Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 278. Unexpected New Member



“*BWUSH…”


““Wuhuuuu!!!””


Kita masih lanjutin perjalanan di bawah laut ini dari Clamista[1]. Dari arah berenangnya Jörnarr sih, kita pergi ke arah timur. Andai aja kita tau di mana letak Damra Island, mungkin kita bisa pergi ke sana. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, tadinya kita berlima mau ke Damra Island untuk ke Teleporter, kan?


Sebenernya tujuan kita berlima ke Teleporter itu untuk nyusul Luvast. Masalahnya kita aja nggak tau Luvast di


mana, semenjak “mimpi” gue nampilin Snake yang ngasih tau ke gue tentang Luvast, sebelum dia pergi bareng beberapa warga Gazomatron.


Ya untungnya sih hal itu udah nggak jadi kenyataan, walaupun secara nggak langsung kita “kalah” sama


Serpentis!


Eh iya, ngomong-ngomong…


“Kok perasaan di Clamista kayak ada yang kurang ya?”


“Hah? Maksud lo apa, Djinn? Makanannya kurang—”


“Bukan makanan, dongo! Maksud gue, ada satu orang yang kurang!”


“Hm? Masa sih? Perasaan ada semua, kok.”


“Bener, euy! Ada Teh Delolliah, Teh Jennania, Teh Angela, Teh Dreschya, terus… udah kan atuh, ya?”


“Kenapa cuma cewek-cewek aja yang lo inget, Garry?! Masa lo lupain Berius sama Eìmgrotr?!”


Iya sih ada mereka. Tapi entah kenapa ada—


“Ah! Maksud lo Machinno ya, Djinn?!”


“Oh iya! Kok dia nggak ada sih?!”


“Astaga! ***Aing* teh** juga lupa, euy!”


“G-Gue juga…”


Tuh kan bener! Ternyata Machinno yang nggak ada!


Terus dia kemana ya—


“Eh, eh, eh! Ada yang aneh!”


“Hm? Ada apa, Myllo?”


“Kita pergi bareng Djinn, kan?!”


Hah? Apa maksud Si Dongo itu?


“Kok nggak ada yang muntah?!”


““Pfftt… Hahaha!!!””


“B-Bawel lo, dongo!”


Tambah lagi bocah-bocah sialan ini! Berani-beraninya mereka ikut ketawain gue! Padahal gue lagi serius mikirin Machinno!


“Tunggu! Ada yang aneh!”


“Apa lagi lo, brengsek! Jangan bilang lo mau ikut-ikutan—”


“Perhatiin baik-baik sihirnya Jennania[2]!”


““…””


Eh iya… Kok keliatannya mau pudar, ya…?


“Aaaah! Jörnarr! Naik sekarang! Naik sekarang!”


“HYAAAA!!! AING TEH NGGAK BISA BERENANG!!!”


“Eh?! Aku nggak mau kulit cantik aku kena air asin!”


Nah loh! Gimana caranya supaya kita bisa ke atas laut?!


““…””


“Ngapain pada liatin gue, woy?!”


“Buru perintahin peliharaan gue, Djinn!”


Cih! Mereka pikir gue masih bisa perintahin Hueyacoatl ini?! Kan gue udah nggak punya kekuatan gue lagi!


““…””


Haaaah… Mereka masih liatin gue!


“Yaudah gue coba!”


““Buruaaan!!!””


Sabar dikit dong, bocah-bocah sialan!


“Jörnarr! Pergi ke atas laut! Sekarang juga!”


“(RRRRRRR…)”


“*FWUSH…”


T-Ternyata beneran bisa ya…


Gue kira nggak akan bisa, semenjak kekuatan gue disegel. Mungkin karena Jiwa gue masih aktif kali—


“*BWUSH…”


““Aaaargh!””


Eh! Kok kita dilepas gitu aja?!


“(AAAANNNGGGG MUUUUU KOOOOO…)”


“*BLUB, BLUB, BLUB…”


Eh?! Kenapa dia buat gelembung segede itu?!


“Myllo! Kita masuk ke gelembung itu!”


“OK, Dalbert! Ayo semuanya! Kita ikutin arahan Dalbert!”


““Yaaa!””


M-Masuk ke gelembung itu?!


Oh! Gue paham!


“*Bwush, bwush, bwush…”


Kita berlima berenang ke arah gelembung itu. Tapi karena Si Mesum (Garry) ini nggak bisa berenang, dia jadi pegangan ke gue.


“…”


Waktu kita sama-sama masuk ke gelembung yang dibikin Jörnarr, tiba-tiba sihirnya Jennania udah hilang.


“Ahahaha! Ternyata kita harus berpisah sama Jörnar, ya?!”


“Hihi! Seru juga ya perjalanan bawah laut bareng Jörnarr!”


“Bener banget, Gia! Gue nggak nyangka kita pergi dari bawah laut kayak tadi!”


“Padahal mah awalnya kita hampir mati sama ieu Ular Raksasa!”


“…”


Ya mereka ada benernya juga sih. Emang nggak disangka kita bisa dibawa Jörnarr, walaupun kita semua hampir mati sama dia. Gue sendiri juga seneng banget. Karena kita bisa liat pemandangan bawah laut yang bagus banget selama di perjalanan.


“(VAAAAA RUUUU KAAAA……)”


“Dadah Jörnarr! Hati-hati ya selama di bawah laut!”


“Makasih banyak, Jörnarr! Kapan-kapan main sama anak-anak aku, yaaa!!!”


“Nuhun pisan, Jörnarr! Semoga teh sia teu kesepian!”


““…””


Myllo, Gia, sama Garry ngucapin salam perpisahan mereka, sedangkan gue sama Dalbert cuma lambain tangan aja. Sementara Jörnarr, perlahan-lahan makin nggak keliatan.


“*Bwush…”


Gelembung yang kita pake ini udah mengapung di atas laut. Dari jarak yang agak jauh, kita udah bisa liat adanya pulau.


“Liat tuh! Udah ada pulau!”


“Kamu bener, Myllo! Semoga aja kita—”


“Hehe! Kalo gitu, langsung gue kencengin aja pake angin gue! Supaya kita lebih cepet nyampe!”


“Eh tunggu, *****Mil*****! Gimana cara lo—”


“*Plup…”


“Hah? Ada apa, Djinn?”


Huuuh…! Untung nggak pecah gelembung ini! Nih bocah ngasal banget tiba-tiba main keluarin tangannya dari gelembung!


((Zegin Blow))


“*FWUSH”


““Wuhuuuu!!!””


K-Kenceng banget!


“Mil! Mil! Mil! Kekencengan, woy!”


“Haaah?! Lo takut ya, Djinn?!”


“Bukan soal takut apa nggak! Kita bakalan nabrak karang-karang itu, sebelum nyampe pulaunya!”


“HAAAAAH?!?! ADA KARANG?!?!”


DUH!!! DONGO BANGET SIH BOCAH SATU INI—


“*PWAKH!!!”


““Aaaargh!!!””


““*Pwush, pwush, pwush…””


““Uhuk, uhuk, uhuk…””


Haaaahh…! Untung aja kita bergerak terlalu cepet! Karena Si Dongo itu kekencengan gerakin gelembung tadi, kita mantul di atas air laut karena bergerak terlalu kenceng, sehabis kita nabrak karang tadi!”


““*TUNG!!!””


“HAMPIR AJA KITA MATI, MYLLO!!!”


“Mu-Muuf… (Ma-Maaf…)”


Tuh kan! Rasain sendiri deh tuh enaknya dipukul Gia!


“Haaaah…! Yaudah deh! Yang penting kita semua udah nyampe di pulau ini! Daripada kita—"


“*BWUSH…”


Eh! Kok tiba-tiba ada air mancur dari tengah laut itu?!


“Gelombang air itu… dari Jörnarr, kan?!”


“Harusnya sih gitu, Gia.”


“Kenapa atuh dia semburkeun air i—”


“……aaaaa……”


Hm? Kok ada suara orang teriak ya? Tapi kok kecil banget?


“Oi, semuanya! Ada yang teriak, ya?!”


“Teriak? Aku sih nggak denger apa-apa, Myllo.”


“…aaaaa…”


Tunggu! Kok suaranya makin kedengeran ya?!


“Myllo! Gue juga makin denger suara itu!”


“Ah iya! Aing teh juga mulai denger!”


“Bener juga, ya. Aku mulai denger nih suaranya…”


Tuh kan, ternyata makin kenceng suaranya…


Tunggu…


“Kedengerannya suaranya dateng dari atas, deh…”


“Dari atas?”


““Hm?””


“AAAAAAAAA……”


Tunggu! Bukannya itu—


““M-M-MACHINNO?!?!””


“AAAAAAAAA…”


“*PUINK!!!”


Aduh! Dari semua orang, kenapa harus nabrak gue sih?!


Untung aja badannya kenyal!


Eh, tapi kok bisa kenyal badan mahluk satu ini?


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


““HAAAAAAH?!?! BENERAN MACHINNO DONG!!!””


I-Iya juga! Kenapa dia tiba-tiba—


“AAAAAAAAA—”


““UDAH SELESAI JATOHNYA!!!””


“Ah. Seperti itu kah. Haha.”


Haaaaah! Si Lemot satu ini! Udah nabrak gue, tambah lagi lemotnya dia yang bikin gue kesel!


Oh iya! Ada yang lebih penting yang harus kita tanya!


“Oi, No! Kenapa lo bisa—”


“Hieekh!”


“*Puink, puink, puink…”


“Eh?! A-Ada apa Machinno?!”


“…”


D-Dia takut sama gue, terus ngumpet di balik kaki Gia sambil ngeliatin gue ya…


“Machinno, kenapa bisa kamu tiba-tiba di sini?!”


“…”


““…””


Haaaah…! Mulai deh kayak gini!


“Machinno… lihat mulut terbuka. Machinno… masuk mulut itu. Tiba-tiba… Machinno berputar di dalam mulut.”


D-Dia masuk mulut Jörnarr?!


Tapi kalo gue inget-inget lagi sih, waktu itu Jörnarr juga semburin kita karena dia “makan” kita[3], kan?


“Tunggu. Kenapa… lo masuk mulutnya Jörnarr?”


“Machinno… penasaran.”


P-Penasaran, dia bilang…


““Haaaahhh…””


Ada-ada aja mahluk satu ini. Karena rasa penasarannya, kita jadi kerepotan sendiri.


“Mil, gimana cara kita pulangin dia?”


“Hah? Pulangin?”


“Ya iyalah! Emangnya…”


Tunggu, jangan bilang dia…


“Kenapa nggak ikut aja sama kita?! Ya nggak?! Hihihi!”


Haaaaah…! Makin aneh deh Party ini!


“M-Myllo! Emangnya teh dia boleh jadi Petualang bareng kita?!”


“Hah? Emangnya nggak boleh?”


“Aing teh bukan soal itunya, Myllo! Kalo kita mah udah jelas atuh ras-nya apa?! Nanti kalo ditanyakeun tentang ras, Machinno teh disebut apa?!”


Makasih banyak, Ger! Untung aja lo tanya soal itu!


“Bener juga, ya. Jadinya Machinno nggak bisa—”


“Tunggu.”


“Hm? Ada apa, Dalbert?”


“Kalo ikut kita petualangan tanpa harus jadi Petualang, kira-kira bisa nggak?”


Itu sih bisa jadi solusi.


“Enak aja! Gue mau anggota gue jadi Petualang semua!”


““Haaaaah…””


Susah deh kalo kayak gini!


“Machinno, Machinno, Machinno!”


“…”


“Lo mau kan jadi Petualang?!”


“…”


“Machi—”


“…”


K-Kayaknya kalo diliat dari matanya yang berbintang-bintang, jawabannya udah ketauan deh.


“Hehe! Liat nih! Machinno juga mau jadi Petualang juga!”


“B-Bener juga sih…”


“Hehe! Gimana?! Kalian setuju, kan?!”


“Aing teh setuju!”


“Aku juga!”


“Lo nggak perlu tanya gue, kan?!”


“Djinn?!”


Bahkan ngomong nggak setuju kayaknya juga udah mustahil.


“Setuju!”


“Hehe! OK semuanya! Waktunya kita cari Guild Petualang untuk cari Quest, sekalian buatin Machinno Lencana


Petualang!”


““Yaaaa!””


Ya kira-kira begini lah mulainya petualangan kita yang baru. Semoga di pulau ini, kita semua bisa selesain semua permasalahan yang kita hadapin nanti!


_______________


[1]Desa dengan banyak kerang raksasa (Chapter 157).


[2]Salah seorang Permaisuri Siren yang menjadi anggota Lepus Party (Chapter 176; Chapter 275).


[3]Aquilla Party dilahap oleh Jörnarr sebelum mereka semua tiba di Clamista Village (Chapter 155).