Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 353-1. He Can't Lying



Aquilla hendak membantu anggota Perlawanan untuk menghadapi anggota Bakufu di Kochi Village.


Tanpa sepengetahuan Nekomi, Shinikichi, maupun Yukiari, Djinn telah memberikan informasi kepada sesama anggota Aquilla untuk datang membantu mereka.


Tetapi sebelum pertarungan antara Perlawanan melawan Bakufu terjadi, pad hari sebelumnya, ketika Djinn, Garry, dan Machinno, telah beristirahat di Kochi Village.


“HAAAAAAAH?!?! KALIAN PUNYA ORB—”


““SSSSTTTT!!!””


“M-Maaf…”


Bisik Myllo, setelah ia mengetahui bahwa Djinn dan Dalbert sedang menggunakan Orb Call masing-masing


untuk berbicara bersama.


“Jadi, kenapa kita harus diem-diem ngobrol kayak gini? Bukannya anggota Perlawanan bisa dipercaya semua?”


“Nggak. Karena gue ngerasa ada yang aneh dari antara mereka semua. Mungkin bukan di bagian kalian, tapi gue ngerasa aneh di bagian gue.”


Jelas Djinn lewat Orb Call.


“Ada yang aneh? Siapa yang kamu maksud, Djinn?”


“Yukiari. Semenjak kita jalan ke desa ini, gue udah curiga sama dia. Selain itu, Beastman yang kita selamatin, Shinikichi, juga keliatan nutup-nutupin sesuatu.”


“Et! Serius atuh*, Djinn?!* Aing kira teh temen sia yang tiba-tiba dateng!”


Sahut Garry dengan terkejut, setelah mendengar jawaban Djinn kepada Gia.


“Myllo. sebelumnya maafin gue yang diem-diem ngasih Orb Call ke Djinn.”


“Hehe! Tenang aja! Kalo misalkan lo kasih ke gue, mungkin gue nggak sengaja kasih tau tentang Orb Call ke mereka semua!”


Jawab Myllo, sebelum mereka semua melanjutkan kembali proses pertukaran informasi.


“Tapi juga gue ngerasa ada yang aneh sih dari Kepala Klan itu.”


“Hm? Ada apa emangnya?”


“Kepala Klan Tanzō yang namanya Katanaka itu. Kenapa dia tiba-tiba merasa bersalah kayak gitu?”


“Ya. Aku juga penasaran tentang itu.”


Balas Gia yang setuju dengan Dalbert.


“Intinya, jangan sampe ada yang tau tentang obrolan kita lewat Orb Call ini, semenjak kita udah mulai curigain beberapa dari antara mereka.”


“Hehe! Tenang aja! Kalo gue hampir bocorin obrolan kita, nanti Gia atau Dalbert harus tempeleng gue!”


“Haaaah! Kamu ini ada-ada aja sih, Myllo! Lagian percuma aja kalo kita tempeleng!”


“Daripada ditempeleng, mending mulut lo gue jahit aja, Myllo!”


Sahut Myllo, Gia, dan Dalbert, ketika mereka mendengar permintaan Djinn.


“Kalian juga harus jaga rahasia ini ya Garry, Machinno.”


“Huehehe! Tenang wae! Kang Garry teh orangnya bisa diandalkeun!”


“Ya.”


Jawab Garry dan Machinno, sebelum Djinn memutus komunikasinya dengan Dalbert.


Bersama-sama, mereka melakukan aktivitas mereka masing-masing di Kochi Village maupun di markas Perlawanan selama tiga hari. Selain itu, mereka juga saling bertukar informasi terkait informasi-informasi tertentu yang mereka dapatkan, lewat Orb Call yang digunakan Djinn dan Dalbert.


Hingga akhirnya, Djinn diam-diam menyalakan Orb Call, ketika Ryūhime menjelaskan apa yang sebenarnya


terjadi pada malam terbunuhnya Kazedori Satoshi.


Tetapi komunikasi antara mereka terputus, setelah Djinn dan rekan-rekannya direpotkan dengan adanya berita tentang warga Kochi Village yang diracuni oleh Shinikichi.


“Jadi gitu ya? Bahkan Ryūhime nggak percaya sama mereka.”


“Terus kita harus gimana? Mungkin Ryūhime bilang supaya nggak kasih tau ke Perlawanan tentang cerita sebenernya, tapi—”


“Insting gue nggak enak.”


Sahut Myllo ketika Gia dan Dalbert sama-sama tidak mengetahui apa yang seharusnya mereka lakukan.


“M-Myllo, kenapa kamu tiba-tiba—”


“Waktu gue denger ada yang keracunan di lokasi Djinn, tiba-tiba insting gue nggak enak. Makanya itu, mau nggak mau kita harus jelasin ke mereka cerita sebenernya!”


Seru Myllo, sebelum…


“Tunggu, Myllo. Jangan gegabah.”


…Dalbert menghentikannya.


“Daripada jelasin tentang cerita sebenernya, mending kita bujuk anggota Perlawanan tentang warga desa sana, yang butuh pertolongan dari Perlawanan karena mereka keracunan.”


“Ah, iya! Aku setuju sama yang dibilang Dalbert!”


Sahut Gia dan Myllo akan saran dari Dalbert, sebelum mereka bersama-sama menemui ketiga Kepala Perlawanan.


“Membutuhkan kami?”


“Ya! Situasinya genting banget!”


“Tunggu dulu, Myllo-dono.”


“Hah?!”


“Maaf jika saya meragukan anda, tetapi anda tahu dari mana tentang kondisi di desa itu?”


““!!!””


Myllo seketika terkejut dengan pertanyaan Katanaka.


Ia pun menjadi bingung cara menjawab pertanyaan itu.


“I-I-I-I-Itu… dari… temen gu—”


“Liat ini, Pak Katanaka.”


“*Chaaaaak!!!”


Sela Dalbert, yang langsung menggunakan elang ciptaannya kepada para Kepala Perlawanan, sehingga mereka tidak mencurigai Myllo yang terlihat kebingungan.


“Gue selalu pantau kondisi temen-temen gue yang ada di sana, lewat burung elang ini. Makanya itu gue jadi tau kondisi di sana.”


Jelas Dalbert kepada Katanaka.


“Baiklah jika seperti itu! Kami akan mengirimkan beberapa anggota Perlawanan ke sana—”


“Kalo bisa, kerahin semua daya tempur kalian!”


Sahut Myllo, ketika ketiga Kepala Perlawanan hendak mengirim beberapa anggota Perlawanan menuju Kochi Village.


Melihat aksinya…


““*Tap…””


““Haduh, Myllo…!””


…Gia dan Dalbert sama-sama menepuk dahi mereka karena kegegabahan yang dilakukan Myllo.


“Mengapa kami harus mengerahkan daya tempur kami, jika kami hanya menolong warga yang keracunan, Myllo-dono?”


“K-Karena… insting gue…?”


Jawab Myllo dengan ragu.


“I-Insting—”


“Masa kalian bertiga lupa sih, kalo Myllo itu Saint dari Dewi Zegin?! Makanya insting dia tajem banget!”


Jelas Gia dengan berbohong kepada Katanaka, agar Myllo tidak dicurigai kembali oleh para Kepala Perlawanan.


“Ah! Benar!”


“Maafkan kami, Zegin-sama!”


“Kami telah meragukan Saint pilihan-Mu! Berarti kami telah meragukan-Mu!”


Seru Katanaka, Uchiyoshi, dan Nakatoki kepada Zegin.


Tetapi Zegin yang berada di dalam pikiran Myllo…


“HAAAAAAH?!?!”


…justru merasa heran dengan kebohongan Gia, serta permohonan maaf dari ketiga Kepala Perlawanan.


“Baiklah! Kami akan kerahkan sebagian besar anggota kami!”


“Alangkah baiknya jika kita bersiap-siap!”


“Semoga kita siap menghadapi apapun yang ada di hadapan kita!”


Seru ketiga Kepala Perlawanan, sambil berlari keluar dari ruangan mereka berkumpul.


“Hehe! Kalo gitu, gue mau jenguk Ryūtaro dulu! Kali aja dia udah sembuh!”


Seru Myllo, yang ikut berlari untuk menemui Ryūtaro.


Sementara Gia dan Dalbert…


“Dalbert, semoga… dia jangan coba-coba bohong lagi, ya…”


“Y-Ya. Bahkan dia terlalu dongo… sampe nggak bisa bohong…”


…hanya menatap Myllo yang berlari, setelah rasa cemas mereka mulai memadam.