Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 175. Fragments of Memories



Ruang Hampa ini…


Ini di dalem kesadarannya Ocean Witch, ya?


“Djinn? Itu kah dirimu?”


“!!!”


Kok… ada dia?!


“Djinn, tempat apa ini? Mengapa kita berdua ada di sini?”


Duh, gimana ya jelasinnya?


Padahal gue tepok-tepok pipinya supaya dia sadar, tapi gue sendiri nggak nyangka bisa masuk alam bawah sadar dia sendiri.


Kalo dipikir-pikir lagi, gue bener-bener sengaja pake kekuatan ini waktu liat masa lalunya Shaylia[1] aja.


Sedangkan kekuatan ini tiba-tiba aktif waktu gue lawan Tarzyn, High Elf [2] waktu itu, sama sekarang.


Cih, bawaannya gue agak kesel karena gue tau kalo gue masih belom bisa kontrol kekuatan gue sepenuhnya!


“Djinn, lihat itu!”


“…”


Apaan, tuh?


Bentuknya kayak pecahan kaca, tapi ada gambar yang bergerak di kaca itu?


“…”


Tunggu! Itu kan…


“Coba perhatiin baik-baik, deh.”


“Ada apa?! Apakah kau menemukan sesuatu?!”


“Ya. Ada gambar lo yang lagi bergerak di semua kaca ini.”


“Se-Sepertinya kau benar. Artinya…”


“Nggak salah lagi! Semua pecahan-pecahan kaca ini tuh kepingan memori lo!”


Ya! Gue mulai yakin waktu liat ini semua!


Masalahnya, gimana cara gue liat memori-memori i—


“Rrrrr…”


Suara apaan tuh?


“Djinn…”


“…”


“Ma-Mahluk apa itu…?”


Kok ada monster di dalam pikirannya?!


Kayaknya ini pertama kalinya gue liat ada monster kayak gini.


"..."


Untungnya sih monster itu keliatannya nggak agresif.


“A-Apakah kita harus menyerang—”


“Nggak usah. Diemin aja. Mending kita fokus ke memori lo ini.”


Ya, mending kita fokus ke sini aja. Karena gue sendiri juga nggak tau harus ngapain.


Apa mungkin disentuh aja kepingan-kepingan memori ini?


Tapi kalo disentuh, harusnya…


“Coba lo sentuh salah satu kepingan ini.”


“…”


Hm?


Keliatannya dia ragu, ya?


“Kenapa ragu-ragu? Lo mau cari siapa diri lo yang sebenernya, kan?”


“Te-Tentu saja. Tetapi…”


“…”


“…aku merasa jika kau yang berhak menyentuh kepingan memoriku, Djinn.”


Kenapa jadi gue?


“Mungkin kau heran dengan jawabanku. Namun, tanpamu aku tidak akan mungkin bisa berada di tempat ini, Djinn. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kau saja yang membukanya.”


“…”


Dia mungkin ngomong gitu.


Tapi gue bisa liat sendiri…


“…”


…tangannya yang gemeteran.


Kayaknya dia takut siapa diri dia yang sebenernya.


Yaudah deh, mending gue buka aja satu-satu.


“*Tap…”


……………


Semenjak gue sentuh salah satu kepingannya, tiba-tiba gue berdiri di atas laut bareng dia.


Di sini, kita berdua liat masa lalu dia yang lagi jalan di atas laut.


“Kalo ini, lo inget?”


“Ya. Aku ingat. Jika tidak salah, ada sesuatu yang sepertinya memanggilku.”


A-Ada yang mang—


“*BWUSHHH…”


Duh! Ombaknya gede bang—


“(MMMMMMMM………)”


I-I-Itu Ular Raksasa yang—


“Kau. Apakah kau memanggilku?”


“(MUUUU GOOOO KAAAAA……)”


Kenceng banget suaranya!


Eh iya, ngomong-ngomong…


“Lo tau dia bilang apa?”


“Dia berkata: Kembalilah.”


Kembali?


“Kembali?! Apa maksudmu?! Siapakah dirimu?!”


“(KUUUUU JOOOO NAAAAAA…)”


“Ia berkata bahwa namanya adalah Jörnarr.”


O-Oh gitu, ya?


Oh iya, ngomong-ngomong…


“…”


…gue masih pegang cermin ini, ya?


Kalo gue lepas…


““!!!””


…tiba-tiba kita balik lagi ke Ruang Hampa ini.


“Djinn! Mengapa kau melepas—”


“Maaf kalo gue bilang gini, tapi gue nggak bisa kontrol kekuatan gue.”


“Ti-Tidak bisa mengontrol kekuatanmu?!”


“Ya. Makanya itu, mending kita cari yang penting-penting aja. Nggak apa-apa kan?”


“Ba-Baiklah.”


OK, kalo gitu mending yang…


Ini aja!


“*Tap…”


……………


Kalo memori yang sekarang ini, kita berdua lagi ada di Clamista.


Sambil liat ada beberapa anak kecil yang main…


“???”


…ada cewek yang tinggi banget, yang kulitnya pucet, rambutnya biru, tambah lagi ada semacam sisik gitu di kulitnya.


Jangan-jangan cewek ini…


“Ya. Itu aku.”


“!!!”


Kok penampilannya beda, ya?!


“E-Eh! Liat tuh!”


“I-Itu apa—”


“*DHUMMM……”


““*Bruk…””


Gila juga nih orang! Anak kecil dibikin pingsan pake aura, dong!


“A-Andai aku tidak melakukan itu.”


Ya, seenggaknya dia nyesel deh.


“Kenapa lo bikin anak-anak itu pingsan?”


“Karena… aku ingin membaca memori mereka… untuk mengetahui keberadaanku saat itu.”


Dia cuma butuh informasi aja, ya?


“I-Itu dia!”


“Itu Ocean Witch!”


“!!!”


Ada beberapa warga yang tiba-tiba dateng, sambil bawa alat-alat pertanian untuk nyerang dia?! Pantes aja dia makin ditakutin sebagai Ocean Witch.


“…”


Gue lepas kepingan memori ini untuk cari yang baru.


Sebenernya gue butuh informasi tentang siapa dia sebenernya, sekaligus alesan cewek-cewek dari Virgo pengen banget bunuh dia. Makanya itu, gue harus dapetin memori yang penting.


“Apakah kau hendak mencari memoriku yang lain?”


“Ya. Sorry kalo gue—”


“Tidak perlu meminta maaf, Djinn. Kau sudah menolongku sampai sejauh ini. Maka dari itu, bagiku tidak ada


salahnya jika aku memperlihatkan ini semua.”


“…”


Gue cuma ngangguk aja.


OK, nggak perlu lama-lama lagi.


“…”


Mending coba yang ini aja.


“*Tap…”


……………


Ini… di mana…?


“…”


Keliatannya kita lagi ada di dalem laut. Tapi kok… orang-orang di sekitar sini bisa jalan, ya?!


Eh tunggu!


Orang-orang yang ada di sini kok… bentuknya kayak bentuk dia yang tadi, ya?! Artinya bukan dia doang dong yang bentuknya kayak gitu?! Terus, mereka semua ini ras apa?!


Tapi di bawah laut ini, keliatannya kita ini lagi ada di—


“Laguna Empire.”


Laguna…?


“Ingetan lo udah balik?”


“Tidak. Hanya nama itu saja yang kuingat.”


Oh, gitu ya—


“Sepertinya aku berubah pikiran.”


Siapa tuh yang ngomong?


“Ah ya! Aku ingat wanita itu! Dia mengatakan ramalan tentangmu!”


Oh dia ya yang bilang jalan gue blablabla itu?!


“Aku akan memberikan Ancient Armament ini kepada—”


“Jangan, Kakak!”


A-Ancient Armament?!


Artinya tempat ini ada di…


Hidden Dungeon, dong…?


“…”


“Apakah wanita itu adalah aku?”


“Ya. Nggak salah lagi.”


Kalo dia ada di sini, artinya cewek satu ini tinggal di dalem Hidden Dungeon dong?!


“Kakak! Kita tidak memiliki hak untuk memilih calon pengguna senjata kuno itu! Hanya Pria Terjanji sajalah yang berhak menentukan calon penggunanya!”


Gue doang yang berhak…?


Pedangnya Flamiza pun juga harus gue yang tentuin calon penggunanya.


Eh, tunggu! Sekarang bukan itu yang penting!


Karena yang lebih penting tuh—


“Wanita itu adalah… kakakku…?”


“Dari yang gue perhatiin sih, lo ngomong gitu…”


“…”


Tangan dia makin gemeteran. Artinya dia shock banget, ya?


“Ia benar, kakak! Kita tidak boleh gegabah!”


Tunggu!


Cewek itu kan…


“Djinn, apakah wanita itu yang kau panggil dengan nama Jenna?”


“Ya!”


Ternyata dia juga penduduk Hidden Dungeon?!


Tambah lagi, dia juga sodaranya cewek ini?!


““Manusia itu” berkata, jika kedatangan Pria Terjanji akan “membebaskan” kita dari “penderitaan” ini.”


Penderitaan yang dia maksud tuh… hidup begitu lama di dalem Hidden Dungeon, kan?


Tapi siapa “Manusia itu” yang dia maksud?


“Namun, aku tidak bisa berlama-lama lagi di tempat ini! Aku ingin keluar dan berpetualang bersamanya!”


“Berpetualang bersama pria itu?!”


“Benar! Sama sepertiku, kalian pun sudah hidup di tempat ini selama ribuan tahun lamanya. Tentu saja kalian mau keluar dari tempat ini, benar?”


““…””


Cewek ini sama sodara-sodaranya udah hidup ribuan tahun?!


Harusnya dia kenal Melchizedek, dong?!


“Delolliah.”


“Ada apa, kakak?”


Oh!


“Ternyata itu nama lo, Delolliah.”


“Ya. A-Aku juga punya nama, kah? Entah mengapa…”


“Hm?”


“Ada perasaan lega dan takut yang sama-sama mengisi hatiku.”


Kok takut…?


“Sepertinya engkau terlihat ragu, adikku.”


“Tentu saja aku ragu, Kakak Euphina! Bukankah Melchizedek berpesan kepada kita untuk menunggu kedatangan Pria Terjanji?!”


Tuh kan! Pasti mereka kenal Melchizedek!


“Ada satu pesan yang kuterima dari petapa itu.”


““…””


“Akan ada dua jalan bagi Pria Terjanji itu.”


Gue… punya dua jalan…?


“Di jalan yang satu, ia akan membawakan sesuatu yang hilang di dunia ini. Jika ia mengambil jalan itu, maka dunia akan mengalami perubahan yang lebih baik.”


Ke-Kenapa ada ramalan kayak gini sih buat gue yang dateng dari dunia ini…?


“Sedangkan jalan yang satu lagi adalah akhir bagi semesta ini. Karena…”


““…””


“Jalannya adalah kehancuran. Langkahnya adalah kematian. Tujuan akhirnya adalah malapetaka bagi dunia ini.”


Cih, sialan!


Karena ramalan aneh itu, gue jadi diangep bahaya sama cewek yang namanya Delolliah i—


“Djinn. Lebih baik kita mencari kepingan memoriku yang baru.”


“O-OK.”


Karena permintaan Delolliah, jadinya gue lepasin kepingan memori ini.


Abis itu, gue sentuh kepingan memori selanjutnya…


“*Tap…”


……………


“Dasar brengsek! Lepasin Euphonia sekarang juga!”


“Diem! Lo nggak berhak ngomong!”


“!!!”


Ke-Kenapa ada orang lain di dalem Hidden Dungeon ini?! Terus kok kakaknya Delolliah diancem kayak gitu?! Tambah lagi… orang yang nahan cewek yang namanya Euphonia itu…


Aduh! Gue lupa nama kaumnya!


“A-A…”


“Hm? Lo kenapa Delolli—”


“*Bruk…”


Eh! Kok dia tiba-tiba jatoh?!


“A-Aku mulai mengingat semuanya…”


“Ingetan lo udah mulai balik?”


“Ya. Pria itu adalah… Ia adalah Petualang yang bernama…”


“!!!”


A-Artinya dia itu—


“Serahin Wavebringer ke gue! Cepet!”


“Ba-Baiklah! Aku akan—”


“Ja-Jangan, Nemesia! Pokoknya jangan penuhin—”


“*Trang, tangtangtang…”


Tombak itu…


Jangan-jangan tombak itu Ancient Armament?!


“…”


Orang itu lepasin kakaknya Delolliah yang namanya Euphonia ke Petualang itu.


Tapi…


“**Shruk!*”


…orang itu langsung nusuk Euphonia!


“Cih! Nggak nembus sampe lo ya tusukannya?”


Dia bahkan masih berani ngomong kayak gi—


“HRAAAAAAAAGGGHH!!!”


“De-Delolliah! Tidak! Ja-Jangan—”


“Rrrrrr…”


Mo-Monster itu kan…


Persis kayak yang ada di dalem Ruang Hampa tadi…


Artinya…


“Monster itu… adalah aku…”


“!!!”


Semenjak Delolliah jadi monster…


“RAAAAARRRR!!!”


“*Boom!”


““Aaaaargh!””


“*Shrak! Shrak! Shrak!”


…marahnya jadi nggak kekontrol.


Mulai dari bangunan-bangunan unik yang dia hancurin, bahkan dia udah nggak kenal siapa lawan siapa kawan lagi.


Tambah lagi…


“Je-Jennania…”


“Ja-Jangan tinggalkan aku… hiks!”


…dia juga ngebunuh Petualang yang ternyata pacarnya Jenna, yang nama aslinya Jennania.


“Euphonia…”


“…”


“Maaf ya… gue nggak bisa penuhin janji gue…untuk jaga lo…”


“…”


Diawalin Euphonia yang jadi korban, sampe jadi banyak korban karena amarah Delolliah.


“Djinn. Kumohon…”


Dia udah nggak kuat, ya?


Yaudah deh, mending gue berhentiin aja.


……………


Kita pun balik ke Ruang Hampa ini.


“Hiks! Hiks! Hiks!”


Dia masih shock ya?


“A-Aku ini adalah monster! Aku ini tidak layak hidup! Lebih baik aku ma—”


“*Phak!”


“!!!”


Duh! Gue kelewatan!


“M-Maaf kalo gue nampar lo, Del."


“Del…?”


“D-Denger gue baik-baik.”


“*Tap…”


“Gue ini orangnya pemarah. Waktu liat lo yang marah kayak gitu, gue pun pasti bakal ngelakuin hal yang sama. Nggak, bahkan gue bakal ngelakuin hal yang lebih parah dari itu!”


“Djinn…?”


“Menurut gue lo nggak sepenuhnya salah! Tapi buat gue, yang salah itu cuma satu!”


“A-Apa?”


“Lo salah kalo lo lebih mau mati daripada hidup!”


“Me-Mengapa? Aku telah menumpahkan darah—”


“Gue juga, Del! Tapi selama kita sadar kalo perbuatan kita salah, cuma ada satu yang bisa kita perbuat!”


“Yang bisa kita perbuat…?”


Duh, gue pinjem kata-kata lo ya, Mil.


“Hidup untuk jadi lebih baik lagi dari sebelumnya!”


“Djinn…”


Keliatannya dia udah mendingan, ya?


“Eh iya, ngomong-ngomong maafin gue karena tadi spontan nampar—”


“Tidak apa-apa. Justru aku berterima kasih kepadamu karena telah menyadarkanku, Djinn.”


“…”


Dia buka tangan dia ke gue.


“Namaku adalah Delolliah Laguna, salah satu Permaisuri dari Laguna Empire! Senang berkenalan denganmu! Hihi!”


P-Permaisuri?!


Ngomong-ngomong, ternyata dia aslinya periang, ya.


“*Tap!”


“Gue Djinn Dracorion! Salam kenal!”


Entah kenapa, semenjak salaman, kita pun keluar dari Ruang Hampa ini.


Tapi waktu keluar dari sini, gue nggak nyangka bakal dapet salah satu masalah paling besar yang didapetin Aquilla!


_______________


[1]Chapter 87-88; Djinn melihat masa lalu Shyalia ketika menyentuh kepalanya.


[2]Chapter 117; Djinn secara tidak langsung melihat masa lalu Avolios Xelfiul, ketika ia menghancurkan kepalanya.