
“*Chirp, chirp, chrip…
(suara kicauan burung)”
“Hoaaaam…”
Udah pagi, ya?
“…”
Di sini sih ada Myllo, Gia, sama
Garry.
Kalo dipikir-pikir lagi, nggak
berasa ya udah dua hari di Vigrias.
Selama dua hari itu, raja di
negara ini dibebasin. Abis itu, dia perintahin sisa-sisa pasukannya untuk anter
balik seluruh warga Erviga ke asalnya masing-masing.
Sedangkan Naga sama Dragonewt
yang masih hidup…
“Permisi, Tuan dan Nyonya
sekalian. Raja Glennhard hendak bertemu dengan anda.”
…diminta ketemu sama raja itu.
Ya seenggaknya semua udah damai,
sementara untuk semua laporan-laporan kejadian yang ada di negara ini ditahan
dulu, sebelum semua keadaan lebih tenang.
Padahal rasanya kayak sebelum
tidur deh gue lawan Malaikat yang namanya Narciel itu.
…
Eh, iya! Udah pagi, ya?!
Gue lupa ada yang harus kita
lakuin!
“Woy! Myllo! Gia! Garry!”
““Zzzz…””
“*Tung! Tung! Tung! (suara
memukul 3 kepala)”
“Dongo! Genit! Mesum! Ayo
bangun!”
“Haaaah?! Kenapa sih
emangnya…zzzz…”
Si Dongo ini malah tidur lagi!
“Ih…Djinn…! Kok kepala aku
dipukul, sih…? Kenapa nggak dicium aja…?”
Gigi lo cium?!
“Teh Gia… Aing aja atuh yang dicium… Muuuu—”
“MESUUUUMMMM!!!”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Kuaaakh!”
“…”
Si Mesum yang ngigo tiba-tiba mau cium Si Genit…
Haaaaahhh…kok temen-temen gue
aneh semua sih?
“*Brak! (suara membuka pintu)”
“Te…Teman-teman Petualang
sekalian! Ada apa?!”
Gara-gara Si Genit sama Si Mesum,
malah dikira aneh-aneh kan kamar ini sama yang punya penginapan!
“Ng…Nggak ada, pak! Maaf ya kalo
ganggu…”
“Huh! Syukurlah! Saya kira
terjadi sesuatu! Kalau begitu, saya permisi.”
“…”
Untung aja nggak nanya banyak
bapak-bapak itu.
Tapi yang lebih penting…
“*Tung! Tung! Tung! (suara
memukul 3 kepala)”
“Tau apa salah kalian bertiga?!”
““Su…Susah dibangunin.””
“Inget nggak hari ini hari apa?!”
““Lu…Lupa.””
“*Tung! Tung! Tung! (suara
memukul 3 kepala)”
“Hari ini kita jadi Tamu
Kerajaan! Masa nggak ada yang inget?!”
““Ta…Tamu Kerajaan…?””
Haaaaah…bocah-bocah ini nggak ada
yang i—
““HAAAAAHHH?!?! TAMU
KERAJAAN?!?!””
““*Tung! (suara banyak pukulan ke
kepala)””
“KOK GUE YANG DIPUKUL?!?!”
““NGOMONG KEK DARITADI!!!””
Da…Dasar bocah-bocah sialan ini!
“Ayo! Kita siap-siap untuk ketemu
raja!”
““Ya!””
Haaah…sebenernya gue masih kesel
gara-gara mereka barengan mukul kepala gue!
Tapi…lupain aja lah. Pasti kan
banyak makanan di sana! Mending fokus ke bagian itu aja!
……………
Sekarang kita udah ada di ruang
makan yang gede banget!
Ya iya lah! Ruang makannya raja!
“Silakan hidangannya.”
Wuaaah! Banyak banget!
Andai hari-hari bisa makan kayak
begi—
“*Ting, ting, ting… (suara
mengetuk cawan dengan sendok)”
“…”
O…Oaalah…
Ternyata harus nunggu raja itu
ngomong dulu, ya?
Haaaah…hampir aja gue langsung
hajar makanan-makanan ini!
“Saya, Raja Glennhard—”
“Sa…Sayangku…”
“…”
Kok malah ngobrol sama ratu itu?!
“Ba…Baiklah.”
Mereka berdua bisik-bisik apaan
sih?
“Se…Selamat makan semuanya!”
““Selamat makan!!!””
Wuhuuuu!
“Hauphauphauphaup…”
“Ahahaha! Djinn! Kok lo makannya
sampe nangis, sih?!”
“E….Ewuak bwangeu! (Enak
banget!)”
Gue aja nggak nyangka bisa
terharu begini karena makanan-makanan enak ini!
Oh iya. Ternyata nggak kita doang
yang ada di tempat ini.
“*Phak! (suara menepuk tangan
orang lain)”
“Ja…Jangan makan menggunakan
tanganmu, Rakhzar!”
“Lantas…bagaimana cara
menggunakan peralatan ini!”
“Bi…Biar aku bantu, Tuan Rakhzar,
Tuan Göhran.”
Ada Rakhzar sama Göhran yang diajarin
Yssalq cara pake garpu sama pisau untuk motong makanan.
Selain mereka, juga ada beberapa
Dragonewt yang sempet dijadiin budak sama Sebastian.
“Du…Duri-duri lo kemana, Zor?”
“Bisa gue masukin ke dalem badan
gue!”
“Gu…Gue baru tau bisa gitu…”
Ada juga 4 anggota dari
Andromeda.
Tapi…gue juga baru tau tuh duri
bisa masuk…
“Lo…kenal Dox?!”
“Pastinya lah, Bang Phonso! Itu
kan Mantan Kapten-nya abang!”
“Oh, pantesan. Ternyata lo tau
banyak ya tentang Petualang, Dismont.”
“Bi…Bismont…”
Bismont) yang keliatan akur bareng Phonso.
Selain Bismont, ada juga Marquis
Verdian yang ikut di sini.
Bahkan nggak cuma Bismont sama
istrinya aja.
“Ini makanannya, Herulk!”
“Hurgh—”
“Nggak usah malu-malu! Kata papa
kan tadi kita udah bisa bebas!”
Semua anak-anaknya Bismont pun
ada…
“Mama! Kakak ini baik!”
“Oh gitu ya, Bareo?”
“Hehe! Jelas lah! Ini kan adeknya
Styx!”
…termasuk Charzielle sama
anak-anaknya Gia.
Oh iya, karena ada Phonso di
sini, Dahlia sama orang-orang Riorio Merchant juga ada di sini.
Tapi kok…
“Dahl…”
“Hm? Ada apa, Djinn?”
“Kok…Dalbert nggak ada di sini?”
“I…Itu—”
“*Ting, ting, ting… (suara
mengetuk cawan dengan sendok)”
Duh! Nih raja ganggu aja sih,
orang lagi ngobrol!
“Maafkan sebelumnya, kawan-kawan
sekalian yang saya kasihi.”
“Ada apa, Yang Muli—”
“Tidak. Tidak ada apa-apa. Hanya
saja…saya merasa senang sekali dengan adanya berbagai macam ras di ruang makan
ini.”
“*Bruk… (suara menghantam kepala
ke meja)”
Loh! Kok dia tiba-tiba—
“Ma…Maafkan saya atas kelemahan
dan kekurangan saya sebagai Raja! Bahkan, saya berada di sini untuk minta maaf
atas kekurangan raja-raja sebelumnya!”
““…””
Bahkan ratu sama anak-anaknya
juga nunduk ke kita semua?!
“Kami tidak menyangka…bahwa
selama ini kami diperalat. Oleh karena itu, kami mohon! Terimalah permohonan
maaf kami!”
Abis dia minta maaf, dia jelasin
kalo kata sejarah yang diturunin di negara ini, dulunya ada Manusia yang nemuin
wilayah kosong ini. Makanya itu berdirilah Erviga.
Tapi dia nggak nyangka kalo
negara ini sebenernya negara jajahan.
“Oleh karena itu, dengan tekad
yang bulat, saya akan memutuskan untuk mencabut ikatan Erviga Kingdom dengan
Centra Goeterra!”
““!!!””
Menurut gue sih tindakan dia
bener. Tapi yang lainnya kenapa pada sekaget itu ya dengernya?
“Selain itu, saya memutuskan
untuk membangun kooperasi dengan Kaum Non-Manusia, khususnya Kaum Monster
Intelektual yang berada di selatan Erviga dan, beserta Para Naga dan Kaum
Dragonewt!”
““*Prok, prok, prok… (suara tepuk
tangan bersama)””
Gue sih nggak nyalahin tindakan
raja ini, tapi—
“Mo…Mohon maaf sebelumnya, Yang
Mulia.”
“Ada apa, Duke Louisson?”
“Sebelumnya, saya ingin
menyampaikan bahwa saya mendukung dan turut bangga dengan keputusan Yang Mulia.
Namun, bagaimana dengan tanggapan warga Erviga, Yang Mulia?”
Ya, gue juga mikir kayak Bismont.
“Kita akan ulang semuanya dari dasar
kembali. Mulai dari pendidikan dan kebudayaan. Yang pasti, saya harap kita
semua bisa hidup damai bersama. Bukankah begitu, Tuan Göhran?”
“Ya. Aku juga setuju denganmu,
Glennhard.”
Selain ngomongin itu semua, raja
ini juga jelasin kalo Göhran, Rakhzar, sama Yssalq bakal jadi Simbol Kerajaan,
yang mana mereka bertiga jadi semacam ‘dewa pelindung’ negara ini.
Sisanya, giliran yang lainnya
yang jelasin tentang segala kejadian yang ada di Erviga.
Mulai dari beberapa keluarga
bangsawan sama rencana mereka masing-masing, susahnya hidup Dragonewt di sini,
Riorio Merchant yang dimanfaatin, sampe siapa sebenernya Maverick Orbloom.
Kalo gue sendiri sih…sebenernya
nggak banyak ngomong.
Semuanya udah dijelasin, bahkan rekan-rekan
gue pun juga udah jadi saksi adanya Malaikat itu, kan?
Yang paling banyak ngomong itu
sebenernya…
“Hicc! Makanya itu…Kak
Sylv…nggak suka…”
““Oooohhh…””
…Si Dongo satu ini.
“…”
Phonso keliatannya mau nyamperin
gue.
“Haha! Lo udah bosen ya denger
dia cerita sambil mabok?”
“I…Iya sih sebenernya!”
“Harap maklum ya, Djinn. Soalnya
dulu Sylv juga begitu,”
Pantesan dia cerita mulu tiap
kali mabok.
Ujung-ujungnya, kita semua ada di
meja makan ini sampe sore, sehabis cerita-cerita.
Tapi sebelum kita keluar dari
ruang makan ini…
“Mohon maaf, apakah anda yang
bernama Djinn?”
“Ya, Yang Mulia.”
“Baiklah. Saya mengharapkan
kedatangan anda bersama dengan rekan-rekan anda di Festival Erviga yang berada
di tengah Vigrias Capital, esok hari.”
“Y…Ya.”
…gue bareng rekan-rekan gue tiba-tiba
diundang raja secara langsung ke festival?
Hmm…penasaran gue.
……………
Waktu kita keluar dari kastil kerajaan, gue
langsung sampein ke mereka tentang undangan tadi.
“Oh ya, katanya kita diundang
lagi besok sama raja.”
““Diundang?””
“Iya. Katanya sih diundang ke festival
di tengah kota ini.”
“Hihihi! Ada minuman gratis lagi
dong, ya?!”
“Kamu bener, Myllo! Artinya besok
ada Festival Erviga, ya?!”
“Hehe…mungkin aja ada teteh geulis di tengah kota…”
Mereka keliatannya seneng bang—
“Tapi…gue mau pergi ke tempat
lain dulu.”
Hah?! Si Dongo mau ke mana?
“Myllo! Kamu mau—”
“Tenang aja! Gue pasti dateng ke
festival bareng kalian! Kalo gitu, gue pergi dulu!”
“Myllo! Tung…”
““…””
Si Dongo udah ngabrit aja.
Yaudah lah. Biarin aja.
Mending balik lagi aja ke
penginapan kita.