
Akhirnya kita berdua jalan-jalan
kelilingin desa ini, sambil nunggu cucunya Si Bartender balik.
“Kamu pasti merasa bersalah ya
sebagai Petualang?”
“Iya, tapi sedikit.”
“Sedikit?”
“Karena kalo dibilang merasa
bersalah, gue sebenernya lebih kesel aja sama orang-orang yang bikin nama
Petualang jadi jelek!”
“O…Oh…kamu bener juga…”
Jadi, sekarang kemana lagi, ya?
Apa balik aja ke kedai tadi?
Hmm…balik aja deh, mungkin
cucunya udah balik juga.
“Oh ya, kamu dateng ke desa ini
sendiri?”
“Nggak. Ada temen gue yang…ada di
kedai.”
Gue mau bilang mabok, tapi nggak
enak. Takut nama Petualang jadi makin jelek karena Si Dongo satu itu.
“Kedai?!”
“Iya…”
“Oh! Kamu udah ketemu kakek,
ya?!”
Kakek…?
Lah! Ini cucunya?!
Kok cucunya agak beda ya?!
“Kalau gitu, ayo kita ke kedai!
Aku baru aja selesai kerja, jadi aku mau balik ke kedai!”
“I…Iya…”
Sambil jalan ke kedai, Gia
jelasin tentang kerjaannya.
Dia itu ternyata petani yang
ngerawat Buah Xia yang dia jelasin tadi.
“Ngomong-ngomong, mata sama
rambut kamu kok…kayak Elf, ya? Eh, atau High Elf kali, ya?”
Oh, dia nyadar warna rambut gue
yang putih ini?
“Ya…ibu gue sih Elf, tapi bapak
gue Manusia.”
“Wah! Jangan-jangan kamu…”
Aduh! Gue keceplosan, ya?!
Jangan-jangan yang kayak gitu cuma Djinnardio doang, lagi?!
“Herbivora, ya?!”
“Hah?! Emangnya gue sapi?!”
Huhhh…gue kira gue ketauan!
“Pfftt…ahahaha! Kamu kok
ngeledekin ras ibu kamu sendiri sih?!”
Oh iya, Luvast pun nggak makan
daging, ya…
“Ya…gue masih suka makan daging,
kok…”
“Kalo gitu kenapa harus sebut sapi,
dong?!”
“Maaf, reflek itu.”
“Ahahaha! Maafin aku, tapi itu
lucu banget!”
“I…Iya…”
Oh iya, sekalian gue tanya aja
kali ya soal monster aneh yang katanya ada di desa ini?
“Gia.”
“Hm?”
“Katanya ada monster di desa ini,
ya?”
“…”
Waduh, kok diem aja?
“Ada. Kita sebuh monster-monster
itu dengan nama Ghoul.”
“Paling terakhir monster-monster
itu muncul kapan?”
“Biasanya tiap malam. Makanya itu
ada aturan yang ngelarang semua orang yang ada di desa ini untuk keluar waktu
malam.”
Oh, Monster yang namanya Ghoul itu
keluarnya kalo malem doang, ya?
Informasi yang bagus, Djinn.
“Kakek! Maaf aku datang telat!”
“Gia! Kamu udah ba—”
Oh, oh…gue balik ke kedai bareng
Gia. Takutnya dikira gue macem-macem kali sama cucunya Bartender…
“Gia, kamu—”
“Ah, tenang saja, kek. Aku tadi
ketemu dia yang hampir jadi ‘korbannya’ Bob, kok.”
“Oh…bocah ikal itu berulah lagi,
ya?”
Bocah ikal? Maksudnya orang tadi?
“Djinn, teman kamu yang mana?”
Lah iya, kok nggak ada Myl—
“Ah! Akhirnya lega juga!”
Eh? Dia abis dari toilet?
“Ah! Djinn! Gue kira lo abis
jalanin Quest-nya!”
“Belom, woy! Gue cuma
keliling-keliling desa aja!”
“Oh, gitu…”
“Terus lo abis ngapain dari
toilet? Buang air?”
“Nggak, kok. Cuma buang ‘pelangi’
gue aja! Hehe!”
Pelangi…?
….
…
..
OH! ITU MAKSUDNYA?!
“Makanya jangan kebanyakan minum,
dongo?!”
“Haaaahhhhh?! Kebanyakan minum?!
Gue kan—”
“Nih sisa botol dia!”
“…”
YA AMPUN! BELOM ADA SETENGAH
BOTOL UDAH ‘JACKPOT’?
“Woy! Kok lo lemah banget, sih?!
Padahal nggak ada setengah botol!”
“Diem! Gue sengaja biar cepet
sadar! Lagian kalo langsung abis juga sayang minumannya!”
Hah?! Jangan bilang dia masih mau
minum?!
“Kalo mau minum lagi, jangan di
kedai ini!”
“Haaah?! Kok gitu, Pak Kumis?!”
“Karena lo terlalu mabok! Kasian
pelanggan yang lain! Bahkan tadi aja lo harus diangkat!”
Ya ampun…malu-maluin…
“Hahaha! Teman kamu menarik juga,
Djinn!”
Ya…harap maklum ya…
“Gia, tolong siapkan ruangan
untuk mereka, ya.”
“Baik, kakek.”
Abis Gia siapin kamar untuk kita
berdua, gue langsung bahas ke Myllo soal Monster yang namanya Ghoul tadi.
“Makanya itu, kita harus gerak
malem ini, Myl. Gimana?”
“Bagus! Kita masih punya waktu
sekitar setengah hari lagi. Kalo gitu kita masih bisa min—”
“Eits! Awas aja lo kalo masih mau
minum!”
“Lah, kan masih ada—”
“Nggak! Mending kita istirahat
untuk entar malem!”
“Haaah…iya, iya!”
Hadeh…Kapten macem apa sih ini
orang?!
Bodo amat, deh. Gue mending tidur
aja.
......................
“Djinn, aku pergi dulu, ya…”
“Lyz…”
“Aku janji, nanti kita akan
bertemu lagi, Djinn!”
“Ya! Sampai jumpa Lyz!”
“Sampai jumpa, Djinn!”
Ini…
Oh, ini temen kecilnya
Djinnardio, ya?!
Akhirnya gue balik lagi ke ‘dunia
bawah sadar’ ini.
Kayaknya ini ingetan dimana temen
kecilnya itu ngasih salam perpisahan ke dia.
“Djinn! Djinn!”
Loh, kok suaranya beda?
“Bangun, Djinn!”
Hah?! Suara ini…
“Woy! Djinn!”
“Ah!”
“Akhirnya lo bangun juga! Udah
malem, nih!”
Ternyata Si Dongo ini yang
bangunin gue…
“Hoaaamm…Udah berapa lama
gue tidur?
“Nggak tau sih, gue juga baru
bangun.”
“Oh—”
“Eh, itu nggak penting! Yang
penting anak kecil itu!”
gue bisa liat anak kecil yang lari-lari minta tolong.
“Tolong! Tolong bukain! Siapapun!
Maafin aku karena terlalu lama di luar!”
Kira-kira gitu teriak anak kecil
itu.
“Kita harus gimana, Myl?!”
“Udah tau kan jawabannya?! Kita
harus nolong anak itu! Ayo kita kelu—”
“Tu…Tunggu dulu!”
“Hm?”
“Kita keluar dari jendela ini
aja, Myl.”
“Loh?! Kok dari jendela?!”
Gue pun jelasin ke Myllo soal
larangan keluar malem di desa ini.
“Oh, gitu?!”
“Bener. Makanya itu gue bilang
kita lewat jendela a—”
“OK! Ayo kita berangkat!”
“*Prang! (suara pecah kaca)”
DONGOOO!!! KENAPA HARUS DIPECAHIN
KACANYA?!?!
Hadeh, bisa-bisa kena nih kita
sama warga sini!
Gue sama Myllo pun langsung
lompat ke anak ini.
“Dek, kamu nggak apa-apa?”
“Ka…Kakak…”
“…”
Kok perasaan gue nggak enak, ya?
“Dek, ayo kita masuk—”
“Graaa!”
HAH?! BOCIL INI MONSTER-NYA?!
“HAAA—”
“…”
Untung Myllo langsung cepet
refleknya!
Dia langsung angkat tongkatnya
supaya nggak digigit sama Ghoul ini.
“Sialan! Kita dijebak!”
Myllo bener.
Karena abis itu, gue bisa liat
banyak Ghoul yang ada di sekeliling desa yang mau makan kita berdua.
““Graaaa…””
“Djinn, kita lari dari desa ini!”
“Lari?”
“Supaya desa ini nggak kena
dampak pertarungan kita!”
OK, bener juga.
Gue sama Myllo langsung lari dari
desa ini.
Waktu kita lari, gue bisa liat
ada sekitar delapan Ghoul yang ngejar kita berdua—
“…”
Eh?! Itu siapa?!
“Myl! Lo liat ada orang nggak
tadi di atas atap itu?!”
“Nggak! Emangnya ada orang?!
Perasaan lo doang kali!”
Gue nggak mau ngakuin, tapi bisa
aja sih.
Kita lari terus sampe ke arah
hutan yang nggak jauh dari desa ini.
“Sekarang, Djinn!”
Gue langsung berhenti larinya.
Abis itu, gue tahan salah satu Ghoul yang mau coba makan gue.
“Hyaaaa!”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
“Grrraaa!!!”
Untung pukulan Myllo cukup sakit.
Jadi sekarang sisa 7 Ghoul la—
“Graaaa!”
“Sialan! Masih bisa berdiri Ghoul
itu!”
“Yaudah, Myl. Kita hajar aja
sebisa kita!”
“Bener!”
Gue sekarang ikut nyerang Ghoul
ini.
Kalo diperhatiin lebih detil
lagi, bentuk mereka emang aneh-aneh.
Ada yang punya empat tangan di
kepala.
Ada juga yang punya enam tangan
di punggungnya.
Ada juga yang kakinya kayak ulet
bulu.
Pokoknya bentuk mereka itu
aneh-aneh!
Kalo beberapa dari mereka punya
banyak tangan, pake Pencak Silat pun juga nggak cukup!
Kenapa gitu? Karena Pencak Silat
itu fokus utamanya untuk pertahanan diri, yang nantinya bisa untuk counter lawan. Tapi kalo kayak gini Monster-nya, gue juga bingung kapan harus counter-nya!
Kalo kasusnya kayak gini, mau
nggak mau harus main fisik!
“Raaaggghhh!”
“Hyaaaa!”
“…”
Tuh kan, bener. Mending gue adu
fisik aja.
Buktinya, Ghoul ini langsung
ancur waktu gue banting.
“Hm?!”
Aneh.
Badannya langsung menguap gitu
waktu dikalahin.
“Graaaa—”
Dih! Geli banget! Tangan gue
harus sampe masuk mulut Ghoul yang ini karena dia mau makan kepala gue!
“Hyaaaa!”
“…”
Udah dua yang ancur.
“Graaaa!”
Eh! Ghoul yang ini tangannya ada
sepuluh! Dan dia mau pukuk gue pake semua tangannya!
Untungnya, karena kekuatan gue
yang entah dateng dari mana, gue bisa ngeliat semua arah pukulan dari Ghoul ini
karena gerakan dia yang tiba-tiba lambat.
Gue akhirnya coba bales pukulan
dia pake pukulan gue.
“*Bhukbhukbhukbhuk… (suara
pukulan beradu)”
Gerakan dia makin lama makin
pelan karena kepelan tangannya yang makin banyak luka.
Nah, ini kesempetan buat gue!
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Graaa…”
Nah, tiga Ghoul udah tumbang.
Kalo Myllo, udah gima—
“Inget ya! Jangan ganggu desa ini
lagi! Paham?!”
““Grrrr…””
“Bagus! Sekarang, pergi dari
sini!”
“Grrraaaa!!!”
Buset! Itu empat Ghoul malah
diomelin kayak anak kecil gitu sama Myllo sampe lari ketakutan mereka!
Gue jadi keinget orang-orang yang
ketangkep tawuran sama polisi, waktu di dunia lama gue—
“Graaaa!”
“Myl! Belakang lo—”
“*Shring! (suara besi beradu)”
Eh?! Itu siapa?! Dia nangkis serangan
yang hampir kena Myllo!
“Untung gue gak telat!”
“Graaa—”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
Waw! Pedang segede itu
keliatannya lebih berat daripada pedangnya Si Gendut waktu itu.
Tapi orang ini kayaknya gampang
banget motong Ghoul itu!
Siapa ini orang?! Dia Petualang
juga?!
“Wuhuuu! Keren!”
“…”
“Nama lo siapa?! Lo Petualang
ju—”
“Saya saranin kalian semua pergi
dari desa ini!”
““Ha?””
“Desa ini aman sama saya! Biar
semua Ghoul itu saya yang urus!”
Ini kita berdua diusir?!
“Kenapa kita harus pergi?! Kita
udah ambil Quest ini—”
“…”
Lah, dia pergi!
“Djinn, lo tau dia siapa?!”
“Nggak, lah! Kalo tau, kenapa gue
bingung soal siapa dia?!”
Mungkin itu jawaban gue.
Tapi kok…suaranya kayak…
Ah, nggak mungkin lah! Suara cewek
itu beda banget sama suara orang tadi!
Lagian, itu kan suara cowok yang
kedengeran kayak suara cewek aja, kan?!