
Beberapa saat sebelum pertemuan
Djinn dengan Dahlia.
Myllo dan Gia bertemu kembali
setelah mereka sama-sama mendapatkan pakaian baru.
“Myllo, Myllo, Myllo! Gimana
penampilan aku sekarang?! Udah cantik, kan?!”
Tanya Gia yang memamerkan
penampilan barunya.
“Hehe! Cantik sih nggak, cuma
udah keliatan keren untuk seorang Petualang!”
“Cih!”
Geram Gia karena gagal menggoda
Myllo.
“Kalo gue gimana?! Udah keren,
kan—”
“Nggak!”
“HAAAAAAHHH!!!”
Teriak Myllo dengan kaget setelah
gagal mendapat pujian dari Gia.
Sambil berjalan dan berdebat
tentang penampilannya, Gia tiba-tiba teringat akan sesuatu.
“Eh, Myllo! Kamu liat bir kakek,
nggak?!”
“Hah?! Gimana mau liat, megang
aja nggak boleh!”
“Kan ngeliat sama megang beda—”
“Tunggu, Gia!”
“Hm?”
“*Sniff…sniff… (suara mengendus)”
Myllo tiba-tiba mencium bau yang
cukup ia kenal.
“Bau ini...”
“Bau apa?”
“Bir Stroberi!”
“Hah?! Bir kakek?! Dari mana?!”
“Dari situ…”
Saat Myllo menunjuk arah, mereka
berdua pun melihat seorang anak kecil yang berada di dalam lorong dengan
pakaian yang tertutup.
Myllo pun menghampiri anak kecil
itu.
“Woy! Bocil! Berani ya curi-curi
minuman enak ini!”
“Hiiikh!”
Sesuai dengan perkataan Myllo,
anak kecil itu sedang membuka Bir Stroberi yang Gia bawa untuk dipromosikan
kepada penjual di sekitar Riverfell.
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“Aduuuuh!”
Setelah memukul kepala anak kecil
itu, Myllo pun membawa anak kecil itu ke hadapan Gia.
Namun yang ada di benak Gia…
“Kok…bisa dia nyium aroma bir
kakek sampe sejauh itu?”
…adalah keunikan yang Myllo punya.
“Woy, anak kecil! Sana pergi!
Lain kali jangan—”
“Tunggu kakak-kakak sekalian!”
““Hm?””
“Aku nggak bermaksud nyuri atau
gimana! Lagian kakak cantik ini salah sendiri kelupaan bawa botol ini!”
Tegas anak kecil itu.
“Ehe…imut banget sih adik kecil
ini sebut kakak ini cantik!”
“Eh…ah…hehe…”
Anak kecil itu merasa tersanjung
setelah Gia berhasil merayunya dan mengusap kepalanya.
“Woy! Gia! Itu anak di bawah
umur! Jangan diajak kencan—”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“Ya iyalah! Aku juga nggak niat
untuk kencan sama anak ini, tau!”
Tegas Gia setelah Myllo salah
mengira tujuannya.
“Ta…Tapi kakak-kakak sekalian,
bir ini belum ada merk, kan?!”
“Hm…kalo dipikir-pikir sih iya.”
“Dari mana asal minuman ini?!”
Gia pun menjelaskan kepada anak
kecil itu tentang Bir Stroberi itu. Sambil menyimak cerita Gia, anak kecil itu
tiba-tiba mengusulkan suatu ide.
“Hah?! Kamu serius?!”
“Ya…bukan aku sih sebenernya.
Lebih tepatnya kakak aku. Tapi tenang aja! Kakak aku ini Saudagar, loh!”
“Oh, gitu?! Boleh ketemu kakak
ka—”
“Nanti minuman ini kami jual ke
luar negeri yang pastinya harganya jaaaauh lebih tinggi daripada di negara ini!
Karena ini produk yang belom pernah ada, jadi kami kasih harga 5 emas! Enggak,
mungkin 10 emas! Selain itu produk ini mungkin kita yang namain! Jadi,
kira-kira mau nggak?! Mau, kan?! Mau, kan?! Mau, kan?!”
““…””
“…”
““Hah…?””
Myllo dan Gia tidak paham dengan
penjelasan anak kecil itu yang berbicara dengan sangat panjang dan cepat.
“Terakhir, untuk keuntungan… Karena nama
produknya dari kami, jadi kemungkinan…pihak desa Kakak Cantik dapet sekitar 5%?
Gima—”
“*Tung! (suara kepala terpukul)”
“Aduuuh!”
“Itu namanya pemerasan, Dalton!”
Tegas seorang pria yang muncul
dari belakang anak kecil yang bernama Dalton itu.
Saat melihat pria tersebut, Myllo
tiba-tiba terkejut dengan perasaan rindu yang mendalam.
“Hai, Myllo. Udah lama nggak
ketemu.”
“PHONSOOOOO!!!”
Myllo pun melompat dan memeluk
pria yang ia panggil Phonso itu.
“Phonso?! Maksudnya dia ini Alphonso
Andersen yang jadi Observer di Aquilla?!”
“Bener! Ahahaha! Udah lama banget
kita nggak ketemu, Phonso!”
“Hahaha! Salam kenal! Gue
Alphonso Andersen!”
“Ha…Halo! Aku Gia, Petualang baru
yang ikut bareng Myllo!”
Kata Gia yang menyapa balik Alphonso.
“Wah, Kasta Kuning?! Selamat ya
udah naik tingkat, Myllo!”
“Makasih, Phonso!”
“Oh ya. Ngomong-ngomong ini
namanya Dalton Dalrio. Dia ini adiknya majikan gue.”
“Ma…Majikan?! Lo lagi Quest,
Phonso?!”
“Quest? Hahaha!”
“Hm?”
Myllo pun bingung ketika Alphonso
membalasnya dengan tertawa.
“Myllo, maaf kalo gue ngecewain
lo.”
“Tu…Tunggu! Jangan bilang…”
“Ya. Gue udah pensiun.”
“Ke…Kenapa pensiu—”
“Mungkin kita bisa ngobrol lebih
banyak di kedai langganan majikan gue. Gimana? Mau ikut, kan?”
“…”
Myllo hanya terdiam setelah ia
mendengar Alphonso yang menyatakan pensiun sebagai Petualang.
“Ya, kita ikut!”
“OK kalo gitu!”
“…”
“Myllo, mungkin kita bisa denger
cerita dia lebih dalem lagi. Ayo kita ikut aja.”
Jelas Gia yang mengira Myllo
kecewa mendengar pernyataan Alphonso.
“Ah, maaf Gia. Gue bukan kecewa
karena Phonso pensiun.”
“Hm?”
“Gue jadi bingung. Kalo orang
sebaik Phonso pensiun, masih mungkin nggak ya dia bujuk Klavak dari orang yang
namanya Snake itu?”
Jelas Myllo yang menjelaskan isi
pikirannya kepada Gia.
Mereka berdua pun mengikuti
Alphonso dan Dalton ke kedai yang disebut olehnya.
Sesampainya berdua di kedai itu,
mereka menemukan Djinn yang berada di satu meja bersama dengan seorang wanita.