Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 37. A Mysterious Guardian



Akhirnya kita berdua jalan-jalan


kelilingin desa ini, sambil nunggu cucunya Si Bartender balik.


“Kamu pasti merasa bersalah ya


sebagai Petualang?”


“Iya, tapi sedikit.”


“Sedikit?”


“Karena kalo dibilang merasa


bersalah, gue sebenernya lebih kesel aja sama orang-orang yang bikin nama


Petualang jadi jelek!”


“O…Oh…kamu bener juga…”


Jadi, sekarang kemana lagi, ya?


Apa balik aja ke kedai tadi?


Hmm…balik aja deh, mungkin


cucunya udah balik juga.


“Oh ya, kamu dateng ke desa ini


sendiri?”


“Nggak. Ada temen gue yang…ada di


kedai.”


Gue mau bilang mabok, tapi nggak


enak. Takut nama Petualang jadi makin jelek karena Si Dongo satu itu.


“Kedai?!”


“Iya…”


“Oh! Kamu udah ketemu kakek,


ya?!”


Kakek…?


Lah! Ini cucunya?!


Kok cucunya agak beda ya?!


“Kalau gitu, ayo kita ke kedai!


Aku baru aja selesai kerja, jadi aku mau balik ke kedai!”


“I…Iya…”


Sambil jalan ke kedai, Gia


jelasin tentang kerjaannya.


Dia itu ternyata petani yang


ngerawat Buah Xia yang dia jelasin tadi.


“Ngomong-ngomong, mata sama


rambut kamu kok…kayak Elf, ya? Eh, atau High Elf kali, ya?”


Oh, dia nyadar warna rambut gue


yang putih ini?


“Ya…ibu gue sih Elf, tapi bapak


gue Manusia.”


“Wah! Jangan-jangan kamu…”


Aduh! Gue keceplosan, ya?!


Jangan-jangan yang kayak gitu cuma Djinnardio doang, lagi?!


“Herbivora, ya?!”


“Hah?! Emangnya gue sapi?!”


Huhhh…gue kira gue ketauan!


“Pfftt…ahahaha! Kamu kok


ngeledekin ras ibu kamu sendiri sih?!”


Oh iya, Luvast pun nggak makan


daging, ya…


“Ya…gue masih suka makan daging,


kok…”


“Kalo gitu kenapa harus sebut sapi,


dong?!”


“Maaf, reflek itu.”


“Ahahaha! Maafin aku, tapi itu


lucu banget!”


“I…Iya…”


Oh iya, sekalian gue tanya aja


kali ya soal monster aneh yang katanya ada di desa ini?


“Gia.”


“Hm?”


“Katanya ada monster di desa ini,


ya?”


“…”


Waduh, kok diem aja?


“Ada. Kita sebuh monster-monster


itu dengan nama Ghoul.”


“Paling terakhir monster-monster


itu muncul kapan?”


“Biasanya tiap malam. Makanya itu


ada aturan yang ngelarang semua orang yang ada di desa ini untuk keluar waktu


malam.”


Oh, Monster yang namanya Ghoul itu


keluarnya kalo malem doang, ya?


Informasi yang bagus, Djinn.


“Kakek! Maaf aku datang telat!”


“Gia! Kamu udah ba—”


Oh, oh…gue balik ke kedai bareng


Gia. Takutnya dikira gue macem-macem kali sama cucunya Bartender…


“Gia, kamu—”


“Ah, tenang saja, kek. Aku tadi


ketemu dia yang hampir jadi ‘korbannya’ Bob, kok.”


“Oh…bocah ikal itu berulah lagi,


ya?”


Bocah ikal? Maksudnya orang tadi?


“Djinn, teman kamu yang mana?”


Lah iya, kok nggak ada Myl—


“Ah! Akhirnya lega juga!”


Eh? Dia abis dari toilet?


“Ah! Djinn! Gue kira lo abis


jalanin Quest-nya!”


“Belom, woy! Gue cuma


keliling-keliling desa aja!”


“Oh, gitu…”


“Terus lo abis ngapain dari


toilet? Buang air?”


“Nggak, kok. Cuma buang ‘pelangi’


gue aja! Hehe!”


Pelangi…?


….



..


OH! ITU MAKSUDNYA?!


“Makanya jangan kebanyakan minum,


dongo?!”


“Haaaahhhhh?! Kebanyakan minum?!


Gue kan—”


“Nih sisa botol dia!”


“…”


YA AMPUN! BELOM ADA SETENGAH


BOTOL UDAH ‘JACKPOT’?


“Woy! Kok lo lemah banget, sih?!


Padahal nggak ada setengah botol!”


“Diem! Gue sengaja biar cepet


sadar! Lagian kalo langsung abis juga sayang minumannya!”


Hah?! Jangan bilang dia masih mau


minum?!


“Kalo mau minum lagi, jangan di


kedai ini!”


“Haaah?! Kok gitu, Pak Kumis?!”


“Karena lo terlalu mabok! Kasian


pelanggan yang lain! Bahkan tadi aja lo harus diangkat!”


Ya ampun…malu-maluin…


“Hahaha! Teman kamu menarik juga,


Djinn!”


Ya…harap maklum ya…


“Gia, tolong siapkan ruangan


untuk mereka, ya.”


“Baik, kakek.”


Abis Gia siapin kamar untuk kita


berdua, gue langsung bahas ke Myllo soal Monster yang namanya Ghoul tadi.


“Makanya itu, kita harus gerak


malem ini, Myl. Gimana?”


“Bagus! Kita masih punya waktu


sekitar setengah hari lagi. Kalo gitu kita masih bisa min—”


“Eits! Awas aja lo kalo masih mau


minum!”


“Lah, kan masih ada—”


“Nggak! Mending kita istirahat


untuk entar malem!”


“Haaah…iya, iya!”


Hadeh…Kapten macem apa sih ini


orang?!


Bodo amat, deh. Gue mending tidur


aja.


......................


“Djinn, aku pergi dulu, ya…”


“Lyz…”


“Aku janji, nanti kita akan


bertemu lagi, Djinn!”


“Ya! Sampai jumpa Lyz!”


“Sampai jumpa, Djinn!”


Ini…


Oh, ini temen kecilnya


Djinnardio, ya?!


Akhirnya gue balik lagi ke ‘dunia


bawah sadar’ ini.


Kayaknya ini ingetan dimana temen


kecilnya itu ngasih salam perpisahan ke dia.


“Djinn! Djinn!”


Loh, kok suaranya beda?


“Bangun, Djinn!”


Hah?! Suara ini…


“Woy! Djinn!”


“Ah!”


“Akhirnya lo bangun juga! Udah


malem, nih!”


Ternyata Si Dongo ini yang


bangunin gue…


“Hoaaamm…Udah berapa lama


gue tidur?


“Nggak tau sih, gue juga baru


bangun.”


“Oh—”


“Eh, itu nggak penting! Yang


penting anak kecil itu!”


gue bisa liat anak kecil yang lari-lari minta tolong.


“Tolong! Tolong bukain! Siapapun!


Maafin aku karena terlalu lama di luar!”


Kira-kira gitu teriak anak kecil


itu.


“Kita harus gimana, Myl?!”


“Udah tau kan jawabannya?! Kita


harus nolong anak itu! Ayo kita kelu—”


“Tu…Tunggu dulu!”


“Hm?”


“Kita keluar dari jendela ini


aja, Myl.”


“Loh?! Kok dari jendela?!”


Gue pun jelasin ke Myllo soal


larangan keluar malem di desa ini.


“Oh, gitu?!”


“Bener. Makanya itu gue bilang


kita lewat jendela a—”


“OK! Ayo kita berangkat!”


“*Prang! (suara pecah kaca)”


DONGOOO!!! KENAPA HARUS DIPECAHIN


KACANYA?!?!


Hadeh, bisa-bisa kena nih kita


sama warga sini!


Gue sama Myllo pun langsung


lompat ke anak ini.


“Dek, kamu nggak apa-apa?”


“Ka…Kakak…”


“…”


Kok perasaan gue nggak enak, ya?


“Dek, ayo kita masuk—”


“Graaa!”


HAH?! BOCIL INI MONSTER-NYA?!


“HAAA—”


“…”


Untung Myllo langsung cepet


refleknya!


Dia langsung angkat tongkatnya


supaya nggak digigit sama Ghoul ini.


“Sialan! Kita dijebak!”


Myllo bener.


Karena abis itu, gue bisa liat


banyak Ghoul yang ada di sekeliling desa yang mau makan kita berdua.


““Graaaa…””


“Djinn, kita lari dari desa ini!”


“Lari?”


“Supaya desa ini nggak kena


dampak pertarungan kita!”


OK, bener juga.


Gue sama Myllo langsung lari dari


desa ini.


Waktu kita lari, gue bisa liat


ada sekitar delapan Ghoul yang ngejar kita berdua—


“…”


Eh?! Itu siapa?!


“Myl! Lo liat ada orang nggak


tadi di atas atap itu?!”


“Nggak! Emangnya ada orang?!


Perasaan lo doang kali!”


Gue nggak mau ngakuin, tapi bisa


aja sih.


Kita lari terus sampe ke arah


hutan yang nggak jauh dari desa ini.


“Sekarang, Djinn!”


Gue langsung berhenti larinya.


Abis itu, gue tahan salah satu Ghoul yang mau coba makan gue.


“Hyaaaa!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“Grrraaa!!!”


Untung pukulan Myllo cukup sakit.


Jadi sekarang sisa 7 Ghoul la—


“Graaaa!”


“Sialan! Masih bisa berdiri Ghoul


itu!”


“Yaudah, Myl. Kita hajar aja


sebisa kita!”


“Bener!”


Gue sekarang ikut nyerang Ghoul


ini.


Kalo diperhatiin lebih detil


lagi, bentuk mereka emang aneh-aneh.


Ada yang punya empat tangan di


kepala.


Ada juga yang punya enam tangan


di punggungnya.


Ada juga yang kakinya kayak ulet


bulu.


Pokoknya bentuk mereka itu


aneh-aneh!


Kalo beberapa dari mereka punya


banyak tangan, pake Pencak Silat pun juga nggak cukup!


Kenapa gitu? Karena Pencak Silat


itu fokus utamanya untuk pertahanan diri, yang nantinya bisa untuk counter lawan. Tapi kalo kayak gini Monster-nya, gue juga bingung kapan harus counter-nya!


Kalo kasusnya kayak gini, mau


nggak mau harus main fisik!


“Raaaggghhh!”


“Hyaaaa!”


“…”


Tuh kan, bener. Mending gue adu


fisik aja.


Buktinya, Ghoul ini langsung


ancur waktu gue banting.


“Hm?!”


Aneh.


Badannya langsung menguap gitu


waktu dikalahin.


“Graaaa—”


Dih! Geli banget! Tangan gue


harus sampe masuk mulut Ghoul yang ini karena dia mau makan kepala gue!


“Hyaaaa!”


“…”


Udah dua yang ancur.


“Graaaa!”


Eh! Ghoul yang ini tangannya ada


sepuluh! Dan dia mau pukuk gue pake semua tangannya!


Untungnya, karena kekuatan gue


yang entah dateng dari mana, gue bisa ngeliat semua arah pukulan dari Ghoul ini


karena gerakan dia yang tiba-tiba lambat.


Gue akhirnya coba bales pukulan


dia pake pukulan gue.


“*Bhukbhukbhukbhuk… (suara


pukulan beradu)”


Gerakan dia makin lama makin


pelan karena kepelan tangannya yang makin banyak luka.


Nah, ini kesempetan buat gue!


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Graaa…”


Nah, tiga Ghoul udah tumbang.


Kalo Myllo, udah gima—


“Inget ya! Jangan ganggu desa ini


lagi! Paham?!”


““Grrrr…””


“Bagus! Sekarang, pergi dari


sini!”


“Grrraaaa!!!”


Buset! Itu empat Ghoul malah


diomelin kayak anak kecil gitu sama Myllo sampe lari ketakutan mereka!


Gue jadi keinget orang-orang yang


ketangkep tawuran sama polisi, waktu di dunia lama gue—


“Graaaa!”


“Myl! Belakang lo—”


“*Shring! (suara besi beradu)”


Eh?! Itu siapa?! Dia nangkis serangan


yang hampir kena Myllo!


“Untung gue gak telat!”


“Graaa—”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


Waw! Pedang segede itu


keliatannya lebih berat daripada pedangnya Si Gendut waktu itu.


Tapi orang ini kayaknya gampang


banget motong Ghoul itu!


Siapa ini orang?! Dia Petualang


juga?!


“Wuhuuu! Keren!”


“…”


“Nama lo siapa?! Lo Petualang


ju—”


“Saya saranin kalian semua pergi


dari desa ini!”


““Ha?””


“Desa ini aman sama saya! Biar


semua Ghoul itu saya yang urus!”


Ini kita berdua diusir?!


“Kenapa kita harus pergi?! Kita


udah ambil Quest ini—”


“…”


Lah, dia pergi!


“Djinn, lo tau dia siapa?!”


“Nggak, lah! Kalo tau, kenapa gue


bingung soal siapa dia?!”


Mungkin itu jawaban gue.


Tapi kok…suaranya kayak…


Ah, nggak mungkin lah! Suara cewek


itu beda banget sama suara orang tadi!


Lagian, itu kan suara cowok yang


kedengeran kayak suara cewek aja, kan?!