Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 405. Another World Traversal



“Pria Terjanji! Bangunlah!”


“…”


G-Gue… ketiduran…?


Tunggu. Dibanding ketiduran, gue ngerasa kayak pingsan!


“A-Ayasaki. Kok gue tiba-tiba pingsan…?”


“Justru aku yang seharusnya bertanya kepadamu! Mengapa dirimu tiba-tiba tidak sadarkan diri?!”


Dia juga nggak tau ya?


“Udah berapa lama gue nggak sadar?”


“Hmm… sepertinya kau tidak sadarkan diri selama kurang dari satu hari. Namun ada yang mengkhawatirkan ketika kau tidak sadarkan diri.”


“M-Maksudnya…?”


“Sebelumnya, kau duduk dengan tenang. Kemudian kau menarik napas sedalam-dalamnya, tanpa kau


keluarkan. Setelah itu… kau berhenti bernafas dan tidak sadarkan diri, dengan matamu yang terbuka.”


Hah…?


“Aku hendak membangunkanmu. Tetapi matamu terlihat sangatlah unik, dengan corak di sekitar pupilmu. Seakan kau sedang menggunakan kekuatan yang baru saja kau dapatkan di dalam ruangan ini.”


Oh ya. Sekarang gue baru inget.


Gue baru aja pake kekuatan baru gue.


“Apa yang telah terjadi kepadamu? Mengapa kau—”


“M-Mungkin lo nggak akan percaya ini, Ayasaki.”


“Hm? Terangkanlah kepadaku.”


“Gue ngerasa… kayak pergi ke dunia lain!”


“A-Apa maksudmu…?”


“Ya yang kayak gue bilang! Waktu gue tarik napas sedalem-dalemnya, gue pergi ke dunia lain, di mana nggak ada Mana atau mahluk-mahluk asing kayak di dunia ini!”


“A-Apa?!”


Asli! Gue nggak bohong!


“B-Bagaimana mungkin…?!”


“Gue juga nggak tau. Tiba-tiba—”


“Tunggu. Sepertinya hal itu sangatlah mungkin bagimu.”


“M-Mungkin buat gue? Kok bisa?”


“Tentu saja. Mungkin aku bukanlah seorang Sage seperti Satoshi. Tetapi aku yakin, bahwa kekuatan yang kau dapatkan di tempat ini adalah Kekuatan Ruang.”


Kekuatan Ruang…?


Oh iya, bener juga.


Kan “gue” itu Penguasa Ruang dan Waktu.


Kalo Mata sama Telinga gue itu punya Kekuatan Waktu, berarti Hidung gue, yang baru gue dapetin ini, punya


Kekuatan Ruang.


Pantes aja gue bisa pergi ke luar dunia ini.


“B-Bagaimana kau bisa menggunakan Kekuatan Ruang, Pria Terjanji?”


Hmm…


Gimana ya cara jelasinnya?


“…”


Akhirnya gue jelasin dari awal banget, waktu gue denger Suara Alam yang mohon-mohon ke gue.


……………


“…”


Waktu gue bangun, gue denger Suara Alam yang banyak banget, yang mohon-mohon ke gue.


Abis itu, gue sadar kalo gue bangun di pangkuan Ayasaki.


“Apakah kau sudah mendapatkan kekuatanmu kembali, Pria Terjanji?”


“Hmm. Dibanding dapet balik kekuatan gue, lebih tepatnya gue dapet kekuatan baru sih. Mungkin karena kekuatan gue sebelumnya masih disegel di sini.”


“…”


Gue keluarin Wavebringer yang gue simpen di Fratta Pouch gue.


“Wavebringer, kah? Berarti masih ada kekuatanmu yang ada di dalam senjata milik Syllia.”


“Ya. Waktu itu kekuatan gue disegel banyak orang, termasuk Delolliah, adeknya Syllia.”


“Delolliah-chan? Ah, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.”


“Ya iyalah. Kan kalian udah pisah selama ribuan tahun.”


“Aku juga tahu akan itu, Pria Terjanji. Tetapi, bagaimana keadaan adik-adik dari Syllia?”


“…”


Gue nggak langsung jawab. Karena gue mikir kalo Ayasaki itu deket sama adek-adeknya Syllia. Makanya gue agak ragu untuk jawab.


“Pria Terjanji—”


“Mungkin… lo nggak mau denger ini sih. Tapi kalo lo mau tau, biar gue ceritain.”


“…”


Ayasaki nyimak cerita gue.


Gue ceritain ke dia dari awal ketemu Delolliah di Geoterra. Terus gue ceritain ke dia tentang masa lalu


Delolliah yang gue liat seratus tahun yang lalu.


“Euphonia… mati terbunuh…?”


“Ya. Dia dibunuh sama Kaum Fratta yang ikut sekte penyembah Iblis[1].”


Mungkin gue cerita kayak gitu. Tapi gue sampe sekarang masih nggak percaya, kalo Kaum Fratta itu masih hidup


sampe waktu itu.


“…”


Abis itu gue ceritain juga tentang kondisi mereka sekarang, di mana Delolliah ikutin Jennania untuk jadi Petualang bareng Lepus Party. Sedangkan Nemesia ada di Gazomatron, untuk kerja dibawah pimpinan Ular Brengsek itu[2].


“Tentu saja Nemesia tidak akan ikut keluar dari negara tersebut, bahkan jika ia tidak ditawarkan posisi tersebut.”


“Emangnya kenapa?”


“Nemesia itu adalah wanita yang sangatlah dengki terhadap kedua kakaknya. Bahkan jika kuingat kembali, ia benar-benar marah kepada Syllia, ketika kami mengunjungi Laguna Empire. Tetapi aku yakin jika ia lebih peduli terhadap seluruh Siren lainnya, bahkan dibandingkan Syllia.”


Kalo itu sih gue juga setuju.


Karena Delolliah cerita, kalo Nemesia tetep di Gazomatron demi Siren lainnya. Cuma gue nggak setuju aja kalo dia harus loyal ke Snake.


“Tetapi berbeda halnya dengan Euphonia, Delolliah, dan Jennania.”


“Beda? Emangnya apa bedanya?”


“Euphonia mungkin sama pedulinya dengan Siren lainnya. Tetapi tidak seperti Nemesia, ia tidak ada maksud memimpin mereka. Sementara Delolliah sangat menghormati dua kakaknya yang paling tua. Mungkin itulah yang menjadi motivasi baginya untuk menjadi seorang Petualang. Sedangkan Jennania adalah wanita yang penyendiri. Ia hanya berharap agar ada seseorang yang mau membawanya keluar dari Laguna Empire.”


Walaupun gue udah nggak ketemu mereka berdua lagi, ternyata ada beberapa hal yang nggak gue tau tentang


mereka.


“Andai aku bisa bertemu dengan mereka semua, khususnya sahabat-sahabatku.”


“…”


Gue denger bisikan Ayasaki, yang ngomong ngumpet-ngumpet.


Begonya…


“T-Tadi lo ngomong apa…?”


…gue malah tanya ke dia.


Bahkan sampe sekarang pun gue masih nyesel.


“Tidak. Lupakan saja yang aku katakan tadi.”


“L-Lupain a—”


“Ah, sepertinya aku telah sangat banyak menyita waktumu, Pria Terjanji. Alangkah baiknya jika engkau memastikan kekuatan yang engkau dapatkan kembali.”


“Yaudah gue coba dulu.”


Mungkin gue ngomong kayak gitu ke dia.


Tapi sebenernya…


“Maafkan kami, Yang Mulia!”


“Ampuni kami, Yang Mulia!”


…gue masih denger suara bisikan Suara Alam di kuping gue.


Tapi karena kata-kata Ayasaki, gue pun mau coba kekuatan gue.


((Judgement))


Ya. Itu kekuatan petir gue, yang sebelumnya sering gue pake.


Karena gue pake ((Judgement)), tiba-tiba Suara Alam yang gue denger ini berubah sikap.


“Anda telah menggunakan Kekuatan Alam Anda, Yang Mulia!”


“Gunakanlah Kekuatan Indera yang baru saja Anda dapatkan, Yang Mulia!”


“Hiruplah Aroma dari Kitsune yang ada di hadapan Anda, Yang Mulia!”


“…”


Karena gue diminta untuk ngelakuin apa yang dibilang Suara Alam gue, mau nggak mau gue endus Ayasaki


dari jarak yang sewajarnya.


“*Sniff, sniff…”


“!!!”


Waktu gue endus Ayasaki, gue kaget banget.


Aroma Ayasaki itu… gimana ya deskripsiinnya?


Ibarat pohon yang tumbuh subur di tengah-tengah tanah yang kering, mungkin?


“Itu adalah Aroma yang Anda rasakan dari Kitsune itu, Yang Mulia!”


“Ingatlah baik-baik Aroma dari semua orang yang pernah Anda temui, Yang Mulia!”


“Termasuk Aroma dari mereka yang Anda temui di masa lalu, Yang Mulia!”


“…”


Gue ikutin lagi apa yang dibilang Suara Alam gue.


Masalahnya, semua orang yang gue hirup itu punya Aroma yang beda-beda.


Makanya gue cuma bisa rasain Aroma dari temen-temen gue sama beberapa orang yang pernah gue temuinnya sebelumnya. Mau gue temuin langsung atau dari siaran yang gue liat di Chamber of Ancient Armament.


Karena ngelakuin itu…


“Duh…!”


…kepala gue jadi pusing banget.


“Maafkan kami jika kami terdengar seperi memaksa, Yang Mulia!”


“Kami tidak bermaksud membebani pikiran Anda, Yang Mulia!”


Gue nggak ada maksud untuk salahin mereka. Lagian nggak ada salahnya untuk coba kekuatan gue ini.


“A-Apa yang kau lakukan, Pria Terjanji? Entah mengapa… aku merasa risih denganmu yang mengendus-endus seperti itu…”


“…”


Denger yang kayak gitu, baru gue kesel.


“Gua cuma coba kekuatan gue! Lagian ngapain juga gue ngendus-ngendus kayak tadi, kalo bukan karena kekuatan ini?!”


“O-Oh, seperti itu kah. Maafkan aku yang mengambil kesimpulan terlalu dini.”


“…”


Gue nggak terlalu mikirin apa yang Ayasaki bilang, karena gue lagi fokus untuk coba semua keunikan dari kekuatan ini.


“Dengan kekuatan yang Anda dapatkan ini, Anda bisa pergi ke dunia lain, Yang Mulia!”


 “!!!”


Dari situ gue baru tau kekuatan gue.


“Duduklah, Yang Mulia!”


“Anda harus menenangkan pikiran Anda untuk menggunakan kekuatan baru Anda!”


“…”


Karena diarahin kayak gitu, gue pun duduk bersila.


“Pejamkan mata Anda, Yang Mulia!”


“Setelah itu, tarik nafas sedalam-dalamnya, Yang Mulia!”


“…”


Gue tarik nafas panjang-panjang.


“Ketika Anda membuka mata…”


“!!!”


“…Anda telah menapakkan kaki Anda di dunia lain, Yang Mulia!”


Ya.


Waktu gue buka mata, tiba-tiba gue ada di atas pegunungan.


“…”


Gue jadi hantu. Persis banget kayak nontonin siaran di Chamber of Ancient Armament.


Anehnya, gue nggak bisa bergerak sama sekali.


Nggak kayak liat siaran lainnya, kalo gue lagi pingsan.


Masalahnya, di atas gunung itu…


“*Boom!”


““Uaaargh!””


““*Chring, chring, chring…””


…gue ada di tengah-tengah peperangan.


“…”


Perangnya antar Manusia. Gue nggak liat ada mahluk-mahluk aneh kayak di Geoterra.


Tapi dari antara semua orang, ada satu orang yang menarik perhatian gue banget.


{Heavenly Demonic Dance}


“…”


Ada puluhan orang yang mau serang dia. Tapi gerakan dia mulus banget untuk hindarin serangan mereka semua.


{Feast of The Demon Lord}


“*Shrak, shrak, shrak…”


 “…”


Mungkin gerakannya pelan. Tapi dia bisa penggal semua lawan di depannya pake pedangnya.


Tapi dari antara semua serangannya, ada satu hal yang bikin gue terpaku ke orang ini.


{Heaven Slaying Sword}


“*Swush, swush, swush…”


“*Shrak, shrak, shrak…”


“…”


Dia bisa bela diri.


Uniknya, ada semacam lapisan energi gitu dari tangan sampe sikutnya.


Tambah lagi, tangan dia itu terbuka, bukan dikepal. Makanya tangannya jadi mirip semacam pedang yang punya energi gitu.


“Akhirnya kau menampakkan dirimu, Cheon-Ma!”


“Kami, Kepala Sekte dari Organisasi Keadlian, akan menghentikan peperangan ini dengan membunuhmu di sini juga, beserta Sekte Ming yang kau pimpin!”


“…”


Mereka yang dateng itu disebut Kepala Sekte dari Organisasi Keadilan, atau yang disebut Aliansi Murim. Mereka yang pimpin perang ini.


Sedangkan orang yang gue perhatiin ini lawan mereka.


Dari yang bisa gue simpulin di dunia lain ini, dia itu…


“Hmph! Aku telah menunggu kalian, Para Kepala Aliansi Murim! Kalian tidak akan bisa pergi melarikan dariku!


Karena aku, Cheon Song Won, Sang Cheon-Ma, akan menghancurkan kalian beserta sekte kalian!”


…Cheon Song Won, yang punya julukan Heavenly Demon atau Cheon-Ma. Ternyata dia itu Kepala Sekte Ming, atau Sekte Iblis.


Mungkin nama “Iblis” di dunia ini tuh bukan Iblis kayak di dunia lama gue atau Geoterra…?


Tapi ngeliat perang di dunia ini, gue jadi inget kata-kata Pak Jaya, waktu gue masih kecil.


[3]“Dunia itu ada baaaanyak banget macamnya! Ada dunia yang punya sihir, ada dunia yang isinya pendekar bela diri semua, bahkan ada juga dunia yang isinya laut aja! Pokoknya ada banyak banget deh segala jenis dunia!”


Nggak salah lagi! Bisa jadi, dunia itu salah satu dunia yang dibilang Pak Jaya ke gue!


_______________


[1]Kaswar Ramsias, Kaum Fratta yang membunuh Euphonia, ketika ia menjalankan Quest Joint Party bersama Dox dan Phoenix Party (Chapter 231). Saat itu Dox sedang menjalin asmara dengan Euphonia (Chapter 175).


[2]Nemesia bekerja sebagai Menteri di Brichaudry Point di Gazomatron Federation. Negara yang dipimpin oleh Snake sebagai Presiden (Chapter 273).


[3]Dialog dari Pak Jaya, ketika Djinn menyaksikan masa lalunya sebagai Dwi Lukman, yang sedang berbincang bersama Pak Jaya.