Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 69. Final Word



Waktu udah pagi…


“Semuanya bangun!”


“Hoaaaam…”


“Zzzz…”


“Hmm…udah pagi ya?”


“Satu jam dari sekarang, kita lanjutin perjalanan kita


ke Marklett!”


…semuanya langsung pada siap-siap waktu denger


perintahnya Erkstern.


Kelar siap-siap, kita langsung berangkat lagi ke


Marklett.


Awalnya gue kira kita nyampe sana bisa sampe sore.


Ternyata kita sampe sini siang-siang.


Tapi sebelum kita sampe kota itu, ada beberapa orang


yang ada di tengah jalan yang cegat kita.


“Selamat siang. Kami adalah pasukan yang berada di


bawah kepemimpinan Marquis Verde. Anda semua dilarang masuk!”


“Kita semua ini Petualang, yang ngerjain Quest dari


Walikota Riverfall.”


“Oh, maafkan kami Tuan dan Nyonya Petualang sekalian.


Silakan lewati jalan ini.”


Oalah, ternyata personilnya bangsawan, ya. Tapi dari


jabatannya, kayak bangsawan itu jabatannya nggak lebih tinggi daripada Bismont.


Untuk ke Marklett, kita harus lewatin tanjakan dulu.


Makanya itu, kita bisa liat dari Marklett dari atas.


Masalahnya, waktu kita liat dari atas.


“Su…Su..Sumpah… Ini Marklett, salah satu kota di


Erviga?!”


“Apa benar ada seekor Naga yang menyerang kota itu?!”


“…”


Kotanya bener-bener gosong.


Dari jauh pun, bisa keliatan jelas bekas bakaran di


dinding kota itu.


“Sa…Saya masih tidak percaya akan hal ini, Kapten…”


“Ya. Lo masih terlalu muda, Urlant. Andai lo udah hidup


ratusan tahun yang lalu, mungkin lo masih bisa ngeliat betapa ngerinya Dragon


King itu, ratusan tahun yang lalu.”


“Dra…Dragon King?! Apakah ada mahluk yang lebih


mengerikan dari seekor Naga?!”


“Ya, Mahluk itu nyata. Keluarga gue dibunuh sama Naga


yang dipimpin Dragon King di depan mata gue, 217 tahun yang lalu!”


Hah?! Artinya dia udah lebih dari 200 tahun dong


umurnya?!


“Pantes aja lo kesel waktu Guildmaster itu ngomong


kayak gitu.”


“Lo bener, Maha.”


Oh ternyata itu yang bikin dia kesel, ya?


Tapi—


“Kita bagi grup jadi 4!”


“Bagi grup jadi 4?”


“Ya. Gue mau ada yang investigasi bagian Selatan,


Barat, Utara, sama Timur supaya investigasi ini lebih cepet.”


Akhirnya kita dibagi jadi 4 grup.


Untuk Grup Selatan, ada Erkstern, Yorech, Tylor, sama


Pipippa.


“Yorech, kita satu grup-nginggg…!”


“Ya, ya, ya…”


“Se…Semoga saya tidak menyusahkan.”


Grup Barat ada Myllo, Morri, Urlant, sama Royce. Tapi


sempet ada masalah gara-gara Si Dongo ini berulah.


“HAAAAAAAAHHH?! Kok bukan gue yang mimpin?!”


“Morri lebih keliatan kualitasnya daripada lo?!”


“Emang lo pikir lo ada kualitasnya?! Liat aja sampe gue


punya anggota! Gue buktiin Party gue lebih ada kualitasnya dibanding lo!”


Cuma perkara mimpin grup, Si Dongo berulah.


Grup Utara ada Gia, Si Boncel (Bedrock), Zorlyan, sama


Shawn. Bedrock yang ditunjuk untuk mimpin grup ini.


“Semoga kita bisa saling kerja sama, ya!”


“Hm!”


“Ya, Gia.”


“…cih, nggak usah


sok asik bersahabat deh sama gue…”


Dan terakhir, Grup Timur, isinya ada gue, Maha, Harrit,


sama Winona.


Awalnya gue yang ditunjuk untuk mimpin, tapi…


“Nggak. Mending dia aja.”


“Oh gitu? Hmph! Kirain lo punya nyali untuk mimpin!


Percuma punya Union serem kayak gitu kalo cuma bisa jadi ekor doang!”


***** lo! Gue karena nggak enak aja sama Myllo yang


nggak dipercaya buat mimpin!


Ya kali aja gue bisa mimpin grup, tapi Kapten gue


sendiri nggak!


“Yaudah. Maha, gue mau lo pimpin grup ini.”


“Cih! Jadi gue deh yang mimpin!”


Bahkan Maha pun keliatannya nggak mau mimpin…


Sebelum berangkat, Erkstern ngasih Orb Call ke masing-masing


ketua grup untuk ngasih info soal apa yang mereka temuin.


Kita akhirnya mulai gerak ke dalem wilayah di Marklett


sesuai bagiannya masing-masing.


Di kota ini, udah banyak banget yang hancur.


Mulai dari bangunan-bangunan yang mulai runtuh, beberapa


barang yang udah jadi abu karena kebakar, bahkan…


“*Sniff, sniff… (suara mengendus)”


“Bau apa i—”


“Mayat.”


“Ya ampun…”


…ada mayat yang nggak keurus.


Ternyata begini ya bau mayat yang mati kebakar


berhari-hari…


“Ketua grup. Apa


aja yang udah kalian temuin?”


“Cuma sisa-sisa


bangunan yang udah hancur sama beberapa korban.”


“Bagian Utara


juga sama.”


“Bagian Timur juga.”


“OK. Kalo ada


apa-apa, jangan lupa kabarin.”


Aneh. Kok bisa satu kota hancur kayak gini?


Tambah lagi, kalo dibilang Naga yang ngancurin, harusnya


ada saksi matanya nggak sih?


Nggak tau ya Naga di dunia ini bentuknya gimana, tapi


Naga yang ada di pikiran gue itu harusnya sih gede bentuknya. Masa nggak ada


tanda-tanda—


“…”


Kok dari sini, keliatan ada rumah yang aman-aman aja?


Kalo pun rumah itu bukan bagian dari kota ini, masa sih


kota ini udah kebakar kayak gini, tapi rumah itu aman-aman aja?


“Maha.”


“Kenapa?”


“Kayaknya kita harus ke rumah itu, deh.”


“Hah? Ngapain? Kita lagi investiga—”


“Aku setuju sama usulan Djinn.”


“Gue juga setuju sama usulan dia, Mahadia.”


Untung Harrit sama


Winona setuju sama usulan gue.


“Kenapa gitu?”


“Lo perhatiin baik-baik, Mahadia. Rumah itu keliatan


baik-baik aja. Ada yang aneh dari rumah itu.”


“Tapi kita diminta untuk investigasi kota i—”


“Kalo menurut gue sih, percuma aja kita investigasi


kota ini, karena udah puing-puing doang. Nggak bakal dapet petunjuk apa-apa


kita di kota ini.”


“Dia bener, Mahadia.”


“Aku juga setuju.”


“…”


Maha keliatannya bingung harus gimana.


“Haaaah…kalo gitu mending lo aja yang mimpin! Gue


sendiri bingung harus gimana!”


“Gue ngasih saran doang kok! Kan keputusan tetep di


tangan lo!”


“Justru itu! Gue nggak bisa buat keputusan! Makanya


mending lo aja!”


Kenapa nih cewek jadi nyalahin gue sih?!


“Grup Timur ngeliat ada rumah yang masih baik-baik aja


di pinggir luar kota ini. Erkstern, kita minta izin untuk investigasi.”


“OK. Coba investigasi


rumah itu.”


“OK.”


Kita berempat jalan ke rumah itu.


Tapi waktu kita jalan…


“Woy! Erkstee!


Ini Myllo! Temen lo tumbang!”


“Morri?”


“Iya!”


…tiba-tiba ada yang tumbang dari Grup Barat.


“Urlant, bisa


sembuhin—”


“Erkstern… Ini


Morri. Gue cuma agak pusing aja sama bau mayat di wilayah ini.”


“Masih bisa


lanjut, kan?”


“Ya. Masih aman.”


“OK. Kali udah


nggak sanggup, pergi ke gerbang kota aja, Mor.”


“Tenang aja. Maaf


udah bikin panik.”


Ternyata udah aman. Artinya semua masih bisa lanjut—


“Ada yang aneh.”


Hm?


“Morri tumbang? Kedengerannya hampir mustahil.”


“Dia itu terlalu kuat untuk tumbang karena sekedar bau


mayat.”


“Bener kata Mahadia. Bahkan kalo ketemu lawan, dia


lebih sadis karena nggak kenal ampun, nggak kayak Erkstern.”


“Ya. Makanya itu dia itu Wakil Kapten bukan karena nama


aja.”


Wakil Kapten?


Kayaknya status Wakil Kapten itu bukan status resmi di


Party. Mungkin status itu ada karena pengakuan aja.


“…”


Hm?


Kok gue ngerasain


sesuatu, ya?!


“Tunggu!”


“Ada apa, Djinn?”


“Ada orang di sekitar kita!”


“Ada di mana?”


“Deket dari sini. Ada sekitar 2-meter.”


““Meter?””


“Zyat maksud


gue!”


Keceplosan gue, anj—


“*Cyut! (suara lemparan pisau)”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Untung gue sadar arah pisaunya dari mana!”


Harrit tiba-tiba nangkis lemparan pisau tadi pake


cakarnya.


“Maaf semua. Saya Iqherd, orang yang bekerja langsung


untuk Marquis Verde. Saya minta anda meninggalkan tempat ini dan jangan


berbicara apa-apa tentang keberadaan kami.”


Orang ini tiba-tiba muncul dari bayangan?! Kok bisa?!


“Kita Petualang yang lagi investigasi tempat ini—”


“Apapun alasan anda sekalian, anda tidak boleh


mendekati rumah itu.”


“Kenapa?!”


“Personil yang loyal tidak akan pernah mempertanyakan perintah Tuan-nya.”


Itu mah namanya budak, jaing!


“Terus gimana kita—”


“Tunggu sebentar…”


““…””


“Baik, Marquis Verde.”


Dia dapet panggilan, tapi nggak pake Orb Call? Kok


bisa?


“Maafkan saya atas tindakan saya. Anda semua diizinkan


untuk memasuki rumah tersebut.”


“Y…Ya…”


Gue bingung ada apa sebenernya.


Ya, seenggaknya bisa masuk, lah.


Kita pun dianter sama orang ini sampe ke depan rumah


ini.


“Masuk sampai ke ujung ruangan, anda sekalian akan


menemukan kamar dari Sage Callum.”


Hah? Apa? Sage? Maksudnya petapa?


“Ayo kita masuk.”


Kita jalan sesuai petunjuk orang tadi. Waktu kita masuk


ruangan…


““…””


…kita ngeliat ada 3 orang di dalem ruangan ini.


Ada orang yang keliatannya kayak umur 40an, ada cewek


yang bajunya kayak Suster gereja, satu lagi ada…


“Haa…. Haa…. Haa…”


…orang yang badannya penuh luka bakar. Kayaknya orang


ini salah satu korban dari Naga yang nyerang Marklett.


Dari yang gue liat, bahkan dia udah susah nafas.


“Se…Selamat datang, Para Petualang sekalian. Saya


adalah Verdian Verde, Marquis yang bertanggung jawab atas Marklett Town.”


“Marquis Verde, kami Petualang yang lagi—”


“Saya tahu. Jika ada yang ingin anda tanyakan, saya


siap menjawab.”


Oalah, ternyata dia ini Marquis-nya. Tapi kenapa nggak


keliatan kayak bangsawan, ya?


Apa mungkin dia lagi nyamar juga, kayak Bismont?


“Apakah anda adalah Tuan Djinn?”


Hah? Dia nanyain gue?


“Ya. Ada apa, Marquis Verde?”


“Saya mengenal Duke Louisson. Terima kasih atas bantuan


anda untuk menangkap Goldiggia. Anda tidak perlu khawatir, karena saya akan


mengunci mulut saya rapat-rapat.”


Oh, dia kenal Bismont?


“Hah?! Nangkep Goldiggia?!”


“Tunggu, tunggu, tunggu! Bukannya Duke Louisson yang


berantas Goldiggia?!”


“Hahaha. Bisa saya jelaskan nanti, sembari kita


menunggu Tuan Djinn dengan Sage Callum.”


Hadeh, pake dibocorin soal gue lawan Goldi—


Eh, tunggu dulu!


“Maaf, Marquis Verde. Maksudnya apa, ya? Tunggu saya


sama Sage Callum?”


“Ah, maaf jika saya belum menjelaskan. Sage Callum


ingin sekali menemui anda. Alangkah baiknya saya, Suster Elfra, serta Petualang


lainnya meninggalkan ruangan ini.”


Orang itu mau ketemu gue?


“Ma…Marquis Verde, Sage Callum tidak bisa—”


“Saya tahu, Saudari Elfra. Akan tetapi, nyawanya sudah


berada di ujung tanduk. Saya tidak kuasa melihat orang sebaik beliau tersiksa


hanya karena kemauan kita untuk tetap hidup.”


“Ba…Baiklah, Marquis Verde.”


“Maafkan saya jika merepotkan, Saudari Elfra.”


“Tidak apa-apa, Marquis Verde.”


Akhirnya mereka semua ninggalin ruangan ini, jadi sisa


gue sama Sage ini di kamar ini.


“I…I…”


“Hm?”


“I…Izinkan…saya melihat…wajah anda…”


Hah? Kok dia pengen liat muka gue?


Ya, nggak ada salahnya juga ngasih unjuk muka ini untuk


orang yang sekarat.


“…”


“A…A…Ah…”


“…”


Waktu gue topeng gue, tiba-tiba dia nyentuh muka gue.


“Ra…Rambut putih… Mata…Hijau…”


Hm? Kok jadi deskripsiin gue?


“A…A…Aaaa…”


Eh?! Kok nangis?!


“A…Anda…adalah anak yang sesuai dengan nubuat…”


Hah? Nubuat?


“Anda telah kembali…ke dunia


ini…setelah sengsara di dunia seberang…”


Hah?! Kembali ke dunia ini?!


Gue bukan kelahiran dunia ini, woy!


“Ya…Yang Mulia…”


Hah?! Maksudnya gue?!


“Ma…Maafkan jika hamba…membingungkan Anda… Akan tetapi…perjalanan


anda masih sangat panjang, Yang Mulia…”


Iya gue bingung! Gue nggak ngerti maskud lo apa!


Tambah lagi, kenapa dia ngomong seakan-akan posisi gue


tinggi banget?!


“Jalan Anda…tidak akan mudah… Akan banyak darah dan air


mata…di perjalanan Anda…”


I…Itu anceman atau prediksi?!


“Te…Terima lah ini…”


Dia ngasih gue sejenis kalung gitu.


Masalahnya, gue nggak yakin kalo ini cuma sekedar


kalung aja.


“Ini apaan?”


“Hidden Dungeon…ada di Partar Forrest…di…belakang rumah


ini…”


Hi…Hidden Dungeon?! Itu apaan?!


“Carilah…8 Hidden Dungeon lainnya di dunia ini…Yang


Mulia… Karena itu lah yang…akan…membantu Anda…”


“…”


“Namun, waspadalah


terhadap siapapun yang hendak memasuki… Hidden Dungeon…”“…”


“…Anda akan…mengetahui…tujuan…keberadaan…An…da…”


“…”


Eh?! Dia udah meninggal?! Terus maksudnya apaan?!


Kalung, Hidden Dungeon, sama tujuan gue.


Asli, maksudnya maksud orang ini apaan—


“*Brak! (suara membuka pintu)”


“Dj…Djinn…”


Bangsat!


Untung aja gue reflek pake


topeng gue! Orang lagi kebingungan malah dikagetin!


“Apaan?! Lo udah selesai


wawancarain Marquis i—”


“…”


Eh? Kok dia nangis?


“Maha, lo kenapa?”


“E…Erkstern…”


Hah? Erkstern?


“Erkstern sama timnya…”


“…”


“Mereka mati semua…”


Hah?! Kok tiba-tiba mati?!


Udah kata-kata orang ini,


tambah lagi berita dari Maha!


Haaaah! Gue jadi bingung


sendiri!