
Kita jalan sesuai arahan dari bandit-bandit yang kita hajar. Mereka semua arahin kita lewatin wilayah yang ada penduduknya ini.
Masalahnya, tempat ini bener-bener sepi, seakan-akan kayak kota mati.
“Cih! Kenapa gue kesel sendiri liatnya?!”
“Dalbert, kamu kenapa?”
“Nggak. Cuma keinget masa lalu aja, di mana grup gue, BBE, ditakutin warga sekitar.”
Wajar aja sih Dalbert keinget masa lalunya, di mana dia jadi bandit. Walaupun gitu, gue paham situasi sekarang beda.
“Jaman lo masih jadi bandit kan beda, Dal?”
“Hm? Apa maksud lo, Djinn?”
“Gue yakin, kalo dulu lo ditakutin karena warga nggak tau tujuan asli lo. Tapi beda sama yang sekarang. Keliatannya warga ini pada takut bukan karena belom tau asli bandit-bandit ini.”
“Ya, lo bener. Justru karena mereka tau apa tujuan asli Dreaded Band, makanya mereka takut. Karena itu gue
kesel!”
Mungkin yang dimaksud Dalbert tuh, karena bandit-bandit di sini buat nama “bandit” jadi rusak ya?
Tapi kalo ngomongin soal bandit, justru BBE nggak sih yang bukan kayak bandit?
“Oi, semuanya! Keliatannya kita udah sampe!”
Oh itu ya kandangnya bandit-bandit ini?
“Woy, berhenti!”
““…””
Ada yang suruh kita berhenti?
“Et! Kita teh ketauan, ya?!”
“B-Bisa jadi…”
Cih! Kalo kita ketauan, bisa-bisa kita berantem dulu, sebelum—
“Ah! Ternyata lo itu Smoothies, ya?!”
S-Smoothies…?
Maksudnya… Garry…?
“*Phak, phak, phak…”
“Gryahahaha! Gue kira ada penyusup yang mau masuk markas kita! Ternyata Smoothies sama anggotanya! Sana gih, masuk! Bentar lagi pertandingan selanjutnya mau mulai!”
““…””
Gue nggak tau ada apa sebenernya sebelum kita masuk. Yang penting kita udah berhasil masuk markas mereka, walaupun…
“M-Myllo… tunggu sebentar atuh…”
“Hah? Ada apa, Garry?”
((Spirit Call))
“Eh?! Kok lo pake sihir lo?!”
“S-Sakit pisan punggung aing ditepuk-tepuk kitu…”
“Oh gitu…? Yaudah…”
Masalahnya nggak ditepuk sekali, dua kali, atau tiga kali. Tapi dia ditepuk berkali-kali. Jadi wajar aja dia kesakitan kayak gitu.
Oh ya. Karena ngeliat Garry yang sembuhin rasa sakitnya, gue jadi kepikiran hal yang sama.
“Tunggu dulu, kalian semua.”
“Mm? Ada apa?”
“…”
Gue tulis Sajak dulu di jaket mereka masing-masing, sebelum kita masuk.
“Nah, udah. Sekarang kita bisa masuk.”
Akhirnya kita sama-sama masuk ke markas bandit-bandit ini.
““Gyaaahahaha!””
“*Bruk!”
““Yeaaaah!””
““…””
T-Tempat macem apa ini…?
“Ih, kok aku mulai risih ya di tempat ini?”
“Cih! Ternyata mereka semua bandit rendahan yang jauh lebih rendah daripada BBE!”
“Ng-Ng-Ngeri, euy…”
Gue kira gue doang yang nggak nyaman di tempat ini. Mereka berlima juga nggak nyaman—
“Oi, oi, oi! Nggak ada lagi nih yang berani adu minum sama gue?!”
“Wuahaa! Gue, gue, gue!”
““!!!””
Haaaaah! Giliran ada minuman dikit aja, dia langsung gerak!
“Smoothies! Akhirnya lo dateng juga!”
“Et?! Kenapa—”
“Sekarang cewek-ceweknya lebih nikmat! Emangnya nggak ada yang mau lo cicip?!”
“Muehehehe! Gaskeun!”
D-Dasar mesum! Giliran ada cewek dikit, dia langsung gerak!
“Gila, Severe! Lo dapet pedang dari mana?! Kok gede banget?!”
“Eh…?”
“Pasti lo berhasil hajar Petualang yang nama Party-nya Aquilla itu, ya?! Grararara! Ternyata abang-kakak kita belom turun tangan, lo bisa hajar mereka, ya?!”
“Ayo kenalin ke kita dong senjata itu!”
“T-Tunggu!”
“Tenang aja! Kayak nggak kenal aja sama kita!”
Eh! Kok Gia main ditarik aja kayak gi—
“*Tap!”
“Lo pasti Dart, bukan?!”
“Hah?! Dart—”
“Lo kan termasuk yang paling jago lempar pisau! Nah, sekarang ada permainan baru nih! Ayo ikut kita!”
“E-Eh! T-Tunggu—”
“…”
Aduh! Kok temen-temen gue jadi pada misah gi—
“Widih! Pasti lo itu Wrathie!”
Hah…?
“Ayo kita nonton pertandingan selanjutnya! Gue jamin yang ini jauh lebih seru dari sebelumnya!”
Kita semua ditarik sama beberapa bandit yang ada di sini.
“Eh! Kok kita semua main ditarik aja?! Jadinya kita semua misah deh!”
Mungkin harusnya gue ngerasa kayak gitu. Untung aja gue yakin kalo kita pasti bakal mencar semua di sekitar
kandang bandit ini. Makanya itu, sehabis kita nyamar jadi bandit, ada sesuatu yang gue siapin di pakaian mereka masing-masing.
((Rune Spell: Connected Sound))
Pake Runecraft ini, gue bisa dengerin apa yang didenger temen-temen gue.
““Minum! Minum! Minum!””
““Pwaaahh…””
“Kekekeke! Ternyata lo kuat minum juga lo ya, Barehand!”
“Hehe! Segini aja… gue masih kuat…! hicc!”
““Lagi! Lagi! Lagi!””
Kedengerannya… Si Dongo udah nggak kuat…
“Serius ini pedang yang dipake cewek yang namanya Gia itu?!”
“Kok lo bisa dapet, sih?! Cerita lah, cerita!”
“Uhm… gimana ya aku—”
““Hah? Aku?””
“M-Maksudnya… gue mulainya?!”
Duh, Si Genit nggak bisa bohong! Kira-kira gimana dia bakal ngomong apaan ya ke mereka?!
“Woy, cewek-cewek murahan! Nih ada abang-abangan yang baru da—”
“*Crat…”
“Woy, Smoothies! Kok lo tiba-tiba mimisan?!”
“Ini teh… surga?”
Cih! Bener dugaan gue! Garry pasti dibawa ke cewek-cewek bayaran! Bisa-bisa dia lupa sama tujuan kita karena udah digoda duluan!
“Ayo Dart! Lempar pisau ini!”
“Orang yang jadi target-nya tuh… siapa?”
“Oh! Dia tuh warga sok-sokan yang berani nantang kita!”
Kalo gitu, pertarungan yang lagi gue tonton tuh… bisa jadi warga juga!
“*Bhuk!”
““Yeaaaah!””
“Ayo buruan bunuh dia, mumpung lagi jatoh! Jangan pake lama!”
“Bangun, goblok! Jangan sampe taruhan yang gue kasih ke lo sia-sia!”
Cih! Dasar orang-orang biadab!
“Woy, Wrathie! Kok lo daritadi melamun aja sih?!”
“Hah? Sorry, sorry. Gue cuma ngerasa capek aja.”
“Haaaah?! Capek?! Masa kalah sih lo sama nenek-nenek!”
Gigi lo nenek-nenek?!
Oh ya, biar nggak dicurigain, mending gue tanya-tanya aja.
“Oi.”
“Hm? Ada apa, Wrathie?”
“Warga itu… siapa yang nangkep?”
“Oh itu?! Gue sama anggota gue, lah! Tau nggak sih, dia awalnya mau gue rampok, tapi katanya dia mau serahin
dirinya sendiri ketimbang hartanya!”
“O-Oh gitu…?”
Bangsat nih orang! Dengan bangga dia berhasil tangkep orang itu!
“Ya pokoknya sesuai sama kesepakatannya deh!”
“Mm? Kesepakatan?”
“Ya! Kalo dia menang, dia jadi anggota Dreaded Band. Tapi kalo dia kalah, istrinya jadi pelacur pribadi gue!
Anak-anaknya gue jual! Kakakakak!”
Apa dia bilang…?
Berani-beraninya dia bilang kayak gi—
“Hahaha… Gue ngerasain amarah lo, lemah! Ayo marah! Bebasin gue!”
“Bacot lo, bajingan!”
Ups! Keceplosan gue ngomongnya?!
“Hah? Lo ngomong sama siapa, Wrathie?”
“Sorry, sorry. T-Tiba-tiba gue keinget sama orang yang ambil uang gue, waktu itu.”
“Oh gitu? Kakakakak! Bisa aja lo, ah!”
Bajingan lo, Zaghemin! Gara-gara lo, penyamaran gue jadi hampir kebongkar!
“Graaaagh!”
“*Bhuk!”
“*Bruk…”
““Yeaaaah!!!””
“Yes! Harga yang gue pasang nggak sia-sia!”
“Ayo buruan! Bunuh lawan lo!”
““Bunuh! Bunuh! Bunuh!””
Bandit-bandit yang nonton di sini minta warga yang bertarung itu untuk bunuh lawannya, yang gue yakin juga sesama warga.
Tapi…
“M-Maaf…”
““Hah?””
“Gue… capek…”
…keliatannya warga itu nggak mau ngelakuin permintaan bandit-bandit yang nonton ini.
“Woy, bajingan!”
“Apa maksud lo?!”
“Dasar lemah lo! Tinggal bunuh aja susah banget!”
Ya gitu deh. Dia jadi disorak-sorakin gitu karena nggak berani bunuh lawannya.
“Woy, woy, woy!”
“…”
Bandit yang narik gue tiba-tiba masuk ke dalem ring?
“Lo nggak inget sama janji lo?! Hah?!”
“*Bhuk!”
“Urgh…”
“Lo mau istri lo gue jadiin pelacur pribadi gue?! Hah?!”
Cih, anjing! Gue udah nggak kuat lagi nahan diri gue!
“*Chrang!”
“Aaagh! Udah nggak kuat, gue! Ternyata lo lebih kuat dari gue, Barehand!”
“Oi… kenapa lo pecahin botol itu…? Kan… masih ada isi—”
“Ah gampang itu! Tinggal rampok punya warga pulau ini aja!”
“Hah… T-Tinggal… rampok aja*…?*”
Kedengerannya Myllo juga udah nggak tahan.
“Enak nih kalo punya pedang begini!”
“E-Emang enak—”
“Enak untuk potong-potong warga! Ya nggak, Severe?!”
“…”
Gia juga.
“*Phak!”
“Aw!”
“Et! Kok ditampar—”
“Soalnya udah nggak enak! Karena udah nggak bisa dinikmatin, mending buang aja pelacur ini!”
“…”
Garry juga.
“*Shruk!”
“Urgh…”
“Horeee! Gue berhasil kenain “masa depan” dia! Masa lo kalah sama gue, Dart?!”
“…”
Dalbert juga.
Artinya, gue udah nggak perlu nahan lagi.
Kalo gitu, mending gue matiin dulu Runecraft gue, sebelum hajar semua bandit ini.
Ya kan, Mil?
“*Bhuk!”
“Argh! A-Ampun… gue nggak berani untuk—”
“Ampun?! AMPUN?! Lo kira lo bisa—”
“Woy, k****l!”
“Hah?! Siapa yang berani—”
“*Chrak!”
“AAAAAARGH!!! SIAPA YANG TUSUK MATA GUE PAKE JARI?!?! DASAR BIADAB!!!”
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk! Bhuk! Bhuk! Bhuk! Bhuk! Bhuk! Bhuk!”
“…”
Cih! Gue pukul anak anjing ini berkali-kali, sampe tangan gue kesakitan berdarah-darah!
Andai gue punya kekuatan gue, mungkin—
“Hueeeekk…”
Yang muntah itu… pasti—
“Aaaaah…! Lega juga…! Karena udah keluarin semua “kesialan” gue, jadinya gue bisa hajar bandit-bandit ini!”
“H-Hajar bandit-bandit ini?! Siapa yang lo maksud, Barehand—”
“Hehe! OK, Aquilla!”
““!!!””
“Wakil Kapten kalian udah gerak! Ayo kita hajar semua bandit sialan ini!”
““Siap, Kapten!””
Myllo udah umumin siapa kita sebenernya ke semua bandit ini. Kalo gitu, kita perlu hajar sekeras mungkin semua sampah dari semua sampah di tempat ini!