Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 162. Serpent Raid



Kita masuk ke dalem sarang Sea Serpent.


Anehnya…


“Tempat ini… nggak berair?”


“Bahkan kita bisa bernafas normal di dalam tempat ini?”


…sarang ini bener-bener kayak di dalem goa.


Tempatnya lembab, kita bisa jalan normal, bahkan kita nggak perlu sihirnya Jenna.


“Keliatannya tempat ini lebih lembab dari sebelumnya, ya?”


Oh ya, kan ada Lynx yang katanya investigasiin sarang ini.


“Ya.”


“Artinya…”


“Ada kemungkinan kalo sebagian besar dari Sea Serpent itu balik dari laut!”


Artinya mereka nungguin kita, ya?


Tapi kok bisa, ya? Apa mungkin mereka itu mahluk buas yang pinter, yang tau kita mau ke sarang mereka?


Atau mungkin…ada yang arahin mereka ke sini?


“OK, semuanya! Kalopun kita nggak perlu berenang, seenggaknya kita harus tetap fokus!”


““Ya!””


Kita pun jalan ke dalem sarang monster ini.


Masalahnya, makin ke dalem, makin gelap.


Ya, yang lain sih nggak begitu beruntung.


Tapi gue pribadi cukup beruntung karena Mata gue ini.


Cuma…


“…”


…mereka ada banyak banget! Serius Quest kayak gini khusus untuk Kasta Kuning?!


“Cih! Makin gelap, ya? Kalo gitu harus—”


“Tunggu, Mil! Jangan nyalain apa-apa!”


“Hah?! Kenapa emangnya?!”


Hmm… Gimana ya cara jelasinnya?


Emang sih struktur tubuh uler laut ini bisa jadi beda daripada struktur uler yang gue tau.


Tapi, mending coba jelasin aja deh.


“Djinn! Kenapa emang—”


“Uler itu bisa deteksi panas tubuh. Terus, keluarin cahaya itu sama aja kayak keluarin suhu panas. Makanya itu, kalo kita keluarin cahaya, bisa-bisa kita langsung diserbu sama ratusan Sea Serpent yang ada di dalem sana!”


“Hah?! Ada Ratusan?!”


“Ya. Ia benar. Aku bisa merasakan ada ratusan dari mereka.”


““!!!””


Keliatannya mereka percaya.


“Kalo gitu, gue ada saran.”


Ollie ada saran?


Gue kira dia cuma bisa tidur doang…


“Mumpung kita ada 2 Frontliner, kita pancing perhatian semua Sea Serpent ini untuk ngejar semua Frontliner!”


Oh, kita ‘jepit’ uler-uler ini,


ya?


“Hehe! Menarik!”


“Ide bagus!”


Karena Myllo setuju, kira-kira gini strategi kita…


“Nih! Obor untuk kalian!”


““…””


Keeper “ganas” yang namanya Kristotte ini siapin semacem obor gitu untuk tiga Frontliner ini.


“OK, maju!”


““Ya!””


Semua Frontliner pun maju untuk alihin perhatian semua monster laut ini.


“Ayo kejar gue!”


“Ikuti aku!”


““Kraaaawww!””


Sebagian besar Sea Serpent pun ngejar mereka bertiga. Sejauh ini, strategi udah cukup berhasil. Tapi yang nggak lebih penting lagi itu lanjutan dari strategi ini.


“*Fwush…”


“Gimana? Udah cukup dingin?”


“Be-Belom…”


Sisa dari yang lainnya, mau itu gue sebagai Rounder, atau Striker yang lain, harus turunin suhu tubuh kita


serendah-rendahnya. Kalo sampe suhu tubuh kita nggak lebih kecil daripada obor api itu, bisa-bisa uler-uler itu nggak ngejar mereka bertiga lagi karena ngejar kita.


Emang sih dingin, cuma ini doang satu-satunya cara yang menurut gue cukup ampuh untuk jalanin strategi ini, daripada harus ngotorin pakaian kita pake lumpur.


“Mil, keliatannya cukup.”


“OK! Ayo kita serang sekarang!”


““Ya!””


Kita mulai maju sekarang.


Dari yang gue liat pake mata gue, uler-uler itu belom nyadar ada kita semua.


Kalo gitu…


“*Jgrum!”


““Kraaaaw!””


Bagus!


Kekuatan petir gue berhasil serang beberapa Sea Serpent!


“Haha! Giliran gue jadi bintang!”


“*Shrak, shrak, shrak!”


Bocah sialan yang namanya Paul itu langsung hajar beberapa Sea Serpent pake dua kapak kepunyaannya.


“Hah! Liat tuh punya gue! Lebih banyak!”


Lah! Kok nih orang malah adu banyak-banyakan?!


“Apaan tuh cuma segitu a—”


“Bawel! Seenggaknya gue pake tangan kosong!”


“OK kalo gitu! Biar gue tunjukin pake tangan kosong!”


Sialan nih bocah! Kenapa malah mau banyak-banyakan sama gue?!


“*Kraaaaw!”


“Hruaaaagh!”


“*Bhuk!”


“Hraagh!”


“*Bhuk!”


Oh, ternyata dia cukup kuat.


“Woy, bocah topeng! Liat nih!”


Ada sepuluh yang dia hajar, ya?


“Hmph! Baru segitu aja udah belagu, lo!”


“!!!”


Nggak kaget sih gue, kalo gue berhasil kalahin tiga kali lipat monster laut ini.


Ternyata kalo lawan mereka di dataran, mereka semua nggak ada apa-apanya dibanding Wyrm.


Yang pasti…


“Kenapa? Kaget ya kalo lo selemah itu?”


“Cih! Kurang ajar!”


…mending gue manfaatin momen ini untuk “kompor-komporin” bocah sialan satu ini!


“Heh! Jangan sombong lo! Kan lo emang Martial Art—”


“Haaaaah?! Masih nggak mau ngaku kalo lo itu emang le—”


““*BHUK!!!””


Cih! Apaan nih yang pukul kita berdu—


“KRAAAAWW!”


Sialan! Ternyata ada Sea Serpent yang lebih gede, ya?!


“Waspadalah kalian semua! Ada Elder Sea Serpent!”


Hah?! Maksudnya lebih tua?!


“He he he…”


Nih lagi! Kenapa malah ketawa—


“Woy, bocah topeng! Ayo kita banyak-banyakan nyerang Elder Sea Serpent!”


“Oh! Orang lemah kayak lo masih berani adu—”


“Kalo sampe lo kalah, lo harus penuhin permintaan gue!”


“Permintaan?!”


“Ya! Lo harus kenalin anggota lo yang namanya Gia ke gue!”


“…”


“Gima—”


“KRAAA—”


“*Jgrum!”


Hmph! Banyak ngomong sih nih bocah!


“Gue udah satu lebih banyak, bego?!”


“Kurang ajar! Kok lo malah curi start?!”


Dia nantangin gue pake Gia, kan?!


Ya elah! Bocah kayak dia pasti lebih gampang tumbang daripada Garry kalo dicolek cewek cantik!


“!!!”


Tunggu! Gue mikir apaan?!


“Djinn! Kamu mau nggak jadi pacar—”


Dih! Ogah banget! Gue jadi keinget cewek sialan itu kalo godain gue!


Tapi dia kira-kira gimana ya kondisinya sekarang?


“*KRAAA—”


“*Jgrum!”


Hmm…


Elder Sea Serpent ini emang badannya lebih gede daripada Sea Serpent yang lainnya. Tapi nggak gue sangka, kalo mereka jauh lebih keras aja serangannya. Sedangkan badannya aja jauh lebih gampang hancur dibanding Sea Serpent lainnya.


Kalo kayak gitu sih…


“Heaaaaagh!”


““*BRUK!””


…mending gue lempar aja Elder Sea Serpent ini ke Sea Serpent lainnya!


“Woy, sialan!”


Hah? Kenapa nih bocah tiba-tiba marah?


“Kok lo ambil jatah gue?!”


“Ambil jatah?”


“Gue mau serang uler itu, sebelum hancur gara-gara kena lemparan lo!”


Kenapa malah nyalahin gue?!


“Lo aja yang kelamaan nyerang uler itu!”


“Hah?! Kelamaan?! Lo aja yang cu—”


“*Boom!”


““Aaargh!””


Hah?! Suara ledakan dari mana tuh?!


“Berhati-hatilah ketika menyerang Sea Serpent yang berwarna merah! Jika mereka terserang, mereka langsung meledakkan diri!”


Bisa ledakin diri?!


“Cari ruang kosong!”


“Hah?! Maksud lo apa, Myllo?!”


Oh!


Gue tau maksudnya apaan!


“Tunggu! Mengapa kita harus mencari ruang ko—”


“Kalo ada Sea Serpent yang bisa meledak, justru itu malah nguntungin kita!”


“Menguntungkan kita?!”


“Biar gue yang jelasin!”


Mending gue yang jelasin aja deh biar cepet, sekalian hajar semua Sea Serpent yang ada di sini!


“Kita harus pancing semua Sea Serpent untuk kumpul di satu titik. Abis itu, kita manfaatin Sea Serpent itu untuk meledak. Apalagi sekarang kita ini lagi ada di goa, kan? Selain mereka kena ledakan, mereka pasti juga ketiban. Gitu kan, Mil?”


“Hah? Gue malah nggak kepikiran gitu.”


“Terus kenapa kita bikin kayak gitu?!”


“Tuh, liat!”


“…”


Waduh udah pada sekarat ya?


“Tapi rencana Djinn tadi masuk akal! Mending kita—”


“Tunggu dulu! Cara itu sangat berisiko! Bagaimana jika kita tertimpa oleh puing-puing goa ini?!”


Ya itu sih resiko yang harus ditanggung.


Gue kira Myllo kepikiran rencana bahaya kayak gitu. Ternyata dia minta ruang kosong cuma untuk anggota-anggota yang luka-luka.


“Tenang aja. Biar gue yang urus puing-puing itu.”


Ollie yang urus?


“Yaudah kalo gitu! Djinn, lo bantuin Aely untuk pancing semua Sea Serpent! Kalian siap?!”


““Ya!””


Sesuai perintah Myllo, gue bareng Frontliner yang namanya Aely ini mulai pancing perhatian semua uler ini.


“Hey, kau! Kemanakah kita alihkan perhatian—”


“Sini, ikutin gue!”


Mumpung gue liat dataran yang agak rendah, bisa jadi ini jadi spot yang bagus buat—


“Tunggu! Lokasi itu sangat berbahaya! Bagaimana jika kita tidak bisa melarikan diri?!”


“Tenang aja! Biar kita pikirin belakangan kalo itu! Mending kita pikirin cara yang lain selamat dari ledakan!”


“Baikla—”


“*Shrak!”


“Aaaargh!”


Aduh! Dia kena sirip Sea Serpent warna merah, lagi!”


“…”


Coba pikir cepet, Djinn!


Kalo lo serang Sea Serpent itu, bisa-bisa Sea Serpent itu meledak. Kalo lari balik untuk angkut dia, bisa-bisa lo masuk “perangkap” Sea Serpent yang udah kelilingin kita.


Cih! Kalo gitu gue harus ngapa—


“*Fwush!”


“OK! Bagus, Djinn!”


Hah?! Myllo udah pake kekuatan—


“Waktunya kita pergi!”


“*Fwush!”


Untung aja ada Myllo yang jemput kita berdua pake kekuatannya Zegin!


Kalo gitu tinggal…


“Djinn!”


“OK!”


“*Jgrum!”


“*BOOM!!!”


…serang Sea Serpent merah, supaya meledak!


“Ollie! Sekarang!”


“Curving Axe…”


“*Bruk, bruk, bruk…”


Gila! Sihir apaan, tuh?!


Dua kapak dia tiba jadi melengkung, terus bisa tahan reruntuhan di goa i—


“*Bruk!”


“Ada batu yang jatoh ke—”


“Hup!”


““!!!””


Sialan!


Sebenernya bisa aja gue hancurin batu gede ini! Tapi karena banyak orang yang bisa kena dampaknya, mau nggak mau gue tahan batu ini!


“Bruk, bruk, bruk…”


““…””


Keliatannya udah berhenti ya reruntuhannya?


“Semuanya! Ayo kita hancurin batu-batu yang hadang jalan kita!”


““*Bruk! Bruk! Bruk!””


Sesuai perintah Myllo, semuanya langsung buka dari bebatuan ini.


Waktu kita berhasil keluar…


“Sea Serpent-nya…”


“Udah nggak ada sisa!”


“Be-Berhasil, ya…?!”


…kita cuma bisa liat tumpukan bangkai dari semua Sea Serpent ini aja.


Bagus deh, seenggaknya kita berhasil kerjain Quest ini!


Gue kira bakalan lama ngerjain Quest ini, ternyata lebih cepet dari yang gue kira!