
Serius anak kecil ini Putri Naga yang lagi diincer Bakufu?!
“Hmph! Tidak kusangka kau menganggap-Ku sebagai anggota Bakufu! Jahat sekali bibirmu, Warga Bawah—”
“*Cuuuttt…”
“Hey! Mengapa kau kembali mencubit pipi-Ku?!”
Untung aja gemesin, walaupun ngeselin.
“DJINN!!! ANDA KETERLALUAN!!! NANTI PIPINYA HANCUR!!!”
Woy! Berlebihan banget!
“G-Gue masih nggak percaya… kalo Ryūhime-sama itu wujudnya anak kecil!”
“Kau pikir Aku ini adalah anak batita karena wujud-Ku ini?!”
D-Dia baru sadar kalo kita kira dia anak kecil…?
“Lihatlah ini!”
“*Puff…”
““…””
Dia tiba-tiba berubah jadi cewek dewasa?!
“Ara ara…! Lihatlah penampilan-Ku ini! Tentunya kalian semua terpesona dengan—”
“*Cuuuttt…”
“*Puff…”
“T-Tidaaaak! Jangan cubit pipi-Ku lagiiii! Dasar Warga Bawah yang tidak sopaaaan!”
Bahkan waktu gue tarik pipinya, dia berubah lagi jadi anak kecil…
“Huuuu… Shinikichi…! Bantu Aku…!”
“B-Baik, Ryūhime-sama!”
“*Phuk…”
“Tenanglah, Ryūhime-sama. Saya ada di sini.”
M-Manja banget nih Naga sama Shinikichi—
“Hey, Djinn-san! Kurang ajar! Jangan bikin dia nangis!”
“Haaah?! Gue cuma cubit pipi dia aja—”
“Kasihan sedikit sama Ryūhime-sama yang imut ini!”
““…””
G-Gue kira Bocil Naga ini dia sembah. Nggak taunya karena dia—
“Eh, emangnya kita nggak apa-apa ada di ruang terbuka kayak gini?! Bukannya seharusnya kita ada di tempat tertutup?!”
Bener juga apa yang dibilang Tsuruki! Kan Naga ini lagi jadi buronan! Kenapa dia malah berkeliaran kayak gini?!
“Djinn-san, mungkin anda telah membantu kami, anggota Perlawanan. Tetapi anda juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di Kumotochi, bukan?”
“Pastinya.”
“Baiklah. Saya bisa izinkan anda untuk bertanya ke Ryūhime-sama.”
“OK, thank—”
“Tetapi!”
“Hm?”
“Jangan sampai anda cubit pipi Ryūhime-sama!”
“Iya, bawel!”
Haaaaah…! Emangnya gue seaneh lo?!
((Oto no nai Kumo))
“*Fwush…”
Hm? Kenapa dia tiba-tiba ngeluarin kabut?
“Dengan awan yang saya ciptakan, kita dapat berbicara tanpa perlu khawatir adanya orang lain yang dengar kita.”
Oh gitu?
Ini sama aja kayak ((Soundproof)) yang dipake Bismont[1] nggak, sih?
Bedanya, kita ada di dalam awan…
“Kau, Warga Bawah! Sepertinya kau adalah pria yang dipercayakan oleh Ryūtaro-kun, bukan?”
“Ya.”
“Pantas saja Aku merasakan sisa-sisa kekuatan Ryūtaro-kun darimu.”
Hah? Sisa-sisa kekuatan Ryūtaro?
“Tentu kalian ingin mengetahui cerita yang sebenarnya terjadi, bukan?!”
“Ya.”
“Baiklah! Karena Aku percaya kepadamu, maka Aku akan menceritakannya kepadamu! Tetapi ingat!”
“Apa?”
“Jangan kau ceritakan kepada siapa-siapa terkait apa yang akan Aku ceritakan kepadamu! Begitu juga dengan dirimu, Ishisaru-kun!”
“Y-Ya, Ryūhime-sa—”
“Kalo temen-temen gue boleh tau, nggak?”
“Haaaah?! Teman-temanmu—”
“Untuk masalah kayak gini, Mereka juga harus tau. Karena itu—”
“Ya, ya, ya! Aku paham! Hanya saja…”
““…””
“…Aku mengingatkanmu seperti itu, agar kau tidak menceritakan ini kepada para Kepala Perlawanan!”
““!!!””
Hah?! Kepala Perlawanan?!
“T-Tunggu, Ryūhime-sama! B-Bukannya mereka mau bantu Ryūhime-sama?! Kok mereka nggak boleh tau—”
“Sejujurnya Aku juga tidak mengetahui alasan pastinya, Ishisaru-kun. Tetapi Aku yakin, bahwa secara tidak langsung, salah satu Kepala Perlawanan lah yang memulai semua tragedi ini!”
““!!!””
Hah?! Kalo gitu nggak ada yang bener dong, mau itu Perlawanan atau Bakufu?!
“Tunggu, Bocil Naga!”
“Hah?! Siapa yang kau maksud Bocil Naga—”
“Kenapa lo yakin banget tentang itu—”
“Biarlah Aku ceritakan kepada kalian, tentang apa yang sebenarnya terjadi, yang Aku saksikan pada malam itu.
Aku harap kalian membuka telinga kalian lebar-lebar, karena Aku tidak akan mengulang cerita-Ku!”
““…””
---------------
Pada malam itu, Aku telah menjalankan ritual-Ku di Zegin Shrine, kuil yang sebelumnya dijadikan sarana warga untuk berdoa kepada Dewi Zegin-sama, yang kini dijadikan untuk menyembah Kaum Wind Dragon, khususnya diri-Ku yang seorang Wind Dragon Princess.
“Ryūhime-sama, sepertinya warga Kumotochi yang datang telah selesai berdoa kepada Anda.”
“Sepertinya begitu, Shinikichi-kun.”
“Apakah Anda akan menemui guru Anda, Ryūhime-sama?”
“Ya! Oleh karena itu, Aku akan pergi sebentar, Shinikichi-kun!”
Aku pun bergegas bertemu dengan Shishō[2].
Walaupun Aku adalah Wind Dragon Princess, Aku berlatih dengan Shishō untuk belajar tentang makna kehidupan dan kebebasan. Selain itu, beliau juga mengajarkan-Ku tentang kemampuan bela diri yang beliau kuasai.
“…”
Aku berlari untuk menemui Shishō.
Awalnya Aku hendak menemui-Nya dengan penuh semangat. Tetapi pada akhirnya, Aku menemui-Nya dengan perasaan cemas.
“Apa yang telah Kau perbuat, Onēsama[3]?!”
“Aku hanya melakukan demi kebaikannya, Satoshi.”
“Tetapi bukan berarti Kau berhak untuk mengambil benda berbahaya itu! Jika Kau melakukannya, artinya Kau tidak menghargai sahabat-Mu—”
“Jangan berani-beraninya Kau sebut namanya, Satoshi!”
“…”
Aku menemukan Shishō yang sedang berdebat dengan Shogun pada saat itu, Kazedori Satoshi, yang kala itu baru Aku sadari, bahwa beliau adalah adik dari Shishō.
“Onēsama! Aku telah menanggung beban ini selama 5,000 tahun! Aku rela membiarkan diri-Ku mengemban tugas yang seharunya Engkau emban! Aku pun memahami-Mu, yang ingin bebas dari tanggung jawab-Mu, setelah beban berat yang Kau pikul bersama sahabat-sahabat-Mu! Tetapi mengapa Engkau membuat masalah yang berat seperti ini?!”
“Aku paham, bahwa keegoisan-Ku menjadi penyebab semuanya! Tetapi… tidak bisakah Aku—”
“Mengapa tidak Kau berikan anak itu kepada-Ku?! Mengapa Kau memberikannya kepada Tanzō Kuroba?!”
“Tidak! Bahkan di antara Mahluk Fana saja, hidupnya telah pahit! Ia tertindas setelah kematian Kepala Klan itu! Bayangkan jika ia harus hidup di antara Klan Kazedori—”
“Mengapa tidak Engkau saja yang merawatnya?! Bukankah ia anak-Mu?!”
“…”
Namun, seperti yang Kazedori Satoshi tanyakan kepada-Nya, Aku pun juga mempertanyakan hal yang sama akan itu.
Mengapa Shishō tidak mengasuh anak-Nya?
“Aku sangat kecewa, Onēsama! Oleh karena itu, maafkan Aku yang harus mengambil benda itu darinya—”
“Tidak akan kubiarkan kau mengambilnya kembali, Satoshi—”
“Hanya Pria Terjanji yang pantas membawanya! Anak-Mu tidak pantas untuk—”
“Anak-Ku adalah Pria Terjanji! Tidakkah Kau lihat, bahwa anak-Ku—”
“Tidak, Onēsama…! Yang kau ciptakan bukanlah Pria Terjanji…!”
“A-Apa maksudmu—”
“Yang kau ciptakan… adalah Kaum Omega…!”
“…”
“Jawab Aku, Ōnesama!”
“…”
“Apakah Engkau ingin bermain dengan takdir, dengan menciptakan Sang Omega?!”
“…”
Shishō pernah menyebut nama Sang Omega kepada-Ku. Tetapi beliau tidak pernah menjelaskan lebih dalam tentang itu, semenjak nama tersebut berbahaya bagi dunia.
“T-Tidak, Satoshi! Jika Aku menginginkan kebebasan, untuk apa Aku bermain-main dengan takdir?! Justru Aku tidak ingin dalam lingkaran maut itu lagi!”
“Lantas mengapa Engkau—”
“Aku hanya melampiaskan hawa nafsu-Ku! Hanya itu yang ingin Kulakukan!”
“…”
Wajah memerah tertimbul di wajah Shishō.
Aku yakin, Beliau menceritakan itu dengan malu.
“Kau ingin melampiaskan hawa nafsu-Mu, atau melampiaskan luka di hati-Mu, semenjak Engkau tidak dipandang olehnya?”
“…”
“Tolong jawab Aku. Onēsama!”
“…”
Mendengar Shogun itu, Aku pun teringat, bahwa Shishō telah hidup sejak sebelum Hari Penghakiman. Tetapi di saat yang bersamaan Aku juga menyadari, bahwa Shishō sangatlah misterus.
Siapa sebenarnya Shishō yang sangat Aku hormati?
Apakah ia memiliki seseorang yang sangat berharga bagi-Nya?
“…”
Aku memperhatikan Shishō yang memegang lengan-Nya dengan keras dan gemetar.
Tetapi hal tersebut tidaklah berlangsung lama…
“*Shringgg…”
…setelah seseorang yang sangat terkenal di Bakufu, datang menghampiri mereka.
“*Swush!”
“Shishō! Waspada—”
“Berikanlah kepadaku Yajū no Ikari! Kazedori—”
“Onēsama! Awas!”
“*Shrak!”
““!!!””
Aku hendak memperingtkan Shishō, bahwa ada yang hendak menyerang diri-Nya. Akan tetapi, Shogun Satoshi menjaga Shishō dengan menggunakan Tubuh-Nya sebagai perisai.
“S-Satoshi—”
“A-Aku… tidak bisa… merasakan… apa-apa…!”
“T-Tidak! Jiwa-Mu telah hancur—”
“Cih! Padahal aku hendak membunuhmu dan mencari tahu lokasi tempat rahasia itu, Kazedori—”
((Tatsumaki Fureru))
“*FWUSH!!!”
“Urgh… Uaaaargh!”
Aku menyaksikan pembunuh itu, yang dihempaskan oleh Shishō.
Tetapi, Shogun Satoshi tidak memilik banyak waktu lagi.
“O-O-Onē…sama!”
“S-Satoshi…! Maafkan Aku—”
“Sampaikan salam-Ku… kepada anak-Ku…”
“…”
Shogun Satoshi memberikan pesan yang tidak bisa Kudengar kepada Shishō.
Setelah itu…
“*Fwuzzz…”
…Tubuh-Nya menjadi debu.
“S-Shishō—”
“Maafkan Aku, Ryūhime-chan. Tetapi… untuk kali ini latihan terpaksa kubatalkan.”
“*Swush!”
Ia pun pergi meninggalkan-Ku.
Malam itu adalah terakhir kalinya Aku bertemu dengan-Nya.
Tetapi Aku tidak menyangka, bahwa hari itu adalah permulaan kesengsaraan di Kumotochi.
“Cepat cari Ryūhime!”
“Katakan kepada kami sekarang juga! Di manakah Ryūhime?!”
Aku tidak menyangka, bahwa pembunuh itu berhasil memanipulasi keadaan, dengan menuduh-Ku sebagai dalang dibalik kematian Shogun Satoshi!
---------------
“R-Ryūhime-sama, hamba ingin tanya sesuatu.”
“Silakan, Ishisaru-kun.”
“Siapa sebenernya… yang bunuh Shogun?!”
“Ia adalah Yorukiba Bushimaru! Kepala Klan Yorukiba!”
Nggak gue sangka! Ternyata ada tukang fitnah di Bakufu!
Tapi dari cerita Ryūhime, ada satu hal yang bikin gue kesel banget!
“…”
Ternyata di tempat ini… ada Hidden Dungeon…!
Bahkan Shogun yang namanya Satoshi itu sempet sebut-sebut tentang Pria Terjan—
“Dj-Djinn-san! Shinikichi-san! Kalian di mana?!”
Itu kan suara Nekomi, yang gue denger dari dalem awan ini.
“Sepertinya kita harus berhenti bahas tentang kejadian malam itu, Ryūhime-sama.”
“Ya. Aku juga merasa seperti itu, Shinikichi-kun.”
“Kalau kalian bagaimana, Djinn? Tsuruki?”
“Gue nggak masalah.”
“Gue juga.”
Karena ada Nekomi, Shinikichi langsung hempas awan ini.
“Ada apa, Nekomi—”
“Gawat! Warga desa pada keracunan! Aku nggak tau harus gimana lagi!”
Hah?! Keracunan?!
“Sekarang Aniue lagi coba tenangin warga! Tapi masalahnya…”
““…””
“…semua warga Kochi pada keracunan makanan!”
““!!!””
HAAAAH?!?! KERACUNAN MAKANAN?!?!
_______________
[1]Ketika Bismont menghampiri Djinn, Meldek, dan Styx, yang kemudian merapalkan sihir tersebut (Chapter 12).
[2]Memiliki definisi Master, yang dimaksudkan sebagai guru atau mentor.
[3]Panggilan untuk kakak perempuan.