
“Makanya itu, alesan gue bentuk
BBE tuh sebenernya cuma untuk hancurin transaksi dari Riorio Merchant aja.”
Gila juga nih orang!
Umur 9 tahun udah bunuh orang?!
Tapi gue masih nggak sangka,
ternyata Dahlia itu orang yang punya hubungan sama orang-orang yang penjarain
gue!
Cuma gue masih ngerasa aneh.
“Oi, Dal.”
“Hah? Dal—”
“Lo kenal yang namanya Phonso,
nggak?”
“Kenal, lah! Karena dia, makanya
gue jadi selalu gagal untuk ngerampas Riorio!”
Oh gitu ya.
Sekarang lebih masuk akal.
“Djinn, lo udah siap, belom?
Kakak gue udah kelamaan nungguin kita!”
Ah iya.
Kan kita lagi istirahat ya
sebelum masuk ke kastil, sebelum lawan suara itu!
Eh, ngomong-ngomong…
“Dal, lo nggak masalah cerita
blak-blakan gitu?”
“Hah? Kenapa emangnya?”
“Suara tadi kan bisa mantau kita.
Kalo lo cerita kayak gitu, bisa-bisa—”
“Pasti dia udah tau! Nggak perlu
gue tutup-tutupin lagi!”
Bener juga sih.
“Jawab gue! Lo pasti tau, kan?!”
“Fufufufu…tentu saja, Dalbert.
Akan tetapi aku terlalu meremehkanmu 10 tahun yang lalu. Seharusnya aku
langsung mengejarmu ke jurang dan membunuh—”
“Haaaaaah… Bawel! Kan lo ditanya
dia cuma tau atau nggak tau doang! Kenapa lo malah ngoceh?!”
“…”
Dia langsung diem, nggak komentar
apa-apa lagi.
“Woy, Dal.”
“Apaan?”
“Nggak usah diajak ngomong lagi.
Mending samperin aja, daripada dia ngoceh di dalem pikiran kita lagi.”
“Ya. Lo ada benernya juga.”
Yaudah. Nggak perlu buang waktu
lebih banyak lagi.
Mending kita cari tau siapa
dalang sebenernya.
“Lo udah siap kan, Dal?”
“Siap.”
“…”
Nggak, dia belom siap.
Gue bisa liat tangan dia
gemeteran.
Kalo gue sih sebenernya udah
siap.
Cuma nggak seratus persen siap.
“*Dugdug, dugdug, dugdug… (suara detak jantung)”
Nggak tau kenapa, perasaan gue
nggak enak banget untuk masuk ke dalem kastil ini.
Walaupun nggak seratus persen,
mau nggak mau gue harus hadapin orang ini, kan?
“Ayo kita masuk.”
“Ya.”
……………
Kita masuk ke dalem.
Tapi yang pertama kali kita liat…
“Kok…ada mayat di tempat ini?”
…ternyata mayat.
“Djinn, keliatannya lo kenal
orang ini?”
“Ya, gue kenal.”
Gimana gue nggak kenal?!
Nih orang yang hampir bunuh
mantan rekannya, yang kebetulan jadi Kapten gue!
Padahal gue nunggu waktu untuk
tampol orang ini gara-gara terlalu songong!
“…”
Loh, loh, loh! Nih orang ngapain
mayat orang?!
“Woy! Lo ngapain?!”
“Ngejarah. Sayang
barang-barangnya kalo dibiarin gitu aja.”
Dih! Nggak beres nih orang!
“Hmph! Dasar bandit!”
“Haaaah?! Apa lo bilang?!
Seenggaknya gue lebih berguna untuk penduduk desa, daripada kalian Petualang
cuma jalan-jalan doang!”
“Apa lo bilang?! Seenggak kerjaan
Petualang lebih—”
“Ahahaha! Aku sudah menduga bahwa aliansi antara Petualang dan bandit
tidak akan—”
““BAWEL!!!””
Muncul lagi tuh suara tiba-tiba!
Tapi daripada suara itu…
“Lo ngapain ngikut-ngikut omongan
gue, brengsek?!”
“Haaaaah?! Lo yang ngikut-ngikut,
bego!”
Ujung-ujungnya kita jalan sambil
debat kayak anak kecil.
Sambil kita jalan, kita juga liat
beberapa mayat dari rekan-rekannya temen lama Myllo.
Anehnya, gue nggak ngeliat
temennya yang belagu waktu itu.
Padahal sebenernya dia yang
paling gue incer!
……………
Sekarang, kita ada di depan Ruang
Singgasana.
“Cepat, cepat, cepat! Kalian pikir waktuku hanya untuk menunggu kalian
saja?!”
Bahkan kedengeran teriakan orang
itu dari balik ruangan ini.
“Lo siap, kan?”
“Ya.”
Akhirnya kita masukin ruangan
ini.
Waktu kita masuk…
“…”
…gue bisa liat raja yang dirantai
kursi singgasananya.
“Kakak…”
“Da…Da…Dalbert!”
Selain raja itu, ada Dahlia yang
duduk di tangga ke arah kursi singgasana itu.
Terus orangnya itu dari ma—
“Djinn, belakang!”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
Brengsek nih orang!
kita?!
Untung aja gue reflek ngehindarin
serangan dia!
“…”
“*Bracelet Armament: Sniper!”
Gue sama Dalbert langsung
siap-siap untuk antisipasi serangan orang ini.
“Ups, ups, ups! Tenang, tenang, tenang! Kalian
tidak perlu berjaga-jaga seperti itu, karena aku yakin kalian bisa menghindari
serangan asalku tadi.”
“…”
Ini ya orangnya, dalang di balik
semua kejadian ini?!
“Oh, ternyata lo ya yang bunuh
ayah gue, Maverick Orbloom!”
Dia yang bunuh ayahnya?!
“Nggak gue sangka, Kaki Tangan
Raja yang jadi pelanggan tetap ayah ternyata pembunuhnya!”
Oh! Orang ini asistennya raja?!
Kasian juga raja ini karena
dijebak asistennya sendiri!
“Ah, ah, ah. Jangan kau membahas
masa lalu di depanku, Dalbert. Jika kau datang hanya untuk membahas momen di
mana aku membunuh ayahmu yang tidak berguna, lebih baik…hush, hush, hush! Pergi
sana.”
Gila nih orang! Berani banget
ngomong kayak—
“Tu…Tuan Orbloom? Apa yang Tuan
bicarain sama adik saya?”
Dahlia, yang 10 tahun dikontrol
dia, bahkan nggak tau kejadian itu?!
“Orbloom! Apakah itu benar?!
Tidak saya sangka anda telah membunuh salah satu orang baik yang saya kenal
baik!”
“Ngomong ke depan saya! Apa yang
anda bilang tadi itu benar?!”
“…”
Dia diem a—
“Memang benar. Apakah kalian
tidak tahu?”
““!!!””
“Oh iya. Aku lupa bahwa
seharusnya aku merahasiakan kejadian itu depanmu, Dahlia. Tapi sepertinya sudah
telat semenjak adikmu membeberkan kejadian tadi, jadi alangkah baiknya aku klarifikasi
saja kebenaran itu.”
Gila!
Dia seenaknya ngomong kayak gitu
pake gaya nyentriknya!
“Dengar ini, ya. Ayahmu yang
SAAAAAANGAT BODOH itu menolak perluasan bisnis yang kutawarkan kepadanya.
Padahal ia hanya perlu berkata YA, maka bisnisnya meluas secara global dan aku
bisa mendapatkan apa yang kumau.”
““…””
“Sayangnya, ia hanya mengikuti
otak dengkulnya saja. Maka aku terpaksa untuk mematikan jantungnya. Tapi,
untung saja kau masih sangat muda dan lugu, maka aku bisa mengontrol Riorio
Merchant secara tidak langsung.”
Brengsek nih orang! Bisa
seenaknya dia ngomong kayak gitu!
Huh, tenang Djinn. Tenang.
Mereka nggak ada sangkut pautnya
sama lo.
“Hiks…Hiks… Ayah…”
“Orbloom! Keterlaluan! Tidak
kusangka orang yang kuanggap teman mati sia-sia seperti—”
“Hey! Hey! Siapa yang menyuruhmu berbicara!
Sshh, ssshh, sshhh!”
“Or…bloom…”
Eh?! Raja itu dibuat mati—
“Tenang, tenang, tenang.
Glennhard belum mati. Aku masih membutuhkannya—”
“Ba…Balikin ayah saya! Gara-gara
anda, bahkan adik saya Dalton nggak kenal siapa ayah sa—”
“*Phak! (suara tamparan)”
“Oh! Maafkan aku, Dahlia! Aku
terkejut bahwa budak sepertimu
bisa—”
“Jauhin tangan lo dari kakak
gue!”
Eh, jangan—
“*Dor! (suara tembakan senapan
jitu)”
“*Tap! (suara menangkap peluru)”
Buset! Peluru bisa ditangkep
begitu aja sama orang ini?!
“Hraaagh!”
“Dal! Tunggu!”
Aduh! Dia main maju a—
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“*Shruk! (suara tusukan tangan)”
“DALBERT!”
Tuh kan! Dia main jalan aja sih!
Tapi nggak disangka, orang yang
namanya Maverick ini gerakannya cepet banget!
Bahkan tanpa senjata pun, dia
bisa nusuk Dalbert gitu aja!
“Hey, Manusia.”
“Uhok, uhok!”
“Kau kira aku semudah itu bisa
dikalahkan dengan senjata Dwarf murahan seperti itu?”
“Breng…Brengsek—”
“Ya, ya, ya. Pergi lah sana.
Urusanku dengan bandit sepertimu sudah selesai.”
“*Swush! (suara Dalbert
terlempar)”
“DALBEEEE—”
“Tidurlah, Dahlia. Aku ada urusan
denganmu nanti.”
“…”
Cih.
Ujung-ujungnya gue sendirian,
ya?
“Ah, akhirnya hanya kita saja
yang tersisa. Uhm…sebaiknya kau kupanggil apa, jika boleh tahu? Pria Terjanji?
Atau Djinnardio Vamulran? Atau…apa namamu dari dunia seberang?”
Dia manggil gue dari dunia
seberang, tapi gue nggak terlalu kaget, sih.
Buktinya dia pun tau kalo gue
disebut Pria Terjanji.
Walaupun penampilannya biasa aja,
gue yakin kalo orang ini jauh lebih
bahaya daripada Tarzyn.
Mungkin nggak ya gue selamat
berhadapan sama dia?