
“Kalian adalah masa depan bagi
Dragonewt!
Rebutlah Erviga dari bedebah
yang menyebut dirinya sebagai Manusia itu!
Jangan ada kata ampun bagi
mereka!
Janganlah bergaul dengan
mereka!
Hukumlah mereka
seberat-beratnya!
Jika perlu, hukumlah sanak saudara
kalian sendiri jika mereka berkhianat!
Kau paham maksudku kan—”
“*Jgrum! (suara petir di langit)”
“Haaaffff!”
“…”
Oh, cuma mimpi ya…?
“Fuh… Untung masih selamat.”
Tapi…
“Urgh!”
…tangan gue nggak bisa numbuh
lagi!
Dasar cewek brengsek yang namanya
Gia itu!
Ditendang Tarzyn, gue harus
relain sebagian besar Mana gue cuma untuk regenerasi, nggak taunya dia
juga berhasil potong lengan gue!
Tambah lagi, cewek Fratta yang
namanya Mahadia itu!
Nggak gue sangka bisa baca pola
gue sama Morri!
“…”
Untungnya ada bagian di hutan ini
yang nggak kena bakaran dari Tarzyn!
Makanya gue masih bisa selamat!
Tambah lagi…
“*Swurwurwurwur… (suara hujan
deras)”
“*Jgrum… (suara petir)”
…di titik ini basah, jadinya gue
ngerasa nggak terlalu panas di sini.
“*Brrr… (suara getaran)”
“Ruaaaarr—”
“Dragon Bullet.”
“*Dor! (suara tembakan pistol)”
“Rurrr…”
Cih! Dasar Wyrm sialan!
Gara-gara dia, gue jadi harus
keluarin suara pistol!
Kalo kayak gini caranya, gue
harus pindah sebelum ketauan sama yang lain—
“*JGRUMMM!!! (suara petir yang
sangat keras)”
“…UAAAAAARRRR…”
Hah…?
Gila aja, kali…
Itu…Tarzyn, kan?
Kenapa dia bisa dikalahin…kayak
gitu…?
Dia itu kan…Fire Dragon King—
“*BRUK!!! (suara terjatuh dari
langit)”
“Urgh!”
Gue hampir terbang gara-gara dia
yang jatoh dari setinggi itu!
“*Bwush… (suara api padam)”
Api dari Tarzyn yang bakar
hutan-hutan ini…padam…?
Apa mungkin, dia mati…?
Ka…Kalo gitu…gue harus ambil
Jiwa-nya!
Jangan sampe karena dia mati,
semuanya jadi—
“(Kejar Naga dan Dragonkin
lainnya! Jangan sampai mereka menghancurkan negara ini!)”
“(Me…Mengapa mereka bertindak
begitu liar?!)”
“(Mereka kehilangan figur
pemimpinnya! Tanpa ada yang memberi mereka arahan, maka mereka akan bertindak
sesuai dengan insting dan naluri saja!)”
“…”
Gue nggak ketauan, kan?
Untung aja Naga-Naga yang lewat tadi
terlalu sibuk ngejar Wyvern-Wyvern itu.
Artinya, gue nggak perlu ambil
Jiwa Tarzyn lagi, kan?
“Aha…aha…ahahahaha!”
Akhirnya!
Akhirnya Erviga bisa hancur,
selama ada ratusan Dragonkin yang bikin kacau negara ini!
“Ibu! Ayah! Guru Brahal! Cita-cita
kita udah terwujud! Erviga yang dipimpin Manusia sebentar lagi hancur!
Ahahaha!”
Sekarang, gue udah nggak punya
tanggungan lagi!
“Morrizal! Erksternark! Kita
berhasil!”
Gue udah berhasil balasin dendam
leluhur gue!
Andai kalian bisa liat ini!
“Ibu…Ayah…Erkstern…Morri…”
Tapi…abis itu apa…?
Kalo pun berhasil, gue nggak
diajarin cara nikmatinnya.
Apa mungkin…gue cuma dendam
karena kejadian 200 tahun yang lalu?
Walaupun ada orang ngeselin di
sekitar gue, tapi gue bisa ngerasain orang-orang yang baik.
Kita ngegosip bareng,
Susah seneng bareng,
Bahkan kita sampe saling nguatin
satu sama lain di kesusahan kita masing-ma—
“Janganlah bergaul dengan
mereka!”
Oh iya.
Guru Bahal bilang kan jangan bergaul sama mereka, ya?
“Haaaah…jadinya gue harus
ngapain, ya—”
“*Bruk! (suara Wyvern dari
ketinggian)”
“Urgh!”
“*Bruk, bruk, bruk… (suara jatuh
terpental)”
“*Shruk! (suara tertusuk batu
tajam)”
“Uhuk, uhuk, uhuk!”
Sialan!
Ternyata masih ada yang masih
bertarung di sekitar sini!
Tambah lagi, kenapa ada batu
tajem yang nusuk dada gue—
“Oh, dateng juga lo ya.”
“!!!”
Bre…Brengsek!
Kenapa gue kepental di badannya
Tarzyn yang udah mati?!
Nggak, dia udah mati, jadinya
nggak terlalu penting!
Yang jadi masalah itu, orang ini masih
hidup!
Tapi gue yakin, lawan Tarzyn
pasti nggak segampang itu!
Mungkin gue bisa bunuh dia, waktu
dia masih lemah!
“Gu…Gue tau lo pasti kecapean
lawan Tarzyn—”
“Terus kalo gue kecapean, lo mau
bunuh gue gitu?”
“Ya iyalah! Gue juga yakin lo
pasti mau bunuh gue—”
“Kalo gue mau bunuh lo, pasti lo
udah mati waktu itu, Shaylia.”
“!!!”
Di…Dia…tau gue dari mana?
“Penasaran kan kenapa gue tau lo?”
“…”
Gue cuma bisa ngangguk doang.
“Satu, sebenernya ini karena cara
aneh Kapten gue yang curigain adek lo, Erkstern.”
“Dia bilang sih…Erkstern aneh gara-gara
garuk-garuk jempolnya terus pake kelingking. Gue sih agak bingung maksud dia
apa, sampe gue tau kalo ada orang yang ngeliatin Erkstern begitu serius, selain
Myllo.”
“Ma…Maksud lo—”
“Shay, gue perhatiiin lo terus
yang bacain nama kita semua, sambil fokus liatin Erkstern, Shay!”
“!!!”
Si…Sial! Nggak gue sangka ada yang
perhatiin Erkstern ngasih kode ke gue!
Cih! Dasar adek tolol!
“Yang kedua. Sebenernya sih…ini
agak sensitif buat cewek sih. Tapi lo serius mau de—”
“Cepet kasih tau ke gue!”
“Badan lo bau mint. Persis
kayak rokok yang lo pipa yang lo pinjemin ke gue.”
Kalo gitu, mending gue nggak usah
denger jawabannya, deh!
Kok jadi kesel ya denger jawaban—
“Lo nggak perlu topeng itu lagi.
Gue udah tau kok—”
“Kenapa juga gue nggak perlu
topeng ini di depan orang yang pake topeng—”
“…”
“Nih liat. Gue lepas topeng gue.”
Tunggu dulu…
A…A…Ada yang aneh!
“Lo…Lo itu…”
“Djinnardio Vamulran, orang yang
sering disebut Anak Haram.”
“Nggak mungkin! Rumornya itu lo
udah mati! Kalo pun lo mati, harusnya lo nggak sekuat ini!”
“Hm… Jangankan lo, gue sendiri
juga bingung bisa sekuat ini dari mana.”
Di…Dia bingung?
Apa mungkin…dia lupa ingetan
beneran?
“Denger ya, gue itu benci banget
sama tukang bohong.”
“Hm?”
“Artinya, apa yang lo ceritain
semuanya itu bohong?”
“Ka…Kalo iya, lo mau apa?!”
“Bisa aja gue bunuh lo sekarang
juga. Lo pasti tau sadar kan, kalo gue bisa bunuh lo kapan aja?”
“…”
Ya, kata-kata dia ada benernya.
Sekarang gue udah sekarat banget
karena batu ini.
Tambah lagi…tangan gue gemeteran
terus…karena takut.
“Te…Terus, apa yang lo tunggu—”
“Gue mungkin bilang gitu. Tapi
sejujurnya, gue nikmatin obrolan enteng kita bareng Miraela. Bahkan kalo gue
inget-inget lagi, mungkin itu pertama kalinya gue bisa ngobrol kayak gitu
bareng orang yang baru gue kenal. Karena gue sendiri pun sebenernya nggak punya
temen semenjak ketemu…”
“…”
“Ah, lupain aja. Gue sempet
kecewa juga karena kehilangan dia. Untungnya aja gue ketemu Myllo, walaupun dia
dongo.”
Dia…nggak punya temen, sampai
akhirnya ketemu Kaptennya?
Nggak tau kenapa, gue ngerti apa
yang dia rasain.
Ratusan tahun gue hidup, yang
selalu gue bahas bareng adek-adek gue cuma dendam ke negara ini aja.
“Masalahnya, walaupun lo bohong,
gue ngerasa lo juga nikmatin waktu lo bahkan bareng gue, yang lo samperin
bareng Miraela.”
Hah?
Gue…nikmatin waktu gue…?
“Janganlah bergaul dengan
mereka!”
Ya, Guru Bahal bener!
Gue nggak bisa dimanipulasi kayak
gini!
“Hah! Yang bener aja?! Semuanya
itu cuma kedok—”
“Udah gue bilang, kan? Gue nggak
suka pembohong, Shay.”
“Pe…Pembohong?! Apaan maksud lo—”
“Tuh.”
“Hm?”
“Cek aja pipi lo sendiri.”
“Pi…Pipi gu—Hah?”
Ke…Kenapa gue nangis…?
Gu…Gue yakin…ini bukan air hujan…
“Makanya itu gue bilang. Lo pun
nikmatin momen itu, kan—”
“Diem lo!”
“*Dor! (suara tembakan pistol)”
“…”
Kenapa dia diem doang waktu gue
tembak?!
Apa dia udah selemah itu?!
“Shay, gue ngomong baik-baik,
loh.”
“Di…Diem! Jangan ngomong apa-apa
lagi!”
“Kenapa lo arahin pistol lo ke
gue—”
“Gue bilang diem—”
“Haaaah…”
Di…Dia mau ngapain?!
“Hup!”
“…”
Dia mau nyamperin gue…?
Ta…Tapi kenapa tangan gue kenapa gemeteran terus?!
Apa mungkin…gue setakut itu sama
dia?!
“*Dor! (suara tembakan pistol)”
“…”
“Jangan deket-deket!”
“…”
“*Dor! (suara tembakan pistol)”
“Ja…Jauh-jauh lo dari gue!”
“…”
“*Dor! (suara tembakan pistol)”
“DJIIIIINNNN!!!”
“…”
Di…Dia mau mati?!
Kenapa dia malah semakin deket—
“Ayo tembak lagi, Shay!”
“…”
“Kalo lo yakin mau tembak gue,
kuatin tangan lo! Jangan semakin gemeteran!”
“*Tup… (suara kepala menempel di
ujung pistol)”
Ke…Ke…Kenapa gue nggak mau nembak
dia?!
“Coba jawab jujur.”
“…”
“Lo takut, atau nggak tega?!”
“!!!”
Kenapa gue jadi inget kata-kata
dia di Humpar Bar?
“Kalo gue ceritain ini ke
Kapten gue, pasti dia bawaannya mau ajak gue untuk terus cari adek lo, Mir.
Bahkan mungkin aja dia ajak anggotanya untuk bales Monster yang bunuh orang tua
lo, Shay.”
Walaupun lo lagi ngomongin Kapten
lo, tapi…
Untuk pertama kalinya, gue seneng
ada ras diluar Dragonewt yang mau bantu gue.
“Jadi, lo masih mau tembak?”
“*Trak… (suara pistol jatuh)”
Gu…Gue nggak bisa bunuh dia.
Selain karena terlalu kuat, dia
juga salah satu orang yang bisa gue anggep temen.
Guru Bahal, saya mohon ampun
karena nggak sanggup—
“Kalo gitu, izinin gue baca masa
lalu lo!”
“…”
Semenjak dia ngomong gitu, dia
liat masa lalu gue semenjak lebih dari 200 tahun yang lalu.