Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 133. Most Dangerous One



“Makanya itu, alesan gue bentuk


BBE tuh sebenernya cuma untuk hancurin transaksi dari Riorio Merchant aja.”


Gila juga nih orang!


Umur 9 tahun udah bunuh orang?!


Tapi gue masih nggak sangka,


ternyata Dahlia itu orang yang punya hubungan sama orang-orang yang penjarain


gue!


Cuma gue masih ngerasa aneh.


“Oi, Dal.”


“Hah? Dal—”


“Lo kenal yang namanya Phonso,


nggak?”


“Kenal, lah! Karena dia, makanya


gue jadi selalu gagal untuk ngerampas Riorio!”


Oh gitu ya.


Sekarang lebih masuk akal.


“Djinn, lo udah siap, belom?


Kakak gue udah kelamaan nungguin kita!”


Ah iya.


Kan kita lagi istirahat ya


sebelum masuk ke kastil, sebelum lawan suara itu!


Eh, ngomong-ngomong…


“Dal, lo nggak masalah cerita


blak-blakan gitu?”


“Hah? Kenapa emangnya?”


“Suara tadi kan bisa mantau kita.


Kalo lo cerita kayak gitu, bisa-bisa—”


“Pasti dia udah tau! Nggak perlu


gue tutup-tutupin lagi!”


Bener juga sih.


“Jawab gue! Lo pasti tau, kan?!”


“Fufufufu…tentu saja, Dalbert.


Akan tetapi aku terlalu meremehkanmu 10 tahun yang lalu. Seharusnya aku


langsung mengejarmu ke jurang dan membunuh—”


“Haaaaaah… Bawel! Kan lo ditanya


dia cuma tau atau nggak tau doang! Kenapa lo malah ngoceh?!”


“…”


Dia langsung diem, nggak komentar


apa-apa lagi.


“Woy, Dal.”


“Apaan?”


“Nggak usah diajak ngomong lagi.


Mending samperin aja, daripada dia ngoceh di dalem pikiran kita lagi.”


“Ya. Lo ada benernya juga.”


Yaudah. Nggak perlu buang waktu


lebih banyak lagi.


Mending kita cari tau siapa


dalang sebenernya.


“Lo udah siap kan, Dal?”


“Siap.”


“…”


Nggak, dia belom siap.


Gue bisa liat tangan dia


gemeteran.


Kalo gue sih sebenernya udah


siap.


Cuma nggak seratus persen siap.


“*Dugdug, dugdug, dugdug… (suara detak jantung)”


Nggak tau kenapa, perasaan gue


nggak enak banget untuk masuk ke dalem kastil ini.


Walaupun nggak seratus persen,


mau nggak mau gue harus hadapin orang ini, kan?


“Ayo kita masuk.”


“Ya.”


……………


Kita masuk ke dalem.


Tapi yang pertama kali kita liat…


“Kok…ada mayat di tempat ini?”


…ternyata mayat.


“Djinn, keliatannya lo kenal


orang ini?”


“Ya, gue kenal.”


Gimana gue nggak kenal?!


Nih orang yang hampir bunuh


mantan rekannya, yang kebetulan jadi Kapten gue!


Padahal gue nunggu waktu untuk


tampol orang ini gara-gara terlalu songong!


“…”


Loh, loh, loh! Nih orang ngapain


mayat orang?!


“Woy! Lo ngapain?!”


“Ngejarah. Sayang


barang-barangnya kalo dibiarin gitu aja.”


Dih! Nggak beres nih orang!


“Hmph! Dasar bandit!”


“Haaaah?! Apa lo bilang?!


Seenggaknya gue lebih berguna untuk penduduk desa, daripada kalian Petualang


cuma jalan-jalan doang!”


“Apa lo bilang?! Seenggak kerjaan


Petualang lebih—”


“Ahahaha! Aku sudah menduga bahwa aliansi antara Petualang dan bandit


tidak akan—”


““BAWEL!!!””


Muncul lagi tuh suara tiba-tiba!


Tapi daripada suara itu…


“Lo ngapain ngikut-ngikut omongan


gue, brengsek?!”


“Haaaaah?! Lo yang ngikut-ngikut,


bego!”


Ujung-ujungnya kita jalan sambil


debat kayak anak kecil.


Sambil kita jalan, kita juga liat


beberapa mayat dari rekan-rekannya temen lama Myllo.


Anehnya, gue nggak ngeliat


temennya yang belagu waktu itu.


Padahal sebenernya dia yang


paling gue incer!


……………


Sekarang, kita ada di depan Ruang


Singgasana.


“Cepat, cepat, cepat! Kalian pikir waktuku hanya untuk menunggu kalian


saja?!”


Bahkan kedengeran teriakan orang


itu dari balik ruangan ini.


“Lo siap, kan?”


“Ya.”


Akhirnya kita masukin ruangan


ini.


Waktu kita masuk…


“…”


…gue bisa liat raja yang dirantai


kursi singgasananya.


“Kakak…”


“Da…Da…Dalbert!”


Selain raja itu, ada Dahlia yang


duduk di tangga ke arah kursi singgasana itu.


Terus orangnya itu dari ma—


“Djinn, belakang!”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


Brengsek nih orang!


kita?!


Untung aja gue reflek ngehindarin


serangan dia!


“…”


“*Bracelet Armament: Sniper!”


Gue sama Dalbert langsung


siap-siap untuk antisipasi serangan orang ini.


“Ups, ups, ups! Tenang, tenang, tenang! Kalian


tidak perlu berjaga-jaga seperti itu, karena aku yakin kalian bisa menghindari


serangan asalku tadi.”


“…”


Ini ya orangnya, dalang di balik


semua kejadian ini?!


“Oh, ternyata lo ya yang bunuh


ayah gue, Maverick Orbloom!”


Dia yang bunuh ayahnya?!


“Nggak gue sangka, Kaki Tangan


Raja yang jadi pelanggan tetap ayah ternyata pembunuhnya!”


Oh! Orang ini asistennya raja?!


Kasian juga raja ini karena


dijebak asistennya sendiri!


“Ah, ah, ah. Jangan kau membahas


masa lalu di depanku, Dalbert. Jika kau datang hanya untuk membahas momen di


mana aku membunuh ayahmu yang tidak berguna, lebih baik…hush, hush, hush! Pergi


sana.”


Gila nih orang! Berani banget


ngomong kayak—


“Tu…Tuan Orbloom? Apa yang Tuan


bicarain sama adik saya?”


Dahlia, yang 10 tahun dikontrol


dia, bahkan nggak tau kejadian itu?!


“Orbloom! Apakah itu benar?!


Tidak saya sangka anda telah membunuh salah satu orang baik yang saya kenal


baik!”


“Ngomong ke depan saya! Apa yang


anda bilang tadi itu benar?!”


“…”


Dia diem a—


“Memang benar. Apakah kalian


tidak tahu?”


““!!!””


“Oh iya. Aku lupa bahwa


seharusnya aku merahasiakan kejadian itu depanmu, Dahlia. Tapi sepertinya sudah


telat semenjak adikmu membeberkan kejadian tadi, jadi alangkah baiknya aku klarifikasi


saja kebenaran itu.”


Gila!


Dia seenaknya ngomong kayak gitu


pake gaya nyentriknya!


“Dengar ini, ya. Ayahmu yang


SAAAAAANGAT BODOH itu menolak perluasan bisnis yang kutawarkan kepadanya.


Padahal ia hanya perlu berkata YA, maka bisnisnya meluas secara global dan aku


bisa mendapatkan apa yang kumau.”


““…””


“Sayangnya, ia hanya mengikuti


otak dengkulnya saja. Maka aku terpaksa untuk mematikan jantungnya. Tapi,


untung saja kau masih sangat muda dan lugu, maka aku bisa mengontrol Riorio


Merchant secara tidak langsung.”


Brengsek nih orang! Bisa


seenaknya dia ngomong kayak gitu!


Huh, tenang Djinn. Tenang.


Mereka nggak ada sangkut pautnya


sama lo.


“Hiks…Hiks… Ayah…”


“Orbloom! Keterlaluan! Tidak


kusangka orang yang kuanggap teman mati sia-sia seperti—”


“Hey! Hey! Siapa yang menyuruhmu berbicara!


Sshh, ssshh, sshhh!”


“Or…bloom…”


Eh?! Raja itu dibuat mati—


“Tenang, tenang, tenang.


Glennhard belum mati. Aku masih membutuhkannya—”


“Ba…Balikin ayah saya! Gara-gara


anda, bahkan adik saya Dalton nggak kenal siapa ayah sa—”


“*Phak! (suara tamparan)”


“Oh! Maafkan aku, Dahlia! Aku


terkejut bahwa budak sepertimu


bisa—”


“Jauhin tangan lo dari kakak


gue!”


Eh, jangan—


“*Dor! (suara tembakan senapan


jitu)”


“*Tap! (suara menangkap peluru)”


Buset! Peluru bisa ditangkep


begitu aja sama orang ini?!


“Hraaagh!”


“Dal! Tunggu!”


Aduh! Dia main maju a—


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“*Shruk! (suara tusukan tangan)”


“DALBERT!”


Tuh kan! Dia main jalan aja sih!


Tapi nggak disangka, orang yang


namanya Maverick ini gerakannya cepet banget!


Bahkan tanpa senjata pun, dia


bisa nusuk Dalbert gitu aja!


“Hey, Manusia.”


“Uhok, uhok!”


“Kau kira aku semudah itu bisa


dikalahkan dengan senjata Dwarf murahan seperti itu?”


“Breng…Brengsek—”


“Ya, ya, ya. Pergi lah sana.


Urusanku dengan bandit sepertimu sudah selesai.”


“*Swush! (suara Dalbert


terlempar)”


“DALBEEEE—”


“Tidurlah, Dahlia. Aku ada urusan


denganmu nanti.”


“…”


Cih.


Ujung-ujungnya gue sendirian,


ya?


“Ah, akhirnya hanya kita saja


yang tersisa. Uhm…sebaiknya kau kupanggil apa, jika boleh tahu? Pria Terjanji?


Atau Djinnardio Vamulran? Atau…apa namamu dari dunia seberang?”


Dia manggil gue dari dunia


seberang, tapi gue nggak terlalu kaget, sih.


Buktinya dia pun tau kalo gue


disebut Pria Terjanji.


Walaupun penampilannya biasa aja,


gue yakin kalo orang ini jauh lebih


bahaya daripada Tarzyn.


Mungkin nggak ya gue selamat


berhadapan sama dia?