Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 202. Farewell, My First Friend



“Lo udah siap?”


“…”


Dia keliatannya belom siap, ya?


Jangankan dia sih, gue pun sebenernya juga belom siap.


“Djinn, tapi gue minta tolong ya?”


“Minta tolong? Apa emangnya?”


“Ada beberapa masa lalu yang rahasia dari anggota Aquilla yang dipimpin Kak Sylv nggak tau. Termasuk Myllo.”


Serius? Emangnya rahasia kayak gimana yang bahkan Party orang panutannya nggak tau?


“Tolong janji ke gue, kalo lo nggak akan liat masa lalu itu!”


“Ya, gue janji.”


“Yaudah. Kalo gitu, gue sekarang udah siap.”


“…”


“Djinn?”


Kenapa gue deg-degan sendiri, ya?


Apa gue yang sebenernya belom siap, ya? Gue tau kalo Meldek sebenernya udah mati. Tapi waktu Styx yakin kalo dia masih hidup, entah kenapa gue masih berharap bisa ketemu temen pertama gue lagi.


“Djinn!”


“Ah, ma-maafin gue gara-gara kebanyakan melamun. Ayo kita mulai sekarang.”


“*Tap…”


Gue pegang pundak dia, sambil tutup mata.


Waktu gue buka mata…


“…”


…gue udah liat masa lalu Styx yang lagi ada di atas sekoci[1].


“I-I-Ini…”


“Kayaknya waktu lo pergi dari gue sama Myllo.”


“O-Ooohh, gitu ya?”


Kayaknya dia masih kaget waktu liat masa lalu dirinya sendiri.


“*Wruukk…*”


“Huff! Huff! Huff!”


Dia kecapean karena dayung sekoci yang dia pake ke tepi pulau berkarang.


Awalnya gue kira dia udah pergi jauh dari kita semua. Ternyata dari pulau berkarang ini gue masih bisa liat adanya gue, Myllo, sama Luvast yang ada di Port Marzhal.


“Oh, ternyata lo masih mantau gue sama Myllo, ya?”


“Ya. Tapi bukan artinya gue khawatir sama kalian berdua, ya! Gue cuma mau pastiin kalo nggak ada dari kalian yang ikutin gue! Termasuk Bismont sama personilnya! Tambah lagi…”


“*Dhuk!”


Eh sialan!


“Kok lo tendang kaki gue?!”


“Bisa-bisanya lo rekrut High Elf yang ngalahin gue itu[2]!”


“…”


Oh iya ya. Dia belom tau siapa sebenernya Luvast.


“…”


Gue ceritain siapa Luvast sebenernya, khususnya tentang apa yang udah dia buat untuk Charzielle, selama di Penampungan.


“Haaaaah… Yaudah lah! Gue nggak perlu alesan panjang-panjang! Lagian dia itu anggota Myllo. Jadinya gue yakin kalo dia cewek baik-baik!”


Ya untungnya percaya sih, walaupun mukanya masih keliatan kesel.


““…””


Kita berdua terus ikutin “Styx” yang jalan telusirin padang rumput ini.


Sampe akhirnya…


““Grrrr!””


…dia ketemu ada banyak bintang buas.


Ya binatang buas doang, sih. Kalo ketemu binatang kayak gini aja sih, pasti Styx gampang ngalahinnya.


((Extermicia))


“*Vwumm…”


Tuh kan?


Dibakar pake api hitemnya aja langsung mati.


Masalahnya…


“*Haurp! Haurp! Haurp!”


…dia makan semua binatang itu, yang dibakar pake api aneh itu?!


“Oi, Styx. Perut lo nggak sakit makan binatang yang lo bakar pake api itu?”


“Hmm… Gue nggak inget. Namanya juga laper.”


Ma-Masuk akal sih jawaban—


“*Srrk, srrk…”


Ada suara semak-semak?


“Denger ada suara semak-semak, lo pasti tau kan ada yang ngikutin lo?”


“Liat aja baik-baik.”


Hm? Emangnya ada a—


“*Vwumm!”


((Fire Frenzy))


Tunggu! Dia itu bukannya…


“Lo inget kan orang itu?”


“Ya inget, lah! Dia itu salah satu Kakak Besar[3], kan?!”


Karena gue inget banget, kalo Orang Merah itu[4] tuh rahangnya gue hancurin sampe nggak bisa ngomong!


“Bener. Tapi bukan dia aja yang nyerang gue.”


Masih ada lagi?!


“Hraaagh!”


“*Shringgg…”


“Keuk…”


Yang Lizardman itu[5] juga dateng?!


“Perhatiin yang di sana, Djinn.”


“!!!”


Itu Ice Elf yang nusuk gue, sehabis dia nusuk Meldek[6], kan?!


Cih! Andai gue bisa tampol mereka semua!


“Gimana cara lo selamat dari mereka semua?!”


“Sebentar lagi. Perhatiin baik-baik.”


Sebentar lagi? Perhatiin baik-baik?


Emangnya ada a—


“*Vwrung…"


Kok ada portal yang tiba-tiba kebuka kayak gi—


“Ada portal?! Siapa yang da—”


“*Shrak!"


“!!!”


Lizardman itu tiba-tiba dibelah dua?!


Siapa yang nyerang Lizardman i—


“Haaaah… Saya merasa hina telah membunuh saudara satu kaum saya sendiri. Ya, setidaknya itu lebih baik daripada nama Lizardman semakin hancur karenanya.”


Hah?! Kenapa Lizardman yang dateng dari portal itu langsung bunuh sesama rasnya sendiri?!


“Si-Siapa anda?! Kenapa anda—”


((Snow Disc))


“*Shrrrk…”


Loh! Kenapa Ice Elf itu malah lempar es bentuk cakram ke rekannya sendiri?!


“Ada apa sih ini, Styx?! Kok Ice Elf itu—”


“Bunuh rekannya? Nggak! Lo nggak tau siapa rekan dia sebenernya!”


Artinya Ice Elf itu penyusup?!


Emangnya—


“Hey, Lenia. Tidakkah anda merasa bersalah telah menyakiti rekan anda sendiri?”


“!!!”


Brengsek! Lagi-lagi gue liat muka ular sialan ini!


“Djinn, lo kenal dia?”


“Kenal banget! Orang itu namanya Snake! Dia yang rusak desanya Gia! Tambah lagi dia mau coba rekrut gue!”


“Rekrut lo?! Buat apa?!”


“Bilangnya sih buat hancurin Centra Geoterra. Tapi gue yakin dia ada tujuan lain, selain jadi ******* di dunia ini!”


“Te-*******, ya…”


Ups! Gue ngomong kayak gitu sama orang yang teror Gazomatron!


Maafin gue, Styx…


“Rekan?! Kurang ajar lo, Snake! Kan lo yang tumbalin gue masuk ke Black Guild najis kayak mereka!”


“A-Ahaha… Anda berkata seperti itu, seakan saya ini seperti penjahat, Lenia.”


Emang lo penjahat, brengsek!


“Lenia! Apa-apaan maksudnya ini?! Siapa anda sebenernya?!”


“Siapa gue sebenernya? Nih liat sendiri!”


“!!!”


Di-Dia Striker Kasta Merah?!


“Lenia… LENIAAAA!!!”


“*Vwumm…”


“Anda pikir saya takut kalo anda itu Kasta Merah?!”


Dia nantangin Ice Elf yang namanya Lenia itu, ya?


Secara logika sains, kalo api lawan es, pasti api menang—


“Hahaha! Anda berani juga ya, Pyrobin!”


“A-Anda kenal siapa saya?! Kalo gitu, harusnya anda—”


“Namun, bagaimana jika ada api yang bisa membakar api?”


Maksud dia tuh apa?


“A-Apa maksud an—”


((Dark Flame: Eternal Burn))


“*Vwumm…”


“Aaaaargh! Pa-Pa-Panas!”


Gi-Gila! Bahkan dia juga bisa pake api hitem dari jentikan jarinya?!


““…””


Orang yang pake api kayak Orang Merah itu pun bisa gosong, ya?


“Liat, kan? Dia bisa pake Curse Magic juga. Bisa jadi dia itu Klan Mistyx ju—”


“Bukan, Styx.”


“Bu-Bukan? Kok lo tau?”


“Sebelum pergi dari Erviga, gue lawan Malaikat.”


“MA-MALAIKAT?!”


“Ya. Malaikat itu pake sihir yang sama persis kayak sihir yang dia pake!”


“A-A-Artinya…”


Kayak yang dia duga.


Snake bisa Curse Magic, ciri khas Iblis, tapi juga bisa Divine Art, ciri khas Malaikat!


Cih! Siapa nih orang sebenernya?!


Emang gue harus dapet kekuatan tambahan di Chamber of Ancient Armament! Kalo gue nggak semakin kuat, bisa-bisa rekan-rekan gue kenapa-kenapa kalo ketemu dia lagi!


“Ah ya, saya lupa.”


“…”


“Maafkan saya jika telat memperkenalkan diri saya, Bellavitria Mistyx.”


Dia bahkan tau nama asli Styx?!


“Nama saya adalah Snake. Sebelumnya, maafkan rekan saya yang—”


“*Zhum!”


“Darimana lo tau nama gue?!”


Pastinya sih dia kesel karena ada orang yang tau rahasia dia.


“Haha! Tenang saja, Bellavitri—”


“Jangan berani-beraninya lo sebut nama gue!”


“Baiklah, Styx. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya hendak memohon maaf atas tindakan rekan saya. Ia hanya menyamar saja.”


“Yaudah! Tapi, gue rasa lo dateng bukan cuma minta maaf doang, kan?!”


“Tentu saja. Selain menjemput rekan saya, saya juga ingin menyampaikan kepada anda, bahwa pria yang anda cari berada di tepi Larweck Forest, yang berada di arah barat padang rumput ini.”


Orang yang Styx cari?! Maksudnya Meldek?!


“Gue nggak tau lo jujur apa nggak. Tapi kalo lo emang bener, kenapa lo kasih tau gue tentang itu?!”


“…”


Dih! Ngeliat dia senyum bawaannya bikin gue kesel aja!


“Anggap saja sebagai rasa hormat saya kepada orang tertentu.”


“O-Orang terten—”


“Ah! Sepertinya anda mengenal orang tersebut.”


Siapa emangnya?


Sylvia? Orvo? Atau mungkin Phonso?


“Siapa yang lo maksud?!”


“Dox.”


Dox?!


I-Itu bukannya… suaminya Sylvia…?


Artinya…


“Lo kenal Dox?!”


“Hah?! Lo juga kenal?!”


“I-Iya. Phonso kasih tau gue tentang Dox sama Sylvia, tanpa sepengetahuan Myllo.”


“Duh! Bego banget sih, Phonso!”


Hah?! Kenapa dia marah kayak gi—


“Ya, lo bener. Gue kenal Dox, suami dari Kak Sylv.”


Artinya nggak cuma Phonso sama Orvo aja yang tau soal Dox sama Sylvia?


“Baiklah. Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan kepada anda, Styx. Sekarang, saya hendak pergi terlebih dahu—”


“Tunggu!”


“Mm?”


“Me-Me-Meldek… beneran ada di tempat yang lo bilang?”


“Percaya atau tidak, itu urusan anda, Styx. Tidak. Lebih tepatnya, percaya atau tidak, apakah anda siap melihatnya?”


“*Vwrung…”


Dia ngomong gitu sambil ninggalin Styx lewat portal yang dia bikin, bareng anggotanya sama Orang Merah yang jasadnya dia bawa.


“Yang kayak dia tanya ke gue, Djinn.”


“Hm?”


“Lo siap nggak liat Meldek yang gue temuin?”


“Ya. Gue siap.”


Apapun yang gue liat nanti, gue harus siap.


……………


Semenjak ketemu Snake, kita berdua ngikutin dia yang lagi jalan nyari Meldek.


Kira-kira perjalanannya makan waktu 4 hari.


Tapi sebelum ketemu Meldek…


“Haurm!”


“Nguuuu!”


“Chirp, chirp, chirp…”


…ada banyak banget binatang yang “nyambut” Styx!


Untungnya sih binatang-binatang ini jinak semua, walaupun ada binatang buas kayak singa, macan, badak, atau binatang buas lainnya.


“Kok lo nggak siapin pisau lo?”


“Nggak tau. Entah kenapa, gue rasa binatang-binatang ini nggak bahaya.”


“Nggak bahaya? Emangnya lo tau?”


“Ya tau, lah! Mana mungkin gue Observer Kasta Jingga, kalo baca niat binatang buas?!”


“Hah?! Lo Kasta Jingga?!”


“I-Iya!”


“Kenapa lo bisa kalah sama Luvast—”


“Mending fokus aja dulu liat ini semua!”


“Y-Ya…”


Ha-Hampir aja gue salah nanya karena terlalu semangat…


“…”


Kita ikutin dia terus.


Sampe akhirnya…


“ME-MELDEK!!!”


““…””


…kita liat mayat Meldek, yang dikelilingin binatang-binatang yang ada di hutan ini.


“MELDEK! BANGUN MELDEK!”


“…”


“JANGAN TINGGALIN GUE! Hiks!Hiks!”


Meldek…


“Lo liat sendiri, kan?”


“Ya.”


“Hiks…”


Dia yang “dateng bareng" gue juga nangis, ya?


Keliatannya dia masih belom bisa ngelupain Meldek, ya?


“Se-Se-Sekali maafin gue, Djinn!”


“Maafin?”


“Gu-Gue bilang kalo Meldek lemah! Tapi sebenernya… sebenernya… gue yang lemah karena nggak bisa lupain dia!”


Kayaknya gue salah ya minta liat masa lalu dia. Karena gue minta liat masa lalunya, secara nggak langsung gue paksa dia untuk ngeliat kenangan pahitnya ini.


“Styx. Maaf kalo lo harus liat ini lagi. Tapi, kasih waktu gue sebentar aja, ya.”


“…”


Dia tutup mukanya karena nggak kuat nahan nangis.


“…”


Pelan-pelan gue jalan ke mayat Meldek.


“Mel. Ini gue, Djinn.”


“…”


“Andai lo bisa denger gue, gue cuma mau bilang makasih sebanyak-banyaknya, karena udah jadi temen pertama gue, Mel.”


“…”


“Karena lo, gue belajar terbuka buat orang lain. Gue belajar untuk denger orang lain. Gue belajar untuk berkorban untuk orang lain tanpa adanya paksaan.”


“…”


“Sekarang gue punya tujuan, Mel. Semoga lo… bisa liat gue capai mimpi gue… di atas sana, Mel!”


“…”


“Semoga gue berhasil capai mimpi gue!”


“…”


Karena udah kasih salam perpisahan gue, akhirnya gue balik ke Styx, sambil liat Meldek.


“…”


Gue pergi sekarang ya, Mel.


Selamat jalan, temen pertama gue.


_______________


[1]Styx pergi dari Djinn dan Myllo menggunakan sekoci (Chapter 30).


[2]Styx dikalahkan oleh Luvast (Chapter 16).


[3]Kakak Besar adalah para petinggi Goldiggia (Chapter 6).


[4]Sebutan dari Djinn kepada Pyrobin, yang merupakan seorang Kakak Besar.


[5]Bon Kargal, yang juga seorang Kakak Besar.


[6]Lenia, yang juga seorang Kakak Besar.