Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 63-1. Sister's Old Friend



Beberapa saat sebelum pertemuan


Djinn dengan Dahlia.


Myllo dan Gia bertemu kembali


setelah mereka sama-sama mendapatkan pakaian baru.


“Myllo, Myllo, Myllo! Gimana


penampilan aku sekarang?! Udah cantik, kan?!”


Tanya Gia yang memamerkan


penampilan barunya.


“Hehe! Cantik sih nggak, cuma


udah keliatan keren untuk seorang Petualang!”


“Cih!”


Geram Gia karena gagal menggoda


Myllo.


“Kalo gue gimana?! Udah keren,


kan—”


“Nggak!”


“HAAAAAAHHH!!!”


Teriak Myllo dengan kaget setelah


gagal mendapat pujian dari Gia.


Sambil berjalan dan berdebat


tentang penampilannya, Gia tiba-tiba teringat akan sesuatu.


“Eh, Myllo! Kamu liat bir kakek,


nggak?!”


“Hah?! Gimana mau liat, megang


aja nggak boleh!”


“Kan ngeliat sama megang beda—”


“Tunggu, Gia!”


“Hm?”


“*Sniff…sniff… (suara mengendus)”


Myllo tiba-tiba mencium bau yang


cukup ia kenal.


“Bau ini...”


“Bau apa?”


“Bir Stroberi!”


“Hah?! Bir kakek?! Dari mana?!”


“Dari situ…”


Saat Myllo menunjuk arah, mereka


berdua pun melihat seorang anak kecil yang berada di dalam lorong dengan


pakaian yang tertutup.


Myllo pun menghampiri anak kecil


itu.


“Woy! Bocil! Berani ya curi-curi


minuman enak ini!”


“Hiiikh!”


Sesuai dengan perkataan Myllo,


anak kecil itu sedang membuka Bir Stroberi yang Gia bawa untuk dipromosikan


kepada penjual di sekitar Riverfell.


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“Aduuuuh!”


Setelah memukul kepala anak kecil


itu, Myllo pun membawa anak kecil itu ke hadapan Gia.


Namun yang ada di benak Gia…


“Kok…bisa dia nyium aroma bir


kakek sampe sejauh itu?”


…adalah keunikan yang Myllo punya.


“Woy, anak kecil! Sana pergi!


Lain kali jangan—”


“Tunggu kakak-kakak sekalian!”


““Hm?””


“Aku nggak bermaksud nyuri atau


gimana! Lagian kakak cantik ini salah sendiri kelupaan bawa botol ini!”


Tegas anak kecil itu.


“Ehe…imut banget sih adik kecil


ini sebut kakak ini cantik!”


“Eh…ah…hehe…”


Anak kecil itu merasa tersanjung


setelah Gia berhasil merayunya dan mengusap kepalanya.


“Woy! Gia! Itu anak di bawah


umur! Jangan diajak kencan—”


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“Ya iyalah! Aku juga nggak niat


untuk kencan sama anak ini, tau!”


Tegas Gia setelah Myllo salah


mengira tujuannya.


“Ta…Tapi kakak-kakak sekalian,


bir ini belum ada merk, kan?!”


“Hm…kalo dipikir-pikir sih iya.”


“Dari mana asal minuman ini?!”


Gia pun menjelaskan kepada anak


kecil itu tentang Bir Stroberi itu. Sambil menyimak cerita Gia, anak kecil itu


tiba-tiba mengusulkan suatu ide.


“Hah?! Kamu serius?!”


“Ya…bukan aku sih sebenernya.


Lebih tepatnya kakak aku. Tapi tenang aja! Kakak aku ini Saudagar, loh!”


“Oh, gitu?! Boleh ketemu kakak


ka—”


“Nanti minuman ini kami jual ke


luar negeri yang pastinya harganya jaaaauh lebih tinggi daripada di negara ini!


Karena ini produk yang belom pernah ada, jadi kami kasih harga 5 emas! Enggak,


mungkin 10 emas! Selain itu produk ini mungkin kita yang namain! Jadi,


kira-kira mau nggak?! Mau, kan?! Mau, kan?! Mau, kan?!”


““…””


“…”


““Hah…?””


Myllo dan Gia tidak paham dengan


penjelasan anak kecil itu yang berbicara dengan sangat panjang dan cepat.


“Terakhir, untuk keuntungan… Karena nama


produknya dari kami, jadi kemungkinan…pihak desa Kakak Cantik dapet sekitar 5%?


Gima—”


“*Tung! (suara kepala terpukul)”


“Aduuuh!”


“Itu namanya pemerasan, Dalton!”


Tegas seorang pria yang muncul


dari belakang anak kecil yang bernama Dalton itu.


Saat melihat pria tersebut, Myllo


tiba-tiba terkejut dengan perasaan rindu yang mendalam.


“Hai, Myllo. Udah lama nggak


ketemu.”


“PHONSOOOOO!!!”


Myllo pun melompat dan memeluk


pria yang ia panggil Phonso itu.


“Phonso?! Maksudnya dia ini Alphonso


Andersen yang jadi Observer di Aquilla?!”


“Bener! Ahahaha! Udah lama banget


kita nggak ketemu, Phonso!”


“Hahaha! Salam kenal! Gue


Alphonso Andersen!”


“Ha…Halo! Aku Gia, Petualang baru


yang ikut bareng Myllo!”


Kata Gia yang menyapa balik Alphonso.


“Wah, Kasta Kuning?! Selamat ya


udah naik tingkat, Myllo!”


“Makasih, Phonso!”


“Oh ya. Ngomong-ngomong ini


namanya Dalton Dalrio. Dia ini adiknya majikan gue.”


“Ma…Majikan?! Lo lagi Quest,


Phonso?!”


“Quest? Hahaha!”


“Hm?”


Myllo pun bingung ketika Alphonso


membalasnya dengan tertawa.


“Myllo, maaf kalo gue ngecewain


lo.”


“Tu…Tunggu! Jangan bilang…”


“Ya. Gue udah pensiun.”


“Ke…Kenapa pensiu—”


“Mungkin kita bisa ngobrol lebih


banyak di kedai langganan majikan gue. Gimana? Mau ikut, kan?”


“…”


Myllo hanya terdiam setelah ia


mendengar Alphonso yang menyatakan pensiun sebagai Petualang.


“Ya, kita ikut!”


“OK kalo gitu!”


“…”


“Myllo, mungkin kita bisa denger


cerita dia lebih dalem lagi. Ayo kita ikut aja.”


Jelas Gia yang mengira Myllo


kecewa mendengar pernyataan Alphonso.


“Ah, maaf Gia. Gue bukan kecewa


karena Phonso pensiun.”


“Hm?”


“Gue jadi bingung. Kalo orang


sebaik Phonso pensiun, masih mungkin nggak ya dia bujuk Klavak dari orang yang


namanya Snake itu?”


Jelas Myllo yang menjelaskan isi


pikirannya kepada Gia.


Mereka berdua pun mengikuti


Alphonso dan Dalton ke kedai yang disebut olehnya.


Sesampainya berdua di kedai itu,


mereka menemukan Djinn yang berada di satu meja bersama dengan seorang wanita.