Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 10. The Noble Arrives



Gue latian terus, sampe nggak nyadar ternyata udah sore. Mungkin sekitar jam empat atau jam 5.


Anehnya, gue nggak ngerasa capek sama sekali!


Yaa, seenggaknya udah nggak ada lagi lah pohon yang hancur, walaupun…


“…”


… satu pohon ini banyak bolongnya karena pukulan gue, hehe…


“I-Ini minum anda, Tu—Djinn!”


“Oh, thanks.”


“Sepertinya anda telah berhasil mengontrol Mana anda dengan baik, Tu—Djinn!”


“Ya, gitu lah.”


“…”


Kenapa dia senyum kayak gitu?


“Lo kenapa senyum-senyum, Mel?”


“Ah, tidak. Saya hanya bangga saja dengan anda karena selalu giat ketika melakukan sesuatu, Tuan Muda.”


Yap, gue dipanggil Tuan Muda lagi.


Tapi daritadi gue pelajarin tentang dunia ini, terus tentang  keluarganya Djinnardio, tapi gue sendiri belom tau tentang Djinnardio-nya sendiri kan, ya?


Gue tadinya mau bodo amat sih tentang Djinnardio ini, cuma gue ngerasa harus tau tentang dia gimana sebagai salah satu upaya untuk bilang makasih karena udah ‘pinjemin’ badannya ke gue.


“Mel.”


“Ya, Tu—Djinn?”


“Gue boleh tau lagi nggak tentang masa lalu gue?”


“Mu-Mungkin saya tidak tahu terlalu banyak karena saya baru menjadi budak anda selama kurang lebih selama setengah tahun, Djinn.”


“Yaudah, yang lo tau aja.”


“Hmm… Mungkin ini yang diceritakan oleh mendiang Tuan Phistria, orang yang sangat menghormati mendiang Nyonya Luscika.”


“Maksud lo yang di dalem penjara minggu lalu?”


“Anda benar, Djinn.”


Abis itu, Meldek jelasin tentang Djinnardio.


Menurut Meldek, Djinnardio itu orang yang selalu senyum. Di desa yang dia tinggalin, dia itu udah dianggep dewa sama desa itu.


Walaupun nggak bisa pake sihir, Djinnardio itu orangnya pinter banget. Dia itu dokter yang selalu sembuhin


warga desa itu.


Beruntungnya lagi, lingkungan dia itu saling menghargai antar ras. Beda banget sama kerajaan ibunya yang rasis.


Abis itu ada tambahan dari Meldek.


“Anda itu… orang yang tidak suka melihat ketidakadilan.”


Nggak tau kenapa, gue ngarasa ada yang aneh di sini.


“Lo ngomong gue nggak suka ketidakadilan, tapi kenapa gue beli budak? Artinya sama aja dong gue terlibat di pelelangan bu—”


“Karena… a-anda tidak punya pilihan, Tuan Muda…”


“Pilihan?”


“Se-Sebenarnya… penduduk desa yang anda tempati itu… sekitar 24% penduduk adalah budak yang anda beli, Tuan Muda…”


Hah?! Kok…


“Anda ingin menyelamatkan mereka dari perbudakan, namun anda tidak memiliki kekuatan dan ingin menghindari perkelahian. Maka dari itu, satu-satunya cara anda memberikan kebebasan dengan cara membeli mereka supaya bebas, Tuan Muda!”


Ohhh… ternyata itu tujuan dia beli budak.


“Tapi kenapa lo masih jadi budak gue?”


“Saya yang memohon kepada anda…”


“Hah? Emangnya… kenapa…?’


“Saya hanya ingin membalas budi anda, Tu—Djinn. Namun karena saya terus ditempa untuk menjadi budak sebelum dilelang, maka kebiasaan saya sebagai budak pun sulit menghilang, haha…”


Di-Ditempa?!


“Mel, mungkin ini nggak sopan. Tapi gue boleh liat punggung lo, nggak?”


“Ba-Baik, Tuan.”


Waktu Meldek kasih liat punggungnya…


“I-Ini…”


“Tanda tersebut adalah bukti bahwa saya dilelang


oleh—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Tu-Tu-Tuan Muda…?!  A-Aura anda!”


“Hah?”


“…”


“Huff… huff… huff…”


Gue marah banget dengernya!


Ada yang pernah gue pelajarin di salah satu buku sejarah di perpustakaan.


Katanya kalo jaman dulu itu punggung budak itu dikasih tato pake besi yang panas banget, terus besi panas itu ditempelin ke punggungnya!


Brengsek! Ternyata masih ada yang kayak begini ya di dunia ini?!


“Na-Namun satu hal yang pasti, walaupun memori anda telah menghilang, akan tetapi rasa keadilan anda tidak


hilang sama sekali, Tuan Muda.”


“Rasa keadilan?”


“Ya. Mungkin karena rasa keadilan anda, bahkan setelah memori anda menghilang pun anda selalu meminta saya untuk memanggil anda tidak dengan Tuan Muda, melainkan dengan nama anda langsung.”


Oh! Ternyata Djinnardio juga bilang gitu, ya?


“Saya pun berpikir, andai saja saya tidak pernah ditempa menjadi seorang budak, mungkin saya bisa lebih bersyukur karena bisa memandang anda tidak sebagai Tuan saya, melainkan sebagai teman, seperti yang anda minta, Djinn.”


“Mel…”


Ternyata Djinnardio juga mandang dia sebagai temen, ya?


Hmm… Temen, ya?


“Tolong… buka diri kamu… untuk orang lain, nak… supaya kamu punya teman… dan gak kesepian…”


Kenapa tiba-tiba gue keinget kata-kata terakhir ibu, ya?


Apa mungkin waktunya gue harus buka diri gue ke orang lain, selain ibu, Kak Eka, sama Pak Jaya?


“Mel, kalo gue tanya tentang dunia ini, lo pasti bisa jawab kan?”


“Saya usahakan semampu saya untuk menjawabnya, Tu—Djinn.”


“Yaudah. Kalo gitu gue minta arahan bukan sebagai Tuan lo, tapi sebagai temen lo, Mel.”


“Baiklah! Akan saya usahakan semampu saya, Dji—”


“*Srrk (suara semak-semak)”


““Hm?””


Ada orang?


“Ah, ternyata kakak ada disini!”


Anak kecil ini kalo gak salah… anaknya Kades kan, ya?


“Ada apa?”


“A-Ada bangsawan yang dateng!”


“Oh gitu? Bagus, deh. Artinya orang-orang yang dita—”


“Nggak! Ini berita buruk!”


“Berita buruk?!”


“Iya! Bukannya mau nolongin, mereka malah mau tangkap beberapa tahanan!”


“Hah?!”


Ah, iya. Gue lupa kalo ada beberapa bangsawan yang kotor.


“Terus, gimana?”


“Mending kakak ikut aku aja!”


“OK!”


Akhirnya kita berdua balik ke desa bareng anaknya Kades ini.


Waktu kita sampe sana…


“*Cplash! (suara cambukan)”


“…”


“Cepat jalan!”


…ada bangsawan yang dateng bareng pasukannya, yang lagi cambuk-cambukin beberapa tahanan yang bukan Manusia.


Gue bareng Meldek cuma bisa nonton doang dari pinggir.


“Mereka semua yang ditangkep itu yang namanya Mahluk Intelektual kan, ya?”


“Anda hanya sebagian kecil benar, Djinn. Karena ada juga Monster Intelektual yang ikut dengan mereka, Djinn.”


Monster Intelektual?


“…”


Contohnya kayak Monster itu yang nama rasnya Goblin sama Ogre. Yang pertama badannya kecil, yang satu lagi badannya gede banget.


“Cu-Cukup! Mereka sudah mengikuti perintah anda! Mengapa mereka masih dianiaya seperti i—”


“*Shring… (suara menghunuskan pedang)”


“!!!”


Eh, eh, eh! Kok malah Si Kades yang kena?!


“Jyihihi! Hey, Kepala Desa! Anda hanya saya minta untuk memberikan semua Mahluk Aneh ini kepada saya! Apapun yang terjadi pada mereka itu bukan urusan anda! Paham?!”


“…”


Dih! Berani banget dia senyum kayak gitu?!


Nggak liat kali ya warga sini pada jijik liat dia?!


“Ma-Mama…! Mereka temen-temen aku!”


“Ma-Mama tahu, nak. Tapi kita nggak bisa apa a—”


“…”


Eh! Anak kecil itu lari!


“Maya! Jangan lari ke sana!”


Anak kecil itu lari ke bangsawan itu!


“Pe…Permisi, paman!”


“Hm?”


“Me-Mereka baik! Mereka temen-temen aku! Jangan paman apa-apain temen-temen aku!”


“…”


Aduh, feeling gue nggak enak…


“Yang Mulia?”


“Laksanakan!”


“Paman! Tolong jangan bawa teman—”


“*Phak! (suara menampar)”


“Ah!”


“Maya!”


Wah, keterlaluan! Masa dia nyuruh prajuritnya nampar anak kecil?!


“Cih! Keterlaluan!”


“Anda benar, Tuan Muda! Akan tetapi, jangan sampai anda ikut campur, Tuan Muda!”


“Jangan ikut campur?!”


"Ya! Saya mengerti anda lupa ingatan dan anda sudah memiliki kekuatan besar, akan tetapi inilah realita Geoterra, dunia yang kita tempati!"


Sialan!


Gue gatel banget mau nonjok bangsawan itu!


Tapi bener kata Meldek, gue juga nggak bisa apa-apa!


Tambah lagi…


“Ya, Goldiggia aja. Tapi kalo misalkan Styx minta tolong untuk lawan bangsawan kayak Si Count yang dia ceritain tadi, mungkin gue angkat tangan.”


Gue juga bilang kayak gitu. Makanya itu mending tahan aja, Djinn!


“Hey, Count Vertilio! Apa yang anda lakukan terhadap penduduk desa ini! Tidak malukah anda sebagai seorang bangsawan telah menyakiti penduduk—”


“Anda yang seharusnya malu, Kepala Desa Flippus! Bagaimana bisa seorang Manusia bermain dengan mahluk hina seperti mereka?! Didikan macam apa yang ditanamkan di desa ini?!”


“…”


Gue nggak tau sih mahluk Non-Manusia itu gimana di dunia ini, sampe dia keliatannya sebenci itu sama


mereka.


Emang sih mereka aneh, kalo cuma ngeliat berdasarkan luar doang sih. Tapi kalo ngeliat sampe dalemnya, kayaknya malah bangsawan itu yang nggak layak disebut Manusia!


“…”


Eh, bentar…


Kok kayak pernah denger nama bangsawannya?


“Baiklah. Sepertinya anda ke desa ini hanya ingin membawa para tahanan selain Manusia saja.”


“Ya, memang itu tujuan saya.”


“Ba-Baiklah…! Jika seperti itu, saya mohon anda pergi dari desa ini, sebelum anda melukai warga desa lainnya!”


Si Kades itu ngomong sambil ngepal tangannya. Dia keliatannya lebih pilih tahanan-tahanan yang Non-Manusia dibawa daripada warganya kena lagi kayak anak cewek tadi.


“Hmm… Apa ini saja para tahanan selain Manusia yang pergi ke desa ini?”


“Ya. Sebenarnya ada yang lain, akan tetapi mereka telah melarikan diri beberapa hari sebelum kedatangan anda, Count Vertolio.”


“Hmm… Apa anda yakin?”


“Saya yakin!”


“Hmm… Saya hargai keyakinan anda, akan tetapi, Kepala Desa Flippus, saya mendengar kabar bahwa ada mahluk yang paling berbahaya di desa ini. Apakah mahluk itu sudah pergi?”


“Ma-Mahluk paling berbahaya? Maksud anda?”


“Tentu saja seorang Mistyx!”


Mistyx?!


Itu kan…


“Ga-Gawat, Djinn! Nyo—Styx sedang berada dalam bahaya!”


“Ya!”


Tapi…


Kok dia tau ada Styx di sini?!


“Hah?! Ada Klan Mistyx?!”


“Apa iya?!”


“Gawat! Ternyata ada Iblis di desa kita!”


Waduh! Kok warganya setakut itu sama Styx?!


“Apakah anda yakin bahwa sudah tiada mahluk lain di tempat ini, Kepala Desa Flippus?”


“Sa-Saya bersumpah, demi—”


“Bawa anak tadi!”


“Baik, Yang Mulia!”


Eh, eh, eh!


Maksudnya apaan—


“Ma-Mama!”


“Maya!”


“Tu-Tunggu! Apa maksud anda?! Tuan Vertilio?!”


“Dalam hitungan mundur, Mistyx itu harus sudah berada di hadapan saya!”


Wah, brengsek nih orang!


“Brengsek! Kalo gini ceritanya—”


“*Tap… (suara menepuk pundak)”


Hah? Meldek kenapa nahan gue?


“Se-Seperti yang anda bilang, Djinn. Pria itu adalah seorang bangsawan dan kita tidak bisa berbuat apa-apa!”


“I-Iya sih, tapi—”


“Lebih baik, izinkan saya untuk menghadang mereka!”


“Hah?! Lo gila kali, ya?! Emangnya lo mau ngapain—”


“Sejujurnya, sebelum Tuan Phistria wafat, beliau meminta saya untuk memastikan keamanan anda! Maka dari itu, lebih baik anda bersembunyi saja, Djinn!”


Sembunyi?!


Lo kira gue makin nggak gatel ngeliat orang kayak—


“Lima! Empat! Tiga!”


““…””


“Dua!”


““…””


“Sa—”


“*Shruk! Shruk! Shruk!  (suara tertusuk banyak pisau)”


““Agh!””


Eh?! Prajuritnya tiba-tiba ketusuk pisau?!


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


Tiba-tiba gue liat Styx yang lompat ke arah bangsawan itu bareng prajuritnya.