Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 189. Never Care The People



Beberapa saat sebelum menyentuh Snellsham City, Dalbert yang dipercaya Djinn untuk memimpin Grup Snellsham merasa tubuhnya terbakar.


“Argh! Si-Sialan! Panas banget! Walaupun elang gue yang kepanasan, tapi gue bahkan juga ngerasain panasnya!”


“Sebentar lagi teh sia sembuh, Dalbert!”


Seru Garry yang sedang menyembuhkannya Dalbert yang merasa tubuhnya terbakar.


““…””


Gia dan Delolliah menatap Dalbert yang kesakitan.


“Kalo Dalbert pake elangnya aja bisa kesakitan kayak gitu… gimana Djinn ya, Delolliah?”


“Aku juga berpikiran hal yang sama, Gia. Apa mungkin… ia merasakan hal yang lebih parah dari—”


“Percaya aja… sama Si Bego itu…!”


Seru Dalbert kepada Gia dan Delolliah yang mengkhawatirkan Djinn.


“Gue mungkin berharap… dia kenapa-kenapa. Tapi kalo ngomongin bocah itu… gue yakin dia baik-baik aja…!”


““…””


Mereka bertiga terdiam ketika mendengar pernyataan Dalbert. Karenanya, mereka yakin bahwa semua akan baik-baik saja.


“Kau benar, Dalbert.”


“Ya! Dia itu yang paling kuat dari antara kita! Aku harus percaya kalo dia baik-baik aja!”


“Teh Delolliah sama Teh Gia teh bener. Orang galak kayak dia teh pasti baik-baik aja.”


“Semoga kalian bener, deh.”


Sahut mereka semua.


“Nah eta! Mendingan teu, Dalbert?”


“Ya. Makasih banyak, Garry.”


Dengan sembuhnya Dalbert, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke dalam Snellsham Point. Ketika mereka berada di depan gerbang kota tersebut, mereka ditahan oleh beberapa penjaga kota.


“Tahan! Tunjukkan identitas kalian!”


““…””


Dengan begitu, mereka menunjukkan identitas mereka semua.


Penjaga tersebut membaca nama identitas mereka masing-masing.


“Dalpurt Alrigo, Marvia Maegin, Gavvy Gevi, Lephira Mauta, Deliolio… Cantik?”


Penjaga tersebut merasa heran dengan identitas yang ia bacakan.


Namun, salah satu dari mereka tidak tinggal diam.


“Permisi, atuh! Aing teh udah kebelet!”


“Maafkan saya, tapi sesuai prosedur, anda sekalian ha—”


“Dalpurt, aing teh “buang” di sini wae atuh, ya?!”


“Eh?! Kok lo jo—”


“Aaaah! Aing teh udah nggak tahan! Buang wae di sungai ini”


““!!!””


Mereka begitu terkejut dengan aksi Garry.


“Ja… Jangan buang air semba—”


“Makanya buruan, anying!”


“Cih! Ba-Baiklah!”


Karena merasa kebersihan lingkungan lebih penting, maka penjaga itu membiarkan mereka masuk.


Akan tetapi…


“Ah… lega juga, anying!”


…apa yang Garry katakan bukanlah sekedar bualan.


““Ternyata dia buang air beneran…””


Pikir Gia, Dalbert, dan Lephta, yang menyaksikan Garry yang keluar dari toilet.


Setelah mereka berhasil memasuki Snellsham, mereka begitu terpukau dengan apa yang mereka lihat.


““Wah…””


Dengan adanya teknologi seperti Gazobile, Gazopelin, dan Gazorail, mereka tidak menyangka dengan adanya begitu banyak teknologi tersebut.


Akan tetapi, rasa gembira mereka hanya bersifat sementara saja.


“*Boom!”


“Apa tuh?!”


Mereka mendengar suara ledakan dari beberapa yang berada tidak jauh dari mereka semua.


““Aaaargh!””


“Mereka semua udah masuk ke dalam kota ini!”


“Ayo kita pergi!”


Seru beberapa warga.


“Dalbert! Artinya…”


“Kelompok yang nyerang Voxhaben udah masuk ke sini!”


Seru Dalbert kepada mereka semua.


“HYAAAAA!!! KITA ADA DI TENGAH-TENGAH KONFLIIIKK!!!”


“AING TEH NGGAK MAU MATI, A—”


“Ih, kalian berdua! Bisa tenang nggak, sih?!”


““A-Ampun…””


Jawab Garry dan Lephta kepada Gia, yang memarahi kepanikan mereka berdua.


“Dalbert! Apa yang harus kita lakukan?!”


“Karena kita lagi nyamar, makanya kita ikut lari bareng warga kota ini aja!”


Jelas Dalbert tentang hal yang harus dilakukan selanjutnya.


“Aaaargh! Lariii! Kelompok penyerang itu sudah masuk ke kota ini!”


“Hidup kita udah nggak akan damai lagi!”


““…””


Mereka ikut berlari bersama ditengah kerumunan warga kota Snellsham.


Akan tetapi, penyamaran mereka hampir terbongkar.


“*Vwumm!”


“Aaargh!”


“Minggir kalian semua!”


Seru salah satu anggota kelompok yang menyerang Gazomatron.


“Eh?! Adek! Jangan lari ke orang itu!”


Teriak Gia, ketika melihat seorang anak kecil yang berlari ke salah satu anggota kelompok itu.


“Oi, Paman!”


“*Dhuk…”


“Pergi dari sini!”


“…”


Anggota kelompok itu dengan kesal menatap anak kecil yang menendangnya, lalu ia hendak memukulnya.


Karena hal itu, mereka berempat tidak bisa diam saja.


“*Dor!”


“Argh! Sialan! Siapa yang—”


“Hraagh!”


“*Bhuk!”


“Akh!”


Dalbert langsung menembak anggota kelompok itu, sementara Gia berlari untuk menyelamatkan anak kecil itu, lalu memukul anggota itu.


“Gawat! Ada warga yang kuat!”


“Kita yang ada di sini! Ayo serang mereka!”


““Ya!””


Beberapa anggota tersebut hendak menyerang mereka berempat.


((Rune Spell: Wall))


“*Vwumm…”


Dengan Rune Spell miliknya, Delolliah membuat tembok transparan yang tidak bisa diserang dengan api hitam kelompok tersebut.


“Dek, kamu lari ya dari sini! Biar kita berlima aja yang lawan!”


“Hore! Makasih ya, kakak!”


Anak kecil itu pun berlari dari mereka semua.


Namun, dengan melihat adanya api hitam tersebut, beberapa dari mereka memberikan reaksi yang berbeda.


“Cih! Aing teh tau ini sihir apa!”


Pikir Garry dengan kesal.


“Perasaan ini… sepertinya aku merasakan perasaan ini setelah keluar dari Hidden Dungeon!”


Pikir Delolliah sambil mengingat


masa lalunya.


Namun, reaksi Gia sangat berbeda dari mereka semua.


“Delolliah! Tolong hilangin sihir kamu!”


“A-Akan tetapi Gia—”


“Cepetan!”


“Ba-Baiklah…”


Sesuai dengan permintaan Gia, Delolliah pun menurunkan tembok transparan ciptaannya.


Lalu…


((Iron Crusher))


“*Prang!”


““Aaargh!””


Dengan agresif, Gia menyerang anggota kelompok tersebut hingga terpental jauh.


“Itu mereka!”


“Serang mereka!”


Beberapa anggota kelompok lainnya berusaha menyerang mereka.


“Aku hendak merapal sihirku! Aku mohon pengawasan kalian!”


“Gue juga mau coba cek sekitar dulu!”


Sahut Delolliah yang memulai merapal Rune Spell miliknya, serta Dalbert yang merubah pistolnya menjadi elang.


““*Shring…””


Gia berusaha menahan serangan pedang beberapa anggota kelompok itu.


“Gia, menjauhlah!”


“OK!”


“…”


((Rune Spell: Binding Root))


“*Krrrrttt…”


““Aakh!””


Dengan Sajak yang ia tulis, Delolliah membuat sebuah akar keras yang menjalar dari Sajak yang ia tulis dan mengikat anggota kelompok tersebut.


“Semua! Denger gue baik-baik!”


““…””


“Warga ini… ada dalam bahaya!”


Seru Dalbert yang melihat menggunakan mata elangnya.


“Cih! Dasar pemerintahan brengsek!”


“Dalbert! Sia teh liat apa, atuh?!”


“Sekitar 200-zyat dari sini, ada warga yang lagi di tengah peperangan antara Gazobot sama kelompok ini! Dasar pemerintah sialan! Harusnya mereka evakuasi warganya! Kenapa mereka malah biarin warganya di tengah peperangan?!”


Lapor Dalbert dengan kesal kepada mereka semua.


“Jadi apa yang harus kita lakukan, Dalbert?!”


“…”


Dalbert terdiam sejenak.


“Mungkin tugas kita itu tunggu Djinn buka jalan untuk kita. Tapi kalian sendiri nggak bisa biarin warga di kota ini kenapa-kenapa, kan?!”


“Pastinya, atuh!”


“Aku juga nggak mau, Dalbert!”


Seru Garry dan Gia secara bergantian.


“Maaf, bukan artinya aku tidak memperdulikan warga.”


““Hm?””


“Bukankah kita harus memprioritaskan keselamatan Myllo terlebih dahulu?”


“I-Iya! Kan Kapten kalian lagi kenapa-kenapa!”


Tanya Delolliah yang didukung oleh Lephta. Mereka berdua merasa heran dengan anggota Aquilla yang terlihat seperti tidak menghiraukan tugas mereka.


“Tenang wae atuh, Teh Delolliah! Teh Lephta!”


“Karena, kalo Myllo ada di tengah-tengah kita…”


“Pasti dia juga prioritasin warga kota ini!”


Seru Garry, Gia, dan Dalbert secara bergantian.


“Baiklah. Semoga semuanya baik-baik saja.”


Balas Delolliah, sambil mereka semua berjalan ke arah yang ditunjuk Dalbert.


……………


“Cih! Mereka nggak peduli sama warganya sendi—”


“*Boom!”


““Aaargh!””


Beberapa anggota kelompok serta warga Snellsham menerima ledakan dari tembakan Gazobot.


“Woy! Hati-hati sama tembakan lo!”


“Tapi kata Bung Dandur, apapun caranya, kelompok ini harus hancur, kan?!”


“I-I-Iya sih…”


Sahut salah satu pengendara unit Gazobot.


Akan tetapi, ada sesuatu yang tidak mereka duga.


“Tunggu! Liat tuh!”


“Kok… warga pada selamat…?”


Mereka melihat beberapa warga yang berhasil dilindungi oleh sihir milik Delolliah.


“Kalian semua nggak apa-apa?!”


“Ki-Kita baik-baik aja…”


Balas salah seorang warga Snellsham atas pertanyaan Dalbert.


Setelah beberapa warga dan anggota kelompok berhasil mereka selamatkan…


“Hraaagh!”


“*Prang!”


“Aaargh…”


…Gia langsung menyerang dua unit Gazobot itu.


“Semuanya tenang wae, atuh! Kang Garry teh bisa sembuhkeun kalian semua!”


““*Ngungg…””


Sahut Garry, sambil menyembuhkan semua warga, beberapa anggota militer Gazomatron, serta anggota kelompok itu, dengan beberapa Roh yang ia panggil menggunakan sihirnya.


“I-Itu mereka yang nyerang kita!”


“Ayo kita serang mere—”


“Tunggu! Ada yang aneh!”


Sahut salah seorang anggota kelompok itu.


“Kalo mereka nyerang kita, kenapa mereka malah sembuhin anggota kita?!”


“Kalo itu—”


“Biar gue yang ngomong.”


““Siap, Ketua Devania!””


Sahut semua anggota grup, sambil membuka jalan untuk wanita yang bernama Devania.


“Siapa kalian semua?! Kenapa kalian sembuhin rekan-rekan kami?!”


“Lo nggak perlu tau siapa kita! Tapi kalo lo tanya alesan kita sembuhin rekan-rekan kalian, coba tanya dia aja!”


Balas Dalbert, sambil menunjuk Garry.


“Aing teh nggak bisa biarkeun orang luka-luka! Karena kita bukan pihak siapa-siapa, sekalian aja mah aing sembuhkeun semuanya!”


Jelas Garry kepada Devania, sambil melanjutkan proses penyembuhan semua korban.


Akan tetapi, mereka berempat tidak bisa menutup identitas mereka lagi.


“Lapor! Beberapa anggota Aquilla sudah terlihat! Serang mereka semua!”


““!!!””


Mereka semua terkejut, sambil melihat beberapa unit Gazobot yang berada di hadapan mereka semua.


“Woy, woy, woy! Serius mereka mau serang kita semua?!”


“Kan masih ada warga mereka yang ada di hadapan kita!”


Sahut Dalbert dan Gia setelah beberapa Gazobot siap untuk menembak mereka semua.


Namun, pertolongan datang di hadapan mereka semua.


““*Koaaak! Koaaak! Koaaak!””


Terdengar begitu banyak suara burung gagak yang terbang ke arah mereka semua dan menutup pandangan dari semua Gazobot.


((Sticky Threads))


“*Cyuuut!”


“Hah?!”


“Me-Mengapa Gazobot saya tidak bisa bergerak?!”


Kaki dari semua unit Gazobot itu tidak bisa bergerak karena adanya benang yang sangat lengket yang menempel di kaki mereka.


Setelah itu…


((Runecraft: Shock Delivery))


“*Bzzztt…”


“*BOOM!”


““…””


…semua Gazobot itu tersetrum oleh benang-benang lengket tersebut, hingga meledak.


“Siapa mereka?!”


“Mereka musuh?! Mereka kawan?!”


Pikir Dalbert dan Devania, setelah terlihat dua orang yang bertemu bersama dengan mereka semua.


Hingga akhirnya…


“ANGELAAA!!! ZHIVREEEEGGG!!!”


“*Phuk!”


“Lephta! Syukurlah anda baik-baik saja!”


“Hey, Lephta!”


…Lephta menghampiri serta memeluk mereka berdua.


“Maaf jika saya terlambat untuk membantu anda sekalian, Tuan Dalrio.”


“Tu-Tuan Dalrio…?”


“Ya. Nama saua adalah Angela Meadow. Pria ini bernama Zhivreeg. Sekedar informasi saja, pihak Gazomatron tidak akan memperdulikan warganya, sampai anda sekalian lenyap. Termasuk kalian, Aquilla Party.”


Sapa Angela kepada mereka semua.


Dari antara mereka semua…


“Ka-Kau adalah—”


“Senang bertemu dengan anda kembali, Nyonya Siren.”


““!!!””


“Mungkin kita kembali setelah ratusan tahun yang lalu. Namun penampilan kita tidak ada perbuahan, benar?”


…hanya Delolliah yang mengenal wanita tersebut.


Hal tersebut mengejutkan anggota Aquilla dan Zhivreeg.


“Maaf jika kalian penasaran. Namun, kami berdua siap membantu kalian, semenjak kita semua memiliki tujuan yang sama.”


Jelas Angela kepada mereka semua.


““…””


Dalbert dan Devania tidak memberikan respon apa-apa.


Lalu, mereka hendak melakukan hal yang sama.


“Djinn.”


“…”


“Cih! Orb Call dia hancur, ya?!”


Sahut Dalbert dengan kesal.


Sementara Devania…


“Bella. Kita kedatangan ta—”


“Devania. Apapun yang lo lakuin, gue percayain semuanya ke tangan lo. Gue lagi—”


“*Bzzzztt…”


“Be-Bella?! Woy! Bella!”


…hanya mendengar pesan singkat dari Bella.


“Terus gue harus gimana?! Apa mereka bisa dipercaya?!”


Pikir Devania dengan bingung dan gelisah.