara nikmatinnya.


Apa mungkin…gue cuma dendam


karena kejadian 200 tahun yang lalu?


Walaupun ada orang ngeselin di


sekitar gue, tapi gue bisa ngerasain orang-orang yang baik.


Kita ngegosip bareng,


Susah seneng bareng,


Bahkan kita sampe saling nguatin


satu sama lain di kesusahan kita masing-ma—


“Janganlah bergaul dengan


mereka!”


Oh iya.


Guru Bahal bilang kan jangan bergaul sama mereka, ya?


“Haaaah…jadinya gue harus


ngapain, ya—”


“*Bruk! (suara Wyvern dari


ketinggian)”


“Urgh!”


“*Bruk, bruk, bruk… (suara jatuh


terpental)”


“*Shruk! (suara tertusuk batu


tajam)”


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


Sialan!


Ternyata masih ada yang masih


bertarung di sekitar sini!


Tambah lagi, kenapa ada batu


tajem yang nusuk dada gue—


“Oh, dateng juga lo ya.”


“!!!”


Bre…Brengsek!


Kenapa gue kepental di badannya


Tarzyn yang udah mati?!


Nggak, dia udah mati, jadinya


nggak terlalu penting!


Yang jadi masalah itu, orang ini masih


hidup!


Tapi gue yakin, lawan Tarzyn


pasti nggak segampang itu!


Mungkin gue bisa bunuh dia, waktu


dia masih lemah!


“Gu…Gue tau lo pasti kecapean


lawan Tarzyn—”


“Terus kalo gue kecapean, lo mau


bunuh gue gitu?”


“Ya iyalah! Gue juga yakin lo


pasti mau bunuh gue—”


“Kalo gue mau bunuh lo, pasti lo


udah mati waktu itu, Shaylia.”


“!!!”


Di…Dia…tau gue dari mana?


“Penasaran kan kenapa gue tau lo?”


“…”


Gue cuma bisa ngangguk doang.


“Satu, sebenernya ini karena cara


aneh Kapten gue yang curigain adek lo, Erkstern.”


“Dia bilang sih…Erkstern aneh gara-gara


garuk-garuk jempolnya terus pake kelingking. Gue sih agak bingung maksud dia


apa, sampe gue tau kalo ada orang yang ngeliatin Erkstern begitu serius, selain


Myllo.”


“Ma…Maksud lo—”


“Shay, gue perhatiiin lo terus


yang bacain nama kita semua, sambil fokus liatin Erkstern, Shay!”


“!!!”


Si…Sial! Nggak gue sangka ada yang


perhatiin Erkstern ngasih kode ke gue!


Cih! Dasar adek tolol!


“Yang kedua. Sebenernya sih…ini


agak sensitif buat cewek sih. Tapi lo serius mau de—”


“Cepet kasih tau ke gue!”


“Badan lo bau mint. Persis


kayak rokok yang lo pipa yang lo pinjemin ke gue.”


Kalo gitu, mending gue nggak usah


denger jawabannya, deh!


Kok jadi kesel ya denger jawaban—


“Lo nggak perlu topeng itu lagi.


Gue udah tau kok—”


“Kenapa juga gue nggak perlu


topeng ini di depan orang yang pake topeng—”


“…”


“Nih liat. Gue lepas topeng gue.”


Tunggu dulu…


A…A…Ada yang aneh!


“Lo…Lo itu…”


“Djinnardio Vamulran, orang yang


sering disebut Anak Haram.”


“Nggak mungkin! Rumornya itu lo


udah mati! Kalo pun lo mati, harusnya lo nggak sekuat ini!”


“Hm… Jangankan lo, gue sendiri


juga bingung bisa sekuat ini dari mana.”


Di…Dia bingung?


Apa mungkin…dia lupa ingetan


beneran?


“Denger ya, gue itu benci banget


sama tukang bohong.”


“Hm?”


“Artinya, apa yang lo ceritain


semuanya itu bohong?”


“Ka…Kalo iya, lo mau apa?!”


“Bisa aja gue bunuh lo sekarang


juga. Lo pasti tau sadar kan, kalo gue bisa bunuh lo kapan aja?”


“…”


Ya, kata-kata dia ada benernya.


Sekarang gue udah sekarat banget


karena batu ini.


Tambah lagi…tangan gue gemeteran


terus…karena takut.


“Te…Terus, apa yang lo tunggu—”


“Gue mungkin bilang gitu. Tapi


sejujurnya, gue nikmatin obrolan enteng kita bareng Miraela. Bahkan kalo gue


inget-inget lagi, mungkin itu pertama kalinya gue bisa ngobrol kayak gitu


bareng orang yang baru gue kenal. Karena gue sendiri pun sebenernya nggak punya


temen semenjak ketemu…”


“…”


“Ah, lupain aja. Gue sempet


kecewa juga karena kehilangan dia. Untungnya aja gue ketemu Myllo, walaupun dia


dongo.”


Dia…nggak punya temen, sampai


akhirnya ketemu Kaptennya?


Nggak tau kenapa, gue ngerti apa


yang dia rasain.


Ratusan tahun gue hidup, yang


selalu gue bahas bareng adek-adek gue cuma dendam ke negara ini aja.


“Masalahnya, walaupun lo bohong,


gue ngerasa lo juga nikmatin waktu lo bahkan bareng gue, yang lo samperin


bareng Miraela.”


Hah?


Gue…nikmatin waktu gue…?


“Janganlah bergaul dengan


mereka!”


Ya, Guru Bahal bener!


Gue nggak bisa dimanipulasi kayak


gini!


“Hah! Yang bener aja?! Semuanya


itu cuma kedok—”


“Udah gue bilang, kan? Gue nggak


suka pembohong, Shay.”


“Pe…Pembohong?! Apaan maksud lo—”


“Tuh.”


“Hm?”


“Cek aja pipi lo sendiri.”


“Pi…Pipi gu—Hah?”


Ke…Kenapa gue nangis…?


Gu…Gue yakin…ini bukan air hujan…


“Makanya itu gue bilang. Lo pun


nikmatin momen itu, kan—”


“Diem lo!”


“*Dor! (suara tembakan pistol)”


“…”


Kenapa dia diem doang waktu gue


tembak?!


Apa dia udah selemah itu?!


“Shay, gue ngomong baik-baik,


loh.”


“Di…Diem! Jangan ngomong apa-apa


lagi!”


“Kenapa lo arahin pistol lo ke


gue—”


“Gue bilang diem—”


“Haaaah…”


Di…Dia mau ngapain?!


“Hup!”


“…”


Dia mau nyamperin gue…?


Ta…Tapi kenapa tangan gue kenapa gemeteran terus?!


Apa mungkin…gue setakut itu sama


dia?!


“*Dor! (suara tembakan pistol)”


“…”


“Jangan deket-deket!”


“…”


“*Dor! (suara tembakan pistol)”


“Ja…Jauh-jauh lo dari gue!”


“…”


“*Dor! (suara tembakan pistol)”


“DJIIIIINNNN!!!”


“…”


Di…Dia mau mati?!


Kenapa dia malah semakin deket—


“Ayo tembak lagi, Shay!”


“…”


“Kalo lo yakin mau tembak gue,


kuatin tangan lo! Jangan semakin gemeteran!”


“*Tup… (suara kepala menempel di


ujung pistol)”


Ke…Ke…Kenapa gue nggak mau nembak


dia?!


“Coba jawab jujur.”


“…”


“Lo takut, atau nggak tega?!”


“!!!”


Kenapa gue jadi inget kata-kata


dia di Humpar Bar?


“Kalo gue ceritain ini ke


Kapten gue, pasti dia bawaannya mau ajak gue untuk terus cari adek lo, Mir.


Bahkan mungkin aja dia ajak anggotanya untuk bales Monster yang bunuh orang tua


lo, Shay.”


Walaupun lo lagi ngomongin Kapten


lo, tapi…


Untuk pertama kalinya, gue seneng


ada ras diluar Dragonewt yang mau bantu gue.


“Jadi, lo masih mau tembak?”


“*Trak… (suara pistol jatuh)”


Gu…Gue nggak bisa bunuh dia.


Selain karena terlalu kuat, dia


juga salah satu orang yang bisa gue anggep temen.


Guru Bahal, saya mohon ampun


karena nggak sanggup—


“Kalo gitu, izinin gue baca masa


lalu lo!”


“…”


Semenjak dia ngomong gitu, dia


liat masa lalu gue semenjak lebih dari 200 tahun yang lalu.