
Besok paginya, kita semua pergi
ke Partar Forest.
Lokasinya ada di belakang rumah
Callum.
Selama kita jalan, gue bahkan
bisa liat pantai yang nggak begitu jauh dari hutan ini.
“Wuhuuu! Ada pantai—”
“Myllo!”
“Ah, maaf.”
Si Dongo ini malah mau main ke pantai,
dong!
……………
Sebelum kita nyampe, ada pohon
gede yang keliatan dari jauh. Pohon itu jaraknya jauh sendiri dari pohon-pohon
yang lainnya.
“Pasti itu tempatnya.”
Kita pun sama-sama jalan ke pohon
itu.
Tiba-tiba…
“…”
“Hm?”
…kalung ini kedap-kedip.
“Kalung kamu kenapa, Djinn?”
“Nggak tau. Mungkin ini tandanya
tempatnya udah deket.”
Kita jalan terus sampe ke deket
pohon itu.
“*Shringgg… (suara sinar)”
Kalung ini tiba-tiba muncul
cahaya yang nyinarin pohon itu.
“*Krrk…brrrrgh… (suara kayu
terbuka)”
Mungkin karena sinar dari kunci
ini, batang pohon itu tiba-tiba kebuka. Dan yang gue liat, ada sesuatu dari
dalem batang pohon ini.
“I…Itu…portal?”
“Kayaknya itu pintu masuk Hidden
Dungeon…”
Oh itu pintu masuknya?
“Ayo semua! Kita masuk—”
“Tunggu dulu, Myllo!”
“Hmm?! Ada apa lagi, Urlant?!”
“Sa…Saya sebagai Petualang
mungkin bangga bisa menemukan Hidden Dungeon. Akan tetapi, saya
merasa…perjalanan saya cukup sampai di tempat ini saja…”
Hah? Kenapa nggak ikutan?
“Sebagai seorang Elf, saya
diajarkan oleh leluhur saya untuk menghormati tempat sakral. Dan saya mengakui
Hidden Dungeon sebagai tempat sakral. Oleh karena itu…”
“?!”
Kok dia tiba-tiba sujud?!
“I…Izinkan saya untuk menjaga
tempat ini!”
“Hah?! Jaga tempat ini?! Jadinya
lo nggak ikut do—”
“Myllo! Gue bakal temenin Urlant
untuk jaga tempat ini!”
Lah! Si Harrit jadi ikut-ikutan!
“Keliatannya Erkstern, Morri,
sama Dragonewt misterius itu masih ada di sekitar tempat ini. Kalo gitu, gue
juga tunggu di tempat ini!”
“Saya juga! Saya masih harus
mengetahui alasan mereka berkhianat seperti itu!”
“Yorech sama Pippa mati begitu
aja karena mereka. Gue mau bales mereka!”
Loh! Kenapa malah jadi pada nggak
mau ikut?!
“Myllo… Djinn… Mereka jadi nggak
ada yang mau ikut!”
Gia jadi kebingungan gara-gara
tindakan mereka.
Berarti, tinggal Myllo yang
harusnya bisa bujuk mereka.
“Kalian semua sebenernya mau ikut
atau nggak?”
““Pastinya lah!””
“Tapi kalian tetep nggak ikut ke
dalem?”
““Ya.””
“Kalian nggak terpaksa kan sama
pilihan kalian?”
““Nggak.””
“OK. Gue hargain pilihan kalian.”
Eh?! Nggak dibujuk?!
“Makasih karena udah rela untuk
nggak ikut dan jagain tempat ini! Sampe gue sama mereka berdua keluar dari
tempat ini, ayo kita pesta sama-sama sambil dengerin cerita gue tentang Hidden
Dungeon ini! Hihihi!”
““Ya!””
Kita bertiga pun sama-sama jalan
ke tempat portal di dalem pohon ini.
Sebelum kita masuk, ada beberapa
hal yang pengen gue sama Gia tanya ke Myllo.
“Lo yakin nggak bujuk mereka
untuk masuk?”
“Djinn bener, Myllo! Aku kasian
sama mereka karena cuma jagain aja tapi nggak ikut!”
“Gue juga nggak tega kalo mereka
nggak ikut. Tapi, selama mereka nggak terpaksa sama pilihan mereka, gue nggak
akan paksa mereka untuk ikut.”
““…””
“Lagian kan gue bukan orang yang
suka paksain pilihan orang, kan? Ahahaha!”
Kalo diinget-inget lagi, gue sama
Gia ikut Myllo karena pilihan kita sih, bukan karena dipaksa Myllo.
Buktinya aja, Styx yang nolak
ajakan Myllo, nggak a dipaksa tuh untuk ikut.
“Hahaha! Kamu orang yang baik ya,
Myllo, walaupun gampang mabok…”
“HAAAAAHHH?!?! Jangan disebut
itunya, dong!”
“Masih mending gampang mabok, dia
aja dongo!”
“Diem lo Djinn! Apa harus gue
hukum anggota kayak lo!”
“Lo kira gue anak SD masih harus
dihukum?!”
““Hah? Anak SD?””
Ups! Salah ngomong!
“Yaudah! Simpen obrolan kita
untuk nanti! Waktunya kita masuk ke tempat ini!”
““Ya!””
Akhirnya, tanpa ragu, kita
bertiga masuk ke tempat ini.
Nggak.
Mungkin Myllo sama Gia nggak ragu
lagi.
Tapi gue masih ragu. Feeling gue masih nggak enak sama mereka yang bakal jagain tempat ini.